Sarah Adelio Parker, hidupnya tiba-tiba saja berubah akibat kematian tragis ayahnya, Alan Parker. Ia kemudian diasuh oleh musuh suatu perusahaan ternama di kota Metroultimate untuk meruntuhkan perusahaan yang sejatinya adalah milik keluarganya sendiri.
Sarah tumbuh menjadi wanita yang tangguh, kuat, cerdas dan berparas rupawan dibawah asuhan Mr.Black, orang yang belakangan ia ketahui bahwa Mr. Black lah yang harus bertanggung jawab atas kematian ayahnya.
Dapatkah Sarah mengungkap tabir kematian sang ayah dan merebut kembali perusahaan milik keluarganya? Sanggupkah ia melawan orang yang telah mendidik dan membesarkan dirinya hingga menjadi wanita tangguh seperti saat ini?
Yuk! Temani Sarah dalam menyingkap tabir kematian sang ayah dan merebut kembali perusahaan milik keluarganya,dengan menjadikan novel ini sebagai bacaan favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran ?
Alexander Parker dan Julian Adam Parker masih belum mengetahui identitas asli Sarah hingga saat ini. Mereka begitu bersemangat mempersiapkan acara lamaran yang akan dilangsungkan malam ini juga.
Sementara itu di kediaman Black Michael, suasana sudah terlihat tenang. Semua persiapan untuk menyambut kedatangan keluarga calon besan sudah rampung dilakukan. Calon besan atau musuh bebuyutan, ya?
Sarah sudah cantik dengan riasan sederhana di wajahnya. Rambutnya sengaja ia geraikan malam ini, sebuah gaun panjang tanpa lengan berwarna putih dengan tali di pinggangnya yang ia padu padankan dengan sepatu hak tinggi, semakin membuat anggun penampilannya malam ini. Bahkan Andreas sampai kepayahan mengatur nafasnya saat melihat kecantikan Sarah yang paripurna itu.
"Aku cemburu," bisiknya di depan wajah Sarah. Hal yang membuat Sarah tersenyum tersipu, lalu menutup bibir dengan satu tanganya.
"Aku bahagia," ucap Sarah membalas ungkapan bujangnya itu. Andreas melotot horor mendengar ucapan Sarah. Bahagia katanya? Semudah itukah dia jatuh cinta? Murahan sekali!
Sarah kembali mengulum senyumnya saat melihat ekspresi wajah Andreas yang berubah kecut umpama asam gelugur itu.
"Bahagia karena aku tahu jika kekasihku sangatlah mencintai diriku," ucapnya mengoreksi ungkapan bahagianya tadi. Usahanya berhasil, kini Andreas sudah tak lagi berwajah masam dan kecut. Dia sudah siap berlayar umpama senyumnya yang berkembang sempurna.
"Pasti Bapak udah nethink, ya? Is, udah tua malu sama jenggot!" Sarah kembali membuat Andreas bermuram durja dengan ucapannya itu. Namun, ia buru-buru menormalkan raut wajahnya.
"Semoga berbahagia. Dilancarkan semua urusanmu hingga hari bahagia kita nanti," ucapnya. Dan Sarah kembali tersenyum dengan menengadahkan wajahnya ke atas, mengatasi rasa harunya. Cinta pertamanya benar-benar ada di dekatnya. Orang yang selalu ada di saat tawa dan tangisnya, manja dan marahnya saat ia merajuk kepada sang ayah. Satu hal yang kini menjadi tanya dalam hatinya. Apakah Andreas sudah menyimpan perasaan ini sejak pertama kali mereka bertemu?
"Pak," sapanya yang membuat Andreas kembali menoleh setelah berniat untuk menemui para asisten Black Michael di depan sana.
"Kenapa? Kamu cantik dan terlalu cantik. Harusnya kecantikanmu yang paripurna ini kamu persembahkan hanya untuk diriku, bukan untuk tikus sawah itu," ucapnya menjawab sapaan Sarah.
"Sok tahu ih, menjawab apa yang tidak kutanyakan, nggak sopan!" ucap Sarah kesal. Ia memberengutkan wajahnya lalu memalingkan wajahnya. Andreas melihat ke sekelilingnya, memastikan jika tidak ada orang yang akan melihat mereka dengan jarak sedekat ini. Andreas membalikkan tubuh Sarah hingga kini tubuh tinggi nan langsing itu benar-benar ada di depan matanya.
"Mau tanya apa? Maaf, aku terlalu terbawa suasana. Suasana bahagia sekaligus mencekam."
"Mencekam?" ucap Sarah heran.
"Aku sudah bisa membayangkan kemarahan Alexander Parker saat dia tahu siapa dirimu. Dan bagaimana dengan reaksi Julian Parker nantinya," ucap Andreas menjelaskan, hingga Sarah melupakan pertanyaannya tadi.
"Permainan yang sesungguhnya segera kita mulai, Pak. Dendamku harus tertuntaskan!" ucapnya dengan senyum seringai di bibirnya.
"Waktu selalu menemukan caranya untuk memberi kepastian kepada yang setia menunggu. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, dan tidak ada sakit hati yang akan menguar begitu saja, semua ada masanya. Tuhan sedang menyiapkan cerita yang sangat indah untuk segera kita mulai, dan bersamaku akan kita lewati suka dan duka itu," ucap Andreas meyakinkan Sarah yang selalu saja membuatnya semakin jatuh cinta setiap harinya.
"Aku percaya bahagiaku ada di sini," tunjuk Sarah tepat di hati Andreas. Andreas menangkap jemari lentik itu, lalu ia kecup sekilas.
Mereka melangkah keluar dengan tujuan yang berbeda. Sarah akan menemui Black Michael di ruang kerjanya, sementara Andreas bergabung bersama orang-orang Black Michael yang lainnya.
Iring-iringan kendaraan tampak melintasi komplek kediaman Black Michael. Pintu gerbang sudah dibuka sedari tadi dengan penjagaan ketat di sekitarnya. Black Michael belum mengumumkan acara pertunangan Sarah dan Julian secara resmi, sehingga awak media dilarang ikut meliput acara tersebut.
"Kamu gugup, my son ?" ucap Alexander menggoda sang putra yang sedari tadi tampak berkomat-kamit menghafalkan kata-kata yang akan dia ungkapkan kepada Sarah.
Julian tersenyum menanggapi ucapan ayahnya.
"Apakah Papa juga seperti ini saat akan meminang almarhumah Mama?" tanyanya.
"Terlalu manis untuk Papa kenang, Ly. Sudahlah! Jangan membahas hal yang membuat kita bersedih. Mama pasti tengah tersenyum di atas sana menyaksikan putra kebanggaannya akan meminang gadis pujaan hatinya," ucap Alexander seraya menepuk bahu Julian pelan.
Alexander beserta Julian tampak keluar dari kendaraannya setelah sang sopir membukakan pintu untuk mereka. Kedatangan Alexander dan beberapa kerabat dekatnya disambut dengan sangat ramah oleh orang-orang Black Michael.
Belum ada kejanggalan yang dirasakan oleh Alexander Parker, hingga saat ini mereka sudah mulai memasuki pintu utama kediaman Black Michael ini. Pandangan matanya fokus tertuju pada sang tuan rumah yang akan menerima pinangan putranya, namun belum juga ia lihat batang hidungnya kini.
"Mana calon istri dan calon mertuamu itu, Ly?" tanyanya setelah dipersilakan duduk oleh para pengawal Black Michael.
"Ly akan menghubungi Sarah, Pa. Di mana dia? Kenapa belum muncul juga?" ucapnya, lalu merogoh saku jasnya untuk kemudian melakukan panggilan suara kepada Sarah yang rupanya tengah duduk berdampingan dengan Black Michael di dalam ruang kerja sang paman.
"Paman sedih, Sarah," ucap Black Michael tanpa kalimat selanjutnya.
"Sedih karena apa, Paman?" tanya Sarah heran, dia akan bertanya lagi, namun deringan di ponselnya membuat ia menunda niatannya tersebut.
"Julian, Paman. Sarah jawab dulu panggilan dari Julian ya," ucapnya meminta izin kepada sang paman. Black Michael tersenyum mengiyakan permintaannya.
"Iya, Ly. Di mana kalian saat ini?" tanya Sarah berpura-pura belum mengetahuinya. Sesungguhnya Andreas sudah memberikan informasi terhadap dirinya melalui pesan singkatnya, bahwa Alexander Parker dan Julian sudah tiba di kediaman Black Michael ini. Namun, Sarah ingin berbincang-bincang sejenak dengan Paman gadungannya ini, sebelum nantinya mereka berubah menjadi musuh yang akan saling membenci.
"Aku sudah ada di sini, Sayang. Kamu di mana?" jawab Julian dengan mesranya.
"Ah, baiklah. Aku dan pamanku akan segera turun." Sarah dan Black Michael segera saja berjalan cepat ke lantai satu karena di sana sudah berkumpul Alexander dan para orang-orangnya dan beberapa kerabat dekat yang akan ikut menyaksikan acara malam ini.
Langkah kaki keduanya terlihat mereka percepat karena ternyata kehadiran mereka sudah dinanti-nantikan oleh orang-orang di bawah sana.
Ada desiran aneh di dalam dada Black Michael, seolah dia mencium kembali aroma tubuh dan aura balas dendam dari Alan Parker. Sebelumnya ia tak pernah merasakan hal seperti, kendatipun hari-harinya ia selalu berinteraksi dengan Sarah yang notabene-nya adalah anak dari orang yang telah ia habisi nyawanya, anak dari cinta butanya yang ia simpan hingga saat ini. Namun, kenapa hari ini berbeda? Kenapa aroma itu hadir dari tubuh orang-orang yang berniat baik untuk melamar Sarah yang ia sebut sebagai keponakannya?
Langkah kakinya sudah ada pada anak tangga yang terakhir. Saat itulah Julian dan juga ayahnya secara bersamaan berdiri untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat malam Tuan Parker."
Happy reading 🥰.