"Dewa, sebaiknya kamu menikahi Gita saja. Supaya tidak memutus kasih sayang dari Mamanya yaitu mendiang Tya. Kalau wanita lain, belum tentu dia bisa menyayangi Qinan."
Suara Bu Endang terdengar dan meminta Dewa untuk menikahi adik iparnya sendiri yaitu Gita. Dewa yang baru saja menjadi duda terpaksa Turun Ranjang.
Apakah tragedi turun ranjang ini akan berakhir bahagia? Atau hanya formalitas semata untuk memberikan kasih sayang dan membersamai tumbuh kembang Qinan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Membiasakan
Walau pelukannya tak terbalas, rasanya cukup bagi Dewa. Sebab, Gita tidak serta-merta menolaknya. Lagipula, Dewa tahu ini adalah pelukan pertama keduanya sejak mereka menikah. Jika masih ada rasa canggung, itu sangat wajar. Sebab, Dewa sendiri sebenarnya juga sangat canggung.
Namun, jika selamanya canggung yang ada hubungannya akan selalu berjalan di tempat tanpa ada yang berinisiatif terlebih dahulu. Sekalipun Gita pasif, tapi selama Gita tak menolak itu tidak menjadi masalah untuk Dewa. Hujan di luar sana semakin deras, agaknya keduanya harus menunggu untuk reda dan menjemput Qinan di rumah Mamanya.
"Aku menelpon Mama dulu yah, kita perlu memberitahu kalau di rumah hujan," kata Dewa dengan mengurai pelukannya.
"Iya, aku cemas kalau Qinan menangis."
Dewa akhirnya mengambil teleponnya dari saku celananya. Kemudian dia menghubungi Mamanya, sangat aneh karena satu tangan Dewa masih menggenggam tangan Gita. Tindakan Dewa itu membuat Gita tak bisa menolak dan tetap berdiri di sisi Dewa.
"Assalamualaikum ... halo, Ma," sapa Dewa begitu panggilan teleponnya terhubung.
"Waalaikumsalam, ya, Wa ... ada apa?"
"Ma, di rumah hujan deras banget. Kalau Dewa menjemput Qinan agak nanti bagaimana?"
"Sudah tenang saja. Kamu gak usah mikirin Qinan. Hujannya sangat deras, di rumah Mama juga hujan deras. Kalau sudah reda aja baru dijemput. Bilangkan ke Gita, Qinan enggak rewel kok."
Sebenarnya tak perlu memberitahu Gita karena Gita berada di sisi Dewa sekarang. Sehingga Gita juga mendengar semua pembicaraan Dewa dan Mamanya. Dewa akhirnya mengakhiri teleponnya. Setelah itu, dia menoleh lagi ke Gita.
"Kamu mau makan, Ta? Atau pengen ngapain?"
Gita sebenarnya tak merasa lapar. Ingin rebahan sebenarnya, tapi sungkan karena Dewa menempel dirinya seperti ini. Terlebih hujan sedang turun begitu derasnya.
"Mau istirahat aja, Mas."
"Ya sudah, kita istirahat dulu saja. Nanti kalau sudah kita jemput Qinan yah. Ayo," ajak Dewa.
Pria itu mengajak Gita menuju ke ranjang. Gita benar-benar semakin berdebar sekarang, digandeng tangannya oleh Dewa menuju ke ranjang membuatnya canggung. Sebab, ranjang akan meninggalkan kesan intim untuk pasangan pria dan wanita.
Tepat di depan ranjang, Dewa lagi-lagi memeluk Gita. Tanpa suara, tapi deru napas Dewa bisa Gita dengarkan terlebih wajah suaminya itu berada di sebelah wajahnya, dekat dengan bahunya. Pelukan Dewa begitu erat, seakan ada perasaan yang ingin dia sampaikan dengan pelukannya.
"Kamu tak ingin memelukku, Ta? Hujannya semakin deras. Aku juga halal untuk kamu sentuh kok, karena aku suamimu," kata Dewa tepat di sisi telinga Gita.
Ah, mendengarkan suara Dewa, air mata Gita kembali berlinang. Rasa sungkan yang kemudian tumbuh menjadi rasa bersalah bukan kepada Dewa, tapi kepada kakaknya yang telah tiada. Semua rasa itu berkecamuk, ada rasa sesak yang Gita rasakan.
"Peluk aku," kata Dewa sekarang.
Gita memejamkan matanya dengan air mata yang berlinang. Dalam hatinya bersuara lirih. "Maafkan aku, Mbak Tya."
Perlahan Gita menggerakkan tangannya, dia memberanikan diri untuk memeluk Dewa. Walau ada rasa bersalah sebenarnya, tapi Gita meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah bagian dari garis takdir yang harus mereka lalui. Dewa merasa lega merasakan kedua tangan Gita yang melingkari dirinya, hangat, walau Gita masih terasa takut-takut.
"Kamu istriku, Ta. Terima kasih selama hampir satu tahun terakhir banyak yang kamu lakukan untukku dan Qinan."
Usai mengatakan itu, Dewa menggerakkan kepalanya perlahan. Dia menyingkirkan helaian rambut Gita yang ada di sana, lalu pria itu secara impulsif menggerakkan ujung hidungnya yang mancung mengenai garis leher Gita. Gadis itu berdesir, tindakan Dewa membuatnya gamang dan hanya bisa memejamkan matanya.
Jika semula adalah ujung hidung, kemudian Dewa berikan kecupan-kecupan kecil di garis leher Gita. Kecupan yang perlahan turun hingga ke tulang belikat Gita. Demi apa pun, sebelumnya tak pernah ada pria yang melakukan ini terhadapnya. Bahkan Dewa lebih memberanikan diri, mengecup puncak bahu dengan sedikit menarik kemeja Gita. Bibir itu bergerak lembut, tampak terukur, tapi juga sukses menghantarkan desiran.
Beberapa menit berlalu, Dewa terus melakukan itu. Hingga akhirnya, pria itu memeluk Gita begitu erat dan berusaha menenangkan napasnya. Jika tidak, pasti akan berlanjut ke kegiatan-kegiatan panas lainnya. Dengan hati-hati, dia belai untaian rambut Gita yang sebahu.
"Bukannya aku lancang, tapi kita harus membiasakan diri satu sama lain bukan? Makasih, Ta. Makasih."
Usai mengatakan itu, Dewa mengurai pelukannya. Pria itu kini bisa melihat wajah Gita yang berurai air mata, lantas dia seka perlahan sisa-sisa air mata di wajah Gita.
"Kamu menangis? Kamu tidak suka dengan tindakanku tadi?" tanya Dewa.
Gita menggelengkan kepalanya, dia menunduk. Rasanya tak berani menatap Dewa sekarang.
"Lalu, untuk apa menangis?"
"Aku merasa bersalah kepada Mbak Tya ...."
Gita mengatakan semua itu dengan air mata yang berderai. Dewa justru tersenyum tipis, Gita memang sepolos itu. Pria itu kemudian mengusapi puncak kepala Gita.
"Tya tidak akan marah. Kamu tidak merebut aku darinya. Melainkan Allah yang menyatukan kita dengan pernikahan turun ranjang ini. Bahkan dulu, ketika almarhumah masih ada, dia menitipkan kamu dan mama kepadaku. Sekalipun dia tiada, dia ingin aku bisa menjaga keluarganya. Jadi, aku akan menjaga kamu dan Mama. Khusus untukmu, bukan sekadar menjaga, tapi juga mencintaimu," kata Dewa perlahan.
Air mata Gita semakin tumpah. Perasaan yang berkecamuk, tapi Gita yakin bahwa semua perlahan membaik. Dewa kemudian membawa Gita masuk ke dalam pelukannya. Dia berikan pelukan yang erat dan hangat di tubuh Gita yang bergetar lantaran sedang menangis itu.
capek bangeeeettt
capek badan ngurus ponakan sekalian hamil
capek hati, terpaksa memaklumi suami yg selalu membanding2kan dg almh sang kk
dih laki bersyukur
tau gitu, rawat aja anaknya ga usah kawinin bapaknya