Kehilangan selamanya istri yang sangat dicintainya bukanlah hal yang mudah dihadapi oleh Dokter Danny. Ayah Dokter Danny selalu menyuruh Danny untuk menikah lagi.
Akankah Danny menikah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ding-dong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumben.
"Kok bengong?" Dokter Danny menyadarkan Ayudia dari lamunannya dengan mengayunkan tangannya di depan Ayudia.
"Eh, nggak Mas" balas Ayudia lalu menerima sayuran dari Dokter Danny.
Setelah itu mereka memasak bersama. Ayudia merasa sangat gugup dan tegang karena memasak berdua dengan Dokter Danny. Dokter Danny tahu itu, tapi dia diam saja supaya Ayudia tidak semakin tegang, tidak lama kemudian terdengar tangisan Naufal dari lantai atas, Ayudia pun terkejut dan spatula panas di tangan nya terjatuh mengenai kaki nya.
"Aakkkhhhh... sshhhhh" Ayudia memekik kesakitan, dia menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
Dokter Danny yang melihat kaki Ayudia memerah segera mematikan kompor. Setelah itu dia mengangkat tubuh Ayudia ala bridal style masuk ke dalam kamar mandi yang ada di samping dapur. Ayudia benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Dokter Danny. Setelah menurunkan Ayudia Dokter Danny segera menyiram kaki Ayudia dengan air berkali-kali.
"Siram kaki mu dengan air selama sepuluh sampai lima belas menit. Sudah tahu kan caranya menangani luka bakar?" ujar Dokter Danny lalu pergi meninggalkan Ayudia menuju lantai dua untuk melihat Naufal yang menangis.
Setelah membuat susu untuk Naufal, Dokter Danny juga menimang anaknya supaya tidur kembali. Seusai Naufal tidur kembali, Dokter Danny turun untuk melihat keadaan Ayudia. Ayudia masih mengguyur kakinya dengan air di dalam kamar mandi. Kaki nya masih terasa panas saat tidur di guyur dengan air.
Dokter Danny berdiri di ambang pintu kamar mandi kemudian dia masuk dan tiba-tiba mengangkat tubuh Ayudia ke ruang tengah. Dia menurunkan tubuh Ayudia di atas sofa setelah itu dia mengambil salep di kotak obat. Ayudia mundur dan menarik kakinya saat Dokter Danny duduk di depan kakinya yang selonjoran.
"Mana kaki kamu?" pinta Dokter Danny.
"Aku bisa oles sendiri, Mas" ucap Ayudia menolak.
Dokter Danny segera menarik kaki Ayudia dengan paksa. Setelah itu dia mengoleskan salep ke kaki Ayudia yang memerah.
"Tidak terlalu parah," ucap Dokter Danny sambil memutar tutup salep di tangannya.
Ayudia hanya diam membisu melihat kakinya yang sudah di obati Dokter Danny. Dia pun berdiri hendak melanjutkan kegiatan memasaknya, tapi tangan Dokter Danny mencegah nya.
"Mau kemana? apa udah nggak sakit kakinya? biar aku saja yang melanjutkan masaknya" ucap Dokter Danny lalu pergi ke dapur meninggalkan Ayudia.
Setelah masakannya matang Dokter Danny menaruh nya di atas meja yang ada di depan televisi dimana Ayudia berada. Mereka pun makan bersama dalam diam. Seusai makan Dokter Danny juga yang menaruh piring nya.
Ketika Dokter Danny kembali ke ruang tengah, Ayudia sudah kembali ke kamarnya tanpa berpamitan pada Dokter Danny. Dokter Danny pun kembali ke kamarnya juga.
Dua puluh menit kemudian.
Ayudia keluar dari dalam kamarnya dengan menggendong Naufal. Dia mengetuk pintu kamar Dokter Danny dengan tidak sabar.
"Ada apa?" tanya Dokter Danny ketika sudah membuka pintu kamarnya.
"Boleh aku tidur disini, Mas?" tanya Ayudia dengan sedikit ragu.
"Masuklah" Dokter Danny mengizinkan Ayudia untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ayudia pun masuk dan duduk di tepi tempat tidur Dokter Danny setelah menidurkan Naufal di tengah kasur.
"Tumben? ada apa?" tanya Dokter Danny lagi sembari berdiri di depan Ayudia, tidak biasanya Ayudia yang meminta untuk tidur dengannya.
"Bik Nur nggak ada di rumah, aku jadi merasa merinding karena rumah terasa sepi, Mas" balas Ayudia dengan memeluk kedua lengannya.