maaf yah semuanya itu yg di atas bab satunya gx nyambung karna itu bukan , termasuk dalam bagian cerita yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elin yudia ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
"Assalamualaikum.....
Biasakan sehabis baca like, komen banya-banyak pasti autor bales kok, heheh becanda kok, jangan lupa vote nya juga yah. Sekalian ikutin autor juga.
Terimakasih, buat yang udah baca cerita ini.
Yaudah sok, atuh di lanjut baca nya.....😉😉
Wassalamualaikum wr.wb.
🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊
"Gimana, sekolah nya?"
"Lumayan enak, orang nya juga baik-baik semua." Aku tersenyum puas pada Aldo, karna telah memilihkan ku sekolah, yang lumayan tertutup dari orang-orang.
"Bagus lah kalau kamu suka, jadi aku gak sia-sia. Pilihin sekolah buat kamu." Aku senang jika Sarah, senang. Karna aku juga tidak ingin ada yang tau jika Sarah sekolah di sekolah yang tertutup.
Aldo memang sengaja menjemput Sarah, ia tidak menyuruh supir untuk menjemput Sarah. Dia berfikir kalau supir yang menjemput, maka akan mudah untuk para pesuruh Reyhan, menemukan nyonya nya.
"Hem, Sar. Kita makan dulu yah."
"Boleh."
Setelah mendapat persetujuan dari Sarah. Reyhan langsung melajukan mobil nya, ke restoran. Tak butuh waktu lama untuk menuju restoran yang di tuju, Aldo dan Sarah sekarang sudah sampai tempat yang di tuju.
Sarah dan Aldo masuk ke dalam, dan memilih tempat duduk dekat jendela, agar bisa melihat indah nya pemandangan di luar sana.
"Mau pesen apa mbk, mas?" tanya pelayan restoran tersebut.
"Sebentar ya mbk."
"Iya mas, silah kan," ucap sang pelayan dengan senyum ramah nya.
"Kamu mau pesen apa, Sar?"
"Sama in aja kaya kamu."
"Bener?"
"Iya, Al. Yaudah pesen sanah!" sambil tersenyum jahil.
"Yaudah mbk, saya mau pesen nasi goreng nya, dua. Sama es jeruk lemon nya dua, udah itu aja mbk."
"Baik lah, tunggu sebentar yah mas, mbk."
"Iya mbk."
Setelah pelayan tersebut, pergi . Tidak ada pembicara an sedikit pun di antara mereka berdua, yang ada di sana hanyalah kesunyian.
"Ehmm," Aldo berdehem agar memecah keheningan.
"Ehmmm, Sar. Gimana kalau kita pergi ke taman dulu?"
"Boleh, emang kamu gak sibuk Al?"
"Gak kok, Sar. Santai aja, lagi pula aku bos nya."
"Harus nya kamu ngasih, contoh yang bagus untuk karyawan kamu." Sarah berucap sambil tersenyum manis pada, Aldo.
"Permisih mbk, ini makanan nya." Ucap pelayan restoran itu, memotong pembicaran mereka.
"Saya permisi mbk," setelah mengantar kan dan menaruh makanan di meja Aldo dan Sarah, pelayan langsung pergi kebelakang.
"Yaudah ayo kita makan, nanti keburu dingin."
"Iya, Al. "
Mereka makan, dengan keheningan tanpa ada pembicaraan , seperti biasa nya.Saat makan di rumah mau pun, di luar.
Tak butuh waktu lama dalam menghabis kan makanan nya, mereka langsung pergi, tapi Aldo menaruh uang dulu di atas meja.
🐰🕊🐰🕊🐰🕊
"Bagaimana, kalian sudah mendapat kan jejak nya?"
"Maaf tuan, kami selalu kehilangan jejak nya."
"Apa kalian juga sudah tau, siapa yang membantu Sarah, dalam persembunyian nya?"
"Kami juga kehilangan jejak, orang yang menyembunyikan nona tuan."
"Siapa sebenar nya, orang itu. Kenapa orang itu begitu misterius." Reyhan berucap pelan, namun masih bisa terdengar oleh para pesuruh nya.
"Maaf kan kami tuan, kami masih butuh waktu dalam mencari info tentang nona."
"Oky, saya tunggu. Tapi kalian harus benar-benar, mencari. Karna saya menyuruh kalian itu, bayar tidak gratis."
"Iya, tuan. Kami permisi mau mencari nona lagi."
"Iya."
Mereka semua pergi dari hadapan Reyhan, dan mencari lagi jejak nona nya. Yang sampai sekarang, masih belum bisa di temukan.
"Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan mu, Sar."
"Aku juga gak akan biarin kamu, pergi jauh dari aku. Aku juga yakin kalau kamu gak pergi terlalu jauh dari aku."
Reyhan sangat yakin jika, Sarah. Memang benar-benar tidak jauh pergi dari nya.
Reyhan juga sebagai suami, memiliku tanggung jawab pada Sarah, dan ia juga tidak akan membiar kan ada lelaki lain yang mendekati istrinya.
🕊🐰🕊🐰🕊
"Reyhan kemana sih, kok sampai sekarang belum pulang."
Natali, terus mondar-mandir, di ruang tamu. Ia hawatir dengan Reyhan, sedari tadi pagi Reyhan belum juga pulang.
"Apa sebaik nya, aku telvon aja yah?"
Natali mengambil ponsel nya, menekan kontak Reyhan. Ia langsung menghubungi Reyhan, tidak butuh waktu lama Reyahan mengangkat nya.
"Hallow, sayang?"
"........ ........ ......"
"Kamu di mana sih, aku hawatir banget sama kamu?"
".......... ........ .... "
"Cepet, aku gak mau nunggu lebih lama lagi."
"..... ....... ..... "
"Yaudah hati-hati."
'Klik' sambungan telvon langsung di putus kan oleh Natali.
Natali duduk di sofa ruang tamu, sambil menunggu Reyhan pulang. Natali sangat cinta dengan Reyhan, maka jika Reyhan lambat pulang Natali sangat khawatir dengan Reyhan.
'Tok... tok.... '
"Iya, tunggu sebentar," Natali berteriak dari dalam dan berjalan cepat, karna ia sudah yakin jika yang pukang itu adalah Reyhan.
'Cklek' pintu di buka dan menampakan sosok, yang di nanti-nantikan nya.
"Sayang kok kamu baru pulang sih," Natali tidak diam saja, ia langsung bergelayut manja di lengan Reyhan.
"Ayo yank, kita makan dulu. Pasti kamu laper kan?"
"Hmmm."
"Yank kamu, kenap sih? pulang-pulang kok muka nya di tekuk gitu?"
"Gak pa-pa, aku mau mandi dulu. Kalau kamu udah lapar makan aja duluan."
"Gak, ah yank. Aku gak mau makan kalau gak bareng kamu."
"Yaudah terserah kamu aja."
Reyhan berjalan kekamar nya, ia ingin menenang kan diri, karna masih belum bisa mendapat kan info tentang Sarah.
Rasa nya, sangat kacau jika orang yang kita sayang, pergi meningal kan kita.
Reyhan, masuk kekamar mandi, dengan handuk, melilit di pinggang nya.
Tak butuh waktu lama untu Reyhan mandi, ia hanya mandi dalam waktu 15 menit itu sudah cukup, untuk Reyhan.
******
"Ayo dong yank, kamu makan nya yang banyak."
Natali terus saja berkata manja, pada Reyhan apa dia tidak tau kalau Reyhan sedang pusing.
"Stop Nat."
"Jangan terus-terusan, memancing emosi ku, aku lelah Nat. Sampai sekarang Sarah masih belum di temukan, itu semua gara-gara kamu."
Reyhan berucap dengan amarah yang meluap. Amarah nya sudah tidak dapat, di tahan.
"Kamu kenapa sih Rey? kenapa kamu terus nyalahin aku, di mana letak kesalahan aku Rey?"
Natali berteriak pada Reyhan, dengan air mata berlinang di pipi nya.
"Jelas kamu itu salah?"
"Aku tidak salah Rey, jika kamu ingin menyalah kan aku, sebaik nya kita percepat saja pernikahan kita, aku tidak ingin di tunda-tunda, lagi agar kamu sadar. Dan kamu ju-"
"Aku tidak ingin pernikah gila ini terjadi, aku hanya ingin Sarah yang menjadi istri ku, bukan kamu, Nat." Reyhan memotong pembicaraan Natali, dengan suara nya yang