"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.
Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."
"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.
"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"
Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."
Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang
Monika melangkah pasti ke tempat yang sangat ia kenal, meski dengan terpaksa. Namun, Monika senang bisa kembali ke tempat ini. Beberapa orang menunduk saat melihat atau berpapasan dengannya, Monika menanggapi dengan senyum dan menyapa mereka dengan ramah.
"Monika!!" pekik seorang wanita ang memakai stelan kantor. Monika menoleh ia tersenyum mellihat wanita itu berlari kearahnya, siapa lagi kalau bukan Via.
"Duh kaneng banget, kamu kemana aja?' tanya via yang langsung nyerocos saat sudah bertemu dengan teman karib sekampungnya itu.
"Nggak kemana-mana di rumah aja Vi, kamu main deh ke sana. Aku nggak ada kawan ngomong, sendirian, aping ngomong sama ikan kalau di rumah," jawab Monika dengan manyun.
Ada atau tak ada Yoonji, Monika tetap merasa kesepian. Yoonji akan sibuk didepan laptop saat dirumah, dia akan berhenti berkerja saat makan dan ke kamar mandi. Monika bahkan tidak tahu pria itu tidur jam berapa merka masih di rumah besar karena Nenek pratiwi belum memperbolehkan Yoonji pindah.
"Eh iya lupa ya, aku seharusnya sekarang panggil kamu Nyonya Min. Aku bener- bener nggak nyangka lho kamu bisa nika h sama Tuan min, tau nggak waktu kalian nikahh banyak karyawatai yang nangis lho, hari dimana kami di undang e pernikahan kamu itu di nobatkan sebagai hari patah hati kantor ini," cerocos Via panjang lebar, Mokikan hanya tersenyum.
Anda semua yang mengidolakan manusia kulkas itu tahu kalau pernikahan mereka hanya sandiwara mungkin akan bersorak bahagia. Termasuk Via mmungkin hehehe.
"Nyonya Bos mau kemana nih? Pasti mau nemuin suami ya?" tanya Via dengan nada menyindir.
"Apaan sih Vi, panggil biasa aja deh risih aku," sahut Monika dengan memelas, ia sangat tidak nyaman dipanggil seperti itu.
"Hehehe.. Lha kamu kan memang istinya Bos aku kan, Nyonya Min."
Monika memutar matanya jengah." Udah deh, akumasih Monika yang dulu, teman aku cari belut di sawah."
Via tertawa melihat wajah masam Monika.
"Iya deh, eh ngomong - ngomong kamu apa udah ngabarin ke pakde sama budhe kamu? Kemarin waktu aku telepon ke kampung mamakkku cerita kalau Pakde kamu terus nanyain kamu."
"Ah iya, aku belum sempat beri khabar, ponsel aku rusak, belum dibenerin."
"Hem, iya." Via tak bertanya agi, dia juga tidak memberi tahu Monika kalau Pakdenya di kampung terus mengeluh pada orang tua Via kalau mereka kekurangan uang. Via bukan tidak tahu temannya itu selalu megirimkan uang untuk adiknya saat mereka masih tinggal satu kos.
"Aku balik ke tempat alu dulu ya, mumpung masih waktu istirahat mau molor bentar."
"Dasar kang molor," ucap Monikaa pada Via yang sudah berlalu.
Monika pun melanjutkan langkahnya. ia menaiki lift dan berhenti di lantai dimana Yoonji berada, Monika berhenti sejenak saat melihat meja dimana dia sempat berkerja, meja itu sepertinya msih kosong. Apa tidak ada yang mengantikan dia?
DMonika mengetuk pintu besar ruanagan Yoonji, hening Monika pun memutuskan untuk masuk. Monika menghentakan nafas saat melihat Yoonji masih saja berkutat dengan laptop, padahal waktu makan siang sudah hampir selesai. Monika yakin pria kulkas itu belum mengisi perutnya , mungkin hanya kopi yang menghuni lambung pria itu sekarang.
Yoonji bukan tidak tahu jika Monika datang, dia bisa melihat istrinya dari cctv yang tersambung ke laptopnya. Tapi Yoonji masih sangat sibuk, dia tidak bisa menutup laptop sebeum perkerjaanya selesai.
"Berhentilah brkerja Tuan Yoonji, Anda manusia bukan robot," ucap Monika sambil mendaratkan bokongnya di sofa berwarna hitam yang ada disana.
Yoonji hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap laptopnya. Monika yang merasa tidak dia nggap keberadaanya pun bangkin dari sofa, ia melangka mendekati meja kerja Yoonji.
Tak
Monika menutup paksa laptop Yoonji, pria itu langsung memnerikan tatapan tajam pada Monika. Takut, tentu tidak, Monika malah sedikit menaikan dagunya seoah menantang.
"Makanlah, aku sudah susah payah masak untukmu. Sebaikanya kau cepat makan Tuan Min, agar aku bisa secepatnya pulang," ucap Monika dengan satu tangan nangkring di pinggangnya.
"Pulang saja, aku akan makan nanti." Yoonji berusaha membuka lagi benda pipih berwarna hitam iti, tapi tangan Monika menghalanginya.
"Emh ... Emh.." Monika menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Yoonji.
"aku sudah janji sama Nenek kalau kau akanmakan siang dengan baik, jadi makanlah dan biarkan aku pulang dengan tenang,' Imbuh Monika.
"Kenapa kalian cerewet sekali.' Yoonji bangkit dari duduknya, ia berjalan kemudia duduk di sofa.
Monika tersenyum. Dengan cepat ia mengikuti Yoonji, setelah suaminya duduk Monika segera membuka kotak makan siang yang ia bawa. Bekal yang ia buat sedemikian lucu seperti bekal anak sekolah di jepang, nasi uang ia cetak menyerupai seekor kuing lenkap dengan misai dan kedua kupng uang mencuat. Yoonji sampai menaikan kedua alisnya melihat isi kotak berwarna hijau itu.
"Apa kau pikir aku anak sD?"
"Hais Tuan Min ini, apa kau tidak bisa menghargai kerja kersku untuk membuat bekal yang indah dan estetik ini. Coba sesekai puji istrimu ini."
"Lucu sekali, kau pintar sekali membuat bekal seperti ini. Aku jadi tidak tega memakan karya seidah ini," ucap Monika memberikan contoh agar Yoonji memujinya.
Bukannya memberi pujian Yoonji langsung mengambil nasi berbetuk kucing itu dengan sendok di bagian matanya.
"Yak! Yoonji bisakan hau lebih pelan memakannya, pake perasan dong jangan langsung di rusak seperti itu," keluh Monika sambil menghentakkan kakinnya kesal, ada sedikit rasa tidak rela melihat Yoonji menghancurkan bekal yang ia buat dengan kerja keras.
"Makan pake mulut bukan pake perasaan."
Ucapan Yoonji memang tidak salah, kesal monika pun duduk di samping sang suami sambil menopangkan dagu dengan kedua tangannya. Yoonji melirik sekilas Monika yang tiba-tiba diam, tidak biasanya wanita itu seprti ini. Apa baterainya habis?
"Kau kenapa? Apa kau belum makan?" tany aYoonji tanpa melihat Monika, dia msih sibuk menghabiskan makanan yang Monika berikan.
Terdengar helaan nafas berat dari wanita itu. "Apa gajianku masih lama Tuan min"
"Kenapa? Kau butuh sesuatu?"
"Hum, aku mau beli ponsel."
Yoonji tiba-tiba bangkit dari duudknya, dia mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya. Sebuah kotak berwarna putih, pria itu kembali duduk ditempatnya semula.
"Ini, kamu bisa memakainya."
Mata Monika membulat sempurna melihat type ponsel yang tercetak di kotak itu, harga ponsel itu bisa untuk beli sepeda motor modr terbaru cas.
"I-ini kau beli untukku?" tanya Monika dengan penuh haru.
"Fredrick salah beli warna, dia tidak membeli warna hitam seperti yang aku minta. Pakai saja kalau kau mau, tapi aku tidak membeinya untukmu," kilah Yoonji.
"Heeemmm... Makasih Tuan min, kau memang kulkas terbaik."
Brak.
"Yoon aku su-," ucapan Fredrik terhenti kala melihat aneh pemandangan di ruangan Yoonji.
perjanjian kalian harus dibatalkan