Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APAKAH INI HASILNYA?
Aku menjalani hari-hari kedepan dengan harap-harap cemas. Khawatir akan ancaman Arif tempo hari digerbang kantor Polisi. Ia mengatakannya dengan amarah. Dan itu bukanlah ancaman bocah yang ngadat karena mainannya yang kurebut.
Tapi hingga berganti minggu semua itu berlalu tanpa kendala. Vika menenangkanku dengan mengatakan kalau Arif tidak akan berani karena tajinya yang sudah potong karena ia nyaris tak punya apa-apa. Sedang kami saat ini ada dipihak terkuat karena kami punya uang. Ya, bagaimana tidak... Aku bisa menyewa bodyguard untuk Vika dan juga pengacara untuk mengurus perceraiannya yang masih menggantung karena alamat Arif yang tidak jelas dan no maden.
Aku agak bisa bernafas lega. Bahkan minggu ini kami berempat bisa piknik ke Bandung dan bersenang-senang.
Vika bahagia sekali. Ia tak mengira kalau aku juga akan mengajaknya bersama Ranti dan Jingga. Sejujurnya aku tak bisa mengabaikan Vika begitu saja, terlebih saat ini ia tengah mengandung anakku. Darah dagingku.
Kadang terselip untuk mengatakan keadaan ini pada Ranti. Meminta keikhlasannya menerima Vika sebagai madunya. Walaupun begitu, aku masih jadi pecundang yang pengecut. Aku belum berani jujur pada Ranti hingga saat ini. Hhh...
Kami terlihat semakin bahagia dan kompak satu sama lain. Aku bahagia. Tapi juga sedih dengan dosa yang kuperbuat pada kedua wanita yang begitu kucintai itu. Aku masih menggantung Vika dengan statusnya. Selain karena Vika juga belum resmi menyandang status janda, juga karena sikapku yang masih ragu mengutarakan keinginanku menikahi Vika pada Ranti.
Ranti juga tidak peka dengan kondisiku dan Vika. Bahkan dibeberapa momen, Vika dan aku hampir lepas kontrol memperlihatkan kemesraan kami dihadapannya, tapi Ranti enjoy saja tak punya sedikitpun kecurigaan pada kami. Aku kadang gereget melihat santainya Ranti menanggapi kedekatanku dengan Vika yang mulai tak lazim. Apakah Ranti sudah tak lagi peduli padaku? Ataukah sudah berkurang kadar cintanya? Atau memang ia begitu percaya kepadaku hingga membuang fikiran buruk diotaknya apapun tentang aku? Hhh... Aku kadang yang berfikir negatif tentang Ranti.
Minggu-minggu ini aman terkendali. Semua baik-baik saja tanpa kendala. Tentunya berkat izin Allah SWT. Aku sempat berfikir, mungkin Allah begitu menyayangiku karena dari kecil hingga remaja, selalu memberiku cobaan penuh derita dan airmata. Kini semua kebahagiaan Allah tumpahkan padaku tiada habisnya meskipun aku begitu salah jalan. Aku terima itu dengan penuh kebanggaan.
Lelaki mana yang tak bertepuk dada, dicintai dua wanita yang masing-masing memiliki kelebihan. Hidup dengan penuh kebahagiaan. Berlimpah kasih sayang dan cukup uang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Dika!... Senyum sombongku mengembang.
Bulan berganti, aku mulai lupa ancaman Arif. Vika kembali dengan kehidupan normal tanpa bodyguard dibelakangnya lagi. Kupikir daripada menghamburkan uang untuk hal yang belum pasti, lebih baik menghematnya atau diputar lewat bisnis Vika dan Ranti yang mulai meningkat.
Untuk pengacara, aku masih memerlukannya karena merekalah yang mengurus perceraian Vika dan Arif lewat jalur hukum yang resmi. Jadi bila Vika suatu saat bersua dan mendapat KDRT dari Arif lagi, justru akan mempermudah perpisahan mereka. Dan aku mulai bisa menata kehidupanku dengan Vika dan juga Ranti dengan jalur yang benar juga. Hingga bayiku dan Vika lahir kedunia tanpa harus menyandang status anak diluar nikah.
Vika kadang membuatku serba salah karena beberapa kali merajuk memintaku sesekali menginap bermalam menemani tidurnya. Ia kadang bersikap manja dan agak mengancam karena permintaan jabang bayi kami.
Jujur aku ingin. Tapi saat ini Jingga juga mulai lengket denganku bila malam hari. Entah kontak bathin putri imutku dengan Ranti itu begitu mengena di Jingga. Ia begitu menempel bahkan selalu ingin tidur denganku dimalam hari. Aku akui aku memang tidak begitu dekat dengan Jingga sejak ia lahir. Selain aku memang kurang suka anak kecil, aku juga tidak bisa diandalkan sebagai bapak yang baik karena kesibukanku juga dipekerjaanku membuat kualitas hubunganku dengan Jingga tak sebagus Ranti yang memang 24 jam mengurus Jingga. Untungnya Ranti memahamiku dan mengerti aku. Tapi belakangan ini Jingga selalu ingin bersamaku. Bermain, bercanda hingga minum susu botol karena sekarang Jingga sudah disapih. Hanya untuk urusan ganti popok aku masih tidak bisa dan tak berkenan mengurusnya.
Vika cemburu itu. Aku mengerti, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain meminta pengertiannya. Ia bilang, pengorbanannya begitu banyak...bahkan untuk sedikit perhatianku saja. Ya aku tahu, aku memang tidak bisa adil padanya dan juga Ranti. Aku masih belum bisa karena Ranti yang belum tahu hubunganku dengan Vika. Hhh, kepalaku pusing.
"Selamat malam! Kami dari Kepolisian Wilayah Kebon Kacang, bermaksud menjemput saudara Dika Dewantara. Ini bukti surat penangkapan saudara. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan nanti diutarakan dikantor kami."
Aku dan Ranti kaget.
"Sebentar pak, atas dakwaan apa suami saya ditangkap?" Ranti memotong perkataan pak Polisi yang menjemputku dengan mobil tahanan.
"Atas tuduhan menbawa kabur istri orang, melakukan tindak asusila hingga menghamili istri orang. Maaf, bu! Kami sudah dilengkapi surat penahanan resmi dari Polsek Kebon Kacang."
"Maaf, pak! Saya hubungi pengacara saya dulu."
"Kami beri waktu 5 menit untuk menelepon!"
"Terima kasih!"
Ranti gusar. Mencoba menghubungi Vika sepertinya sambil menggendong Jingga. Saat ini pukul 8 malam, kami masih bercanda ria didepan rumah sebelum mobil polisi parkir tepat didepan rumah kami.
Aku sendiri segera menghubungi pengacaraku dan Vika. Meminta mendampingiku selama pemeriksaan.
Aku digelandang ke kantor polisi Kebon Kacang, diiringi derai airmata Ranti dan Jingga.
Kepala Polisi disana menjelaskan kalau ada seorang pelapor bernama Arifin Borne lengkap dengan barang bukti atas tuduhan tadi. Hhh.... Ternyata selama ini dia menyelidikiku bahkan menstalker hubunganku dengan Vika. Aku memang sudah punya firasat.
Aku tak berkutik melihat bukti-bukti yang dibeberkan polisi dihadapanku dan pengacaraku. Itu benar memang, bahwa aku memiliki hubungan istimewa dengan Vika. Itu benar, Vika saat ini tengah mengandung anakku hampir 4 bulan. Tapi aku menolak keras dituduh melarikan Vika yang notabene-nya masih istri Arif.
Pengacara meminta waktu untuk kami berdiskusi 4 mata. Mas Fadil mengingatkanku kalau posisiku cukup lemah saat ini. Bahkan setelah perdebatan alot kami dengan Polisi, aku tetap tak bisa mendapatkan penangguhan penahanan dikhawatirkan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.
Ternyata politik Arif cukup pintar untuk menggantung perceraiannya dengan Vika demi menyeretku masuk penjara. Ia sengaja berpindah-pindah tempat hingga surat pengajuan perceraian Vika belum sampai ditangannya tetapi ia bergerilya menyusup menyelidiki hubunganku dengan Vika yang kadung lengket.
Aku hanya menelan ludah. Ternyata Arif memiliki koneksi dengan beberapa pejabat dipihak Kepolisian. Hh... sungguh suatu kesialan bagiku! Malam ini aku tidur meringkuk di sel tahanan yang dingin dan gelap. Seumur hidup aku tak pernah membayangkan masuk kedalam sini.
Pagi sekali Vika datang menjengukku dengan ditemani 2 orang pengacara kami. Vika menangis sesegukan. Mendekap erat tubuhku dengan rasa bersalahnya yang dalam. Aku berusaha menenangkannya. Mengingatkannya kalau ada bayi kita yang harus dijaga dikandungannya.
Vika terus menggenggam jemariku. Hingga tiba-tiba Ranti datang dan terpana melihat kedekatan kami.
Ranti memelukku, menanyakan keadaanku dan menyodorkan bungkusan pakaian dan makanan.
"Boleh tinggalkan kami bertiga?" kata Ranti kepada pengacara kami. Mereka menuruti. Kini tinggal kami bertiga duduk bersama.
"Tolong beri aku penjelasan!" katanya tegas tapi tenang.
"Jingga dirumah sama siapa, yang?" aku berusaha mengalihkan pertanyaannya.
"Mas Dika atau Vika, aku menunggu penjelasan kalian!" katanya lagi mengabaikan pertanyaanku.
Vika meraih jemari Ranti tapi ditepis halus Ranti.
"Jelaskan saja! Aku menunggu dengan sabar!"
"Ranti! Kami..... kami memang berhubungan." Aku gugup memulai perkataanku.
"Hubungan seperti apa? Pertemanan biasa? Percintaan? Atau hanya cinta satu malam?"
"Mmmh...kami, kami... memiliki hubungan lebih dari itu." Vika menunduk mendengar kata-kataku. Sementara Ranti tetap menatapku seolah mencari kebenaran disana.
"Dan benar Vika saat ini hamil anak kamu?" tanya Ranti penuh selidik. Mulai terlihat amarahnya.
Aku mengangguk mengiyakan. Ranti tiba-tiba menamparku. Mendorongku hingga mundur beberapa langkah.
"Bagaimana rasanya menjadi terdakwa? Enak?" tanya Ranti. Aku hanya diam tak menjawab.
Sementara Vika memeluk tubuh Ranti dengan menangis.
"Maafin aku, Ranti!"
"Diam kamu! Ini urusan rumah tanggaku dengan mas Dika. Jangan ikut campur!" bentak Ranti membuat Vika tersentak dan kembali duduk.
Ranti kembali diam. Mengatur nafasnya yang mulai tersengal. Kulihat bulir-bulir airmata mulai berjatuhan dipipinya.
"Teganya kamu, mas! Apa salahku sama kamu sampe kamu memberiku hukuman sekeji ini? Apa dosaku hingga kamu berani berbuat jahat dibelakang aku?... Dan kamu Vika! Aku ga sangka, kamu yang kuanggap saudara...berani mengambil suamiku demi kesenangan kamu!"
Ranti mengeluarkan semua amarahnya walaupun masih terlihat menahan diri sebisa mungkin. Aku cukup tahu, Ranti adalah wanita terhormat yang pandai menjaga dirinya dari situasi apapun hingga tetap elegan dan tidak menjatuhkan harga dirinya lebih rendah lagi akibat emosi yang tak terkendali. Itulah kenapa aku memandang tinggi nilai Ranti dimataku. Ia wanita kuat yang hebat.
Aku hanya diam meski terpojok. Tak bisa bicara tak berani membela. Walau kutahu, aku bisa saja menyerang Ranti balik atas keteledorannya dulu yang selalu menyuruhku ini itu mengurus sahabat terbaiknya kala itu. Aku tak ingin membela diri. Karena tetap aku yang bersalah.
Aku agak tenang setelah mendapatkan Ranti meluapkan semua amarahnya padaku dan Vika. Aku percaya, Ranti bisa mengatasi apapun diluar sana.
Juga untuk Vika, ada banyak orang kini disekelilingnya yang ikut menjaganya. Terutama pak Iksan. Aku percaya beliau. Vika juga sudah menerima 3 miliar hasil penjualan rumahnya yang baru jatuh tempo akhir bulan lalu.
Tinggal aku yang masih mengadu nasib disel tahanan ini. Merenungi semua tindakan salahku. Entahlah. Sampai kapan aku begini. Menunggu keputusan sidang serasa menunggu kapan malaikat maut menjemputku dari kehidupan.
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..