ig : @es.pucil
_____________
Ada banyak alasan mengapa Karina dengan sangat mudah diterima di keluarga Eduardo. Ia seorang aktris terkenal yang selalu sukses menjadikan filmnya selalu laris di bioskop, serta memiliki karakter dan budi pekerti yang sangat baik.
Namun, ada juga beberapa alasan yang sangat kuat mengapa Karina harus memilih Erik Eduardo sebagai kekasih meski usia mereka terpaut 19 tahun. Selain kaya raya serta sukses di bidang bisnis, Karina juga harus memilih Erik untuk ... balas dendam. Demi menebus kematian dirinya dan sang kakak 19 tahun silam, karena keserakahan Erik untuk memiliki sang anak hasil hubungannya dengan sang kakak: Bella ... yang membuahkan gadis kecil bernama Eliza dengan fisik sangat menyerupai mendiang Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Es Pucil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pria Baru yang Tidak Asing
"Saya mau dibawa ke mana?"
Pertanyaan tersebut sudah diajukan Karina sedari tadi, tetapi belum ada jawaban sama sekali. Sang sopir hanya memandang Karina sekilas melalui spion tengah, sementara sisanya, tidak peduli sama sekali.
Karina berdebar cemas di tempatnya. Gadis itu sering kali memainkan jemari sendiri demi mengusir gugup, tetapi tidak banyak membantunya.
Sesekali, Karina sering memainkan ponselnya sendiri. Perempuan itu mencoba untuk menghubungi seseorang, tetapi ia ragu bisa mengandalkan siapapun.
Sekarang, Karina memiliki dua pasang orang tua: di masa lalu dan di masa sekarang. Ia sejujurnya bingung dengan 'orang tua' mana yang Erik maksud.
Namun, mengingat bahwa Erwin dan Adeline memiliki kehidupan sempurna nan aman, maka kekhawatiran Karina saat ini terpusat pada orang tuanya di masa lalu.
Karina sebenarnya mencoba untuk percaya diri, bahwa mustahil Erik mengetahui bahwa dirinya adalah Siska di masa lalu. Mustahil. Fisik Karina sangat berbeda jauh dari Siska di masa kecil, sehingga ... pria itu tidak punya alasan untuk mengenali Karina.
Namun, sekali lagi. Karina kalah oleh kecemasannya. Rasa percaya diri barusan tidak bisa menyelamatkan gadis itu dari kekhawatiran. Sehingga jadilah, perempuan itu sering kali menghela napas kasar dengan niatan menenangkan diri.
"Saya mau dibawa ke mana sebenarnya?!" Karina sekali lagi bertanya, dengan nada suara yang berubah tegas. Perempuan itu menatap nyalang pada sopir dan seorang bodyguard yang duduk di samping bagian kemudi.
Keduanya saling berpandangan, seolah berdiskusi melalui tatapan mata untuk mempertimbangkan memberi jawaban atau tidak. Ketika itulah, Karina mempertahankan sisi tegasnya yang mengandung amarah, agar mereka tidak lagi menganggap remeh pertanyaan barusan.
"Pak Erik meminta kami membawa Anda ke suatu tempat, Bu. Kami tidak diizinkan untuk memberitahu Anda, karena ini rahasia." Sang bodyguard menjawab dengan tenang setelah keduanya sepakat melalui anggukan untuk berbicara denganku.
"Rahasia? Kenapa harus pakai rahasia? Saya mau tahu dan memang harus tahu mau dibawa ke mana!" balas Karina dengan suara yang lebih tegas dan penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
Keduanya sekali lagi saling berpandangan. Karina berharap-harap cemas, agar mereka mengikuti apa yang ia perintahkan. Namun, sang sopir malah menggeleng pelan sebagai isyarat penolakan.
Karina mendesis. Ia menipiskan bibir penuh amarah. Perempuan itu berniat untuk menendang kursi kemudi, tetapi urung saat bodyguard menyelanya dengan sebuah kalimat.
"Saya akan meminta izin dari Pak Erik lebih dahulu."
Ah, sialan! Karina memaki dalam hati. Dua orang ini malah suka melapor. Karina sekarang tidak bisa berkutik, jika ia dihadapkan langsung dengan Erik.
Perempuan itu akhirnya menyandarkan punggung dengan malas. Kedua tangannya terlipat di depan dada untuk memperjelas aura dingin dalam dirinya.
Sang bodyguard sungguhan menelepon Erik, dan sebelum mereka sempat saling berbicara, Karina segera merebut ponsel tersebut secara paksa.
"Halo, Erik." Karina menyapa dengan ramah. Ia menunjukkan senyum terbaiknya, walau sang lawan bicara tidak dapat melihatnya.
"Kenapa telepon pakai nomor orang, Sayang? Kenapa? Mereka perlakukan kamu dengan baik, 'kan?" tanya Erik dengan suara khawatir, tetapi Karina sama sekali tidak bisa memercayai pria ini lagi.
"Ya. Mereka perlakuin aku dengan baik, kok." Karina menjawab dengan tenang, demi mempertahankan image-nya di hadapan sang suami. "Btw, aku penasaran banget." Karina mengatakan ini dengan suara manja. "Kamu sebenarnya, mau ajak aku ke mana, sih?"
"Rahasia, Sayang." Erik menjawab di sela dengkusan gelinya. "Kamu pokoknya ikutin aja bodyguard yang saya pilih ya. Jangan nakal di situ, oke?"
Tuut!
Sambungan dimatikan secara sepihak, membuat Karina langsung menjauhkan layar demi melihat bahwa tampilan panggilan tadi kini sudah berubah menjadi wallpaper ponsel.
Karina mengembalikan benda pintar itu pada pemiliknya. Ia kembali bersandar malas, sembari menggigiti ujung kukunya karena gugup.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya lagi untuk menimbang-nimbang, siapa yang harus dihubungi untuk mengamankan orang tua lamanya.
Rafa ... mustahil. Karena ia sangat dekat dengan Erwin dan Adeline. Ia bisa saja melapor mengenai kedekatan Karina dengan orang tua lainnya, dan memicu rasa curiga mereka.
Kalau begitu, bagaimana dengan ... Angga?
...*...
Karina tiba di depan sebuah rumah dengan halaman yang dihiasi berbagai macam ornamen berwarna putih. Gadis itu tampak bingung dengan keberadaannya saat ini. Ia tidak mengenali suasana ... pernikahan di depannya saat ini.
Di saat Karina masih kebingungan dengan posisi saat ini, sosok Erik tiba-tiba muncul dalam balutan jas formalnya. Pria itu tampak tersenyum hangat ketika membukakan pintu untuk Karina.
"Kita ... di mana?" tanya Karina kebingungan.
"Acara pernikahan kolega saya sama Papa kamu." Erik menjawab santai. Ia membantu perempuan itu turun, lalu membiarkan Karina memeluk lengannya.
"Kok pake rahasia-rahasia segala!" Karina mencibir dengan berpura-pura kesal. "Aku jadi takut-takut cemas tau!"
"Lah, kok cemas mau ketemu sama ortu sendiri?" balas Erik, disusul kekehan kecilnya. "Orang tua kamu kan orang sibuk banget. Ini aja, rencana mereka, habis pernikahan ini langsung terbang lagi ke Singapura. Jadi ya, saya ajak kamu ke sini buat ketemu mereka. Buat lepasin kangen."
Karina sejujurnya tidak memiliki perasaan rindu itu pada dua orang tuanya saat ini. Bukan karena tidak memiliki sayang, tetapi terbiasa tanpa mereka menjadi alasannya.
Namun, Karina menghentikan langkahnya. Membuat Erik melakukan hal serupa sembari mengubah arah tubuhnya menghadap sang istri. Wajah pria itu menampilkan rasa penasaran yang amat kentara.
"Kenapa, hm?" tanya Erik dengan wajah yang penasaran.
"Makasih." Karina melingkarkan kedua tangannya di pinggang Erik, dan membiarkan kepalanya bertumpu pada dada pria itu. "Belum ada yang mengerti aku sebaik kamu."
Erik tersenyum di atas puncak kepala Karina. Ia balas mengelus punggung dan tengkuk perempuan itu untuk menunjukkan kasih sayangnya.
"Ya, Sayang," timpal Erik, "Walaupun terkesan buru-buru, saya tetap bisa kenal kamu dengan sangat baik. Bahkan lebih baik daripada orang tua kamu."
Erik melepaskan pelukan. Ia membawa tangannya untuk merangkul pinggang Karina dan menuntun perempuan itu ikut bersamanya.
Karina tersenyum hangat pada siapapun yang menemukan dirinya. Ia dengan senang hati mempersilakan untuk melakukan foto bersama jika diminta, tetapi dengan satu syarat yang membuat Erik selalu tersenyum.
"Suami aku ikut foto, ya?"
Dan jelas, semuanya memberikan izin.
Karina tidak bisa meredupkan senyum walau sedetik pun. Perempuan itu terus menanggapi semua fans-nya dengan senyum terbaik yang ia miliki, sampai tubuhnya dihadapkan pada sosok pria dalam balutan jas formal berwarna abu-abu. Miliki tinggi sejengkal di atas Karina, dan janggut tipis di sekitaran rahangnya, Karina seketika meneguk ludah secara kasar.
"Putri saya sudah menunggu di dalam. Dia sangat ingin berfoto dengan kamu," kata pria itu dengan suara maskulinnya yang khas.
Karina masih sulit bereaksi. Tangannya kaku saat memeluk lengan Erik. Ia merasa pernah melihat pria ini, ketika hatinya yakin bahwa ini adalah pertemuan perdana mereka.
Di mana Karina melihat pria ini?
Di saat sebuah memori berhasil digali, ketika itulah Karina melotot lebar.
Pria ini ... yang berfoto bersama Bella di masa lalu!
jam 12.10 WIB
jam 00.10 WIB
info cerita :
ig : es.pucil
fb : Es Pucil III
#Menarik 😳
Sugar Daddy nya cakep bner kak Chil..mau dah w jg klo bgtu mh 🙈