Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Kematian
"Awas saja, aku pasti akan membuat perhitungan terhadap kalian!" ancamannya kemudian meninggalkan kami
Kata-kata Adit masih terngiang-ngiang di telingaku saat bapak mengajak ku untuk melihat makam Anggi.
Dari keempat wadal, entah kenapa hanya Anggi yang membuat bapak begitu ingin menziarahi kuburnya. Bahkan makam ibu saja bapak tidak pernah mengunjunginya.
Mungkin karena Anggi adalah anak kesayangannya sehingga ia begitu sedih.
Melihat kesedihan di mata bapak membuatku tak tega dan memutuskan untuk menemani bapak menjenguk makam Anggi.
Pagi-pagi sekali saat Rere masih tidur aku dan bapak memutuskan untuk menziarahi makam Anggi. Aku sengaja memetik bunga-bunga yang ada di halaman rumah untuk ditaburi diatas makam Anggi.
Perjalanan dari tempat tinggal kami yang baru menuju area pemakaman cukup lumayan jauh. Setelah satu jam menggunakan sepeda motor kamipun tiba di area pemakaman desa Kicir.
Aku segera memarkir sepeda lor dan mengikuti bapak mencari makam Anggi. Setalah berputar-putar akhirnya kami menemukan makam Anggi yang sengaja dikebumikan di bawah pohon besar.
Sekilas tak ada yang aneh dengan makam Anggi, hanya saja pemakamannya. Hanya saja aku merasa aneh dengan bunga yang ditabur diatas makamnya.
Kenapa hanya bunga melati, kenapa tidak ada bunga lain. Padahal setahuku biasanya bunga taburan terdiri dari aneka macam jenis bunga.
Tapi sudahlah aku tidak mau ambil pusing. Lagipula bapak juga biasa saja. Ia tak mengeluh apalagi bertanya kenapa hanya ada bunga melati.
Ku lihat bapak berdoa begitu khusuk, sehingga akupun mengikutinya.
Saat aku hendak menabur bunga diatas makam Anggi bapak melarangnya.
"Tidak usah," ucapnya menepis lenganku
"Kenapa Pak, bukankah akan lebih baik jika makam Anggi dipenuhi dengan bunga segar," jawabku
Bapak menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, dia tidak membutuhkannya," jawab Bapak
Aku hanya menurut tanpa bertanya lagi. Entah kenapa pagi itu aku males berdebat dengan bapak. Saat aku hendak berdiri, bapak merogoh saku celananya dan menancapkan sebuah bambu kuning kecil diatas makam Anggi.
Untuk apa ia meletakan benda itu.
"Maafkan Bapak yang tak bisa menyelamatkan mu nak," ucap bapak begitu sedih
Ia kemudian bangun dan mengajakku pergi meninggalkan area pemakaman.
Baru kali ini aku melihat kesedihan di wajah Bapak. Ia terlihat begitu murung setelah itu. Ia bahkan terus mengurung diri di kamar tanpa mau keluar.
Pukul delapan pagi Pak Karim datang mengunjungi kami.
Lelaki itu datang membawakan sarapan pagi lengkap dengan pakaian ganti untuk kami.
"Maaf hanya ini yang bisa saya bawakan, oh iya ini ada beberapa baju untuk ganti kalian. Lumayan lah daripada beli, baju-baju ini masih layak pakai," ucap Pak Karim
"Aduh pak gak usah repot-repot, kami sudah diijinkan tinggal di sini saja sudah bersyukur eh bapak malah repot-repot membawakan sarapan dan baju lagi. Kami jadi semakin berhutang budi sama bapak,"
"Bukan hutang Budi mas, anggap saja ini sedekah dari keluarga saya. Bukankah sesama muslim harus saling membantu," jawab Pak Karim
Aku hanya mengangguk menimpali ucapannya.
Ku lihat Rere sudah bangun dan menghampiri ku. Mencium aroma wangi makanan Rere pun meminta makan, dan aku segera mengambilkan makanan untuknya.
"Bapak dimana, kenapa gak diajak sarapan sekalian?" tanya Pak Karim
"Oh, dia ada di kamar, sebentar saya panggil kan,"
Aku segera bangun untuk memanggil bapak. Namun sayangnya bapak tidak mau keluar. Dia bilang tidak nafsu makan.
Aku segera keluar dan menemui Pak Karim lagi.
"Sepertinya bapak belum berselera makan pak," ucapku
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga kalian?" tanya Pak Karim tiba-tiba membuat ku terkesiap
Saat aku hendak menjawab bapak tiba-tiba keluar dari kamar.
"Tidak ada apa-apa kok Pak, hanya saja mungkin keluarga kami lagi kena sial saja," jawab Bapak
"Hmm, tapi melihat kemarahan warga semalam rasanya ada sesuatu yang membuat mereka melakukan hal anarkis seperti itu. Selama ini aku belum pernah melihat warga sampai sebrutal itu. Apalagi keluarga Pak Mul ini kan warga baru di desa kami," sahut Pak karim
Aku dan bapak saling bertatapan saat mendengar pertanyaan tersebut. Aku ingin menjawab penjelasan Pak Karim, sebenarnya aku ingin memberitahunya tapi aku tidak berani melangkahi bapak. Biarlah dia yang akan menjawabnya. Apalagi suasana hati bapak sedang tidak enak. Aku tidak mau terjadi perselisihan lagi antara aku dan bapak.
"Sebenarnya...."
Bapak mulai membuka obrolan, meksipun ia sedikit gagap dan malu untuk menceritakan apa yang terjadi. Ku lihat ia berusaha mengumpulkan semua keberanian untuk memberitahukan Pak Karim.
Bapak bahkan terisak saat menceritakan kebodohannya saat memilih melakukan pesugihan. Dia bahkan terisak saat menyesali apa yang sudah ia lakukan hingga membuat semua orang menjadi wadal pesugihannya.
"Nasi sudah menjadi bubur, aku kira ia hanya meminta satu atau dua anakku saja, ternyata tidak. Ia terus meminta wadal dan mengirimkan uang padaku," sesalnya sambil terisak
"Astaghfirullah hal Adzim, itulah kenapa agama kita melarang melakukan hal itu. Selain syirik perbuatan tersebut hanya akan mendatangkan banyak mudharat kepada kita, nyawa anak kita melayang namun harta pesugihan juga akan menghilang dan tak bisa digunakan setelah kalian tidak memberinya wadal lagi," terang pak Karim
Semua yang ia katakan benar. Kini kami harus berjuang melawan kematian. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami.
Kini bukan hanya makhluk halus yang ingin kami mati, namun juga para warga yang tidak suka dengan perangai keluarga kami.
"Kalau begitu mungkin sebaliknya kalian menetap di sini saja, aku yakin di sini kalian akan aman. Kalau untuk harta benda yang tertinggal di rumah lama kalian, nanti aku berusaha mengambilnya jika masih ada yang bisa diselamatkan, tapi aku tidak bisa berjanji," ucap Pak Karim kemudian pamit pergi
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja