NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu

Status: tamat
Genre:Angst / Trauma masa lalu / Penyesalan Suami / Konflik etika / Tamat
Popularitas:64.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Gresya Salsabila

Lintang Ayu Sasmita merasa terguncang saat dokter mengatakan bahwa kandungannya kering dan akan sulit memiliki anak. Kejadian sepuluh tahun silam kembali menghantui, menghukum dan menghakimi. Sampai hati retak, hancur tak berbentuk, dan bahkan berserak.

Lintang kembali didekap erat oleh keputusasaan. Luka lama yang dipendam, detik itu meledak ibarat gunung yang memuntahkan lavanya.
Mulut-mulut keji lagi-lagi mencaci. Hanya sang suami, Pandu Bimantara, yang setia menjadi pendengar tanpa tapi. Namun, Lintang justru memilih pergi. Sebingkai kisah indah ia semat rapi dalam bilik hati, sampai mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Cerai!

Setelah berdebat lama dengan batinnya sendiri, malam itu Wenda memutuskan untuk mampir ke rumah Pandu dan Lintang. Dia ingin melihat keadaan menantunya, pun keadaan anaknya sendiri.

Namun, Wenda tak langsung ke sana. Ia terlebih dahulu membeli dua porsi martabak manis, entah dorongan dari mana hingga dia rela mengantre dan mengeluarkan uang untuk sesuatu yang mungkin akan dimakan Lintang.

"Semoga baik-baik saja."

Satu kalimat yang sudah berkali-kali Wenda ucapkan. Hampir sepanjang perjalanan sebelum ke rumah Pandu. Entah pada siapa harapan itu ia tujukan; Lintang, Pandu, atau keduanya.

Sampai mobil berhenti di halaman rumah Pandu, pikiran Wenda masih kacau. Lantas sambil berulang kali menarik napas panjang, ia pun turun dari mobil dan berjalan menuju pintu yang sudah menutup rapat.

"Pandu! Pandu!" teriak Wenda sambil mengetuk pintu, agak keras. Namun, tak ada sahutan dari dalam. Bahkan, sampai ia mengulang ketiga kalinya.

Akhirnya, Wenda mencoba membuka pintu tersebut dari luar. Untungnya berhasil. Mungkin, tadi Pandu belum sempat menguncinya.

"Pandu! Lintang!"

Wenda kembali memanggil anak dan menantunya, sembari berjalan masuk menuju ruang keluarga.

Akan tetapi, belum sempat tiba di sana, Wenda sudah menghentikan langkahnya, tepat di depan kamar Pandu dan Lintang.

Pintu kamar itu sedikit terbuka dan samar-samar Wenda mendengar suara Pandu. Entah apa yang dikatakan, suaranya sangat pelan, Wenda tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Demi menyudahi kekacauan hati, dengan pelan Wenda mendorong pintu tersebut. Lantas, tubuhnya terpaku saat mendapati menantunya dalam kondisi yang memprihatinkan.

Lintang tidak menangis kala itu. Namun, dia duduk di ranjang, membungkuk sambil memeluk lutut. Tatapannya kosong dan tubuhnya gemetaran, seperti orang yang menggigil kedinginan.

"Mama," sapa Pandu. Ia menyadari kedatangan Wenda sebelum wanita itu mengeluarkan suara.

"Lintang kenapa?" tanya Wenda sambil melangkah mendekat.

Namun, Pandu justru beranjak dari sisi Lintang dan berjalan keluar kamar. Mau tidak mau, Wenda pun mengikutinya, berjalan ke arah pintu lagi dan berdiri di sana.

"Dia hancur banget, Ma. Barusan aku sudah membantunya minum obat, tapi ... mungkin belum bekerja. Bu Ratna, psikiaternya, masih di luar kota. Baru besok pagi pulangnya," ujar Pandu, menjelaskan kondisi Lintang yang sangat kacau.

Sejak keluar dari rumah Ningrum tadi Lintang sudah seperti itu. Tatapannya kosong. Tidak menangis, tidak bicara, juga tidak merespon apa pun. Bahkan, Pandu sudah mencoba mengguncang tubuhnya dan mengajaknya bicara banyak. Akan tetapi, Lintang hanya diam. Barusan saja, ketika minum obat, Lintang juga tak kunjung menelan. Setelah Pandu membantunya mendongak, barulah obat itu masuk ke tenggorokannya.

"Aku nggak bisa bayangin sebesar apa sakit yang dirasakan Lintang, Ma, saat dia tahu kalau ibunya dulu selingkuh. Dan dia dibenci karena hasil dari perselingkuhan itu," sambung Pandu.

Wenda masih diam, sekadar menatap Lintang yang menyerupai patung hidup.

"Dia juga pasti malu. Karena tadi, secara nggak sadar sudah membeberkan masa lalunya dengan gamblang. Padahal, selama ini Lintang selalu menutupinya. Bahkan, padaku sekalipun. Belum lama ini, Ma, Lintang baru mau jujur kalau dia pernah dilecehkan, kemudian aborsi dan punya ketergantungan pada obat tidur. Dan ... baru malam ini juga aku tahu kalau ternyata dalang di balik semua itu adalah kakak-kakaknya sendiri. Sebelumnya Lintang nggak mau ngaku, Ma. Dia hanya bilang kalau orang-orang yang pernah menyentuhnya itu udah meninggal. Tapi, aku juga nggak nyangka kalau salah satunya adalah ayahnya Mbak Rayana."

Pandu kembali bercerita. Suaranya pelan, seakan takut Lintang akan mendengarnya. Walaupun sebenarnya dia tahu Lintang sedang kosong, tak akan menangkap perbincangan apa pun.

"Mama juga nggak habis pikir, kok ada saudara kayak mereka. Ya meskipun Lintang bukan anak bapak mereka, tapi mereka satu rahim loh. Kok tega gitu loh," jawab Wenda, juga dengan suara pelan.

"Mungkin benar dugaan Bu Ratna kalau mereka itu mengidap NPD. Tapi, apa pun itu, aku nggak terima, Ma. Secepatnya aku akan mencari pengacara dan membuka kasus ini lagi. Mbak Tari dan Mas Albi harus dipenjara, Ma. Lintang harus mendapatkan keadilan," ujar Pandu. Meski suaranya pelan, tetapi tangannya mengepal dengan kuat. Bukti emosi yang sudah merajai hati.

"Tapi, kasus ini sudah lama, Pandu. Pelaku-pelakunya sudah meninggal, dan kondisi Lintang juga seperti itu. Apa bisa? Mama bukannya nggak mendukung kamu, tapi ... Mama nggak yakin saja. Tanpa bukti, tanpa saksi. Meskipun ini tadi banyak yang mendengar pertengkaran mereka, tapi dari pihak Tari dan Albi nggak ada mengakui perbuatan itu. Kalaupun ada yang siap jadi saksi, bukti ini belum kuat, Pandu."

Pandu mengembuskan napas kasar. "Aku mengerti, Ma. Aku akan berusaha mencari bukti lain yang bisa menjebloskan mereka ke penjara. Kalau memang bukti itu nggak bisa kudapatkan, dan hukum nggak bisa menjerat mereka, aku sendiri yang akan membuat keadilan, Ma."

"Apa maksudmu, Pandu?"

"Aku akan membuat mereka merasakan apa yang dirasakan Lintang," jawab Pandu.

Wenda kesulitan menelan ludah, menatap anaknya yang memicingkan mata sambil menggertakkan gigi. Dari raut wajah itu, Wenda menangkap sebuah tekad yang kuat. Tekad yang mungkin akan mendorong Pandu untuk melakukan sesuatu yang di luar jalur. Anehnya, mulut Wenda enggan terbuka. Padahal, dia sangat ingin mencegah niat buruk anaknya.

_______

Kue ulang tahun yang besar dan manis, dekorasi ruangan yang manis, menjadi saksi bisu keretakan di dalam keluarga Ningrum.

Pasca kekacauan tadi, Ningrum terus menangis karena anak-anaknya enggan memberi penjelasan yang lebih, malah mereka masuk ke kamar masing-masing dengan raut masam.

Utari dan Benny mengeluhkan gagalnya acara yang sudah dirancang matang, lagi-lagi merutuki Lintang yang dianggap sebagai biang kekacauan itu.

Sementara Albi dan Rayana, terlibat obrolan serius. Rayana terus menanyakan kebenaran ucapan Lintang beberapa waktu yang lalu.

"Mas, jawab aku! Apa benar Lintang pernah dilecehkan Ayah?"

Namun, untuk kesekian kalinya pula Albi berkilah, "Nggak, Sayang. Aku harus ngomong berapa kali kalau Lintang itu bohong. Dia hanya mencari alasan untuk menutupi perbuatan buruknya. Kamu jangan terpengaruh dengan ucapan Lintang."

"Tapi, aku tadi juga ada di sana, Mas. Aku bisa melihat raut wajah Lintang, raut wajah Utari, dan juga raut wajahmu, Mas. Aku bisa membaca kegusaran kalian ketika Lintang meluapkan pengakuannya."

Albi terdiam, hanya matanya yang mengerjap cepat.

"Tadi kamu juga mengaku kalau Lintang bukan adikmu, Mas, dan Utari seperti terus mengingatkanmu agar tidak mengatakan itu. Mas, kalau yang dikatakan Lintang itu bukan kebenaran, lalu kenapa sikap kalian kayak gitu?" desak Rayana.

Tidak sia-sia. Akhirnya, Albi mengaku juga.

"Iya, Lintang memang dilecehkan. Ayahmu terlibat, aku dan Tari juga terlibat. Puas kamu, Sayang!" Albi menjawab dengan setengah menggeram. Benci sendiri rasanya karena Rayana terus mendesak dan tak goyah dengan alasan yang ia utarakan.

"Kenapa kamu setega itu, Mas? Lintang adalah adikmu. Ayah waktu itu juga punya istri, ibuku masih sehat, Mas."

"Ibuku juga tega dengan Bapak. Kehadiran Lintang pasti melukai Bapak. Dan untuk Ayah, itu bukan inginku. Ayah sendiri yang mau. Aku kan juga nggak tahu gimana hubungan orang tuamu, Sayang, dan aku juga nggak berani ikut campur. Jadi, saat Ayah menginginkan Lintang, ya aku nggak pikir panjang. Aku—"

"Kita cerai, Mas!" potong Rayana, tanpa menunggu Albi menyelesaikan ucapannya.

Bersambung...

1
Anonim
Thor…coba yg versi Lintang meninggoy dan Pandu jadi sikopet dong
Visencia Alingga
ceritanya luar biasa.
dan memang di kehidupan nyata terkadang keluarga dan org terdekat bisa menjadi racun utk kita, bisa mendatangkan trauma serta rasa sakit luar biasa, yg tdk mudah utk kita hilangkan dr hidup kita.
Masliah Masliah
si lintang oon penulis novel dungu
IG👉Salsabilagresya: Kakak belum pernah kenal orang yang pernah depresi ya?
total 1 replies
ayu cantik
suka
Nisa Nisa
terimakasih author, penulisan yg bagus gk banyak typo dan bahasa yg enak.
cerita yg tdk bertele tele.. gk dibuat panjang panjang biar lama kontrak tp jd muter kaya benang kusut spt kebanyakan novel di web.
Nisa Nisa
ternyata yg selingkuh itu malah bapaknya, si nenek lampir biang kerok masalah itu tahu apa gk ya? kadang orang spt dia itu justru suka menyalahkan orang lain! dan menutup mata terhadap kesalahan anak sendiri seperti Ningrum
Nisa Nisa
Entahlah apa Pandu bisa bahagia dgn kondisi rumah tangga penuh kebohongan dan ketegangan krn takut sewaktu waktu Lintang ingat sesuatu. Apalagi membayangkan suatu saat Lintang sadar ttg kebohongan Pandu.
Posisi Wenda jg pasti cemas terhadap putranya, merawat Lintang seperti menjaga barang dari kaca yg harus super hati hati agar tdk pecah. Takutnya lama-lama justru Pandu atau Wenda yg jadi stress
Nisa Nisa
dasar napi bodoh dibayar pakai cerita, makanya penjahat jgn diajak kerjasama
Nisa Nisa
masih heran dgn sakitnya Lintang benar-benar ibu yg gk punya empati
Nisa Nisa
apa cuma aku yg kepikiran dari mana sumber dana Pandu ya. Dia kan sdh dipecat, jelas tanpa pesangon. dulu dia hanya karyawan bank jg. sekarang setelah nganggur dia 100% hanya mengurus Lintang dgn pengeluaran tak terhingga mulai pengobatan dan biaya pengacara
Nisa Nisa
benar-benar beruntung Lintang punya suami setulus Pandu, itu tak ternilai harganya.
Benar kan Tuhan itu adil, tdk dapat keluarga yg mencintainya Lintang dapat suami dan mertua yg sangat mencintai nya
Nisa Nisa
keinginan Pandu terkabul?
dia pernah berharap Lintanh media dan melupakan masa lalunya
Nisa Nisa
gk ada ajaran agama sama sekali dikeluarga Lintang ini. Mana ada kedamaian kalau mati bundir, yg ada kekal dineraka. Benar-benar keluarga toxic
Nisa Nisa
orang normal akan sangat bersyukur dapat suami sebaik Pandu. Harusnya bersyukur walau keluarga pada jahat tp diberi suami spt Pandu dan bonus mertua spt Wenda.
Tp itulah hasil teror demi teror Ningrum pada anaknya, merusak lahir dan batin.
Nisa Nisa
Ningrum lagi-lagi menghancurkan mental Lintang dgn menyerang hal sensitifnya.
bukan salah paham lagi kali ini tp memang hati seorang ibu yg sesat terlalu pilih kasih pada anak-anak nya
Nisa Nisa
masih jg Ningrum menyerang dan berusaha menyudutkan Lintang, benar-benar ibu durjana
Nisa Nisa
Ningrum semakin kamu memohon utk kedua anakmu semakin memperlihatkan bahwa kamu memang hanya sayang dan peduli pd mereka dan sebaliknya dgn Lintang. walau kamu sdh tahu bgm kelakuan kedua anakmu itu bgm menderita nya Lintang.
Nisa Nisa
harusnya lintang jawab ibu kaget mereka dihukum atas kesalahan mereka tp ibu tega aja menghardik aku yg diperkosa bahkan tega memaksakan aborsi yg membahayakan nyawaku dan walau tdk mati tp berakibat aku kesulitan hamil.
Nisa Nisa
kasus pemerkosaan dgn kekerasan ancaman pidana nya maksimal 12 th, atau kalau korban dibawah umur spt kasus Lintang paling lama 15 th tdk ada seumur hidup apalgi hukuman mati.
Itulah ruginya hukum kita, hancurkan masa depan seorang anak hanya dituntut maksimal 15 th penjara.
Nisa Nisa
Ningrum mau bersujud minta maaf hanya utk membebaskan Albi dan Utari bukan krn menyadari dan menyesali kesalhan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!