Cerita tentang keputus tuhan dan settingan alam. Takdir yang mempertemukan Layra gadis SMA dengan sejuta tingkat barbar dan nakal nya. Dengan Deral pria pemegang saham utama di Abercio Crop.
Kisah cinta antara manusia dengan selisih umur delapan tahun. Yang dibumbui dengan kepossessivan Deral pada Layra, Layra gadis yang sudah masuk kedalam ruang hatinya.
Namun Layra tetap lah Layra dengan prinsip hidup 'Hidup itu bebas, jalani aja sesuka hati' . Dan Deral juga tetaplah Deral dengan moto 'Layra milikku dan akan aku jaga dengan sejuta cara!' .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brdngkrl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter Twenty Five
Suasana pusat perbelanjaan yang tak begitu ramai namun tak bisa pula dikatakan sepi. Banyak manusia dari berbagai generasi berlalu lalang untuk berbagai tujuan atau sekedar menghilangkan kegabutan.
Begitu dengan Layra dan Deral. Setelah
mengalami perdebatan unfaedah masalah kacing baju yang dimenangkan oleh Deral. Layra hanya bisa memandang datar wajah Deral, kesal tentu saja ia rasakan.
"Sayang kenapa wajahnya gitu?" Pertanyaan yang Deral sudah tau sendiri jawabnya .
'KENAPA' kata lo!? Klo aja bunuh orang ga dosa, mungkin sekarang gue udh yasinan dirumahn lo. Geram Layra dalam hati.
Deral menahan tangan Layra yang hendak mempercepat langkah untuk meninggalkan nya. "Apa!?" Tanya Layra judes akut.
"Bareng" Jawab Deral mensejajarkan langkah disamping Layra, tangannya pun menggenggam erat tangan lentik itu.
"Bareng! Mau nyebrang apa!?" Namun Deral tak menghiraukan nya Deral masih setia menggenggam tangan Layra.
Dengan tangan saling bertautan mereka pun berjalan melewati toko yang menjual beraneka ragam benda atau makanan. Layra tiba tiba menghentikan langkahnya didepan stand toko.
Layra menarik tangan Deral untuk masuk kedalam stand tersebut. Salah satu toko minuman ter famous dikalangan new generation.
"Iyh kak mau pesan apa?" Tanya pegawai laki laki berbadan tegap.
"Satu brown sugar with fresh milk, size large" Jelas Layra menatap variasi minuman depan nya.
"Sugar level dan ice level nya kak?
"Normal sugar. Ice nya extra"
"Baik kak, mau bayar tunai atau debit?"
Mendengar pertanyaan tersebut Deral hendak menyodorkan credit card miliknya, namun tangan Layra mencegahnya. Malah Layra langsung memberikan credit card miliknya.
Deral sempat menatap tajam Layra, namun masa bodo bagi nya. Selesai pembayaran, barista tersebut memberikan minuman sesuai pesanan Layra.
"Seharusnya biar aku yang bayar" Ujar Deral dengan nada tak suka sambil menatap intens, namun yang ditatap hanya santai menyesap minumannya.
"Itu punya aku, yh biar ak yang bayar. Lagian aku siapa harus kamu bayarin?" Deral semakin tajam menatap Layra, ia tak suka ucapan Layra barusan.
"Sayang, ngomong apa tadi?" Tanya Deral penuh penekanan.
Mati lo ay! Salah ngomong. Jerit dewi batinnya.
"Emm, seger Al. Mau?" Dengan senyum manis Layra memutar topik pembicaraan.
Dan sebelum Deral membahas ucapannya tadi. Layra memasukkan sedotan ke mulutnya agar diam, Deral mau tak mau menyedot sedikit minuman tersebut. Walupun jauh dari selera nya namun rasanya tak seburuk pemikirannya.
"Enak kan? Yaudah ayo, aku ga mau ketinggalan film nya." Tangan Layra menarik Deral kearah bioskop yang lumayan ramai.
---
Setelah membeli tiket dan popcorn sebagai pelengkap kedua insan beda ayah tersebut berjalan menuju teater sesuai pemutar film. Dengan sedikit perdebatan akhirnya mereka memilih film dengan Maudy Ayunda dan Reza Rahadian sebagai pemeran utama.
"Der! Deral" Panggil seseorang dengan mencekal lengan Kiri Deral.
"Valerine" Deral memutar tangannya agar terlepas dari cekalan Valerine.
Dia,Valerine Moeller. Mata Layra menatap wanita kira kira berumur duapuluh an, dari rambut ombre kecoklatan. Tubuh yang bisa dibilang gitar spanyol, apalagi dengan mini dress putih yang semakin mempertontonkan tubuhnya.
Wajah blesteran entah campur apa Layra tak tau dan kurang mau tau. Yah Layra akui wajahnya cantik, tapi gaya make up nya jauh dari kata natural.
Bagaimana natural lipstik merah cerah, alis tebal entah hasil sulam atau ukiran pensil alus. Dan jangan lupakan bagian mata, eyeshadow brown dan juga eyeliner gaya feline.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Valerine yang kurang unfaedah.
Dimana mana orang ke bioskop yah nonton tante! Masak minta sedekah. Dumel batin Layra.
"Gue yakin lo tau" Sepertinya sisi lain Deral mulai mengambil alih, terbukti dari nada dingin diucapnya.
"Oh ya nonton" Ucapnya dengan senyuman menggoda dibibir merah nya itu. "Berarti kita sama, mau bareng?" Tawarnya sambil mengibaskan rambut ombre nya, entah apa fungsinya.
Insting Layra langsung membuka tutup bungkus popcorn, lalu jemarinya memasukkan popcorn ke mulut nya. Insting nya mengatakan bahwa akan ada drama live saat itu, yah anggep aja tontonan pembuka sebelum film inti.
Deral tersenyum sinis. "Gak makasih" Tegasnya merangkul baru Layra mendekat ke tubuhnya.
Hal itu sontak membuat Valerine melirik sinis Layra. Dan Layra masih tenang dengan tetap konsisten memasukkan popcorn kedalam mulutnya.
"Layra, ternyata dia yang aku denger denger jadi pacar kamu?" Pertanyaan mengandung unsur sindiran dan sinis. "Emang apa sih yang kamu liat dari dia? She still's a kid. Dia ga akan paham kehidupan kamu, gaya kamu, pemikiran kamu. bahkan dia ga akan paham dan mengerti diri kamu Der!". Penjelasan penuh percaya dilontarkan Valerine.
Kid? Lo kata gua cosplay Shiva apa!. Nyiyir Layra dalam hati.
Mungkin perlu Layra apresiasi soal sindiran nya yang masih menggunakan logika dan dasar. Walupun sok tau akut dan percaya diri level dewa.
"Valerine, ja--" Telunjuk Layra menghentikan bibit Deral.
Layra tak mau ada perdebatan lebih dalam lagi, karena ia tak mau resiko nya. Resiko jadi tontonan gratis bagi pengunjung bioskop yang bahkan sekarang tengah memperhatikan mereka, dan belum lagi jikalau dia masuk berita seperti tempo lalu.
"Emm tante Valerine, kata bunda saya orang yang menilai orang lain tanpa terlebih dahulu memahami dan mengetahui yang sebenarnya adalah orang bodoh yang sok tau" Balas Layra dengan gaya polos namun efeknya telak. "Dan saran saya sebagai anak kecil yang polos ini, jangan menelan sesuatu mentah mentah entar sakit perut".
Layra tersenyum sinis saat melihat Valerine diam namun wajahnya memerah menahan amarah. "Yaudah yah tante, anak kecil mau nonton dulu. Bye bye tante" Pamit Layra lalu menarik tangan Deral memasuki pintu teather.
Valerine dengan kepala penuh amarah bercampur malu, segera menghentakkan kaki jenjang yang dibalut heels setinggi lima belas centimeter berwarna merah maroon. Dan tentu saja berlalu pergi keluar bioskop.
Namun dalam hatinya mulai tumbuh dendam kesumat yang suatu saat bila dibiarkan tumbuh subur akan menghilangkan logika bahkan nurani dalam dirinya.
---
Valerine pergi entah kemana, Layra dan Deral tengah duduk manis dikursi pojok bioskop. Dengan popcorn yang hampir tinggal setengah, tentu saja karena Layra yang tadi memakannya.
Film yang menyiarkan sejarah dari ketulusan cinta seorang yang tokoh negara. Nuansa era 90an juga terasa kental didalam nya.
"Sayang" Panggil Deral yang sendiri tadi hanya memperhatikan wajah Layra.
"Hmn?" Jawab Layra tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar.
"Kamu gak usah dengerin kata kata Valerine" Ujar Deral yang masih kepikiran ucapan nyinyir Valerine tadi.
"Ngapain dengerin orang bodo, yang ada kita ikutan bodo" Ketus Layra tak kalah pedas dari admin lambeh turah. "Yah walupun kita emang belum lama ketemu."
Tatapan Deral menajam, ia tak suka denagan penuturan Layra soal mereka yang belum kenal lama. "Memahami seseorang bukan dilihat dari frekuensi waktu, tapi saat ia tau kondisi kita tanpa kita beritahu".
Layra menatap teduh mata elang disamping nya. Kata katanya barusan begitu masuk kedalam hatinya, ditambah tatapan tajam yang menenggelamkan nya didalam iris hezel tersebut.
Deral hanya tersenyum lalu menatap balik iris hitam didepannya. Adegan langkah yang didukung posisi yang sengaja ia pilih dipojok ditambah pula cahaya remang remang karena seluruh lampu dimatikan.
Dibibir Deral tercetak smirk sambil terus menatap wajah Layra, membuat firasat Layra mendadak gelisah. Deral masih dengan smirk nya semakin memajukan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka.
Tubuh Layra pun otomatis mundur hingga tangan kekar Deral menahan punggung nya agar tak semakin mundur. Jarak diantara mereka semakin menipis hingga mereka saling bisa merasakan hembusan nafas yang menerpa kulit wajahnya dan......
Cup
Kecupan mendarat tepat dibibir peach tersebut, tanpa ada pergerakan lebih lanjut. Hanya diam saling menempel, namun jangan ragukan efeknya bagi kedua bela pihak.
Tubuh Layra sedetik itu juga mendadak kaku, seperti nyawa nya telah meninggalkan raga nya. Ia tak menolak juga tak menerima, otaknya seakan mati saraf untuk berpikir.
Deral pun hanya diam, ia juga tak menyangka akan melakukan hal ini. Namun percayalah saat kondisi mendukung dan saat ia melihat bibir mungil warna peach alami itu, imannya seketika runtuh.
Berselang beberapa menit Deral menggigit kecil bibir tersebut lalu menarik kembali wajahnya, dan tanpa dosa ia dengan santai kembali menonton pemutar film. Tangan Layra menyentuh bibir nya sendiri, terdapat rasa aneh yang tak bisa ia deskripsi kan.
"Al!?" Ucap Layra pelan.
"Napa? First kiss" Tebak nya sambil kembali mengusap bibir Layra dan...
Cup
"Second kiss" Ujarnya setelah melepas kecupan tersebut.
Bukk
Tangan Layra memukul pundak Deral dengan mulusnya. "Aww sayang". Keluhnya.
"Gila" Hanya umpatan itu yang keluar dari mulut Layra, otaknya masih terlalu speechless.
"Gila karena kamu" Dari mana asalnya kebucinan ini masih jadi misteri.
---
HAEEE GESS
Makasih buat yang udh baca dan jangann lupa
Likeee
Comment
And votee
Okee
See you next chapter
semangat Thor