NovelToon NovelToon
Living The Underworld

Living The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kaya Raya / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu / Lari Saat Hamil
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: Dignity

Millie Peterson.

Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.

Orion Alano.

Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.

Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Aku menduduki kursi panjang di depan pintu kayu berwarna biru kehijauan yang mengarah ke dapur mansion Alonzo. Pada saat pertama kali melihat lukisan Millie, aku langsung mengenali pintu itu, tapi tidak tahu kenapa dan paham sekarang.

Bentuk dan warnanya persis seperti lukisannya yang kini menggantung di perpustakaanku. Dia mengatakan ibunya terus-menerus mengisahkan tentang pintu ini, lalu dia melukisnya berdasarkan gambaran itu dan sekarang aku baru tahu. Eloisa tidak menanam bayangan pintu ini di benak Millie tanpa alasan, melainkan dia sudah melihatnya ratusan, atau bahkan ribuan kali. Setiap hari dia keluar dan masuk dari pintu ini. Sial, bahkan Millie-pun mungkin sudah melewatinya ratusan kali.

Sialan... Millie. Bisakah aku memanggilnya dengan nama itu? Tak diragukan lagi, itu bukan nama aslinya. Bagiku dulu dia Alessandra, tapi sekarang Millie. Bisakah aku memisahkan keduanya?

"Boleh aku bergabung?" suara lembut Alonzo terdengar dari balik bahuku. Setelah dia menyampaikan fakta yang sebenarnya, aku langsung meninggalkan ruangannya dan keluar dari rumah. Aku terus berlari dengan kepala menunduk dan saat menengadah, pintu ini tengah menatapku. Aku membutuhkan udara segar untuk menenangkan diri. Segala macam emosi berkecamuk di kepalaku saat ini.

Aku mengangguk, bergeser sedikit agar kami bisa sama-sama duduk di atas kursi kayu tua itu.

"Apakah dia tahu?" suaraku bergetar ketika aku membuka mulut. Aku tidak sanggup menerima kenyataan Millie berbohong padaku jika dia tahu Alonzo adalah ayah kandungnya.

"Tidak." jawabnya cepat. "Sama sekali tidak tahu. Kami tidak pernah memberitahunya soal mafia. Dia hanya tahu kedua kakaknya dan aku sudah mati. Dan sebaiknya tetap seperti itu, Orion. Demi keamanan Millie, dengan alasan apapun kau tidak boleh memberitahunya."

Apakah dia bersungguh-sungguh? Setelah semua ini, aku harus berhadapan dengan Millie dan berbohong padanya? Aku tidak sanggup. Astaga! "Alonzo, aku..."

"Aku tidak mau mendengar penolakan dalam hal ini." dengusnya tegas.

Seketika aku menutup mulut rapat-rapat. Posisiku di Amerika mungkin menjanjikan, tapi Alonzo memastikan semua orang tahu dialah pemegang kekuasaan tertinggi grup kami. "Semakin sedikit dia tahu, semakin bagus. Seandainya yang kau katakan tadi benar dan Ernesto masih mengejarnya, berarti dia juga tahu asal-usul Millie. Kita tidak bisa mengambil resiko orang lain mengetahuinya. Aku butuh dukungan penuh darimu, Orion. Masalah ini harus tetap dirahasiakan dari Millie."

Aku menelan ludah keras yang mengganggu tenggorokan, menyadari Alonzo memang benar. "Baiklah."

"Bagus." Dia mengangguk. Kami duduk dalam diam selama beberapa menit sebelum suaraku kembali melesak.

"Bagaimana kau..." kataku memulai, tak mampu menyelesaikan kalimat. Banyak sekali yang ingin kutanyakan. Bagaimana caramu melenyapkan Alessandra? Bagaimana kau bisa hidup tanpa memikirkan putrimu? Bagaimana caramu menyembunyikan semua ini mereka? Eloisa dan Alessandra?

Alonzo menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya. Dia membasahi menjilat bibirnya sementara menyusun kata-kata sambil menatap pintu kayu di depan kami. "Ketika Alessandra lahir, kami cukup pintar menyembunyikannya. Menjauhkannya dari perhatian kelompok-kelompok musuh. Tapi, seiring dia bertumbuh, upaya untuk menyembunyikannya juga semakin sulit. Orang-orang mulai menyadari keberadaannya saat usianya memasuki lima tahun, dan mereka memanfaatkannya untuk menjatuhkanku. Mereka mengancam akan membunuhnya. Eloisa tidak sanggup menghadapi itu, dia mengatakan akan pergi dan membawa serta Alessandra. Aku tidak rela kehilangan mereka, tapi aku juga tidak mungkin membiarkan mereka dalam bahaya setiap saat hanya karena keinginanku untuk tetap bersama. Jadi, Eloisa dan aku membuat rencana. Mereka harus menghilang, dan kami berhasil melakukannya."

Matanya mulai berkaca-kaca dan suaranya bergetar. Alonzo pasti sangat terpukul karena sudah lama sejak terakhir kali aku menyaksikan dia sesedih ini. Tak tahu harus mengatakan apa, aku hanya diam, jadi dia melanjutkan.

"Begitu rencananya berjalan dan selesai, kami menjebak Ernesto. Ayahmu yang merancang gagasan cemerlang itu. Dari situ kami mengunggulinya dan dia tidak pernah lagi bangkit."

Aku tidak terkejut mengetahui ayahku terlibat kejahatan semacam ini, atau kepintarannya melempar kesalahan pada orang lain. Satu-satunya cinta sejatinya hanya organisasi ini, dan dia sangat ingin melihat kelompoknya berdiri di puncak kekuasaan tanpa memikirkan dampaknya. Perselisihan dengan Ernesto sungguh tidak penting, tapi dia sudah menghilangkan nyawa puluhan orang karena ide gilanya.

"Kami membuat Alessandra percaya bahwa aku meninggalkan mereka." Napasnya tersekat pada kata terakhir. Dia pasti tersiksa membayangkan Alessandra berpikir begitu selama ini. "Eloisa, atau Susan, mendapatkan pria lain, pria yang hidupnya lebih aman dan bisa menjaga mereka lebih baik dariku. Namanya David, dia sangat menyayangi mereka. Dia persis orang yang kuinginkan untuk menjaga dan melindungi mereka saat aku tidak bisa. Pada mulanya aku masih bisa mengunjungi mereka beberapa kali dalam sebulan, tapi situasi semakin berbahaya. Kemudian Eloisa dan aku sepakat mengambil langkah paling bijak untuk mengakhiri pertemuan itu dan dia mengatakan pada Alessandra bahwa aku dan kedua putraku tewas karena kecelakaan."

"Itu yang dia ceritakan padaku."

"Karena hanya itu yang dia tahu." Alonzo menarik napas lagi.

"Kenapa tak seorangpun tahu soal ini?" tanyaku, lebih kepada kenapa aku tidak tahu.

"Kami memainkan peran masing-masing sebaik mungkin sehingga semua orang tahu mereka sudah mati. Tak seorangpun berpikir untuk mencari mereka. Saat mereka sudah berada di tempat yang jauh lebih aman, ayahmu membantuku mengubah akte kelahiran Alessandra dengan nama Millie Smith. Smith merupakan nama belakang Eloisa sementara Millie nama tengah Alessandra. Sepertinya itu yang paling mudah saat itu. Setelahnya aku menghapus semua jejak yang menghubungkan mereka dengan keluarga kami. Orang-orang hanya mengenal Susan sebagai ibu tunggal yang pindah ke Rhode Island bersama putrinya karena suaminya menelantarkan mereka."

Teka-teki tentang Millie semakin jelas. Pantas saja kami tidak menemukan catatan apapun sebelum ulang tahunnya yang kelima karena dia memang tidak ada sampai hari itu.

"Aku tidak tahu harus mengatakan apa," Aku menghela napas, bertumpu pada lutut.

"Tak perlu mengatakan apapun, Orion. Lagi pula, kau tidak mungkin mengetahui cerita sebenarnya. Kami berusaha melindungi kalian semua karena situasi akan lebih parah seandainya kalian tahu dia masih hidup. Sebaiknya kita semua, termasuk aku, tetap menganggap Alessandra dan Eloisa telah tiada."

Hatiku sakit mendengar kalimatnya. Pria ini memaksakan kepercayaan dalam dirinya bahwa istri dan anak perempuannya sudah mati. Dia rela membiarkan pria lain menggantikan posisinya menjaga mereka. Mana mungkin aku sanggup melakukan hal semacam itu.

"Ernesto pasti tahu. Entah bagaimana, tapi jelas sekali dia tahu." gerutu Alonzo.

Kepalaku terasa berputar-putar. Yang kuinginkan saat ini hanya pulang ke New York agar bisa melihatnya, memeluknya, dan menenggelamkan diri ke dalam matanya. Aku ingin mengetahui keadaannya, dan terutama, aku ingin meyakinkan diri bahwa dia nyata.

"Lantas, sekarang bagaimana?" tanyaku. "Kehidupan tetap berjalan seperti biasanya? Seolah tidak ada yang berubah?"

"Tidak ada yang berubah, Nak." Alonzo meletakkan lengannya di bahuku. "Dia masih gadis yang sama, bedanya hanya sekarang kau sudah mengetahui kebenaran. Pulanglah, bekerja seperti biasa. Cari tahu apa yang diinginkan Ernesto, kita akan mulai dari situ. Tapi tolong, jangan katakan apapun pada Millie. Dia akan terguncang."

Aku hampir tersedak saat menelan ludah. Alonzo tidak sadar permintaannya terlalu besar untukku. Dia memintaku berhadapan dengan wanita yang membuatku jatuh cinta tanpa mengatakan kami pernah saling mengenal, bahwa ayah kandungnya dan kedua kakaknya masih hidup, bahwa hidupku juga hidupnya.

"Orion, aku tahu kau peduli padanya. Aku juga tahu sesuatu terjadi di antara kalian lebih dari yang kau inginkan. Dia bukan gadis biasa yang ingin kau lindungi, tidak apa-apa. Namun, aku menjalani seumur hidupku menjauhkannya dari mafia sampai hari ini. Menjaganya dari bahaya. Aku tidak mau upayaku selama ini menjadi sia-sia karena dia berhubungan denganmu."

"Aku mengerti." kataku sembari mengangguk ragu. Aku sudah menebak reaksi Alonzo. Dia tidak mau aku dekat dengan Millie, tapi perasaanku sudah terlalu dalam. Dan aku tidak yakin apakah aku sanggup menghentikannya.

"Bagus." Dia berdiri pelan-pelan, menunjukkan usianya tak lagi muda. "Mungkin kita tidak akan bertemu lagi sebelum kau pulang. Jaga dia dan terus kabari aku. Kau boleh memberitahu Javer dan Tom, tapi lakukan secara diam-diam."

"Baiklah." Aku mencari-cari kata untuk di ungkapkan, tapi tidak menemukan apapun. Sebagai gantinya, aku menggelengkan kepala. "Sampai jumpa, Alonzo."

Dia melangkah melewati jalan setapak, meninggalkanku sendiri bersama pikiran-pikiran yang menyesakkan, lalu ponselku bergetar di saku jas. Aku mengeluarkannya dan mendapati satu pesan masuk dari Millie.

'Semoga harimu menyenangkan. Aku berharap kau disini bersamaku.'

Aku menarik rambut dengan gusar, melampiaskan rasa putus asa yang kini merundungku. Jika mendengarkan peringatan Alonzo, aku pasti mengabaikan pesan Millie dan menyimpan ponselku. Alih-alih, aku mengirim pesan pada Damien.

'Siapkan mobil. Kita pulang sekarang.'

Aku penasaran kemana saja dia setelah pengumuman Alonzo tadi. Damien dan aku sama-sama buta, dan aku tahu dia juga sulit mencerna fakta ini. Kami berteman dengan Alessandra sewaktu kecil, dan sekarang dengan Millie. Mau tidak mau kami harus membiasakan diri.

'Ok. Lima belas menit lagi kita bertemu di depan.'

Aku mendorong ponsel ke saku celana dan menarik foto Millie. Kenapa aku tidak menyadari ini sebelumnya? Penampilannya memang jelas berbeda dibandingkan dulu, tetapi ada kesamaan yang tidak bisa dihindari.

Aku hanya bisa berharap masih memilikinya setelah semua masalah ini berakhir.

1
Abyan FH
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!