Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Yoga kembali keluar mencari Kinanti. Ia melangkah ke kamar Amar dan Sasa yang berada di lantai 2, tapi ternyata Kinanti juga tidak ada di sana.
"Kinan kok tidak ada di sini. Apa mungkin tidur di kamar bapak sama ibu?" ucap Yoga bingung. "Tapi kayaknya nggak mungkin deh. Terus Kinan tidur dimana?"
Yoga melangkah lesu meninggalkan kamar kedua buah hatinya dan kembali turun ke kamarnya. Pandangan Yoga kini tertuju ke kamar Raka. "Apa mungkin Kinan tidur di kamar Raka?" Penasaran, Yoga memberanikan diri membuka pintu kamarnya Raka.
Klek ...! Pintunya terkunci.
Yoga mendesah samar karena pintu kamarnya terkunci.
"Mungkin Kinan memang tidur di kamar Raka," gumam Yoga.
Akhirnya Yoga melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Yoga duduk di tepi ranjang dan menatap bunga mawar itu. Sia-sia ia membeli bunga mawar untuk Kinanti, kalau akhirnya Kinanti tidak ada di kamar.
Yoga membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar, lalu ia memejamkan matanya dan menggapai alam mimpi.
***
Yoga bangun pagi-pagi sekali, ia harus sampai ke kantor tepat waktu. Mengingat jarak rumah mertuanya ke kantor sangat jauh dan harus menempuh waktu sekitar tiga jam.
Pagi ini Yoga tidak bertemu lagi dengan Kinanti. Ia harus buru-buru berangkat kerja. Nanti selepas bekerja, ia berniat balik lagi ke rumah mertuanya. Ada hal yang ingin dibicarakan dengan Kinanti, yaitu soal balik lagi ke rumahnya.
Yoga tidak sanggup bila terus tinggal di rumah mertuanya, bukan karena ia tidak betah atau karena permintaan bapak mertuanya yang menyuruhnya berpisah, tapi karena jarak tempuh menuju kantornya.
Terlebih dahulu, Yoga ke kamar Amar dan Sasa. Ia ingin pamit kerja dengan kedua anaknya. Sesampainya di kamar anaknya, Amar dan Sasa masih betah bergulung dengan selimut.
"Papa kerja dulu ya sayang," bisik Yoga, lalu Yoga mencium kening Amar dan Sasa bergantian.
Yoga tersenyum melihat kedua anaknya yang masih terlelap, lalu Yoga meninggalkan kamar anaknya.
Yoga sebenarnya ingin mengetuk pintu kamar milik Raka, namun, ia urungkan. Yoga tidak mau mengganggu Kinanti, dan segera berangkat kerja.
Kinanti mengintip di balik jendela, melihat mobil Yoga yang kini sudah meninggalkan rumahnya. Ya ... Kinanti sengaja tidur di kamar Raka. Kinanti tidak mau tidur bersama lagi dengan Yoga. Apalagi kemarin ia sudah mengajukan permohonan cerai ke pengadilan agama.
Setelah Yoga pergi, Kinanti keluar dan masuk ke kamarnya.
Kinanti menatap sebuket bunga yang tergeletak di atas meja rias dan di samping bunga ada kotak beludru berwarna merah. Lalu Kinanti mengambil bunganya dan mencium harumnya bunga. Setelah itu, Kinanti mengambil kotak beludru dan membukanya.
Sebuah kalung permata Yoga persembahkan untuk Kinanti. Seulas senyum tipis terbit di bibir Kinanti. Ini pertama kalinya Yoga menghadiahi sebuah perhiasan untuknya.
Sungguh, sangat miris bukan.
Ternyata di sana ada selembar kertas. Kinanti meletakkan bunga dan dan kotak beludru ke atas meja. Dibacanya tulisan tersebut.
Kinanti ... Aku minta maaf. Tolong maafkan kesalahanku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, agar ***kamu bersedia memaafkan aku.
Aku tahu kesalahanku sangatlah fatal dan kamu memang berhak untuk marah padaku atau mungkin kamu ilfil sama aku. Aku memaklumi itu semua.
Tapi aku mohon ... Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku padamu. Aku janji akan menjadi suami dan papa yang lebih baik lagi.
Tolong maafkan aku***.
Kinanti menghela napas panjang, lalu ia mengelap sudut matanya yang basah.
Sebenarnya Kinanti ingin sekali memaafkan suaminya, tapi rasa sakit atas pengkhianatan nya begitu membekas di lubuk hatinya.
Rasanya sangat sulit baginya memberikan maaf kepada Yoga.
***
Hari ini Yoga benar-benar sangat sibuk. Pekerjaannya menyita waktunya dan sejenak ia melupakan permasalahannya dengan Kinanti.
Yoga melirik jam yang melingkar di tangannya dan sekarang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Kemudian Yoga meraih ponselnya, ia ingin mencari makanan lewat internet.
Selesai memesan makanan, Yoga melanjutkan lagi pekerjaannya, hingga tiba waktunya untuk makan siang. Yoga segera membereskan meja kerjanya dan keluar mencari makan.
Di rumah, Kinanti mendapati 3 kotak makan yang baru saja diantar oleh kurir gofood.
"Ibu pesan makanan?" tanya Kinanti kepada ibunya.
"Tidak." Jawab sang ibu. " Raka mungkin yang pesan," sambung ibu Mala.
"Mana mungkin, Bu. Raka kan sedang di kantor," balas Kinanti.
"Mungkin tuh kurir nya salah alamat," tukas ibu Mala.
"Tapi tadi kurirnya bilang alamat ini kok."
"Terus kurirnya ngomong nggak itu untuk siapa?"
"Untuk aku," jawab Kinanti.
"Ya sudah, berarti itu memang untuk kamu."
"Tapi dari siapa?"
Ibu Mala mengedikkan bahunya. "Mana ibu tahu. Sudahlah, itu rezeki kamu. Jangan lupa di makan," ucap ibu Mala.
Kinanti menghembuskan napasnya. Kinanti masih bingung siapa orang yang mengirim makanan untuknya.
Tidak lama, terdengar suara Amar dan Sasa. Keduanya berlari menuju ruang makan.
"Mama ...," sapa Sasa.
"Wah! Mama pesan makanan?" tanya Amar berbinar senang melihat kotak makan dari restoran ternama.
"Abang mau," tawar Kinanti.
"Mau dong," jawabnya.
"Adek juga mau, ma," timpal Sasa.
Kinanti langsung membagikannya untuk Amar dan Sasa.
Tring ... Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
Kinanti langsung membukanya dan yang mengirim pesan adalah Yoga.
Aku tadi pesan makanan lewat gofood. Jangan lupa di makan dan semoga kamu suka 🥰
"Ternyata kamu yang pesan," gumam Kinanti.
Amar dan Sasa sangat menikmati makanan yang di pesan oleh Yoga.
"Coba kamu seperti ini dari dulu. Hangat dan tidak pelit," lirih Kinanti.
***
Yoga tiba di rumah mertuanya sekitar jam sepuluh malam. Yoga menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Sebenarnya ia cukup lelah bila harus bolak-balik antara kantor dan rumah mertuanya, tapi ia harus lakukan demi Kinanti dan kedua buah hatinya.
Kali ini, Yoga harus bicara sama Kinanti mengenai keinginannya mengajak Kinanti kembali ke rumahnya sendiri.
Yoga mendesah samar, karena Kinanti tidak ada di kamar lagi.
Yoga memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu ia harus menemui Kinanti.
Selesai mandi, Yoga bergegas menuju kamar Raka dan mengetuk pintunya. Hampir lima belas menit ia mengetuk pintu, tapi Kinanti tidak membukakan pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Kinanti ... Tolong buka pintunya. Aku mau bicara sama kamu."
Tidak lama terdengar suara kunci di buka.
"Ada apa sih, mas. Ganggu orang saja," gerutu Kinanti, dengan muka bantalnya.
Yoga segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"Aku mau bicara sama kamu," ucap Yoga.
"Bicara apa, sih! Memang nggak bisa besok aja," jawabnya dengan nada dingin.
"Nggak bisa. Harus sekarang."
Kinanti kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap wajah lelah Yoga.
"Aku mau kita balik lagi ke rumah kita ...."
"Aku tidak bisa," sahut Kinanti memotong perkataan Yoga.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Yoga.
"Karena aku sudah mengajukan gugatan cerai."