Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Kesalahpahaman
Matahari sore meredup pelan, menyisakan pendar jingga keunguan yang menembus sela-sela tirai butik pengantin milik Naura.
Di dalam ruangan kerjanya, suasana tampak sunyi mencekam. Lembaran-lembaran foto yang menampilkan keintiman semu antara Arka dan Valen masih tergelak di atas meja kayu jati putih, seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya seluruh kebahagiaan yang baru saja dikecap Naura.
Naura duduk termenung dengan tatapan kosong yang mengarah lurus pada foto-foto tersebut. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak guratan kemerahan di pipinya yang pucat. Kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran meja, menahan tubuhnya yang terasa lemas dan bergetar hebat. Rasa sakit yang menghunjam dadanya kini telah berubah menjadi badai kemarahan dan kekecewaan yang teramat masif. Logika sehatnya telah sepenuhnya lumpuh oleh rasa cemburu dan harga diri yang diinjak-injak.
"Ibu Naura, Pak Arka sudah datang menjemput," suara Ratih terdengar dari balik pintu kaca, memecah keheningan yang mencekik tersebut.
Mendengar nama suaminya disebut, tubuh Naura refleks menegang sempurna. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang memburu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. "Baik, Ratih. Suruh Kak Arka langsung masuk ke ruanganku saja," jawab Naura dengan nada suara yang terdengar datar, dingin, dan tanpa emosi.
Beberapa detik kemudian, pintu kaca bergeser terbuka. Arka melangkah masuk dengan senyuman hangat yang terukir di wajah tampannya.
Pria itu melepaskan kancing jas hitamnya, melangkah mendekat dengan binar kerinduan yang terpancar jelas dari sepasang mata elangnya.
Setelah seharian berkutat dengan berkas-berkas bisnis yang menjemukan, melihat wajah Naura adalah satu-satunya hal yang paling ia nantikan.
"Sayang, kenapa telepon dari Kakak tidak diangkat, hm?" tanya Arka lembut.
Ia melangkah mendekati meja kerja Naura, bersiap untuk membungkuk dan mendaratkan kecupan rutin di kening istrinya. "Kakak khawatir sekali karena kamu tidak memberi kabar sejak siang tadi."
Namun, sebelum bibir Arka sempat menyentuh kulit keningnya, Naura dengan gerakan cepat dan kasar memalingkan wajahnya ke samping, menghindar dari sentuhan suaminya.
Arka tertegun di posisinya. Alis tebalnya bertaut rapat, merasakan perubahan atmosfer yang sangat drastis di dalam ruangan tersebut. Senyuman di bibirnya memudar seketika, digantikan oleh kerutan kening yang penuh rasa heran. "Naura? Ada apa? Mengapa kamu menghindar? Apa Kakak membuat kesalahan?"
Naura tidak langsung menjawab. Ia mendongak, menatap Arka dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan amarah dan rasa sakit yang teramat dalam. Tatapan dingin yang belum pernah Arka lihat sebelumnya dari sosok istri mudanya yang biasanya selalu lemah lembut dan penuh kepatuhan.
"Kak Arka tanya apa kesalahan Kakak?" lirih Naura, suaranya bergetar hebat menahan buncahan emosi yang siap meledak.
Ia tertawa sumir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Arka. "Silakan Kakak lihat sendiri apa yang ada di atas meja ini."
Arka mengalihkan pandangannya ke bawah, mengikuti arah tunjuk tangan Naura yang gemetar.
Begitu sepasang mata elangnya menangkap lembaran-lembaran foto yang berserakan di atas meja, seluruh tubuh sang CEO muda itu seketika membeku sempurna.
Udara di dalam ruangan itu seolah-olah mendadak berhenti mengalir.
Di atas meja itu, terpampang jelas foto dirinya yang tampak sedang memeluk erat Valen di ruang kerja pribadinya. Ada pula foto yang diambil dari sudut sedemikian rupa sehingga memperlihatkan wajahnya dan Valen yang begitu dekat, seolah-olah mereka sedang berbagi ciuman yang sarat akan hasrat masa lalu.
"N-Naura ... ini dari mana kamu mendapatkan foto-foto ini?" tanya Arka, suara baritonnya mendadak bergetar. Kepanikan yang luar biasa masif langsung menghantam seluruh dinding dadanya.
Pria yang biasanya selalu tenang dalam menghadapi krisis bisnis bernilai triliunan rupiah itu kini mendadak kehilangan kata-kata di hadapan istrinya sendiri.
"Dari mana aku mendapatkannya itu tidak penting, Kak!" bentak Naura, akhirnya pertahanannya runtuh dan tangisnya kembali pecah dengan hebat. Ia berdiri dari kursinya, memukul permukaan meja dengan telapak tangannya. "Yang penting adalah apa yang Kakak lakukan di belakangku! Kakak bilang dia hanya masa lalu yang sudah mati! Kakak bilang aku adalah rumahmu! Tapi apa ini, Kak?! Di kantor Kakak sendiri, di ruang pribadi Kakak, kalian melakukan hal menjijikkan seperti ini!"
"Naura, dengarkan Kakak dulu! Ini tidak seperti yang kamu lihat!" Arka mencoba melangkah memutari meja, mengulurkan kedua tangannya untuk meraih bahu Naura, mencoba menenangkan istrinya yang mulai histeris. "Ini jebakan! Valen sengaja mendatangi kantorku kemarin tanpa izin. Dia menumpahkan kopi ke kemejaku dan sengaja bertingkah seolah-olah kami sedang intim. Kakak bersumpah, demi Tuhan dan demi anak kita, Kakak mendorongnya menjauh setelah itu! Kakak tidak pernah menyentuhnya!"
"Cukup, Kak Arka! Cukup!" Naura menepis tangan Arka dengan kasar ketika pria itu mencoba menyentuhnya. Ia mundur beberapa langkah, menjaga jarak dari suaminya dengan tatapan yang penuh dengan rasa muak dan ketidakpercayaan.
"Jangan sebut-sebut anak kita dengan bibir yang sudah digunakan untuk mencium wanita lain! Aku tidak bodoh, Kak! Foto-foto ini tidak mungkin berbohong! Sudut pengambilan gambarnya, ekspresi wajah Kakak ... semuanya terlihat begitu nyata!"
"Foto ini direkayasa, Naura! Seseorang sengaja mengambil gambar dari sudut luar jendela untuk menjebakku!" seru Arka, suaranya meninggi karena rasa frustrasi dan keputusasaan yang mendalam karena penjelasannya ditolak mentah-mentah.
"Kamu harus percaya pada suamimu sendiri daripada mempercayai potongan gambar murahan yang dikirim oleh orang tidak dikenal!"
"Bagaimana aku bisa percaya, Kak?!" teriak Naura, air matanya mengalir semakin deras membasahi seluruh wajahnya. "Sejak awal, pernikahan kita ini memang hanya sebuah keterpaksaan! Kakak menikahiku karena wasiat Ayah, bukan karena cinta! Di dalam hati Kakak, posisi Valen tidak pernah benar-benar tergantikan! Begitu dia kembali dari Paris dengan segala kemewahannya, Kakak langsung goyah dan memberikan celah untuknya!"
"Naura! Jaga ucapanmu!" bentak Arka, emosinya yang tersulut oleh rasa dituduh secara tidak adil akhirnya membuat suaranya menggelegar keras di dalam ruangan. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun tidak teratur. "Jangan pernah membawa-bawa wasiat Ayahmu lagi! Kakak sudah berkali-kali katakan padamu, Kakak mencintaimu atas kemauan Kakak sendiri! Jangan menghina ketulusan perasaan Kakak hanya karena selembar foto rekayasa ini!"
Bentakan keras dari Arka membuat Naura tersentak diam selama beberapa detik. Rasa takut, sakit hati, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu, menciptakan sebuah simpulan besar yang menyumbat tenggorokannya. Ini adalah pertama kalinya Arka membentaknya dengan suara sekeras itu sejak mereka saling membuka hati.
Naura menatap Arka dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat sayu dan rapuh, seolah-olah seluruh sisa energinya telah habis terkuras.
Ia memegangi perut bagian bawahnya yang mendadak kembali terasa melilit akibat tingkat stres yang teramat tinggi.
"Jadi ... sekarang Kakak membentakku?" lirih Naura, suaranya berubah menjadi sangat pelan dan serak di antara isak tangisnya yang tertahan. "Kakak membela diri dengan cara membentak istri Kakak yang sedang hamil?"
Melihat Naura memegangi perutnya dan mendengar perubahan nada suara istrinya yang begitu rapuh, kemarahan Arka seketika sirna tanpa sisa, digantikan oleh rasa penyesalan dan ketakutan yang teramat sangat. Pria itu tersadar bahwa egonya telah membuat dirinya bertindak bodoh di hadapan wanita yang seharusnya ia lindungi.
"Naura ... maaf ... Kakak tidak bermaksud membentakmu, Sayang," ucap Arka dengan nada suara yang mendadak melunak penuh dengan kepanikan. Ia melangkah maju lagi dengan perlahan, mengulurkan tangannya dengan gerakan yang sangat hati-hati. "Maafkan Kakak. Kakak hanya frustrasi karena kamu tidak mau mendengarkan penjelasan Kakak. Tolong, mari kita pulang ke rumah. Kita bicarakan ini baik-baik di kamar kita, ya? Jangan stres seperti ini, Kakak takut itu akan mempengaruhi kesehatan bayi kita."
Naura menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya masih terus menetes namun tidak ada lagi suara tangisan yang keluar dari bibirnya.
Dinding es kesalahpahaman telah berdiri dengan begitu tinggi dan kokoh di antara mereka malam itu.
"Aku tidak ingin pulang ke rumah itu, Kak," ucap Naura dingin, menatap mata Arka dengan pandangan yang hampa. "Aku tidak tahu lagi mana dari ucapan Kakak yang jujur dan mana yang merupakan kebohongan. Bagiku, setiap sudut di rumah kita sekarang hanya akan mengingatkanku pada foto-foto menjijikkan ini. Aku butuh jarak, Kak. Aku butuh waktu untuk sendiri, jauh dari semua kepura-puraan ini."
Puncak kesalahpahaman telah resmi tercapai malam itu di dalam ruang kerja butik yang temaram.
Akal licik Valen telah berhasil memicu ledakan besar yang memporak-porandakan rasa percaya yang dibangun Arka dan Naura dengan susah payah, menyisakan puing-puing kehancuran ego dan rasa sakit yang mendalam di hati kedua anak manusia yang sebenarnya saling mencintai tersebut.