Sequel dari 'One Night Love Devil dan Raniaku, Canduku'.
Zoe terpaksa menikah dengan Aarav, pria yang dijodohkan dengannya sejak ia masih bayi oleh daddy-nya.
Gadis itu awalnya menolak untuk dinikahkan dengan Aarav sebab menganggap bahwa pria itu tidak normal karena pekerjaannya yang sebagai MUA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Begitu Amanda sudah selesai membersihkan semuanya, Zoe lantas mengusir perempuan itu.
"Cepat pergi dari sini dan kemasi semua barang-barangmu. Sekarang juga kamu dipecat!" tegas Zoe.
"Kak, kamu tidak punya hak memecat Amanda begitu saja. Dia itu sekretarisku," bela Zack. Dia lantas membawa kekasihnya itu untuk bersembunyi di balik punggungnya.
Melihat hal itu tentu saja Zoe menjadi semakin marah.
"Zack, aku beri kamu pilihan, pecat dia atau aku akan mengadukanmu pada mommy dan daddy," ancam Zoe. "Ingat, Zack, kamu itu sudah punya Zizi sebagai tunangan sekaligus calon istrimu."
"Kak, aku mohon mengertilah. Bukan hanya Kak Zoe yang tidak bisa menerima perjodohan yang diatur oleh daddy untuk kita berdua, aku pun juga begitu. Aku hanya mencintai Amanda, Kak, aku tidak mencintai Zizi. Bukankah Kak Zoe juga seperti itu pada kak Aarav. Seharusnya orang yang paling mengerti perasaanku saat ini adalah kamu, Kak, karena kamu juga mengalaminya."
"Ya, aku akui aku memang tidak menerima perjodohanku dengan Aarav. Tapi itu sama sekali tidak menjadi alasan untuk aku bermain gila dengan laki-laki lain di luar sana, apalagi tanpa sepengetahuan keluarga kita. Dan lagi, perempuan yang kamu cintai itu tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia itu sangat licik, Zack! Aku sudah melihat kebusukannya dengan mata kepalaku sendiri. Dan kamu tidak boleh lupa, anggota keluarga kita mau pun keluarga Zizi pasti akan sangat kecewa jika tahu seperti apa kelakuanmu di belakang kami semua. Tidakkah kamu juga memikirkan bagaimana perasaan Zizi setelah berkali-kali memergokimu berbuat seperti ini dengan perempuan lain, hah?"
Mendengar ceramah Zoe yang panjang lebar, Zack menjadi emosi karena ternyata kakaknya itu tidak bisa mengerti dan memahami perasaannya.
"Tidak usah mengurus urusanku, Kak. Urus saja rumah tanggamu sendiri. Rumah tanggamu saja tidak beres, kenapa pakai acara menasihatiku dan mengatur-atur hidupku segala."
"Hah, kamu bilang apa barusan? Cih." Zoe tidak menyangka kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut Zack. Terus terang saja, Zoe merasa sangat kecewa dan sakit hati mendengar ucapan adiknya yang seperti itu padanya. "Baik, lakukan saja semuanya semaumu. Tapi jangan salahkan Zizi kalau nanti dia tiba-tiba membatalkan pertunangan dan rencana pernikahan kalian."
"Ayo Zizi, kita pergi dari sini," imbuh Zoe lalu menarik tangan Zizi keluar dari ruangan Zack.
Sementara Zack, dia sangat terkejut sekaligus panik mendengarkan ucapan Zoe. Jika Zizi nantinya benar-benar membatalkan pertunangan mereka dan melaporkan pada daddy dan mommy mereka kalau sebenarnya selama ini Zack diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain yang tidak lain adalah sekretarisnya sendiri, bisa tamat riwayatnya oleh sang daddy.
"Kak Zoe, Zizi, tunggu!" teriak Zack, tapi baru saja dia ingin berlari mengejar kedua perempuan itu, Amanda tiba-tiba saja berpura-pura jatuh dan berpura-pura meringis kesakitan.
Bruk.
"Auwh ...."
"Manda, kamu tidak apa-apa?" tanya Zack.
"Auwh, sst ... sepertinya kakiku terkilir. Sakit sekali. Mungkin aku terpeleset karena sepatuku licin gara-gara kopi yang ditumpahkan oleh kak Zoe tadi."
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat dulu di sofa. Biar kakimu aku pijat,"ucap Zack, dan Amanda mengangguk setuju, setelah itu Zack menggendongnya untuk duduk di sofa.
*
*
Sementara itu di tempat lain, Zoe menangis tersedu-sedu karena sakit hati gara-gara ucapan Zack tadi. Selama ini Zoe dan Zack, bahkan juga Raka memang sering bertengkar, tapi baru kali ini dia merasa ucapan Zack begitu keterlaluan hingga menyayat dan melukai hatinya.
"Sudah Kak Zoe, jangan menangis. Zack pasti tidak sengaja berkata seperti itu padamu," bujuk Zizi.
Zoe menyeka air mata yang sejak tadi membasahi kedua pipinya. "Iya, kamu benar Zizi. Zack pasti hanya emosi makanya sampai kelepasan bicara."
Zoe lantas berdiri dari duduknya.
"Kak, kamu mau ke mana?" tanya Zizi seraya ikut bangkit bersama Zoe.
"Aku ingin pulang, Zi. Akhir-akhir ini aku kurang tidur, jadi aku ingin pulang dan beristirahat."
"Kamu benar-benar tidak apa-apa 'kan, Kak? Apa perlu aku temani?" tanya Zizi khawatir.
Zoe tersenyum dipaksakan. "Tidak perlu, aku baik-baik saja. Sekarang kamu juga kembalilah ke kantor, pasti kamu masih punya pekerjaan, 'kan?"
zack tdk berbuat kasar dgn zizi
biar zack sadar akan posisinya yg sudah bertunangan dgn zizi