NovelToon NovelToon
Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.

Semuanya berawal dari ...

Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.

Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.

Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 : Watak Nabila.

Pagi ini cuaca sedikit tidak bersahabat, langitnya berawan. Isyana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang ke sebuah pusat perbelanjaan. Karena hari ini Isyana mau mencari beberapa barang yang akan dia pakai buat project baru.

Langkah Isyana terhenti saat melewati sebuah toko baju renang. Dari luar Isyana melihat dua orang pasangan dengan mesranya sedang memilih-milih baju renang. Mereka adalah Ikbal dan Nabila.

Isyana tersenyum miring sambil memalingkan wajahnya lurus ke depan. Lalu melanjutkan langkahnya melewati toko tersebut. Dia sempat memikirkan cara untuk mengikuti Nabila dan Ikbal yang akan berlibur ke Bali. Tapi dia juga harus bekerja, itu yang membuat Isyana sedikit bingung.

Drrt drrt drrt.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Isyana merogoh sakunya. Lalu memeriksa ponselnya. “Elvano?”

...‘Sya, nanti sore ketemu di kafe biasa ya.’...

Setelah membalas pesan Elvano, dia pun kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. Dira datang menghampirinya dari arah lobby pusat perbelanjaan itu.

“Saya baru saja sampai, Bu," kata Dira.

“Iya, tolong sekalian ambil barang belanjaan di toko itu,” ucap Isyana seraya menunjuk toko tempat dia beli peralatan project.

“Baik, Bu.”

Dira pun segera melaksanakan perintahnya. Sedangkan Isyana tetap berjalan kearah pintu keluar ke parkiran mobil. Tidak lama kemudian Dira menyusul berjalan di belakang Isyana menuju mobil.

“Ini kunci mobil nya,” kata Isyana seraya memberikan kunci mobil pada Dira.

Tidak menunggu lama, Dira langsung masuk kedalam mobil. Setelah menaruh barang-barang yang di beli Isyana ke dalam bagasi.

Diperjalanan menuju kantor. Isyana hanya diam melamun menatap luar jendela. Dia merasa Dira memperhatikan nya dari spion tengah beberapa kali.

“Dir, apa kamu sudah cari tahu dimana Pak Ikbal memesan kamar hotel?” tanya Isyana masih dengan tatapan ke arah luar jendela.

“Sudah, Bu. Ini dia.” Dira pun memberikan sebuah kertas kepada Isyana.

Isyana membaca isi kertas tersebut.

“Grand tiga mustika?” ucap nya seraya melirik Dira dari spion tengah.

Dira mengangguk. “Apa Ibu mau saya menyuruh orang untuk mengikuti mereka?”

“Tidak perlu, Dir.” Istana kembali memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.

Malu. Tentu saja itu yang kini dia rasakan. Bahwa kehidupan rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja itu di ketahui orang lain. Walaupun Dira itu adalah asisten pribadinya, tetap saja dia merasa sangat malu. Tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataan nya.

Sore hari. Isyana mengendarai mobilnya sendiri ke sebuah kafe tempatnya bertemu Elvano.

“Selamat datang, silahkan!” sambut pelayan kafe.

Aroma kopi langsung tercium di hidungnya saat memasuki kafe tersebut. Dia mengedarkan pandangan nya, menyapu satu persatu wajah para pelanggan di sana. Sampai akhirnya berhenti pada salah satu meja di ujung dekat jendela.

Ada seorang pria yang tengah duduk sendirian menatap layar ponselnya, sambil menyesap gelas berisi kopi yang ada di tangan nya. Isyana pun melangkahkan kakinya mendekati pria tersebut.

“El?” Dia memanggil pria yang duduk sendirian itu.

Pria bernama Elvano itu pun mendongak. Dia menatap Isyana dan tersenyum. Cinta di matanya tidak bisa disembunyikan.

“Sya, silahkan duduk,” kata Elvano seraya menunjuk kursi yang ada di depan nya.

Isyana menarik kursi itu lalu duduk dengan anggun di hadapan Elvano.

“Sya, ini Company Profile perusahaan ku yang kamu minta kemarin,” ucap Elvano.

Pria itu memberikan sebuah flashdisk kepada Isyana. Lalu memperlihatkan layar ponselnya pada Isyana.

Isyana hanya diam dan memperhatikan. Saat Elvano menjelaskan apa-apa tentang pekerjaan. Sesekali Isyana juga mengangguk isyarat kalau dia setuju.

Dia menegakkan pandangan nya menatap diam-diam Elvano yang sedang berbicara. Dia tidak sadar kalau saat ini dadanya berdebar hebat. Akan tetapi air matanya menetes tanpa izin, membuatnya gelagapan mengusap cepat menggunakan punggung tangan nya.

“Bagaimana bisa laki-laki sesempurna dirimu bisa di khianati oleh seorang perempuan,” batin Isyana.

Dia terkejut saat Elvano menatap nya.

“Sya, kamu kenapa?”

“A-aku tidak apa-apa.” Dia langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Elvano. Setelah memperbaiki raut wajahnya, dia kembali menoleh menatap Elvano.

“Kamu sudah makan nggak?” tanya nya berusaha mengalihkan suasana yang sedikit canggung.

“Belum, tapi aku mau makan malam sama Nino. Hari ini aku antar dia menginap tempat ibu mertuaku,” jelas Elvano.

“Oh begitu, yasudah kalau begitu aku langsung pulang ya.” Dia beranjak dari tempat duduknya. Elvano mengikutinya dan meraih tangan nya saat hendak melangkah pergi.

Dia menoleh menatap Elvano dengan penuh tanya.

“Hati-hati, kamu juga jangan lupa maka,” kata Elvano seraya tersenyum.

Seketika itu dadanya kembali berdebar. Rasanya bibir ini tidak bisa ditahan untuk tersenyum.Dia pun mengangguk.

“Pasti, bye!” Dia pergi meninggalkan Elvano yang menatap kepergiannya.

***

Tepat pukul 7 malam. Elvano baru saja pulang dari mengantar Nino ke rumah ibu mertuanya. Karena sudah liburan, Nino mau menginap di rumah neneknya.

Saat baru saja masuk kedalam kamar. Matanya menyipit menatap Nabila yang sedang melipat beberapa baju ke dalam sebuah koper. Dan ada juga beberapa tas belanjaan yang tergeletak di atas lantai. Dia pun berjalan mendekatinya.

“Kamu mau kemana?” tanya nya dengan tatapan menyelidik.

“Aku ada kerjaan model di Bali,” jawab Nabila santai, sambil terus melipat baju tanpa memperdulikan Elvano.

“Model lagi?”

“Iya, memangnya kenapa? Kamu mau ngelarang aku lagi, El?” Nabila tiba-tiba menjadi ketus.

“Walaupun ku larang beribu kali pun, kamu pasti tetap melakukan nya. Karena itu sudah watakmu!” Dia berjalan ke arah kamar mandi.

“Apa kamu bilang watak ku? Jadi kamu pikir aku ini pembangkang gitu?” Nabila berjalan memblokir jalan Elvano.

“Apa aku salah bicara? Itu kenyataan Bil, aku sampai capek mau ngelarang,” ucap Elvano.

“Kamu itu memang nggak pernah berubah ya El. Kamu selalu ngelarang ini itu, aku capek hidup sama kamu kalau begini terus.” Nabila mendengus kesal dan memalingkan badan nya.

“Terserah!” Elvano berbalik hendak berjalan keluar kamar.

“Kamu lupa ya dulu!”

Langkah nya terhenti. Dia menoleh kearah Nabila yang kini juga menatapnya.

“Kamu lupa? Dulu yang hancurin masa mudaku itu kamu! Kalau saja waktu itu aku nggak hamil anak kamu, mungkin sekarang aku sudah jadi model yang paling terkenal dari pada sekarang!” ucap Nabila dengan sombongnya.

Tangan nya mengepal dan tatapan nya menajam. Dia menyunggingkan senyuman nya. Lalu berjalan mendekati Nabila.

“Kamu selalu saja menyalahkan aku penyebab masa muda mu yang hancur. Bil, aku sebenarnya nggak mau mengatakan nya, tapi kamu harus ingat dimana-mana kucing kalau di lemparkan ikan pasti di makan nya. Apalagi waktu itu kita sama-sama mabuk, aku pun tidak ingat kejadian nya.” Dia menunjuk wajah Nabila dengan tangan yang bergetar karena menahan amarahnya.

“Elvano, kamu benar-benar yah! Kalau kamu nggak berubah aku nggak akan pulang lagi!” Nabila sangat marah, dia menutup kopernya dengan kasar. Lalu menyeretnya keluar dari kamar.

Elvano mengusap wajahnya dengan kasar. Dia marah dengan kata-kata Nabila yang menyudutkan nya. Akan tetapi dia juga sudah mulai lelah menghadapi watak Nabila yang selalu merasa kurang dengan apa yang dia berikan selama ini.

To be continued...

1
Elok Pratiwi
cerita tidak menarik
Elok Pratiwi
sangat tidak menarik tokoh utama wanita nya lemah hanya bisa menangis .. cerita yg sangat buruk
Cis Siu
uhuy
Ruth Khoiriyah
sama mbuletnya thor kenapa ceritanya mbulet
Ruth Khoiriyah
mbulet coba langsung ambil perusahaan nya aja biar tau rasa
Endang Supriati
oneng si isyana, lola lemot
Endang Supriati
ya iyalah ibunya berzinah, anak yg jadi korvan. adq hadisnya.
Wiwit
bingung dgn cerita isyana nya bodoh atw gmn ya
A Yes
❤️❤️❤️🌺🌺🌺🌺
A Yes
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
A Yes
ikuuuut💃💃💃💃😂😂😂😂😂✌️😅
YuWie
bunga untuk evan yg bisa teges...
YuWie
el gak peka..tio aja paham
YuWie
heran aku..gampang bgt diprovokasi. wong ya sdh tau sama2 janda dan duda dan ada anak. Isyana malah perasa bgt klo sama nino..
YuWie
duluuu disia2 elvanonya..sekarang kelimpungan sendiri nabila.
YuWie
ngonooo wae..nino ya gitu, dah pernah diabaikan ibunya jadinya skrg cari perhatian.
YuWie
hah
YuWie
ini baru laki2 hentelmen...gak dibalas cintanya mundur bukannya bikin hal yg licik2
YuWie
nahhh gitu...komunikasi tanpa emosi.
YuWie
buruk banget sih komunikasi el dan is.. padahal sdh sama2 pernah gagal tapi gak belajar dr kegagalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!