Lilin tak mau dijodohkan. Dia tidak suka sama lelaki yang usianya terpaut jauh dengannya. Apalagi lelaki tersebut mirip ogah. Maka di hari perkawinan itu, Lilin lebih baik kabur. Pergi jauh.
Calon suami nya tentu saja tidak terima.
Dia bakalan mengejar sampai kemanapun cintanya pergi.
Ternyata memang kehidupan tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Penuh lika-likunya. Mesti ada perjuangan kala ingin tercapai segala yang diinginkannya. Begitu juga Aqi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Mungkin waktu ke depan belum tentu ada kesempatan. Hingga perjuangan nya mesti berhasil.
Dan itu belum usai. perjalanan hidup terus berwarna. Dimana datang kawan lama yang membuat gondok. Dan saudara yang menyeret pada petualangan misteri nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjebak lagi
Sementara di pihak musuh, mereka terkejut. Teman-teman yang disuruh melakukan penghadangan tak ada yang berhasil menunaikan tugasnya. Perkiraan awal yang menduga kalau orang-orang itu sangat sakti semakin mencuat ke permukaan. Dan semakin bertambah yakin, kalau orang yang akan ditangkap itu akan bisa ditangkap jika para pengejarnya ditambah lagi. Misalkan satu batalyon atau satu kontainer lah sedikitnya
Pengejar lainnya itu, lalu berhenti sebentar saat melihat temannya mengerang di jalanan tikus, kampung, kota itu. Dibantunya, sembari memegangi tubuh yang terluka.
“Sialan!“ umpat para pengejar. Geram sekali dia pada musuh yang cuma dua orang tapi begitu lihai memainkan peran kucing- kucingnya itu. Sehingga dalam pikirnya, kalau berhasil menangkap, akan dijadikan dendeng, atau sedikit lebih lunak menjadi getuk lindri. Biar merasakan rasanya capek kejar-kejaran sementara tak ada sutradara yang mengarahkan kamera kepada mereka untuk ditampilkan di bioskop kesayangan anda.
“Iya, kenapa kamu bisa dijatuhkannya hah... “ ujar temannya sembari menginterogasi kawannya.
“E... “ itu jawaban yang tak pernah keluar karena mendingan merasakan sakit teramat hebat.
“Ayo cari kejaran kita,“ ujarnya setelah menanyai sia-sia.
Mereka celingukan lalu menunjuk sesuatu, “Itu mereka!“
“Sialan dia lari terus...“
“Ayo tangkap.“
“Benar. “
“Dia telah memukul teman kita.“
“Ya kita harus balas dendam. “
Mereka kemudian mengejar kembali si Aqi dan Dewi yang kabur sembari mencari kesempatan untuk menggulung satu demi satu musuhnya.
Kedua orang yang melarikan diri itu sesekali menoleh ke belakang. Melihat dimana para pengejar sekarang posisinya berada. Masih jauh apa sudah mau menangkap mereka. Kalau sudah terlihat ada perpecahan, maka kala itu yang dipergunakan keduanya untuk memancing kembali.
“Aku pancing mereka lagi ya,“ ujar Dewi.
Dia mulai senang. Usahanya tadi berhasil. Meskipun sedikit takut tapi tak mengurungkan niatnya untuk merasa lebih gembira. Harus dibuat merana mereka. Dan dia akan bertambah senang memperoleh pengalaman barunya menjadi hero buat dirinya sendiri sehingga nanti akan menghiasi diary tebalnya, kehidupan, dan tergores memori itu didalamnya.
“Jangan dulu! Nanti kalau ada waktu. “
“Menunggu kesempatan?“
“Ya, setelah sendirian nanti. Seperti tadi.“
Aqi terus menyeret temannya. Supaya larinya lebih cepat. Maklum perempuan. Bagaimanapun bakalan tertangkap kalau tak dikasih spirit. Itu yang terus dia ucapkan.
“Sekarang ayo kita sembunyi,“ ujar Aqi Firdaus.
“Oke...“
Mereka kemudian mencari tempat yang sangat strategis buat menghantam balik kelompok musuh yang begitu tega mengejar ngejar terus.
Seperti tadi, mereka mengejar-ngejar dan kemudian mencar. Mau melakukan penghadangan. Dengan senjata mengerikan.
“Nah itu satu. Wah senjatanya mengerikan. Mereka ini preman apa bengkel, kok membawa-bawa peralatan begitu,“ ujar Aqi senang akan dia sikat kalau ketahuan sendirian.
“Terus?“
“Kita tetap sembunyi,“ ujar Aqi. Berusaha bersabar. Serta bakalan melakukan aksinya nanti.
Mereka diam. Berdebar sesaat. Dan nanti bakalan dihajar.
“Ini tali,“ ujar Aqi. Dia memberikan temali itu di ujung satunya.
“Kamu di sebelah sana.“
Setelah itu tali dibiarkan terhampar di tanah.
“Kita tak terlihat oleh mereka, karena terlindung tembok.“
“Awas. Dia mulai dekat.“
“Benar.“
Lawan tak melihat.
Dia terus saja menuju jebakan.
“Ya tarik!“ teriak Aqi. Dia sendiri menarik tali tersebut kuat kuat.
“Oke.... “ disambut oleh Dewi yang turut menarik tambang yang lumayan kuat. Meskipun dia wanita tapi soal tarik menarik begitu tak akan kalah sama musuhnya.
dah mentok 😁
yuk yang baru....
thanks 🙏
smg
yuk