Seorang anak yang mana kehadirannya tidak dikehendaki oleh ayahnya sendiri hanya karena ia terlahir sebagai anak perempuan.
Meydina namanya. Seorang anak yang semasa kecilnya tidak dianggap keberadaannya, kini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang sederhana.
Pekerjaannya mempertemukan Meydina dengan seorang pria tampan dan gagah bernama Maliek Putra Bramasta yang merupakan atasannya.
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka bila ternyata Meydina dan Maliek ada ikatan saudara?
Bagaimana pula kehidupan Meydina setelah ia disia-siakan?
Apakah hubungan ayah dan putrinya itu akan membaik seiring berjalanya waktu?
--------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat, dan kejadian yang serupa, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mimpi apakah ini?
Happy reading....
"Aarrrgh!!!" Maliek membanting ponselnya ke atas tempat tidur.
Ia merasa kesal pada dirinya sendiri, dini hari begini belum juga bisa memejamkan mata. Bayang-bayang Meydina seakan menggantung di pelupuk mata.
Di pesta tadi, gadis itu nampak anggun dan cantik.
"Dengan siapa dia pulang tadi? Kenapa nggak nunggu dulu, aku kan bisa antar dia." Maliek menggerutu.
**
"Yang aku inginkan seorang putra!!" Praangg....
"Nghnghhnghh..." Dengan nafas tersenggal disibakkannya selimut yang menutupi tubuhnya.
Sambil berusaha mengatur nafasnya, Meydina mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Hari sudah pagi, mentari pagi yang menyilaukan mulai mengintip dibalik jendela.
Meydina terduduk diatas tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya. Pelan-pelan ditariknya selimut kedalam pelukannya. Terdengar isakan yang tertahan dari mulut yang dibekap oleh selimut. Yang terlihat hanya bahu yang bergetar.
Mimpi itu datang lagi. Mimpi yang selalu membuatnya berkeringat dingin, menggigil dalam keheningan.
Sebagai apa dia disana? Mengapa dia harus menonton pertengkaran mereka?
Siapa pria yang ada dalam mimpinya itu? Bahu yang tegap dengan perawakan tinggi besar. Dan wanita tadi? Ibu? Apa pria itu sedang memarahi ibu? Semarah itukah sampai melemparkan barang yang ada di dekatnya? Bagaimana kalau pria itu melukai ibu?
Meydina mengusap wajahnya dengan selimut.
"Ayah?" ucap Meydina lirih sambil menoleh menatap sebuah foto di atas nakas.
Foto yang memperlihatkan kebahagiaan sebuah keluarga kecil yang terpancar dari senyum di wajah mereka.
"Tidak mungkin itu ayah," gumamnya lagi saat di sadari sosok ayah dalam foto itu tidak memiliki postur tubuh yang sama dengan pria yang ada dalam mimpinya.
Postur tubuh ayahnya tidaklah tinggi besar.
"Lalu siapa pria itu?" ucap Meydina bingung.
Di rebahkannya lagi tubuhnya dengan malas.
Hari ini, kantor libur. Dan besok, dia akan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Aaahh, rasanya ia ingin sekali waktu berhenti saat ini.
Bagaimana sikap Maliek nantinya?
"Maliek." Seketika Meydina terhenyak mengingat sosok pria yang semalam memintanya untuk jadi pacarnya.
***
Disaat yang bersamaan.
Ting, tong...
Ting, tong...
Sudah lebih dari lima menit suara bel di apartemen Maliek menggema. Mengganggu si empunya yang sedang tertidur lelap. Menjelang subuh Maliek baru bisa memejamkan matanya.
Lagi-lagi suara bel itu terdengar.
"Maliek!" Seorang wanita berteriak di luar pintu.
Maliek yang enggan untuk membuka matanya, mendengar suara yang sangat dikenalnya sontak dia terbangun dan berlari kearah pintu apartemennya.
Cekklek. Pintu terbuka.
"Mama!" pekik Maliek. Ia segera menarik tangan mamanya.
"Iih, kamu kenapa sih?" tanya mamanya yang masih kesal. Melihat malik yang celingak-celinguk melihat ke luar pintu sebelum menutupnya.
"Apa-apaan sih mama kok teriak di luar? Ini masih pagi mah," ucap Maliek yang kesal dengan sikap mamanya. Ia berlalu menuju kamarnya.
"Lagian kamu juga, nggak pernah ngasih tahu sandi pintu aparteman ini." Mama Resty dengan wajah merengut mengikuti langkah putranya menuju kamar.
"Mama kan nggak pernah tanya," sahut Maliek malas. Ia kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Melihat anaknya menuju mode tidur, mama Resty dengan secepat kilat mengambil bantal yang berada tidak jauh dari tubuh Maliek.
"Bangun. Bangun. Bangun nggak, hah?" Ia mengeratkan giginya sambil memukul-mukulkan bantal ke tubuh anaknya yang tidur tengkurap.
"Mamaaa..." Maliek memekik untuk yang kesekian kalinya.
Maliek terduduk dengan cepat, namun tanpa diduga, bughh. Bantal yang di pegang sang mama menghantam wajahnya.
Mama Resty tertegun, ia tak menyadari anaknya itu sudah terduduk.
"Maaf, ya Sayang!" ucapnya malu dan mengusap-usap wajah tampan anaknya.
"Udah aah, mama mau apa pagi-pagi kesini?" tanya Maliek yang menepis lembut tangan mamanya.
Mau tidak mau ia harus menahan kantuknya, karena mamanya tidak akan berhenti mengganggu sampai keinginannya di turuti.
"Antarkan mama kerumah Anita!" pintanya.
Maliek terhenyak mendengar permintaan sang mama.
"Ke rumah Meydina?" Maliek balik bertanya dengan semangat serta senyum mengembang di wajahnya.
Mama Resty mengangguk. Ia tampak heran dengan perubahan sikap Maliek yang begitu cepat. Suara dentuman pintu kamar mandi yang ditutup Maliek menyadarkannya.
"Kenapa anak itu? Tadi kelihatannya ngantuk banget, eeh sekarang semangat banget," gumamnya dalam hati.
Masih dengan rasa heran yang menyelimuti hatinya, ia melangkah ke dapur untuk membuatkan sarapan Maliek.
**
Resty melangkah turun dari mobil Maliek. Sebelum menutup pintu mobil, ia kembali tertegun.
Semalam, pertemuannya dengan Salman benar-benar mengganggu pikirannya. Ia bersyukur karena Salman tidak bertemu Meydina disana. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatnya sangat takut.
Seandainya Bram suaminya bisa menemaninya bertemu Anita, mungkin ia tidak akan segugup saat ini. Bram harus menemui koleganya di hari libur karena keadaan yang mendesak.
Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya. Ditatapnya rumah sederhana yang ada di depannya. Rumah itu di hiasi banyak tanaman bunga anggrek, bunga yang sangat disukai Anita.
"Ayo, Ma!" ajakan Maliek menyadarkannya.
Mereka melangkah beriringan. Pintu rumah terlihat sedikit terbuka.
Deg.
Detak jantungnya seakan berhenti. Seorang wanita dengan tongkat penyangga yang berada di ketiaknya nampak bolak-balik menata hidangan di atas meja makan.
"Anitaa," gumamnya lirih. Air mata berderai di pipinya. Sebelah tangannya meraba ke samping mencari tangan Maliek untuk berpegangan.
Tubuhnya terasa lemas tidak berdaya. Sepupunya yang dulu sangat cantik dengan tubuh yang indah, kini terlihat tidak berdaya dengan tongkat menyangga tubuhnya.
Merasa ada orang yang sedang memperhatikan, Anita menoleh ke arah pintu. Dirinya tersentak kaget melihat Maliek yang berdiri di ambang pintu rumahnya.
Dan wanita yang bersamanya? Wanita yang sedang menutup setengah wajah dengan telapak tangannya, sedang tangan satunya menggenggam tangan Maliek...
"Resty!" ucapnya dengan mata terbelalak.
Dalam keterpakuannya, Anita melihat dua orang itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Manghampirinya,,, dekat, bahkan lebih dekat lagi. Sedangkan tubuhnya masih terasa kaku.
"Anita..."
Suara lirih yang terdengar tepat di telinganya, membuatnya tersadar. Wanita tadi sedang memeluk erat tubuhnya. Resty sedang memelukkya.
Mungkinkah ini mimpi di pagi hari? Tapi ia ingat sedang menyiapkan sarapan untuk Meydina. Apakah ini nyata? Terlepas dari tanya yang ada di benaknya, ia menggerakkan sebelah tangannya untuk membalas pelukan yang diterimanya.
***
"Hhmm," senyuman terukir di wajah Meydina yang sedang tertidur.
Aroma maskulin ini terasa sangat nyata. Harum menenangkan. Membuatnya enggan membuka mata untuk sekedar terbangun dari mimpi indah tersebut.
Senyum di bibirnya makin merekah, menampakkan deretan gigi putihnya. Rasa geli menyeruak saat ujung jari itu menyapu lembut seluruh bagian wajahnya membuat Meydina mengekeh lembut. Sentuhan itu pun terasa sangat nyata.
Karena tak ingin lebih lama lagi terbuai mimpi indahnya, dengan berat hati di bukanya perlahan kedua kelopak matanya.
Seorang pria tengah menatapnya lekat, sangat dekat hingga hembusan nafasnya terasa di wajah Meydina.
"Maliek," ucapnya lirih sambil tersenyum lebar dengan kedua mata yang kembali tertutup.
"Mimpi apa lagi ini?" batinnya.
"Sudah bangun?" duara serak pria itu membuatnya terbelalak.
"Maliek?" tanya Meydina mengernyitkan dahi.
"Hmm," Malik mengangguk sambil membetulkan posisi duduknya.
"Ma...Maliek?" pekik Meydina.
-----------
Hai, readers.... Happy weekend!!!!😊
baru nemu novel kayak gini biasanya setiap bab alur dan penulisannya seakan berada cerita in,,,semangat thor💪🏼💪🏼
kirim bungga sekobong❤️❤️
orang baru aja jadian lagi sayang sayangnya kok mau dipisahin 😁