Karena cinta bertepuk sebelah tangan, Aldin sulit untuk menerima cinta yang baru.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita sampai keduanya melakukan hubungan terlarang dan menyebabkan gadis itu hamil.
"Kau harus menikahiku! Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah!" Renata Aprilia.
"Aku akan menikahi mu, tapi hubungan kita hanya sampai anak itu lahir." Aldin Maldives.
Lantas, akankah cinta hadir di antara keduanya? Lalu bagaimana kisah rumah tangga mereka?
*****
Lanjutan dari novel I'm Fine
JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN FAVORITNYA YA GUYS!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Cara Keluar.
Rere membuka matanya perlahan, ia merasakan kepalanya berdenyut sangat sakit. Ia mencoba memegang kepalanya yang terlihat diperban.
"Aku dimana?" Rere menatap sekelilingnya dengan pandangan bingung. Ia merangkai semua kejadian yang bisa membuatnya seperti ini.
Mata Rere sontak membulat sempurna saat mengingat jika ia telah dibawa kabur seorang buronan polisi. Yang membuatnya terkejut adalah, ia teringat akan suaminya yang terkena tembakan.
"Aldin, bagaimana keadaannya? Kenapa aku ada disini?" Rere menangis seraya menutup mulutnya, ia menatap dirinya sendiri, masih menggunakan baju lengkap. Rere takut jika penjahat itu akan macam-macam padanya.
"Nona sudah bangun?"
Rere tersentak saat mendengar suara asing masuk kedalam ruangan itu, ia beringsut menjauh saat karena ketakutan melihat seorang wanita paruh baya yang kini berjalan mendekatinya.
"Kau siapa? Mau apa kau kemari? Ini dimana?" Rere mencerca dengan wajah paniknya.
"Nona sedang berada dirumah pribadi atasan saya, tadi beliau yang meminta saya untuk mengobati luka Anda. Sekarang bagaimana kondisi Anda?" Ujar Bibi pembantu yang tadi diperintahkan oleh Zachary untuk mengobati Rere.
"Aku tidak apa-apa, aku ingin keluar darisini," kata Rere langsung turun dari ranjangnya, ia tidak mungkin terus menerus berada ditempat penjahat itu, apalagi saat ini ia tidak tahu bagaimana keadaan suaminya.
"Sebaiknya jangan dulu Nona, keadaan Anda belum benar-benar sembuh, Tuan bisa marah nanti," kata Bibi itu menahan tangan Rere.
"Aku tidak perduli, Tuanmu itu sangat jahat, dia sudah membuat suamiku terluka. Dia yang harusnya dihukum atas kejahatannya!" Teriak Rere dengan suara yang besar.
Bibi itu tidak berani menjawab karena Zachary memang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan menyeramkan.
"Tapi Nona tidak bisa keluar darisini, jika Nona memaksa justru Tuan Zac akan marah," kata Bibi itu menasehati.
"Aku bilang tidak perduli, sekarang panggil dia atau aku akan menghancurkan tempat ini." Rere terpaksa mengancam wanita tua itu dengan membanting sebuah lampu tidur yang ada didekatnya.
"Nona kendalikan diri Anda." Bibi itu cemas melihat tingkah Rere yang sangat bar-bar.
"Kalau kau tidak segera membawanya kesini, aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini," bentak Rere kini berganti melempar pajangan yang ada di nakas dan membantingnya denga keras kelantai.
Tidak ada hal lain yang harus dilakukan Bibi itu selain menuruti keinginan Rere untuk memanggil Zachary. Rere bukan tipe wanita yang hanya suka mengancam, jika wanita itu tidak suka, ia akan benar-benar menghancurkan tempat itu.
"Tuan, Tuan Zachary." Bibi pembantu berlari-lari panik menghampiri Zachary.
"Shitt! Apa kau ingin kehilangan mulutmu Maria? Kau tidak lihat aku sedang apa?" Zachary justru membentak marah, ia merasa terganggu karena saat ini sedang melakukan rapat penting bersama anak buahnya.
"Maaf Tuan, tapi ini darurat." Maria sang pembantu itu terlihat ketakutan, tapi tidak ada jalan lain lagi.
"Katakan!" Zachary menyahut tanpa ada lembut-lembutnya sama sekali, ia paling benci jika sedang melakukan rapat diganggu seperti ini.
"Nona yang tadi sudah siuman, tapi sekarang beliau mengancam ingin menghancurkan barang-barang jika tidak diizinkan pergi," kata Maria langsung.
"Apa? Dia pikir siapa berani mengancam ku?" Zachary tentu marah mendengar jika ada yang berani mengancam dirinya. "Dimana wanita itu sekarang?" Zachary langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang begitu kesal.
"Masih dikamar tamu, Tuan."
Zachary segera berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Rere. Baru kali ini ada orang yang berani mengancamnya seperti ini. Sebelum Zachary masuk, ia mendengar suara yang begitu gaduh dari luar, ia berdecak kesal karena ia tahu jika wanita itu benar-benar telah membuat ulah.
Rere sendiri terus mengamuk, ia sengaja bertingkah seperti ini agar pria yang menyekapnya keluar. Ia tidak perduli jika ia harus kalah atau menang nanti, yang penting ia sudah berusaha terlebih dulu.
Saat Zachary masuk, sebuah pajangan melesat hampir saja mengenai wajahnya, mungkin hanya lewat beberapa inci saja.
"Kau! Apa yang kau lakukan!" Hardik Zachary dengan wajahnya yang merah karena amarah.
"Kenapa? Akhirnya kau datang 'kan? Aku mau kau datang kesini, dasar penjahat! Cepat keluarkan aku darisini!" Rere balas berteriak marah, ia cukup kaget saat pertama kali melihat wajah Zachary. Meski sangat tampan, tapi jika kelakuannya buruk ya percuma saja, pikirnya.
"Aku tadinya memang ingin mengeluarkan mu, tapi melihat kelakuanmu seperti ini, membuatku muak," Ujar Zachary dengan tatapannya yang mengerikan.
Rere terkejut melihat wajah Zachary yang berubah menyeramkan, ia menelan ludahnya kasar, sepertinya ia salah karena sudah membuat Zachary marah.
"Kau mau apa?" Bentak Rere dengan wajah takutnya.
"Kau tahu, saat ini polisi dari seluruh kota ini sedang mencari ku. Dan kau sebagai satu-satunya orang yang sudah melihat wajahku, tentu akan sangat berbahaya jika sampai kau lolos. Jadi, aku tentu harus melenyapkan bukti bukan?" Zachary berucap lambat-lambat seolah memastikan Rere mendengar semua perkataannya. Ia berjalan maju dengan perlahan seperti serigala yang memindai mangsa.
"Kenapa kau begitu jahat? Aku tidak pernah berbuat salah padamu, kenapa kau harus menjadikan aku korban? Kau juga sudah melukai suamiku," ucap Rere menangis lirih, ia benar-benar sangat takut kali ini.
"Sebenarnya kau tidak salah apapun, tapi kau hanya berada dalam waktu dan tempat yang salah," kata Zachary berdiri tepat di hadapan Rere, tingginya yang menjulang membuat Rere kian terintimidasi.
"Apakah kau tega membunuh seorang wanita? Apa kau lupa kalau kau juga lahir dari seorang wanita?" Ucap Rere mencoba mencari setitik simpati dalam diri Zachary.
"Aku memang lahir dari seorang wanita, tapi bukan berarti aku harus bersujud kepada semua wanita," kata Zachary bergeming sama sekali.
Rere menelan ludahnya kasar, ia kebingungan harus bersikap bagaimana lagi. Jika ia semakin melawan, Zachary akan semakin menjadi-jadi nantinya. Ia harus berpikir keras untuk membuat pria ini tidak fokus agar ia bisa lolos.
"Begitukah? Bagaimana kalau kita buat penawaran?" Ujar Rere menatap lurus mata Zachary yang sebenernya sangat indah itu.
"Posisimu tidak dalam keadaan berhak melakukan penawaran denganku, kau tahu?" Zachary mendesis pelan, ia cukup kagum dengan cara Rere menatapnya, meski takut wanita itu sama sekali tidak pernah menundukkan wajahnya, benar-benar wanita yang berbeda.
"Tapi ini akan sangat menguntungkan," kata Rere cepat.
"Dan, apa penawaran mu itu?" Zachary mencoba mendengarkan apa keinginan wanita di depannya ini.
"Ehm, lepaskan aku dan aku akan memberikanmu hal yang kau inginkan," ucap Rere.
"Hal yang aku inginkan?" Zachary mengernyit tidak mengerti.
"Ya, aku tahu kau pasti menginginkannya." Tanpa diduga siapapun, Rere mengalungkan tangannya pada leher Zachary. "Aku akan membuka kakiku dengan sukarela kalau kau melepaskan ku," bisik Rere dengan begitu mesra, padahal sejatinya hatinya gugup setengah mati. Ia harus melakukan satu-satunya cara ini agar bisa membuatnya lolos dari jeratan Zachary.
Zachary mengangkat alisnya, ia malah mengulas senyum mengejek seraya menatap Rere dari atas sampai bawah.
"Lucu, kau pikir tubuhmu sangat menggoda begitu? Sayang sekali, aku tidak berminat, kau terlalu gemuk dan dadamu rata," cetus Zachary melepaskan tangan Rere dilehernya.
"Apa?" Rere menutup mulutnya tidak percaya, ia segera menatap dirinya sendiri, apakah dia memang tidak menggoda sama sekali?
"Aku tahu kau mendengarnya," kata Zachary cuek. "Sudah, jangan membuang waktuku. Katakan saja apa pesan terakhirmu, aku akan mengirimkannya pada suamimu setelah kau mati nanti," ucap Zachary lagi, kali ini ia mengambil pistolnya lalu meletakkannya tepat di dahi Rere.
Rere memejamkan matanya, tubuhnya semakin gemetar hebat. Apakah dia harus mati sekarang? Tidak, tidak, ia tidak mau mati konyol seperti ini, ia tidak salah dan tidak seharusnya dihukum. Ia benar-benar harus mencari cara agar lolos dari tangan Zachary.
"Kau dengar tidak!" Bentak Zachary dengan suara kerasnya hingga membuat Rere terjingkat kaget.
Rere membuka matanya perlahan, ia menatap lekat-lekat wajah Zachary. Entah apa yang dipikirkan Rere waktu itu, ia nekat melakukan hal gila dengan menarik lengan Zachary lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Jika cara ini gagal, mungkin aku benar-benar akan mati.
Happy Reading.
TBC.
Visual Zachary.
Rere keras kepala 👎😡
buta itu gelaff
gelap itu banyak nyamuknya 😂😂😂🤣🤣🤣