NovelToon NovelToon
Seluas Samudera

Seluas Samudera

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Enemy to Lovers / Si Mujur / Tamat
Popularitas:284.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Nonelondo

PERINGATAN!!!

Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!

----------

Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.


Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.

-Dewi Abarwati-

Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.

-Krisanto-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 Lawan Jauh Tak Setara

Hamparan biru yang dihiasi seperti coretan-coretan putih membentang luas di angkasa. Semilir udara meniup melewati dahan-dahan, baik itu pepohonan rindang maupun yang berukuran kecil. Tak luput angin menembus kisi-kisi jendela meyakinkan cuaca sore sejuk. Cakrawala hari ini cerah.

Gerombolan anak kecil berlari-lari riang membawa mainan. Ada pula yang duduk di atas dorongan beroda ditemani ibunya, ataupun baby sitter-nya. Ada juga anak yang menenteng sepedanya dari rumahnya untuk bersiap mengayuh di sekitaran taman. Tukang roti dan es krim pun turut meramaikan suasana.

Tubuh mungil berbulu lebat berwarna hitam hampir melingkupi seluruh tubuh, dengan jambul berwarna kuning melompat-lompat riang. Makhluk itu ditempatkan di teras. Tapi dijamin tak akan kebasahan karena rumah barunya cukup luas. Dengan atap melebar melewati teralis besi yang mengelilingi rumahnya.

(Burung Kakatua)

Makhluk itu penghuni baru disalah satu rumah dekat taman tersebut. Makhluk nan ceriwis namun menggemaskan itu cukup riang diajak ngobrol dengan seorang pria paruh baya. Yang sedari tadi duduk di depan sangkarnya mengajarinya bicara.

“Dewi... Dewi...”

“Wi... Dewi...,” sahut burung itu.

“Cantik... Cantik...”

“Tik... Cantik...”

“Roti... Roti...”

“Ti... Roti...”

“Krim... Es krim...”

“Krim... Es krim...”

Sudah banyak penghafalan yang keluar dari mulut mungilnya. Bapak itu sudah satu jam lebih mengajarinya bicara. Bapak itu pulang kerja lebih awal, demi membawa makhluk yang akan menjadi bagian dari keluarganya. Istrinya pun sangat senang ketika melihat apa yang dibawa suaminya.

Sementara itu di luar rumah. Dewi bertegur sapa dengan beberapa orang di taman. Lalu dia melanjutkan langkahnya lagi. Sebelum tiba, hanya jarak beberapa meter dari rumahnya. Ada suara yang nggak dikenalinya membahana memanggil-manggil namanya. Suara itu cukup aneh bukanlah suara manusia.

Kini langkahnya sudah tiba di samping rumah. Kepalanya dihadapkannya ke pagar, dia hanya melihat atap berbentuk segitiga yang bawahnya gak bisa tampak karena terhalang pagar rumah. Namun diantara suara aneh itu, ada suara yang sangat dikenalinya. Setiba di depan rumah, dia mendorong pintu pagar. Ayahnya menoleh.

“Loh! Ayah sudah pulang," kaget Dewi.

“Iya. Kamu sudah pulang, Nak.”

“Iya, Yah.” Menutup pintu. “Oo... Ayah beli burung kakatua." Dewi lanjut bicara sembari berjalan.

“Iya.”

Dewi meminta tangan kanan ayahnya. Ayahnya memberikan untuk disalim anaknya.

“Dewi pikir tadi siapa manggil-manggil Dewi. Tahunya, burung. Ayah ngajarin manggil, Dewi?”

“Bukan itu saja, Ayah sudah ngajarin banyak. Burung ini cepat pintar.”

“Dewi cantik... Dewi cantik...,” oceh burung itu memanggut-mangutkan kepalanya.

“Lucu banget, Yah."

“Senang, 'kan? Jadi ada hiburan? Ayah namain burung ini namamu.”

“Nama Dewi, Yah?”

“Iya.”

“Nanti burung ini bingung nggak, Yah? Kalau nanti Dewi yang dipanggil bukan burung ini.”

“Biar... Biar lucu. Ya sudah, kamu masuk sana, sapa Ibumu.”

“Iya, Yah. Dewi pamit ya, Yah."

"Iya."

“Dewi cantik... Dewi cantik...,” cicit burung itu lagi.

Si pemilik nama pertama tersenyum berjalan masuk ke dalam. Dia tidak langsung menyapa ibunya. Menaruh tasnya dulu di kamar. Namun saat mau melangkah keluar, rasanya dia ingin duduk dulu di tepian kasur.

Sepulang dari Medan, sebenarnya hatinya terus gundah gulana. Kris sampai detik ini belum ada menghubunginya. Memang Rena menepati omongannya, hingga detik ini masih tutup mulut tidak menyebar gosip di rumah sakit. Biar begitu tingkah temannya yang satu itu makin menjadi-jadi. Mencelanya, dan terus saja nggak berhenti-henti menyakitinya. Memang wajar, sekarang punya kartu As-nya.

Tapi apa yang membuat Rena tutup mulut? Karena secara nggak langsung sikap Rena itu secara pribadi jadi melindungi dirinya. Kenapa Rena begitu? Ini yang membuatnya aneh, kenapa Rena tidak ambil keuntungan? Bukankah dengan status Kris berlabel ‘single’ jadi mengamankan posisi Rena dapat bebas jalan berdua dengan Kris, tanpa perlu bersusah payah menjelaskan ke semua orang?

Atau jangan-jangan Rena tidak mau namanya hancur dimata Kris? Tentu, siapa lagi kalau bukan dia yang menyebarkan hal itu? Mungkinkah itu yang dijaga, Rena? Mau gak mau tutup mulut, demi mengamankan posisinya agar Kris tidak marah padanya? Kalau begitu, berarti Rena bukan secara nggak langsung untuk melindungi dirinya. Melainkan dirinya sendiri.

Ah, tapi ini masih prediksi. Karena bisa saja Rena punya rencana lain. Wanita itu kan ular. Licik! Inilah yang membuatnya deg-deg an. Takut tiba-tiba Rena boom...

Dan, Kris... Kenapa juga belum mengajaknya bertemu untuk mendiskusikan hal itu. Malah santai saja, bukan cepat menyikapi masalah gawat begini. Bagaimana dia nggak stress!

**********

“Bu...,” sapa Dewi setiba di dapur.

“Eh! Sudah pulang kamu, Nak.”

Dewi meminta tangan kanan ibunya, ibunya memberikan.

“Ibu sudah selesai?” Dewi melihat beberapa masakan yang sudah matang di atas kabinet dapur.

“Iya. Habis Ayahmu pulang cepat, Ibu jadi masak lebih awal. Ya sudah, kamu bantu Ibu buatkan teh saja. Teh buat Ibu dan kamu saja. Ayahmu tidak usah, Ibu tadi sudah buat. Dan potongin juga bolu Meranti di kulkas, buat kita berdua. Ayahmu juga tidak usah. Ibu sudah potongin tadi. Biar kita nggak ganggu punya Ayah. Lalu bawa semua ke teras. Kita temani Ayah duduk-duduk ngeteh di sana.”

“Iya.”

Sesaat kemudian ibu dan anak itu telah duduk di teras. Bapak berpangkat Kolonel itu masih sibuk dengan hobi barunya. Ibu Dewi mencomot satu potong irisan bolu Meranti. Oleh-oleh yang dibawa anaknya masih ada tersimpan belum termakan semua.

“Ini varian baru ya?”

Dulu Kris pernah kasih, cuman bukan varian yang di makan ibunya sekarang.

“Kurang tahu,” jawab anaknya.

“Loh, kok nggak tahu?”

“Dewi kan bukan orang Medan, Bu. Dewi juga gak ada nanya-nanya ke penjualnya.”

“Hehe... Iya.” Ibunya cengengesan. “Jadi, kamu di Medan ngapain aja? Kamu belum ada cerita ke Ibu.”

“Keluar makan, jalan-jalan, ke pasar, dan bantu mamaknya Mas Kris jualan.”

“Jualan? Jualan apa?’

“Mamaknya Mas Kris ada buka warung makan khas Medan. Warungnya buka di lantai bawah. Rumah Mas Kris berbentuk rukan 3 lantai. Lantai 2 dan 3 untuk tempat tinggal.”

“Ya, bagus. Kamu harus bantu ibunya masak. Eh, kok kamu manggil ibunya Mas Kris, Mamak?"

"Itu bahasa orang Melayu."

"Oo... Gitu. Terus bapaknya kerja apa?”

“Bapaknya buka usaha onderdil. Adiknya Mas Kris dua-duanya cewek. Yang satu kuliah di USU, yang bontot masih duduk bangku SMU.”

“Kamu akrab nggak dengan adik-adiknya?”

“Mereka baik kok. Satu keluarga baik semua dengan Dewi.”

“Bagus. Itu artinya mereka menerimamu dengan baik.”

“Oh ya, orang tua Mas Kris ada titip salam buat Ibu dan Ayah."

“Iya? Haaa..." Mendesah. "Coba Ibu ikut kalian ya ke Medan.”

“Ibu mau ngapain ikut?” celoteh Ayahnya, sembari berjalan ikut bergabung.

“Biar bisa kenalan toh, Yah...”

Suaminya geleng-geleng kepala. Apa lagi kalau bukan itu artinya istrinya mau kepo.

“Oh ya, besok kan kamu libur kerja. Tadi Ibu ada buat kue panada dan pastel. Nanti bawa ke kantor Ayahmu ya." Ibunya mengarahkan matanya lagi ke anaknya, lalu balik lagi ke suaminya.

“Jadi, Yah. Besok Ibu jadi ikut acara pengalangan dana untuk anak yatim piatu dengan ibu-ibu komplek sini. Jadi, besok Ibu nggak bisa masakin buat Ayah dan Mas Kris. Tadi Ibu ada bikin kue untuk acara besok, dan Ibu ada sisihin untuk Ayah dan Mas Kris. Jadi besok Ibu hanya kasih bekal kue saja ya."

“Iya, nggak apa-apa."

“Oo... Ibu besok mau pergi?” tanya Dewi.

Menengok. "Iya, Ibu pergi pagi. Tapi nanti Ibu sebelum pergi siapin kue-kue itu untuk kamu bawa.”

“Iya.”

“Juga, nanti kamu bantu beresin rumah ya. Takutnya Ibu nggak sempat.”

“Iya.”

**********

Dua tas bekal telah disiapkan ibunya di atas meja makan. Orang yang disuruh bawa menghela nafasnya. Sebenarnya dia rada malas. Bukankah seharusnya Kris yang menemuinya? Kris yang janji membicarakan hal itu di Jakarta. Masa, gara-gara tiap libur kerja dia ke sana, jadi malah dia yang menemuinya. Tapi apapun ceritanya tetap saja dia harus pergi. Karena ayahnya menunggu.

Hmm....

Segera Dewi berjalan ke tempat peralatan kebersihan. Lalu membersihkan rumah. Setelah semua beres, dia mandi untuk bersiap diri.

Selang sesaat, dia telah tiba di depan kantor ayahnya. Melewati pos piket, dia berjalan gontai menyusuri jalan. Saat melintasi lapangan, dia menyipitkan mata. Pria yang sebenarnya lagi malas ditemuinya sedang berbincang-bincang dengan seorang Perwira wanita. Segera dia menepikan langkahnya, dan bersembunyi di balik pohon besar.

Tinggi wanita itu ideal dengan tubuh proporsional. Terlihat dari lekukan tubuh wanita itu mengenakan seragam kebesarannya. Kaki wanita itu juga jenjang dengan sepatu hitam bertumit tinggi menghiasi kedua kakinya. Paras wanita itu pun sangat cantik. Kris dan wanita itu terlihat sangat akrab, meski ada yang lain disekitaran mereka.

Ah, sudahlah! Suka sekali dia ini punya pikiran macam-macam. Dewi melanjutkan langkahnya lagi. Namun... Ketika dia melintasi parkiran. Seketika langkahnya terhenti. Karena dia mendengar ada obrolan 3 orang tentara yang bikin ngilu hatinya.

“Itu mantannya, Kapten.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Tahu saja, pokoknya wanita itu dulu mantannya Kapten. Waktu sama-sama tugas di Surabaya.”

Mata Dewi memerah. Jadi wanita itu mantan kekasih Kris? Apa sekarang wanita itu tugas di sini? Apa nanti mereka balik lagi? Wanita itu jauh lebih hebat dari Rena. Sudah cantik, pangkatnya pun bukan main-main telah Perwira. Dia dibanding Rena sudah kerdil. Dibanding wanita itu? Tentu, dia jatuh ke dasar.

Dia mempercepat langkahnya biar cepat mengantar bekal di tangannya. Tadinya dia sudah nggak peduli. Karena dia telah berhasil menanamkan pikiran positif. Hal biasa Kris berbincang dengan tentara wanita. Siapa sangka dia akan dengar hal ini. Kalau begini, lebih baik tidak ditemuinya. Mumpung Kris lagi di luar ruangan. Setelah mengantar, sebaiknya dia pulang.

**********

Kris melangkah masuk ruangan, Bagas langsung menyapanya.

“Loh, Kapt! Nggak papasan sama, Mbak Dewi?"

Menggeleng. "Nggak."

"Mbak Dewi, baru saja ke sini."

“Terus, kemana dia?"

“Itu... Mbak Dewi bawa kue.” Menunjuk bekal di meja atasannya. “Dia bilang Ibu Komandan lagi gak masak, terus sehabis itu pamit pulang.”

Tentu, orang-orang kantor memanggil ibu Dewi, ibu Komandan. Kris juga begitu. Tapi seperti kita ketahui bersama, kalau diluar nggak.

Terpana. “Pulang?”

“Iya, Kapt.”

Pria itu langsung memutar badannya. Di luar, dia sempat melipirkan kakinya mengintip ruangan ayah Dewi yang pintunya terbuka sedikit. Kali saja ada Dewi di dalam. Dipastikan tidak ada, dia melanjutkan langkahnya lagi, dan kali ini lebih cepat.

Wanita ini tumben-tumben pulang cepat, dan memutuskan pulang sendiri, dan juga nggak pamitan.

Melihat sosok yang dicarinya berjalan tergesa-gesa menuju gerbang, segera dia berteriak keras untuk menghentikan langkah kaki wanita itu.

“Dewi!!!... Dewi!!!..."

Mengenali suara itu, seketika yang dipanggil melotot, dan berhenti melangkah. Kris berjalan mendekat. Yang didekati menarik nafas panjang sebelum membalikkan badan.

“Kenapa kamu datang tidak menemuiku?” tanya Kris, setibanya.

“Oh! Aku buru-buru mau ada urusan.”

Lelaki rupawan itu mengamati raut wajah di depannya. Yang tampak sayu, dan ada air mata yang sedikit tergenang di kantung matanya.

“Kamu kenapa?”

Sejak keluar dari ruangan Kris, Dewi menahan tangis. Kris tepat didepannya tentu menambah kesulitannya. Andai tadi dia bisa kabur sewaktu dipanggil. Tapi itu kan tidak mungkin. Segera dia mengucek-ucek matanya.

“Oh! Aku kelilipan. Kayaknya mataku kena debu deh." Menurunkan tangan. "Ya sudah, aku pamit."

Kris menatap punggung yang berjalan pergi itu dengan raut wajah heran.

Usai menempuh perjalanan yang begitu menyesakkan. Bagaimana tidak? Wanita itu pulang dalam kondisi hati berkecamuk. Akhirnya dia sampai juga di rumah. Didorongnya lemas pintu pagar. Kehadirannya disambut oleh cuitan burung itu.

“Dewi cantik... Dewi cantik.."

Entah kenapa kata 'cantik' seperti pelipur laranya. Dewi mendekat, terduduk lunglai di depan kandang. Perlahan air matanya menetes. Tanpa sadar dia mencurahkan isi hatinya. Seolah-olah burung itu manusia, seperti mengerti saja apa yang dibicarakannya.

“Tahukah kamu apa yang dirasa orang itu, ketika orang-orang mengolok-olokmu mengatakan kamu gemuk? Tahukah kamu apa yang dirasa wanita gemuk, ketika ada seorang pria tampan menaikan derajat wanita gemuk itu?” Makin tersedu-sedu. “Aku, aku, aku tahu terlalu memaksakan diri. Kembali bersama seperti apa? Yang ada aku tidak bisa menyelidiki kenapa dia dulu memutuskanku. Harusnya, harusnya, aku tidak menerima kesepakatan itu. Bodohnya aku, tidak tahu akan seperti ini. Harusnya, harusnya juga, ketika ditengah jalan aku sadar, aku mengakhirinya. Ini malah bertahan. Dan juga, dan juga, aku yakin kalau semua orang pada tahu apa sebenarnya yang terjadi antara aku dan Kris. Pasti mereka akan menilaiku wanita bodoh, dan nggak punya harga diri. Seperti wanita pengemis cinta. Dan sekarang pun, sekarang pun, itu telah terbukti dengan sikap Rena terhadapku." Mengelap sejenak pulir bening air matanya. "Mereka pandai mengatakan itu, karena mereka tidak diposisiku, tidak merasakan selama ini apa yang kurasa. Aku bertahan karena..." Menarik nafas sebentar. "Salahkah wanita sepertiku kembali bermimpi diatas kekuranganku?”

1
rajwa ameera
luarrr biasa crtnya,,,
Dila Ayu
susah move on dari novel ini.. apalagi sekarang ada televisi cerita ttg tentara angkatan laut...
ibune Aldo
ya elah Dewi, kalau gini sih namanya kamu menyiksa diri sendiri, mesti berbohong, dan berlanjut dengan kebohongan lain terus
ibune Aldo
kenapa gak jujur aja WI, sama teman ", toh diputuskan pacar bukan akhir dunia.. ya walaupun kamunya masih cinta, tapi setidaknya biar tidak kelihatan begitu nelangsa sih
ibune Aldo
masih o
penasaran alasan kris
🌹bunda kamila🌹
ngga nyesel bacanya....keren thor👍👍
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca ya...
total 1 replies
dite
heran aku, atas nama teman bkin salah kayak gitu kok dikasih maaf

aslinya laki apa banci sih 😑

seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
dite
komunikasi itu penting, ga smua salah di dewi nya. kris haruse jg ngasih tahu dewi dia mau dewi gmna, ga diem aja tapi trus nesu
dite
gilak si kriss, sibuk amat ngurusin ciwi2
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...

babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku
novita setya
mas kris,om ken..11 12 bucin nya
novita setya
naah ini aja seru menarik drpd asmara bikin ngelu ndas saia...action nya tegang seru wow..top
novita setya
ah dewi msh gt2 aja..kuasai emosi dong biar ga kekanak2an lg..ck
novita setya
kak othor jujur deh pas novel kelar pasti baca jg kan..ada rasa pengen nabok 2 cwe nyebelin ga..koq kuaat gt loh bikin tokoh rena dewi sebegitu nyebelin
novita setya
etdah..alih2 ngatasin mslh..mlh nambah mslh nih bocah pke semaput pulak..woooyyy kebnykan mikir lu wii
novita setya
2 cwe yg asliii nyebelin
novita setya
lah np nangis wi..kan lu rela dijadikan keset rena. tanpa membantah & melawan pulak..y sdh trma aja nasibmu.
novita setya
teguh & laras udahlah ga usah ngurus dewi. dy aja rela dicincang rena tanpa perlawanan..
novita setya
2 wanita 1 tujuan. beda cara. yg satu super lemot yg lain ambisius..
novita setya
laras ngapain sih repot2 ngebelain dewi..kl emang dy cerdas udah diatasi mslh ini sejak dl biar ga da celah pelakor dtg. laah si dewi lembek2 aja np km pasang bdn..rugi deh kena sangsi
novita setya
mending pts aja lah..tp jgn sm rena. tasya aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!