Sebelum membaca cerita ini Baca dulu room 14
*
Ternyata cerita itu belum usai disana, dia masih ada, dia belum benar-benar musnah, dia masih merajalela. Dia masih mencari, terus mencari, hingga kekuatan itu kembali ada. Sekali lagi tempat yang menyimpan rahasia kelam itu belum sepenuhnya hilang, masih banyak rahasia disana yang belum terungkap.
Menyelidiki lebih dalam konspirasi apa yang ada dibalik rahasia gelap lab buana membuat Diana tersesat semakin jauh. Apa yang selama ini ia ketahui hanya potongan kecil dari sebuah rahasia yang lebih besar. Apa yang terjadi dan disembunyikan di buana membuatnya lebih menyadari betapa menakutkan makhluk yang bernama manusia.
Diana berusaha melakukan penelitian tentang Oublierserum demi menciptakan serum lain yang dapat menetralisir Oublierserum. Diam-diam dia juga mengumpulkan bukti untuk menjebloskan wali kota kedalam jeruji besi.
.
ikuti juga ig aku ya : aca_0325
selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Gerbang villa terbuka secara otomatis membuat kelima rekan itu lebih waspada. Adnan yang berjalan lebih dulu memperlambat langkahnya, ia mendongak merasakan seseorang sedang memperhatikan dari lantai dua.
"Kenapa, nan?" Tanya Dylan
" Ada orang di lantai dua. Kedatangan kita sudah diketahui, "jawab Adnan.
Sontak mereka mengarahkan pandangan kearah lantai dua. Sementara Feby yang berdiri dibelakang gorden masih terus memperhatikan, sambil berfikir apa yang harus ia lakukan agar mereka tidak menemukan keberadaan Elise. Tangannya meraba saku jaket kulit yang membalut tubuhnya. Ada beberapa pisau bedah ia sembunyikan disana. Sebagai seseorang yang pernah memiliki kode nama rose tentu saja lemparan pisaunya sangat mahir. Hanya saja ia belum terlalu bisa membaca pergerakan Dylan, Abi dan Alea. Untuk Diana, ia yakin seratus persen lemparannya tidak akan meleset.
" Kamu masih disini? "Tegur Erlangga yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya.
" Aku sedang mengawasi mereka dan menunggu saat yang tepat untuk... "
"Tidak perlu. Ayo pergi! " Potong Erlangga.
"Pergi? " tanya Feby tidak mengerti, ia mengikuti Erlangga kemudian mengajukan pertanyaan, "Bagaimana dengan mereka?"
"Biarkan saja, "
" Setidaknya kita harus membawa Elise, "
" Tidak perlu. Dia tidak terlalu dibutuhkan, lagipula ingatannya sudah tidak ada, " kata Erlangga sembari menuju halaman belakang.
" Yang terpenting sekarang adalah menemukan pak Eddie. Kita akan kesana sekarang. "
"Pak Eddie sudah ditemukan? " Tanya Feby.
" Aku tidak suka mengulangi perkataanku, Feby. " Erlangga menekankan setiap katanya, ia masuk kedalam mobil warna biru yang terparkir dihalaman belakang. Feby mengatupkan mulutnya dan ikut masuk.
Adnan membuka pintu yang sama sekali tidak terkunci. Sementara mereka masuk kedalam, Erlangga dan Feby sudah bersiap untuk meninggalkan villa.
Diana menekan saklar lampu dan seketika tempat itu terang benderang.
"Elise! " Panggil Diana.
"Elise! "
"El! "
"Elise! Kamu dimana? "
Brummm.... Brummm...
Saat tengah sibuk mencari Elise terdengar suara mobil baru saja pergi. Alea yang berada dekat jendela segera menyibak gorden, dilihatnya sebuah mobil warna biru pergi melewati gerbang. Itu artinya ada orang lain disini dari tadi.
"Jangan-jangan Elise sudah dibawa pergi, " celetuk Abi yang ikut berdiri disebelah alea.
"Elise! " panggil Diana lagi,
"Diana! Disini, pintunya terkunci, " Kata Dylan yang sedang berusaha membuka sebuah pintu. Satu-satunya pintu yang dikunci membuatnya curiga kalau mereka mengunci Elise di dalam.
" Dobrak saja, "saran Abi.
lantas Dylan, Adnan dan abis mendobrak pintu tersebut sekuat tenaga, percobaan pertama belum berhasil. Tidak menyerah mereka kembali mendobraknya, kali ini pintu itu terbuka dengan satu engsel terbuka.
Dylan lebih dulu masuk kedalam mendapati seorang perempuan tergeletak dilantai. Ia mendekat dan mengangkat perempuan tersebut keatas sofa yang ada diruangan itu.
" Elise! bangun! "Diana menepuk pelan pipi Elise. Namun tak membuatnya bergerak sama sekali.
Lima belas menit sebelum Diana datang, Erlangga mendatangi Elise. Karena secara tiba-tiba ia di kunci disuatu tempat yang tidak diketahui, Elise menjadi cemas dan waspada. Melihat seorang pria mendekati nya, ia bergerak spontan ke sudut ruangan. Nalurinya mengatakan orang ini berbahaya, lebih berbahaya dari feby yang tadi membawanya kesini.
" Kamu mengingatku? " Erlangga, pria itu berjarak beberapa langkah darinya. Dia mengajukan pertanyaan yang dijawab dengan gelengan oleh Elise.
"Ayolah! Coba ingat aku! " Bentak Erlangga. Matanya berkilat marah membuat Elise takut.
Melihat pria itu marah, Elise memaksakan otaknya untuk mengingat siapa orang ini. Semakin ia mencoba untuk mengingat kepalanya semakin berdengung, sampai rasanya kepalanya akan pecah dan meledak. Ia melirik pada Erlangga yang menyeringai, cepat-cepat Elise menundukkan kepala dan kembali berusaha mengingat.
"Bagaimana? sudah ingat? "
Elise menggeleng lemah.
"Oublierserum memang menakjubkan, " gumam Erlangga tersenyum puas. ia mendekat, tangannya menyentuh leher Elise lebih tepatnya memberi sebuah suntikan yang berisi obat bius.
Melihat Elise terjatuh ke lantai membuatnya tersenyum lebih lebar. Kemudian seolah tidak ada yang terjadi, dia pergi dari sana. Tak lama setelah Elise pingsan, mobil Dylan sampai. Sementara mereka berjalan curiga, Erlangga mengajak Feby untuk meninggalkan Villa.
"Kita bawa saja kerumah sakit, " kata Alea.
" Sebentar, " Mata dian memperhatikan bekas suntikan dileher bagian belakang Elise. Diana berharap semoga saja yang disuntikkan bukan oublierserum serum tingkat tiga lagi.
Mereka membawa Elise pergi dari sana. Selama perjalanan pulang tidak ada yng mengeluarkan suara, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
" Kira-kira mayat siapa yang kita temukan di rumah madam susan? " Celetuk Alea memecah keheningan.
"Enggak tahu. Mayatnya sudah membusuk dan tidak bisa dikenali, kita harus melaporkan secepatnya ke polisi, " ucap Adnan.
" Bagaimana dengan wanita bernama sarah itu, na? Apa yang dilakukan didalam sumur itu? "Tanya Abi.
" merawat pasien, "jawab Diana singkat.
"Kamu kenal sama pasiennya? " Tanya Alea.
"Enggak. Tapi, kata Sarah dia anak walikota, " Kata Diana.
" APA? ANAK WALIKOTA? BUKANNYA WALIKOTA CUMA PUNYA SATU ANAK? " Teriak Alea kaget.
Diana melirik Adnan yang juga melihat kearahnya, bagaimana jika Alea tahu kalau walikota sebenarnya masih memiliki anak lain yaitu Bian mungkin gadis cerewet itu akan lebih kaget.
" Kita belum tahu kebenarannya. Mulai besok mari kita selidiki ketiga kelompok itu, margareth, Feby dan sarah. Dan yang paling penting kita harus secepatnya menemukan pak Eddie, "Kata Diana.
Ting...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Diana, ia membukanya dengan acuh tak acuh. Pesan yang ia terima membuatnya mengerutkan dahi bingung, pesan tak biasa itu membuatnya bertanya-tanya. Ia melirik kearah teman-temannya, tidak ada dari mereka yang memperhatikan Diana. Haruskah ia memberi tahu mereka tentang pesan ini?
***
lagipula walau hanya memperbaiki kaca, apa iya proyek renovasinya tidak diketahui siapapun padahal gedung ini letaknya di tengah kota ?
padahal dari awal mereka mendapatkan email misterius, Dylan bisa melacaknya lalu melapor ke polisi. apalagi Sarah dekat dengan Jendral Besar dan walikota yang baru.