Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Mansion Thorne pagi ini tidak lagi berbau lemon segar yang biasanya Sloane semprotkan dengan riang. Sebaliknya, udara dipenuhi aroma kabel terbakar dan logam dingin. Alistair, yang dilingkupi kecemasan luar biasa pasca-ancaman ayahnya, telah mengubah rumah itu menjadi benteng militer dadakan.
Sloane berdiri di tengah ruang tamu dengan tangan di pinggang, menatap sebuah kamera pengawas baru yang terpasang di sudut langit-langit. "Alistair! Kau memasang mata-mata elektronik tepat di atas lukisan yang baru aku bersihkan?! Kau tahu berapa banyak debu elektromagnetik yang dihasilkan benda itu nanti?!"
Alistair muncul dari lorong, mengenakan setelan jas hitam yang tampak sangat berat—mungkin berlapis anti peluru. Wajahnya lebih kaku dari biasanya, matanya tidak lepas dari sebuah tablet yang menampilkan sensor panas di sekitar rumah.
"Parameter keamanan harus ditingkatkan sebesar tiga ratus persen tiap jamnya, Nona Sterling. Secara administratif, privasi Anda adalah pengorbanan kecil demi integritas fisik Anda," jawab Alistair tanpa menoleh sloane.
"Pengorbanan kecil?! Aku merasa seperti dipenjara di dalam kotak kaca Alistair!" Sloane menggerutu dengan mulut sedikit muncung ke depan. Namun, kata-katanya terhenti saat ia melihat sosok wanita yang berdiri di belakang Alistair.
Wanita itu mengenakan setelan taktis hitam yang sangat pas di tubuh atletisnya. Rambut pirangnya diikat kuncir kuda yang sangat rapi—begitu rapi hingga Sloane bertanya-tanya apakah wanita itu menggunakan penggaris untuk menyisirnya. Wajahnya datar, dingin, dan tatapannya setajam pisau bedah.
"Alistair, siapa... robot wanita ini?" tanya Sloane, matanya menyipit penuh kecurigaan.
Alistair berdeham kaku. "Perkenalkan. Ini adalah Elena Vost. Mantan agen intelijen dan spesialis perlindungan jarak dekat. Mulai hari ini, Elena akan menjadi Asisten Taktis Pribadi saya... dan pengawal bayangan Anda."
Elena melangkah maju, memberikan hormat militer yang sangat kaku. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Sterling. Saya sudah menghafal seluruh pola gerak ceroboh Anda berdasarkan rekaman CCTV dua jam terakhir. Saya siap mengintervensi sebelum Anda mencelakai diri Anda sendiri lagi."
Sloane tertegun. "Apa? Menghafal gerak cerobohku?! Hei, Nona Kuncir Kuda! Aku tidak butuh pengasuh kaku sepertimu!"
Sloane melirik Alistair, mengharapkan pembelaan. Namun, Alistair justru sedang berdiskusi serius dengan Elena mengenai koordinat keamanan. Sloane merasakan sesuatu yang panas di dadanya. Bukan demam, tapi sesuatu yang lebih tajam: cemburu. Ia tidak suka melihat Alistair bicara begitu lancar dengan wanita lain yang memiliki "frekuensi" kaku yang sama dengannya.
Sore harinya, Sloane sedang menyapu lorong ketika ia melihat Alistair dan Elena sedang berdiskusi di atas sebuah peta digital di ruang kerja bawah tanah. Alistair melepaskan jaket jasnya karena suhu ruangan yang panas, dan—seperti biasanya—ia meletakkannya begitu saja di atas meja kontrol yang penuh dengan tombol-tombol sensitif.
Sloane melihatnya melalui pintu yang terbuka. Ini adalah kesempatannya untuk menunjukkan siapa "pemimpin" di rumah ini.
"ALISTAIR THORNE!!!"
Alistair dan Elena secara refleks menarik senjata mereka dan mengarahkannya ke pintu. Alistair ke arah depan, Elena ke arah samping.
"Ada apa?! Apakah ada penyusupan lewat ventilasi?!" teriak Alistair panik.
Sloane melangkah masuk dengan sapu di tangan, menunjuk ke arah meja kontrol. "KAU! KAU MENARUH JASMU DI ATAS KOMPUTER SEHARGA JUTAAN POUNDSTERLING ITU?! KAU MAU JASMU TERBAKAR ATAU KOMPUTERNYA YANG MATI KARENA KEPANASAN?!"
Elena menurunkan senjatanya, menatap Alistair dengan bingung. "Tuan Thorne, apakah saya harus melumpuhkan Nona Sterling karena gangguan konsentrasi ini?"
Alistair segera menurunkan senjatanya dan menghela napas panjang. "Jangan, Elena. Itu adalah... prosedur peringatan rutin."
"Rutin apanya! Cepat ganti posisi jasmu!" Sloane mendekat, menyambar jas Alistair dengan kasar. Saat ia menarik jas itu, jarinya bersentuhan dengan tangan Alistair. Sloane menatap Alistair dengan tatapan yang sangat tajam, seolah menantang Elena yang berdiri di samping mereka.
"Di rumah ini, ada aturan. Dan aturannya adalah: Sloane Sterling yang mengatur letak barang. Mengerti, Nona Besi?!" Sloane membentak Elena.
Elena hanya mengerjapkan mata, benar-benar tidak paham dengan dinamika emosional di depannya. "Saya tidak melihat keuntungan logistik dari perdebatan jas ini."
"Tentu saja kau tidak lihat! Karena kau robot!" balas Sloane ketus. Ia kemudian menatap Alistair. "Alistair! Aku mau masak pasta malam ini. Dan kau harus membantuku. SEKARANG."
Alistair menatap Elena, lalu menatap Sloane. Ia melihat binar ketidaksukaan yang aneh di mata Sloane. Alistair menyadari bahwa mengabaikan Sloane saat gadis itu sedang cemburu adalah tindakan bunuh diri taktis.
"Elena, lanjutkan analisis rute pelarian di pelabuhan. Saya harus... melakukan intervensi di sektor dapur," kata Alistair kaku.
"Tapi Tuan, kita belum selesai membahas protokol serangan balik—"
"Ini mendesak, Elena. Secara administratif... perut saya lapar," bohong Alistair.
Sloane tersenyum kemenangan. Ia menggandeng—lebih tepatnya menyeret—lengan Alistair menuju dapur. Begitu sampai di dapur, Sloane langsung memojokkan Alistair ke pintu.
"Kenapa kau membawa wanita kaku itu ke sini, hah?! Dia menyebalkan! Dia bilang gerakanku ceroboh!" Sloane memarahi Alistair sambil memukul pelan dada Alistair dengan kemocengnya.
Alistair menatap Sloane, tangannya secara otomatis memegang pinggang Sloane agar gadis itu tidak terus bergerak. "Dia adalah perlindungan terbaik yang bisa saya beli, Sloane. Ayah saya... dia tidak main-main. Saya butuh orang yang mengerti bahasa militer untuk menjaga Anda saat saya tidak ada disini."
"Aku tidak butuh dia Alistair! Aku punya kau!" Sloane berseru, suaranya sedikit mengecil di akhir kalimat. "Maksudku... kau juga bisa menjagaku, kan?"
Alistair Thorne tertegun. Jantungnya berdebar kencang melihat Sloane yang tampak begitu tulus—dan sedikit manja—di balik kegalakannya. Ia merunduk sedikit, wajahnya mendekat ke wajah Sloane.
"Saya akan selalu menjaga Anda, Sloane. Elena hanya asisten taktis. Tapi Anda... Anda adalah alasan mengapa saya masih ingin memiliki rumah untuk pulang," bisik Alistair, suaranya sangat serak.
Sloane terdiam, wajahnya memerah hebat. "Kau... kau baru saja merayu lagi ya? Pakai bahasa asisten-asisten segala."
Alistair tidak menjawab. Ia hanya mengusap pipi Sloane dengan ibu jarinya. Namun, momen itu pecah saat suara Elena terdengar dari interkom dapur.
"Tuan Thorne, saya mendeteksi adanya kenaikan suhu tubuh secara signifikan pada Nona Sterling melalui sensor panas. Apakah saya perlu membawa peralatan medis ke dapur?"
Sloane langsung menjauh dari Alistair, mengambil spatula dan berteriak ke arah speaker interkom. "DIAM KAU, ROBOT KUNCIR KUDA! AKU HANYA SEDANG KEPANASAN KARENA KOMPOR!"
Alistair menutup wajahnya dengan tangannya, berusaha menahan tawa. Ia menyadari satu hal: ia sudah benar-benar jatuh hati pada gadis berisik ini, dan rasa cemburu Sloane adalah bukti bahwa mungkin perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan.
To be continued....