Wajah dan mata itu mirip sekali dengannya. Aku rindu sekali dengan kehadirannya, Tak bisakah Tuhan mempertemukan kita walau hanya sejenak.
Apakah dia sudah melupakanku bahkan sudah memiliki penggantiku.?
Aku menunggumu Sagara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25: Kagetnya Ken
"Sayang.... " Ucap Saga ketika melihat gadis yang dirindukan tengah berdiri didepannya. Wajah yang tadinya terlihat menakutkan kini menampakkan sekilas senyuman kecil.
Matanya berbinar melihat kehadiran Alesha disana. Seakan tak percaya, mata elang itu ia pejamkan berkali- kali memastikan jika itu memang benar nyata.
Bukanya Alesha tadi berucap tidak diizinkan menemuinya malam ini? Lalu kenapa gadis ini berada di ruangannya.
"Sayang, kamu membohongiku lagi hah.?" Timpal Saga melangkahkan kakinya dengan lebar ke arah Alesha. Siapa yang tak marah jika sang gadis terus saja membohonginya.
Akan tetapi mengapa diwajah tampan itu tak terlihat seorang Saga tengah marah. Malah sebaliknya.
"Kamu mempermainkanku Alesha." Sentak Alesha merapatkan tubuhnya pada tubuh Alesha. Bahkan gadis itu terpekik ketika Saga melakukan hal demikian.
Cupppp....
Cuppp.....
Cuppp...
Cuppp.....
Cuppp...
Cuppp...
"Berhenti ihh, Kau tak melihat ada orang disini." Sarkas Alesha membekap bibir Saga yang sedari tadi membabi buta mencium setiap inci wajahnya.
Alesha melakukan itu karena tak sengaja netranya melihat ke arah Ken yang masih berdiri disana. Bahkan lelaki itu terlihat beberapa kali menelan ludah melihat adegan live di depannya.
Mendengar penuturan Alesha, Saga menetralkan kembali dirinya. Merapikan kemeja sembari mencoba menutupi rasa malunya kepada sang bawahan.
"Ken" Suara bariton itu membuat Ken tersadar bahkan ia meneguk ludah kasar kala tatapannya bersitubruk dengan tatapan mata Saga.
"Kau lihat ada tamu spesial disini, pulanglah. Ingat, Jangan pernah menceritakan pada siapapun tentang kejadian malam ini." Titah Saga dengan segera diangguki oleh Ken dengan patuh.
Batin Ken meronta-ronta melihat kemesraan di depannya tadi. Apalagi melihat sang atasan yang terkesan agresif pada gadis yang dibawanya tadi. Mungkinkah ada sesuatu yang disembunyikan sang atasan? Berarti tuan Saga normal bukanlah gay pikir Ken.
Ceklekk ...
Ken kembali menutup pintu itu dengan perasaan lega. Ia seperti terperangkap dalam penjara singa hingga membuatnya seakan kesulitan bernafas.
Namun setelah keluar, Rasanya lega tak terhingga.
"Haahhhhh....."
Ken memejamkan matanya di depan pintu Saga sembari berkali- kali mengusap dadanya. Terlalu serius menetralkan detak jantungnya sehingga tak sadar bahwa sedari tadi kelakuannya dilihat oleh sekertaris Saga yang masih setia di tempatnya.
"T-tuan ada apa?" Ucap Laura sang sekertaris Saga merasa heran dengan tingkah Ken.
Apa ada sesuatu yang terjadi di dalam sana hingga membuat Ken jadi seperti itu.
"Oh Laura, kau mengagetkanku saja." Sentak Ken terlonjak kaget mendengar suara Laura yang tiba - tiba muncul. Dan lagi- lagi Ken hanya mengusap dadanya dengan hembusan nafas kasar .
"Apa T-tuan Saga memarahi gadis tadi tuan. Kenapa anda meninggalkannya sendirian disana. Kalau sampai tuan Saga membunuh gadis itu bagaimana" Cecar Laura ketika melihat Ken hanya keluar seorang diri. Wanita itu khawatir dengan nasib Alesha di dalam sana. Bisa saja Saga membunuhnya melihat apa yang tadi sang tuan lakukan padanya .
"Husstt jangan kenceng- kenceng, Biarin itu urusan tuan Saga mau di bunuh maupun di tusuk sekalipun." Ucap Ken memperingati.
"Atau kamu mau bertukar posisi dengannya." Ucap Ken sebelum berlalu meninggalkan Laura yang terkaget-kaget.
Mana mau dirinya bertukar posisi bahkan nyawa. Suami dan anak-anaknya bagaimana nasibnya nanti pikir Laura .
"Eh tuan Ken, Mana mau saya begitu. Suami saya jadi duda dong nanti." Sahut Laura tersadar ketika Ken sudah menjauh darinya. Ia berusaha mengejar dan mensejajarkan langkah lebar Ken meskipun agak kesulitan.
Bola mata Ken memutar malas mendengar ocehan wanita di sampingnya ini.
"Bodo amat" Batin Ken malas menanggapi ocehan Laura yang terkenal emak- emak rempong.
...----------------...
Didalam ruangan yang berantakan milik Saga. Dua insan tengah melepaskan rindu dengan saling berpelukan.
Sesekali pria itu mengecup beberapa inci wajah Alesha. Wajah yang beberapa hari ini membuatnya kalang kabut ketika tak melihatnya.
Meskipun teknologi semakin canggih namun rasanya tak cukup jika bermodal handphone. Ingin sekali Saga menjemputnya dan membawanya lari bersamanya.
"Aku merindukanmu Alesha ." Ujar Ken mengecup cuping Alesha dengan nada beratnya. Sudah keseratus kali seorang Saga berucap seperti itu.
Alesha tau jika Saga merindukannya, Tak perlu berulang kali berucap meskipun tak mengatakannyapun gadis itu bahkan sudah tau.
Cuppp....
Dan sudah kesekian kalinya bibir Alesha menjadi santapan bibir tebal Saga. Ia rasa jika ia bercermin, Bibir ranum itu sudah menebal karena kelakuan Saga .
Alesha lelah menanggapi kerinduan Saga yang tak berujung padanya. Gadis itu memukul dada bidang Saga ketika pasokan oksigen yang dimilikinya mulai habis.
Saga terlalu agresif malam ini, Bahkan tak sekalipun Saga melepaskan pelukannya pada Alesha. Seakan Saga tak mau berpisah kembali dengannya. Ya ,walaupun perpisahan itu hanyalah sementara.
"Kau mau membunuhku" Sentak Alesha merasa capek ketika sedari tadi tak diizinkan duduk oleh Saga. Bahkan posisi Alesha mulai masuk ke ruangan itu tak berubah sama sekali.
Tanpa berucap Alesha mendudukkan bo***gnya di sofa empuk sembari memegangi bibirnya yang terasa bengkak.
"Capek hmm?" Ujar Saga mengikuti langkah Alesha dan duduk disebelah gadis itu.
Wajah menggemaskan itu membuat Saga ingin menghabisinya malam ini juga . Namun semua itu ia kubur dalam- dalam mengingat sesuatu yang belum tuntas.
"Udah tau nanya" Sahut Alesha mengerucutkan bibirnya.
Rasa kakinya sudah kesemutan karena terlalu lama berdiri . Apalagi ia meraba bibirnya, Bibir mungil itu dalam sekejap menjadi bengkak.
Mungkin jika ia bercermin, Sosok Alesha akan bertambah syok lagi melihat leher dan beberapa kulitnya memerah. Ya begitulah keganasan seorang Saga jika sudah berhasrat .
Lagi dan lagi Saga ingin mencium bibir itu yang terlihat memanggil untuk di kecupnya lagi. Candu tentu saja, Bibir gadis didepannya ini sangat manis. Ingin setiap kali mengecup bahkan melumatnya.
"Mau apa?" Sentak Alesha membekap bibir Saga ketika wajah itu sudah kembali mendekat ke arah wajahnya.
"Sayang, plis. Aku rindu." Sahut Saga mengecup tangan mungil yang membekap bibirnya.
Entah mengapa , Saga tak bisa mengendalikan suasana hatinya. Ingin selalu menempel pada sosok gadis di depannya ini.
" Aku tau kau merindukanku, tapi plis bibirku udah kayak bebek Saga. Udah ya." Sahut Alesha dengan tampang memelas.
Alesha takut nanti jika Saga terus melakukannya. Bibir mungil itu tak bisa terkatup sangking bengkaknya.
"Tanpa berciuman juga bisa mengobati rindu. Lihat aku sampai puas. Aku yakin rindumu hilang." Rayu Alesha agar Saga tak lagi menciumnya. Memang enak sih, tapi keagresifan Saga membuatnya takut, Apalagi dirinya baru pertama kali melakukannya dengan sadar.
"Aku gak akan puas denganmu, ikut aku atau aku gendong." Sahut Saga berdiri, tak lupa ia mengayunkan tangannya agar Alesha meraihnya.
"Kemana??"
"Kamar."
Alesha dibuat melongo oleh ucapan Saga . Bahkan bibirnya tanpa sadar terbuka sungguh menggemaskan Dimata Saga.
"Mppptttt......."
Lagi- lagi Saga mengambil kesempatan, Ia melumat habis bibir ranum itu tanpa ampun. Siapa suruh bibir itu membuat seorang Saga candu, Ingin terus menerus mencecap dan melumat.
Bersambung...