Menikahi lelaki tampan, kaya raya, CEO pula! siapa yang tidak tergila-gila??
TIDAK!
Berbeda dengan Hazeline. Ia justru mencintai Sekertaris Suaminya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Hazeline berdiri di depan cermin. Dia mengaplikasikan lipmate-nya sebagai polesan terakhir. Diturunkannya dress hitam sampai ke atas lutut. Setelah dirasa sempurna, Hazeline keluar dari kamar dengan elegan. Walau makan malam ini bersama Manu, sejujurnya ia melakukan ini supaya terlihat cantik di mata Nathan.
"Tuan sudah di mobil, Nyonya." Ucap Robert yang sudah menunggu dibawah tangga.
Hazeline tak menyahuti sebab dia tidak peduli soal Manu. Mengajak makan malam, tapi dia bahkan tak menunggu istrinya. Entah apa tujuan Manu ini, Hazeline hanya mengikutinya saja.
"Silakan."
Nathan membuka pintu mobil. Tak lupa ia tersenyum pada kekasihnya.
"Bagaimana penampilanku?" Tanya Hazeline tanpa suara.
"Sempurna." Balas Nathan dengan berbisik pula.
Hazeline tersenyum senang dipuji demikian oleh Nathan. Lalu ia pun masuk kedalam mobil dan mendapati Manu tengah sibuk dengan tabletnya.
Nathan masuk dan menjalankan mobil menuju tempat yang sudah dipesan oleh Manu.
"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Manu tanpa beralih dari gadget-nya. Pertanyaan itu pula sudah tahu kesiapa arahnya.
"Lancar, tuan." Jawab Nathan.
"Lusa Hazeline mulai kuliah di kampus yang sama denganmu. Kau bisa menjaganya?"
"Baik, tuan."
Nathan tersenyum melirik spion depan menatap Hazeline yang hanya melihat jendela luar. Mendapat tugas baru, dia sangat senang.
"Tidak perlu sampai seperti itu." Ucap Hazeline. Entah kenapa dia merasa tak suka jika Nathan dibebankan untuk menjaganya seperti itu. Seorang suami tak sepantasnya mengatakan itu pada lelaki lain, walau itu penjaganya.
Bukankah seharusnya yang menjaga dirinya adalah Manu? Walau tidak secara langsung, minimal dia menjadi orang nomor satu yang selalu peduli. Ingin dia berseru pada Manu soal itu. Tapi diurungkannya karena dia berusaha tak peduli lagi.
"Tentu perlu. Aku tak ingin kau kesulitan."
"Hh. Kesulitan." Bisiknya hampir tak terdengar. 'Asal kau tahu, aku selalu kesulitan jika berhadapan denganmu.' Balasnya dalam hati.
Nathan terus melirik ke spion depan, memperhatikan Hazeline yang sejak tadi hanya cemberut. Mungkin gadisnya itu tengah kesal karena Manu, pikirnya.
Setelah sampai, Manu berjalan di depan sendirian.
"Mau apa sih, dia membawaku makan malam diluar?" Gerutu Hazeline dengan suara kecil.
"Ikuti saja. Sana, masuk." Tangan Nathan mendorong pelan pinggang kecil Hazeline.
"Kau tidak?" Gadis itu menoleh kebelakang.
Nathan tersenyum kecil. "Aku berjaga di dekatmu."
Hazeline mengangguk lambat, lalu masuk menyusul Manu.
"Silakan duduk, nyonya." Seorang pelayan menarik kursi untuk Hazeline, sementara Manu sudah duduk duluan disana.
Hazeline menghela napas tanpa suara, tak ingin Manu terusik sebab suara napasnya mengingat terakhir kali pria di depannya ini marah karena hal sesepele itu.
Setelah memesan makanan, Manu dan Hazeline saling diam beberapa saat. Pria itu santai menikmati wine merah di gelas sambil ia putar-putar isinya. Lalu Hazeline, tentu diam memperhatikannya.
Ini hanya buang-buang waktu, pikirnya. Lebih baik dia pergi ke toilet sebentar.
"Kau suka?"
Hazeline yang ingin berdiri, kembali duduk. Alisnya mengerut tanda tak paham pertanyaan Manu.
"Tempat ini. Kau menyukainya?"
Hazeline menebar pandangan ke seluruh tempat. Taman yang bagus dan nyaman. Restoran indoor dengan tatanan bunga yang luas, juga lampu malam yang indah.
"Bagus. Aku suka." Jawab Hazel seadanya. Walau dia bingung, tempat sebagus ini kenapa sepi sekali? Bahkan hanya mereka berdua yang ada disana.
"Aku berencana membeli tempat ini."
Alis Hazeline terangkat. Apakah ini tidak membuang uang? Tempat sekecil ini, untuk apanya? Dia kan, tidak suka bisnis kecil begini. Batin Hazeline.
"Untukmu."
"Apa?" Jawaban Manu seperti tahu apa yang ada di pikiran Hazeline.
"Supaya kau bisa melukis dengan tenang."
Hazeline mengatupkan mulutnya setelah sadar dari keterkejutan.
Manu sengaja membeli ini untuk Hazeline. Karena seingatnya dari laporan Nathan, istrinya sering keluar mencari tempat yang nyaman untuk melukis.
"Ah, aku pikir ini berlebihan. Aku hanya-" kalimat Hazeline terpotong saat pelayan datang dan meletakkan makanan di atas meja.
Manu mulai menyantapnya tanpa bertanya kelanjutan ucapan Hazeline karena sebenarnya ia tak terima protes atau sanggahan dalam bentuk apapun itu.
Setelahnya~
Hazeline masih berdiri memperhatikan Manu menerima telepon tak jauh darinya. Gerak-gerik mencurigakan itu sangat terlihat di mata Hazeline. Belum lagi senyuman Manu yang sesekali muncul menanggapi obrolan via telepon itu.
Hazeline mendengkus. Dia pasti menelepon jalangnya lagi, batinnya.
Manu mendekat dan mendongak melihat Hazeline yang masih berada diatas anak tangga.
"Aku pergi. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Begitu saja, Manu masuk kedalam mobil yang dikendarai Roy dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
Hah. Lagi-lagi Hazeline menghela napas melihat suaminya itu.
Tangan Nathan mengulur keatas. "Ayo."
Untung ada Nathan. Lelaki yang membuatnya sedikit lebih baik belakangan ini.
Hazeline menaikkan tasnya sampai pundak, lalu menyambut uluran tangan Nathan. Ia genggam sambil menuruni lima anak tangga taman di restoran itu, dan masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan Nathan.
"Kemana saya akan mengantar anda, tuan putri?" Tanya Nathan seloroh setelah duduk dibalik kemudi.
Hazeline melebarkan senyum. "Kemana saja asal bersamamu."
Nathan tertawa renyah. "Baiklah.."
...💐...
"Aku tidak tahu mereka menyediakan sampan." Hazeline kegirangan dan dengan semangat mendayung di sisi kanan. Dihadapannya, Nathan ikut mendayung sambil tersenyum melihat Hazeline yang sangat dicintainya itu.
Beruntung pelayan restoran mau menyediakan semua permintaan Nathan dengan senang hati sebab Nathan memberikan mereka banyak uang.
"Kau suka?"
"Sukaaa!" Seru Hazeline sampai matanya terpejam kuat. Baginya, Nathan selalu tahu cara untuk membahagiakannya.
Nathan menggenggam tangan Hazeline. Syukurlah, memang ini yang ia harapkan. Melihat Hazeline berwajah datar saat di rumah, membuatnya terus berusaha membahagiakan Hazeline saat diluar bersamanya.
"Katakan semua yang kau ingin lakukan, aku akan berusaha melakukannya. Untukmu."
Hazeline tersentuh. Untuk kali pertama, ada laki-laki yang mengatakan ini padanya.
Tangan Nathan menggenggam belakang surai wanita itu dan mendekatkan wajahnya yang perlahan miring untuk meraih bibir ranum Hazeline. Wanita itu pula memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut Nathan yang bermain di bibirnya. Terasa lebih syahdu saat ini ditengah danau bersamaan sapuan angin lembut.
Setelah selesai bermain di tengah danau, mereka membereskan barang. Hari sudah hampir gelap, saatnya untuk pulang.
Hazeline menurunkan dress Kotak-kotaknya yang sempat tersingkap keatas saat di perahu tadi. Lalu ia meninting heels-nya karena tak bisa dipakai di jalanan berbatu kecil.
Tangan Nathan menahannya. Gadis itu menoleh kebelakang dengan alis naik. Dengan maksud bertanya.
Nathan hanya menatap kedepan sampai Hazeline ikut melihat kesana. Ternyata ada Manu yang baru saja datang dengan seorang wanita. Dengan baiknya Manu menggeser kursi untuk diduduki wanita itu sambil tersenyum ramah.
Hazeline menatapnya datar "Good job, Manu." Desisnya dengan nada sarkas.
(Visual Hazeline)
**Terima kasih untuk Vote-nya💐
trmksh byk utk semu karya apikmu🙏🙏🙏
padahal sdh di niatkan, kok persiapannya cuma lari.
kurasa siapapun wanita yg diperlakukan seperti itu pasti tdk akan mau , pingin aku tonjok juga 👊
istri selingkuh dengan lelaki lain dan perselingkuhan itu kalian benarkan (munafik)
tapi lihat novet novel2 kalian yang bertema suami selingkuh apa yang terjadi kalian laknat habis2an suami, kalian buat suami menyesal, mengemis maaf, berjuang, dan dapat karma, kalian buat karakter istri tegas dan pergi
tapi lihat saat kalian buat novel bertema istri selingkuh, perselingkuhan itu kalian benarkan, karakter suami kalian buat bodoh yang Terima saja kayak tidak punya harga diri sebagai lelaki,
ini lah bukti kalau pemikiran wanita sangat munafik yang dituangkan kedalam novel, dan mereka akan berlindung ini hanya halu, hanya novel hanya karya, tapi faktanya novel kalian bisa menunjukkan pola pikir kalian