Budi, seorang CEO yang dikenal ramah dan sopan, harus menghadapi kenyataan pahit ketika putri kecilnya menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh seorang predator anak. Tragedi ini mengubah Budi sepenuhnya. Di tengah keputusasaannya, muncul seseorang yang menyebut dirinya Jack the Finisher menawarkan bantuan untuk menculik pelaku kejahatan yang telah merenggut nyawa putrinya. Meskipun diliputi keraguan, Budi akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Sejak saat itu, Budi memulai perjalanan kelamnya, berubah dari seorang ayah yang berduka menjadi predator bagi para psikopat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vardan alzumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dengan langkah tenang, Juda kembali menjalani rutinitasnya di pabrik. Debu dan bising mesin sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-harinya sebagai operator forklift. Di tengah hiruk pikuk lini produksi, sosok Santi, chief line yang terkenal judes namun memiliki daya pikat yang tak bisa diabaikan, muncul dengan langkah anggun namun penuh aura dominasi.
Santi, dengan tatapan mata tajamnya yang mampu membuat nyali ciut para pekerja di bawahnya, kerap kali melayangkan godaan verbal kepada Juda. "Hei, Juda," sapanya suatu pagi dengan nada suara yang dibuat-buat lembut, namun menyiratkan sebuah tantangan. "Kenapa kamu selalu terlihat murung? Apa perlu aku hangatkan sedikit harimu?"
Juda, tanpa mengangkat wajah dari panel kontrol forkliftnya, hanya menjawab singkat, "Kerjaan saya banyak, Santi."
Sikap dingin Juda yang terus berulang kali ia tunjukkan membuat Santi merasa terusik. Selama ini, tak ada pria di pabrik itu yang berani mengabaikannya. Penolakan Juda terasa seperti sebuah tamparan halus namun menyakitkan bagi egonya. Dalam benaknya, Santi mulai mencari alasan di balik sikap acuh Juda.
Matanya kemudian tertuju pada Risma, salah satu anggota timnya yang memiliki pembawaan tenang dan senyum yang menawan. Santi menyimpulkan, dengan keyakinan seorang ratu yang merasa terancam, bahwa Risma pasti memiliki andil dalam penolakan Juda terhadapnya.
Tanpa sepengetahuan Santi, di balik interaksi singkat dan canggung di antara mereka, Juda dan Risma menyimpan sebuah rahasia. Mereka saling menyukai, sebuah perasaan yang tumbuh diam-diam di tengah kebisingan pabrik. Namun, keduanya sepakat untuk merahasiakan hubungan mereka, menghindari gosip dan potensi masalah yang mungkin timbul, terutama dari Santi yang dikenal memiliki pengaruh cukup besar di lingkungan kerja.
Suatu siang, saat Juda sedang memindahkan palet berisi suku cadang, Santi menghampirinya dengan langkah cepat dan wajah yang menyimpan amarah tertahan. "Juda, bisa kita bicara sebentar?" tanyanya dengan nada yang tidak lagi ramah.
Juda menghentikan forkliftnya dan menatap Santi dengan ekspresi datar. "Ada apa, Santi?"
"Kenapa kamu selalu menghindariku?" Santi bertanya langsung, tanpa basa-basi. "Apa karena gadis kecil itu, Risma?"
Mendengar nama Risma disebut, raut wajah Juda sedikit berubah, meskipun ia berusaha tetap tenang. "Ini tidak ada hubungannya dengan Risma. Saya hanya fokus pada pekerjaan saya."
"Jangan bohong!" bentak Santi, suaranya meninggi hingga beberapa pekerja di sekitar mereka mulai menoleh. "Aku tahu kalian berdua punya sesuatu. Dia selalu melihatmu dengan tatapan aneh itu!"
Risma, yang sedang membereskan beberapa barang tak jauh dari sana, terkejut mendengar namanya disebut dengan nada penuh amarah. Ia menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah Juda dan Santi.
"Santi, jaga bicaramu," ujar Juda dengan nada tegas, mulai terpancing emosi. "Ini bukan urusanmu."
"Bukan urusanku katamu?" Santi tertawa sinis. "Tentu saja ini urusanku! Kamu pikir kamu siapa berani menolakku demi gadis ingusan itu?"
Pertengkaran semakin memanas. Kata-kata tajam terlontar dari bibir Santi, sementara Juda berusaha meredam amarahnya meskipun rahangnya terlihat mengeras. Suara mereka yang meninggi menarik perhatian lebih banyak karyawan pabrik. Mereka berhenti dari pekerjaan masing-masing dan menyaksikan pertunjukan yang tidak biasa ini.
Risma merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak mau hubungannya dengan juda diketahui santi.
"Santi, sudahlah," Risma memberanikan diri mendekat, suaranya pelan namun tegas. "Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Juda selain rekan kerja."
Santi menoleh ke arah Risma dengan tatapan merendahkan. "Oh ya? Lalu kenapa kamu selalu mencuri pandang padanya? Dasar murahan!"
Ucapan Santi yang kasar itu membuat Juda kehilangan kesabarannya. "Santi!" bentaknya, membuat semua orang yang menyaksikan terdiam. "Jaga mulutmu! Kamu tidak berhak menghina Risma seperti itu."
Ketegangan di udara semakin pekat. Mata Santi berkilat marah, merasa harga dirinya diinjak-injak di depan banyak orang. Sementara itu, Risma menatap Juda dengan rasa terima kasih dan kekhawatiran. Ia tahu, membela dirinya di depan Santi bisa berakibat buruk bagi posisi Juda di pabrik.
Pertengkaran itu akhirnya dilerai oleh beberapa supervisor yang datang setelah mendengar keributan. Mereka membawa Juda dan Santi ke ruangan terpisah untuk menenangkan diri dan menyelesaikan masalah ini secara internal.
Sementara itu, para karyawan pabrik kembali ke pekerjaan mereka, namun bisik-bisik tentang pertengkaran panas antara operator forklift, chief line judes, dan gadis manis dari tim produksi terus bergema di antara deru mesin. Risma hanya bisa menunduk, berharap badai ini segera berlalu dan hubungannya dengan Juda tidak menjadi semakin rumit.
Malam itu, bintang-bintang di langit tampak enggan bersinar, seolah ikut menyembunyikan pertemuan rahasia antara Risma dan Juda. Mereka memilih sebuah taman kota yang terletak agak jauh dari keramaian pabrik tempat mereka bekerja. Di bawah naungan pohon-pohon rindang yang menjadi saksi bisu bisikan angin malam, keduanya bertemu. Rasa canggung bercampur rindu menyelimuti suasana, namun ada kehangatan tak terucapkan yang mengalir di antara mereka.
Setelah beberapa saat menikmati keheningan malam bersama, Juda mengusulkan untuk mencari tempat makan. Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan yang mulai sepi, hingga menemukan sebuah restoran kecil dengan dekorasi sederhana namun terasa nyaman. Cahaya temaram dari lampu-lampu gantung menciptakan suasana romantis yang lembut, seolah diciptakan untuk malam itu. Alunan musik jazz yang tenang semakin menambah keintiman suasana.
Mereka memilih tempat duduk di sudut restoran, sebuah meja kecil yang hanya diterangi oleh cahaya lilin. Sambil menunggu pesanan mereka datang, keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa lebih nyaman, lebih penuh arti. Tatapan mata mereka sesekali bertemu, menciptakan percikan-percikan kecil kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Juda memberanikan diri memecah keheningan. "Risma," panggilnya lembut, suaranya sedikit bergetar namun penuh ketulusan. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Sesuatu yang sudah lama ingin kuungkapkan."
Risma menatapnya dengan penuh perhatian, jantungnya berdebar kencang. Ia merasakan getaran emosi yang sama, sebuah harapan yang selama ini terpendam kini mulai bersemi.
"Aku tahu mungkin ini terdengar terburu-buru, mengingat semua kekacauan di pabrik dan bagaimana kita harus menyembunyikan semuanya," lanjut Juda, menggenggam tangan Risma yang tergeletak di atas meja. "Tapi aku tidak bisa lagi memendamnya. Sejak pertama kali aku melihatmu, ada sesuatu yang berbeda. Kamu... kamu membuatku merasa nyaman, membuatku ingin menjadi orang yang lebih baik. Aku menyukaimu, Risma. Lebih dari sekadar teman kerja."
Air mata haru mulai membasahi pipi Risma. Ia tidak menyangka Juda akan mengungkapkan perasaannya sejelas dan setulus ini. Selama ini, ia hanya bisa memendam perasaannya, takut akan penolakan atau komplikasi yang mungkin timbul di lingkungan kerja mereka yang penuh intrik.
"Juda," balas Risma dengan suara bergetar, "aku... aku juga merasakan hal yang sama. Sejak awal, ada sesuatu yang istimewa tentangmu. Kamu selalu baik, selalu perhatian. Aku... aku juga menyukaimu."
Senyum lega dan bahagia merekah di wajah Juda. Ia semakin menggenggam erat tangan Risma, seolah tidak ingin melepaskannya. Malam itu, di bawah cahaya lilin yang menari-nari, mereka meresmikan sebuah hubungan yang selama ini tersembunyi. Sebuah cinta yang tumbuh di tengah kebisingan mesin pabrik dan intrik persaingan kerja, kini menemukan tempatnya untuk bersinar.
Setelah makanan mereka datang, percakapan mengalir dengan lebih lancar. Mereka berbagi cerita tentang diri mereka masing-masing, tentang mimpi dan harapan mereka. Juda menceritakan tentang masa lalunya yang kelam, tentang kesepian yang pernah ia rasakan sebelum bertemu Risma. Risma mendengarkannya dengan penuh perhatian, sesekali menggenggam tangannya untuk memberikan dukungan.
maaf koreksi dikit