NovelToon NovelToon
Behind The Lies

Behind The Lies

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Pengganti / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:71.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mandanisa 0112

Ashilla Wijaya kembali ke Indonesia untuk meneruskan perusahaan kakeknya. Dia banyak mendengar cerita tentang Aruna, perempuan yang sangat mirip dengan dirinya sampai setiap orang yang melihatnya akan memanggilnya dengan nama itu.

Perlahan rahasia tentang Aruna mulai terungkap.
Siapakah sebenarnya wanita yang bernama Aruna itu? Kenapa Iyash begitu terobsesi padanya?

Cerita ini dibuat untuk semua orang yang belum bisa ikhlas dengan masa lalunya dan belum benar-benar hidup untuk masa depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mandanisa 0112, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Seharusnya Kamu Disini

Ashilla meletakkan barang-barang di sebelah ranjang.

“Sus, ini Ashilla yang akan menjadi ibu angkat Lily,” kata Iyash pada suster Rika, wanita yang menjadi perawat tetap di panti asuhan kakeknya.

Ashilla tersenyum.

“Ini suster Rika yang akan merawat Lily,” sambung Iyash pada Ashilla.

Ada banyak hal yang Iyash rencanakan, namun tak satupun Ashilla tahu.

“Gimana minum susunya?”

“Lancar, Bu.”

“Syukurlah.” Ashilla duduk disebelah bayi yang tengah terlelap tersebut. "Kasihan ibunya belum sempat melihat bayi yang selama sembilan bulan ini dikandungnya."

Suster Rika hanya tersenyum. Sementara Iyash tak berhenti menatap wanita yang terus mengingatkannya pada cinta pertamanya itu.

“Yash. Apa nggak sebaiknya kamu cari rumah buat Suster Rika sama Lily?”

Iyash tampak berpikir. “Kita ngobrol di balkon.” Pria itu langsung ke luar dan Ashilla lekas bangkit.

“Ada cemilan buat suster Rika,” kata Ashilla sebelum pergi.

“Makasih, Bu.”

“Sama-sama, kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk bilang sama saya.”

Suster Rika mengangguk. Ashilla pun langsung mengikuti Iyash ke balkon. Saat dia sudah mendaratkan bokongnya di sofa sembari menikmati cahaya biru yang hampir meredup itu, dia lekas merogoh ponsel dan mengirim pesan pada ibunya di New York.

[Bund, aku kangen Asa.] Kalimat tersebut terkirim, namun, tentu saja pesan tersebut tak langsung terbaca, apalagi mendapat balasan karena di sana masih dini hari, sementara Ashilla sendiri tengah menikmati sore menjelang malam.

Mendadak memang dia merindukan anak semata wayangnya tersebut begitu dia masuk ke kamar Lily beberapa saat lalu.

“Jadi menurut kamu mending cari rumah?” tanya Iyash seraya duduk.

Ashilla mengerjap dan lekas meletakkan ponsel di meja. “Iya. Biar aku bebas jenguk. Karena sepertinya Mama kamu nggak suka sama aku.”

“Maaf, kalau sikap Mama bikin kamu nggak nyaman.”

Ashilla mengangguk. "Kenapa kamu ingin menjadi ayah angkat Lily?”

“Pengen aja, memang kenapa? Aneh?"

Ashilla rasa memang aneh. "Kenapa nggak nikah dulu baru punya anak?"

“Aku nggak butuh pasangan,” jawab Iyash.

“Sombong," dengkus Ashilla seraya membuang muka. Tiba-tiba terdengar suara renyah Iyash dan itu membuatnya terperangah.

“Kalau nggak sama dia, lebih baik aku sendiri.”

Ashilla menghela napas. “Maksudnya Aruna?” timpalnya cepat dan seketika Iyash terdiam, mungkin seharusnya Ashilla menahan diri untuk tidak mengatakannya, namun sejak ibunya Iyash mengucapkan, “seharusnya kamu melupakan dia”. Pikiran Ashilla langsung mengarah pada Aruna.

“Iya, ‘kan?” tanya Ashilla memastikan.

Iyash masih terdiam dan sepertinya Ashilla berhenti memancing-mancing apa yang tak ingin Iyash katakan. “Ah! Sorry.”

Iyash menghela napas panjang dan itu membuat Ashilla merasa kalau apa yang Iyash lalui begitu berat. Perlahan pria itu beranjak dari duduknya. “Aku ambilkan minum.” Kemudian pergi tanpa melihat apakah Ashilla mengangguk atau tidak.

Ketika Iyash pergi untuk mengambil air, Ashilla mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dan dia terpaku pada sebuah ruangan, pintunya terbuka sedikit, dia merasa sangat penasaran, perlahan dia mendorong pintu dan sedikit mengintip.

Ashilla terperangah karena ruangan itu begitu indah. Bukan karena dipenuhi ornamen berwarna putih dan furniture putih, namun ada hal lain yang membuatnya semakin tertarik. Ruangan itu memang lebih mirip seperti ruang kerja karena adanya meja dan kursi. Perlahan Ashilla melangkah masuk, entah kenapa dia tidak bisa mengontrol rasa penasarannya, sehingga dia lupa kalau dirinya telah melewati batas.

Wanita penyuka warna putih itu terpana melihat foto seorang perempuan bergaun putih yang membelakangi kamera sembari menuntun sepeda. Foto lain menunjukkan seorang perempuan yang mengenakan caping dan sedang memetik teh. Lalu ada foto-foto Iyash dengan beberapa temannya sewaktu SMA. Sedangkan foto lain membuatnya tercengang karena perempuan yang ada dalam foto-foto Iyash sangat mirip dengannya.

Jantungnya berdegup kencang lantaran dia seperti melihat dirinya sendiri dalam gambar-gambar tersebut. Di dinding lain dia melihat sebuah lukisan wanita yang lagi-lagi sangat mirip dengannya sampai dia merasa kalau itu memang dirinya dari dimensi lain.

Napasnya sedikit memburu, jantungnya semakin berdegup kencang, perlahan badannya berputar sembari terus menatap foto-foto itu. Tiba-tiba jantungnya mencelus saat melihat Iyash ada di belakangnya.

“Yash.” Ashilla terengah seraya mundur. “Maaf, aku–” Dia kembali mengedarkan pandangan seolah tak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Foto-foto yang tertempel di dinding dan terpasang pada pigura membuatnya merasa kalau Iyash memang sangat terobsesi pada wanita yang bernama Aruna itu.

“Nggak seharusnya kamu di sini.” Pria itu lekas mundur dan menjauh dari Ashilla. Jantung Ashilla mencelus melihat Iyash menjauhinya. “Sekarang kamu pergi!”

“Yash, tapi–” Ashilla malah mendekat.

“Pergi!” teriak Iyash.

Wanita itu menghela napas, kali ini air matanya menetes menyentuh pipi. “Aku minta maaf.”

“Keluar!”

Ashilla menangis. Dia kembali menatap foto-foto itu, terutama foto Aruna yang sedang tersenyum ke arah kamera. Ashilla tidak bohong kalau dia merasa seperti sedang bercermin.

Iyash marah dan menariknya keluar. “Lain kali jangan pernah melewati batas!”

Ashilla terperangah saat Iyash melepaskan genggaman tangannya di depan pintu. Pria itu menatapnya lama, kemudian masuk ke dalam ruangan yang lebih mirip seperti galeri foto tersebut. Ashilla nampak sedih sembari mengetuk pintu. “Yash, aku minta maaf,” katanya penuh rasa bersalah.

Seharusnya Ashilla menyadari satu hal kalau dia bukanlah siapa-siapa. Dia dan Iyash hanya kebetulan dipertemukan dalam sebuah keadaan dan didekatkan karena sebuah kejadian. Bukan berarti dia bebas melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan.

Perlahan Ashilla pergi meninggalkan rumah tersebut. Dia menyeret kakinya menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Dia kemudian masuk ke dalam mobil dan menangis di sana. Sekelebat bayangan foto-foto tersebut berputar bak kaset butut.

Senyum kebahagian di antara Iyash dan Aruna terus membayangi pikirannya. Ashilla mengambil cermin dan melihat bayangan wajahnya di sana. Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Aruna? Pantas saja Iyash terus memanggilnya begitu.

Ashilla meraba pipinya sendiri, jemarinya menyentuh mata, kemudian turun ke hidung dan mendarat di bibir. “Siapa aku?” gumamnya. Tiba-tiba dia merasa tak mengenal dirinya sendiri.

Bagi penderita kepribadian ambang seperti dirinya tentu itu menjadi sebuah pertanyaan besar. Kenapa ada orang yang mirip dengan dirinya, sementara selama ini dia tidak begitu mengenal dirinya sendiri.

“Ashilla Wijaya, atau Aruna Anastasya?” gumamnya kembali. Dia menghela napas dan kedua matanya terpejam lama. Di dalam gelap diantara ketenangan itu dia menemukan dua sosok perempuan saling berhadapan dengan kedua mata masing-masing saling terpejam, namun saat kedua mata itu mereka terbuka Ashilla menjerit.

Dia menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan, terus berulang-ulang sampai merasa cukup tenang. Setelah itu dia memutar kemudi dan pergi mengendarai mobil meninggalkan halaman rumah Iyash. Meski bayangan Aruna terus menjelma di pikirannya, namun Ashilla berusaha keras untuk menepikannya.

1
Gal Gara
Author berhasil membuat simpati di bagian awal. Nice
SicantikKinyisKinyis
Semangat Kak, jangan lupa mampir juga di karya aku yang berjudul Takdir Cinta Twins D
Mandanisa 0112: Hai, Kak. Semangat juga buat Kakak.
total 1 replies
Mandanisa 0112
rajin banget dipraktekin 😅😅
muryani chayank
yaa ALLAH ini smpe tak praktekin lho kak...... dcoba siku kanan-kiri ternyata emang gk bisaa 🤔🤔🤔

#emang the best pokokna... semangat trus kakak.... 🌷🌹🌺⚘🌻🌼🌸💐⚘⚘⚘⚘
Mandanisa 0112
tenang kak. pelan-pelan. nanti ketemu benang merahnya
Tua Jemima
bingung baca alur ceritanya
Gres Appeach
semakin rumit, tapi semakin menarik🤩🤩🤩
Mandanisa 0112
Hai👋 baca dan beri dukungan juga untuk novel terbaruku, judulnya "Bias Rasa". Di sini Iyash adalah tokoh utamanya, Kira-kira dia akan dipasangkan dengan siapa ya? Yuk cari tau jawabannya... makasih🥰
Mandanisa 0112: iya kak. haha
total 2 replies
Gres Appeach
Kasian Aruna..
memang semua panik, tpi setidaknya bisa ngikutin dulu moodnya aruna, kasian
Gres Appeach
part yg mengandung banyak bawang😭😭
ibu adalah seorang ibu😭😭
Gres Appeach: iya, kadang kita gak tahu perjuangan yg tak nampak
total 2 replies
Gres Appeach
cinta gak harus memiliki kalau itu mmg menyakitkan, hanya perlu kata "ikhlas"
hmm
Mandanisa 0112: makasih kk udah nangkep pesannya 🥰
total 4 replies
Kumi
ini ceritanya yaa kk othor, pantesan.. masuk akal🤔🫡
kereen!!
Mandanisa 0112: iya hihi
total 1 replies
Kumi
ohh gitu.. makanya iyash tetap berkeras kalo Aruna mmg msh hidup
Kumi
haaaaa...aku ikut sedih dgn kalian brdua😢😢
Kumi
Nuna ini ada2 aja🤭☺️
Kumi
hehe Asa lucu, imut☺️☺️
Kumi
hayo lohh kalian berdua ini, di bikin klear dulu lahh
Kumi
siapa pula ini..🤪
Kumi
setelah sekian purnama..inilah yg di tunggu2😲🤗😍🤩
Kumi
woaahhh.... finally🤩🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!