Geofanny Guwencia Gabriel, seorang sosialita sekaligus putri sulung seorang taipan bisnis, merasa dunianya dijungkirbalikkan. Kebebasannya yang ia agung-agungkan direnggut paksa setelah serangkaian ancaman serius ditujukan kepadanya. Sang ayah pun menyewa seorang pengawal pribadi untuk melindunginya setiap saat.
Masuklah Eric Abram. Seorang pria yang lebih mirip patung Yunani daripada manusia: tinggi, tegap, dengan wajah dingin dan tatapan setajam elang. Bagi Geofanny, Eric adalah pengganggu nomor satu, seorang "babysitter berotot" yang mengikuti setiap geraknya dan merusak semua rencananya. Geofanny bertekad untuk membuat pria itu tidak betah dan berhenti dari pekerjaannya.
Namun, semua usahanya sia-sia. Eric adalah seorang profesional sejati yang tak tergoyahkan. Di balik sikapnya yang kaku, Geofanny tanpa sengaja melihat kilasan kerapuhan dan masa lalu kelam yang membentuk pria itu menjadi pelindung yang tangguh.
Ketika ancaman itu bukan lagi sekadar gertakan dan sebuah serangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GrendysS_08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 | Hari baru
...~Happy Reading~...
Hari baru, akan dimulai oleh Eric dan Fany, mulai hari ini. Mereka memulai hari yang baru sebagai sepasang kekasih. Hari itu, Fany memutuskan untuk tidak pergi ke kampus, ataupun pergi ke perusahaan, Hari ini Fany mengajak Eric berjalan-jalan di supermarket tak jauh dari rumah utama keluarga Gabriel. Mereka terlihat serasi dengan menggunakan pakaian santai yang begitu cocok dengan satu sama lain.
Eric dan Fany berjalan mengelilingi supermarket tersebut, sudah banyak toko yang mereka lewati, namun Fany tak menunjukan tanda-tanda akan membeli satu barang pun.
"Kamu mau beli apa? " tanya Eric santai, ia sudah biasa menanggapi sikap perempuan seperti Fany, yang bingung hendak membeli apa. namun Ayudia adiknya pun begitu.
"Tidak ada, aku hanya ingin berjalan-jalan denganmu saja." jawab Fany tersenyum, melihat Eric yang berjalan di sebelahnya. "Aku hanya ingin seperti mereka." tunjuk Fany pada pasangan kekasih, yang kebetulan berjalan di dekat mereka. Eric mengangguk, ia terkekeh mendapati tingkah Fany yang begitu lucu menurutnya.
Eric tiba-tiba teringat dengan pekerjaan Fany. "Oiya, bagaimana dengan pekerjaanmu? " tanya Eric, mengingatkan bahwa Fany memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya. Fany tersenyum menatap Eric. "Aku sudah memberitahu Nana, agar dia mengambil alih pekerjaanku."
Eric tersenyum menatap lekat wajah Fany dengan intens. "Kenapa kamu melihatku begitu? " Fany menunduk malu di tatap secara intens oleh Eric. "Memangnya, ada larangan untuk memandangi wajah kekasihnya? " Eric mengajukan pertanyaan... bukan, sebuah godaan lebih tepatnya, sebab Eric berhasil membuat wajah Fany merina malu.
Karena mereka tak ada sesuatu barang, yang akan mereka beli di supermarket itu, Eric memutuskan untuk membawa Fany kembali melajukan mobil, entah menuju kemana. hingga akhirnya, Fany meminta Eric untuk menepikan mobil, di pinggir sebuah taman.
"Kamu ingin bersantai disini? " Eric ikut duduk bersama Fany, di sebuah bangku yang berada di taman itu. Suasana taman itu sangatlah menenangkan, tumbuhan-tumbuh hijau di sekitar mereka, pohon-pohon besar mengelilingi taman tersebut, membuat udara di taman tersebut begitu bersih dan sejuk, di tambah tak banyak kendaraan yang melintasi taman tersebut.
"Hmm." Fany mengangguk. ia memandangi lingkungan asri di taman tersebut, ia menarik nafas dalam, menikmati sejuknya udara yang terhirup hidungnya, lalu menghembuskannya perlahan. ia melakukan hal itu beberapa kali, seolah udara itu, dapat melepaskan kepenatannya sesaat dari pekerjaannya yang begitu membuatnya penat.
Eric meletakan sebelah tangannya, merangkul bahu Fany dengan ragu, sejenak Eric memperhatikan reaksi yang akan di tunjukan Fany, saat melihat ia merangkul bahu nya.
Eric mengedarkan pandangannya, dan tertuju pada seorang penjual bubur ayam, yang berada di sudut taman. Ia melirik Fany sekilas, Eric melihat Fany yang masih asik menikmati udara sejuk di taman. Eric berniat membeli dua porsi bubur ayam untuknya dan juga Fany. Eric menunggu pesanannya yang sedang di proses oleh sang penjual, ia tak melepaskan pandangannya dari tempat duduk Fany, tak lupa ia membeli dua botol air mineral, dan kembali duduk di sebelah Fany.
"Dari mana? " tanya Fany, sesaat setelah Eric kembali duduk di sebelahnya, rupanya ia tadi menyadari, jika Eric pergi menjauh, meski begitu, ia tetap merasakan jika Eric terus melihatnya dari jarak jauh.
"Beli ini." Eric tersenyum, dan menyerahkan satu porsi bubur ayam untuk Fany, dan meletakan satu botol air mineral di sebelahnya.
"Bubur? " tanya Fany, melihat sebungkus bubur ayam di tangannya. "Iya, di suasana seperti ini, pastilah sangat enak, jika memakan bubur ayam hangat." balas Eric, lalu memulai menikmati bubur ayamnya, begitupun dengan Fany.
...~To be continue......