Avery Edwards melampiaskan kemarahannya pada Lucas Aylmer. Tiba-tiba saja gadis itu mencium Lucas, hanya demi memperlihatkan jika bukan dia yang dicampakan oleh Alden, yang telah menjalin kisah cinta dengannya sedari masa sekolah menengah atas. Sementara Alden baru saja mulai bekerja, dan tertangkap basah berselingkuh. Tepat di hari kelulusan Avery. Sedang patah hati, malah dimintai pertanggung jawaban.
"Kau telah menciumku?" imbuh Lucas seraya berkata lagi, "Kau harus bertanggung jawab!"
Avery tidak habis pikir dengan pria yang sedang meminta pertanggungan jawaban darinya. Merasa dirinya masih terlalu muda, menikah bukanlah priorotas utamanya. Akankah Avery bisa lepas dari tuntutan Lucas, atau sebaliknya malah tunduk dan patuh akan ingin dan mau Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARTA KEKAYAAN
“Avery… wanita jalang itu telah menghancurkan hariku!” Hardik marah Harper.
“Apa kita benar-bernar tidak bisa menyingkirkan dia!” imbuh Harper merengek kepada ibunya.
“Jika saja bisa… jika saja bisa!” imbuh Nyonya Stela dengan tatapan serius.
Tuan Stock menyerahkan semua Sebagian besar harta keluarga Edwards untuk Avery, Dan ini hanya bisa berpindah tangan ketika gadis itu nanti berusia 21 tahun. Setelah menerimanya jika dia mau memberikannya kepada orang lain, itu terserah pada Avery. Atau mau mengelolanya juga semua terserah Avery.
Selama harta itu belum berpindah tangan, maka satu pun dari anggota keluarga Edwards tidak bisa menyentuh, atau memakainya. Avery adalah kunci kekayaan keluarga Edwards. Kehadirannya dibenci tapi sekaligus dipertahankan.
“Apakah dia memakai sihir kepada Tuan Stock, agar mau menyerahkan semua harta kekayaan keluarga Edwards kepada Avery?” imbuh Harper.
“Itu dia…. Itu dia caranya. Aku menemukan sebuah cara untuk menyingkirkan anak jalang itu!” imbuh Nyonya Stela.
“Dengan apa?” tanya Harper.
“Sihir… kita sebarkan rumor jika Avery memakai ilmu hitam untuk memantrai kakeknya sendiri agar pikirannya kacau. Dan, pada akhirnya mau menyerahkan semua harta keluarga kepada Avery!”
“Apakah ini akan berhasil?” tanya Harper meragu.
“Tentu saja, kita memiliki kartu As!” tambah nyonya Harper dengan meyakinkan.
“Apa?” tanya Harper penasaran.
Ketika Avery memutuskan pertunangan dengan Aldein, Nyonya Stela berpikir jika Avery sudah memiliki pria lain sampai-sampai mau melepaskan pria sekaya Aldein. Ahli waris utama semua bisnis keluarga Alsem. Karena itu dia mengirim orang untuk mengikuti Avery.
Foto-foto Avery dengan tod dan sarah akan dia jadikan bukti jika gadis itu memiliki komunitas penyihir. Nyonya Stela memperlihatkan foto-foto yang ada di tangannya. Seketika saja Harper pun tersenyum lebar. “Mati saja kau, gadis jalang!” imbuh sarkas Harper, merutuki Avery.
“Sekarang kau beristirahat saja, Mama akan urus segalanya!” hibur Nyonya Stela kepada putrinya itu.
Harper mengangguk, setelah Nyonya Stela keluar dari kamarnya. Dia pun duduk di meja riasnya. Melepaskan perlahan Tiara Bunga Berlian. “Auch…!” imbuhnya sembari memperhatikan ujung jari telunjuknya yang baru saja mengeluarkan darah.
“Ini mengapa sepertinya Tiara ini baru saja menggigitku dengan gigi tajamnya!” pikir Harper yang langsung meletakan asal Tiara yang baru saja dia pakai itu.
Harper mengambil tisu dan membersihkan darah di jari telunjuknya. Dia pun pergi masuk ke kamar mandi untuk mandi air panas. Selesai mandi dia berusaha menghubungi Aldein berkali-kali. Tapi, tidak berhasil. Entah sudah berapa gelas yang dia sudah minum untuk meredam kemarahannya.
Pada akhirnya Harper memejamkan matanya dan dia pun terpulas menyebrangi alam mimpi. Dia bermimpi sedang berada di tahun 1591 yang lalu. di sebuah kota kecil. Dia melihat ada seorang pembuat sepatu dengan alasan yang kurang jelas tiba-tiba saja melakukan bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri.
Melihat hal itu, Harper langsung saja berteriak. Tapi, lidahnya terasa kelu sehingga tidak bisa mengeluarkan teriakan, bahkan tidak bisa berkata sepatah katapun. Harper membuka matanya, betapa terkejutnya dia. Pria yang dia lihat di dalam mimpi, tak hanya sekedar menampakan diri, sosok misterius ini juga seolah sedang mau menindih Harper yang sedang tidur setelah menyerang Harper dengan ketakutan yang mengerikan tadi di dalam mimpinya tadi.
“Jangan... jangan mendekat!” imbuhnya dalam hati dengan sambil mengeluarkan air mata.
Pria tanpa kepala itu, naik ke atas tempat tidurnya sambil menenteng kepalanya sendiri dengan tangan kanan. Lalu, meletakan kepalanya di perut Harper. “Tidak! Jangan!” imbuh Harper dalam hati dengan hati yang sangat kacau.
Tubuh gadis itu tidak bisa digerakan sama sekali, seakan-akan kepala yang baru saja diletakan di perut ratanya itu memiliki berat yang setara dengan dua orang sedang menduduki dirinya. Sekujur tubuhnya diliputi oleh keringat.
Pada akhirnya dia pun membuka kedua matanya. Kedua tangannya langsung memegang perutnya. “Tidak ada, tidak ada!” imbuhnya sembari duduk di ranjang besarnya.
“Hanya mimpi… itu hanya mimpi!” imbuh Harper lagi sambil melap keringat di keningnya.
Merasa betapa mimpi tadi buruk sekali, Harper pun terjaga sampai dengan pagi. Ketika dia turun untuk sarapan, terlihat mata panda di bawah matanya. Nyonya Stela merasa sangat kasihan dengan putrinya itu.
“Apa semalam tidak tidur dengan nyenyak?” tanya lembut Nyonya Stela,
“A-aku… eum…!” Harper meragu untuk bercerita, Khawatir dianggap gila.
Teringat tentang apa yang dikatakan oleh Ibunya semalam, Harper pun langsung berkata, “Ma, apa sudah memberitahu tentang Avery!”
“Ah soal Avery yang itu ya!” imbuh Nyonya Stela.
“Beritahu saja tentang foto-foto itu!” imbuh Harper lagi.
“Ah iya, aku mau membeikan foto ini!” imbuh Nyonya Stela seraya menyodorkan sebuah amplop kepada Tuan Lynch.
Pria itu langsung membukanya, melihat putrinya bersama dengan pria aneh. Kedua matanya pun langsung terbelalak. “Aku rasa dia terlah berselingkuh dengan pria urakan itu. Lihat saka tatonya, seluruh wajahnya di tato. Benar-benar urakan!”
“Mary!” panggil marah Tuan Lynch.
“Untuk makan siang dan makan malam tidak perlu diantar kepada Avery. Biarkan dia sendiri agar bisa merenungkan kesalahannya!”
“Tapi… tidak bisa begitu. Maksudku, Nona Avery adalah manusia biasa. Dia juga butuh makan dan minum!” imbuh Mary membela nona mudanya itu.
“Di rumah ini siapa yang menjadi Tuan Rumah?” tanya Tuan Lynch, dengan nada yang tidak suka dibantah.
Mary pun mengangguk, menyadari posisinya yang hanya sebagai kepala pelayan. Pada akhirnya hanya bisa menuruti perintah Tuan Lynch. Nyonya Stela pun memasang wajah kemenagan. Mary melihat wajah kusut Harper lalu dia berkata, “Apa Nona baik-baik saja!”
Harper tersenyum kecut sembari menganggukan kepalanya, lalu Mary berkata lagi. “Sudah mendapatkan apa yang diinginkan bukankah seharusnya bisa tidur nyenyak!”
Setelah mengatakan hal itu, Mary pun langsung saja pergi meninggalkan ruang makan. Pada saat ini ponsel Tuan Lynch berdering. “Aku akan segera ke sana!” jawabnya kepada orang yang menghubunginnya.
“Apa ada sesuatu yang terjadi!” tanya Nyonya Stela.
Tuan Lynch mengabaikan pertanyaan Nyonya Stela, dia langsung pergi ke kantornya yang mengatakan ada hal buruk yang menimpa Perusahaan. Sementara itu di Apartemen Lucas, pagi ini dia sedang berdiri di balkon apartemen berjenis penthouse milikinya itu.
Berdiri cukup lama di sana, hanya karena ingin mencari wangi aroma tubuh Avery. Pada saat ini, mengungkung dan melindungi Avery dengan kedua tangannya sangatlah mudah. Tapi, jika dia menggunakan caranya, maka sudah pasti membuat Avery takut tak terhingga.
Ponsel Lucas berdering, “Bagaimana?” tanyanya.
“Sudah dilakukan! Ujar Xander yang berhasil melobi beberapa supplier hanya dalam satu malam saja.
Di Grup Edwards, Nampak Tuan Lynch sedang mengumpulkan jajarannya. “Apa yang terjadi, bagaimana dalam dua minggu kedepan tidak akan ada lagi stok barang mentah yang dikirim. Ini sama saja memaksa produksi berhenti!” imbuh marah Tuan Lynch.