NovelToon NovelToon
My Step Brother

My Step Brother

Status: tamat
Genre:Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / One Night Stand / Tamat
Popularitas:57.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mariana

Bianca Fernandez baru saja putus dengan kekasihnya yang berpacaran dengannya selama tiga tahun. Hatinya sangat hancur dan ia memutuskan pergi ke suatu tempat dan tak sengaja bertemu dengan Lucas Taylor. Ironisnya takdir kembali mempertemukan mereka yang ternyata akan menjadi saudara tiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Suasana siang hari itu cukup cerah dan cocok untuk makan siang bersama seorang sahabat atau kekasih. Inilah yang direncanakan oleh Hana seusai mengangkat telepon Bianca dan mendengarkan cerita soal Brian yang membunuh Clara. Mereka bertemu di salah satu restoran Italia di tengah kota.

"Aku mendengar dari berita dan aku sangat syok!" Hana tentu berbohong, ia jarang membuka situs berita baik di TV maupun ponselnya. Ia mengetahui hal itu dari percakapan Bianca dan Lucas di ruang tamu. CCTV yang ia taruh di kediaman Taylor itu masih aktif hingga sekarang.

"Aku sudah melaporkannya kepada polisi dan dibantu oleh Lucas, untuk keadilan terhadap Clara. Dia juga hampir membunuhku." Tutur Bianca seraya menggelengkan kepalanya, ia hanya masih belum percaya Bukti videonya entah bagaimana bisa tersebar."

"Brian mendapat lawan yang seimbang, aku harap dia bisa dikalahkan oleh Lucas. Jika saja Brian beraninya meloloskan dirinya, aku sendiri yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."

"Aku sangat bersalah terhadap Clara. Aku juga sangat bodoh karena gampang terpengaruh dengannya, bahkan aku sempat balikkan dengannya." Gerutu Bianca seraya mengusap kasar wajahnya frustasi

Hana mengusap punggung Bianca, berusaha menenangkan sahabatnya yang terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Clara dan memaki dirinya sendiri karena begitu lemah terhadap rayuan Brian.

"Dengar, kau hanya perlu meningkatkan kewaspadaanmu... bila perlu kau tidak boleh percaya terhadap semua orang."

Eksistensi Bianca langsung teralihkan kepada Hana, ia menatap bingung sahabatnya itu. "Semua orang? termasuk kamu juga?"

Hana mengangguk mantap, "Ya, termaksud aku juga."

Bianca menggeleng cepat, "Tidak mungkin mau mengkhianati aku, Hana."

"Ini dia kelemahan terbesarmu. Karena selalu mempercayai orang lain, kau akan lebih mudah untuk diperdaya. Hatimu terlalu lembut. Tidak ada salahnya untuk tidak percaya dan selalu waspada, Bianca. Ini akan menjadi langkah antisipasi untuk melindungi dirimu sendiri. Aku sudah katakan untuk ikut kelas tembak atau boxing, tapi kau selalu menolaknya. Inilah satu-satunya hal simpel yang bisa kamu terapkan agar tetap aman."

"Kalau begitu ajari aku caranya."

..._...

Seorang pria berpenampilan seperti karyawan kantor seperti pada umumnya, mengendap-endap memasuki ruangan sekretaris CEO yaitu milik Jonathan. Sebelumnya ia telah memperhatikan Jonathan, pria itu diyakininya sedang berada di luar untuk makan siang. Beberapa bodyguard yang menjaga ruangan itu sudah tergeletak tak berdaya di lantai karena ulahnya.

Entah apa yang sedang dicari oleh pria itu sehingga terus saja membongkar berkas-berkas yang berada di laci meja. Namun sepertinya apa yang dicarinya tidak berada disitu. Sebuah lemari es yang tak jauh darinya, tampak aneh dan menarik perhatiannya. Ia mendekati lemari es itu dan memang betul isinya bukan layaknya lemari es pada umumnya. Di dalamnya terdapat sebuah kotak persegi yang terdapat pola kunci besi berbentuk bola dan terdapat beberapa angka.

"Sial!" geramnya seraya merogoh ponsel dari saku celananya.

"Halo, Gaby. Sepertinya berkas-berkas itu terdapat dalam brankas yang terkunci. Aku tidak bisa lama-lama berada di sini, Jonathan sedikit lagi akan selesai makan siang." Tutur pria itu sambil sesekali melihat ke arah pintu, selalu waspada jika ada seseorang yang memasuki ruangan itu.

Terdengar suara sahutan dari seberang telepon, "Maka cepat cari cara untuk membuka brankas itu. Aku membayar kamu untuk mendapatkan berkas itu, bukan hanya sekedar mencoba."

Pria suruhan Gabby itu nampa menggeram kesal, "Oke, apakah kau ada saran untuk kode memecahkan kode ini?"

"Coba tekan angka 091293."

Pria itupun mengikuti arahan Gabby, namun ternyata angka-angka tersebut tidak cocok.

"Yang lain?"

Gabby terdiam sejenak, berusaha mengingat kembali tanggal-tanggal tertentu yang mungkin bisa menjadi kode brankas itu.

"121212. Coba angka itu."

"Kau yakin?"

"Coba saja, sialan!"

Setelah mendengar amarah Gabby, pria itu langsung saja patuh dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh bosnya itu.

"Berhasil! Kau sangat jenius, Gabby. Bagaimana kau tahu kode itu?" pekik pria suruhan itu seraya membuka brankas.

"Tidak perlu kau tahu, Ansel. Cepat cari berkas mengenai Bianca dan keluar dari situ."

Pria suruhan Gabby yang ternyata bernama Ansel itu terus memporak-porandakan isi brankas milik Jonathan. Semua yang dilihatnya adalah berkas-berkas rahasia mengenai Taylor Company. Namun ada sebuah berkas yang menarik perhatiannya. Sebuah berkas dengan foto wanita yang nampak familiar baginya, ia merogoh sakunya dan mencocokkan foto yang diberikan oleh Gabby.

"Aku rasa... aku mendapatkannya, Gabby." Ujar Ansel seraya mengapit ponselnya ke pundaknya dan mengecek isi berkas tersebut.

"Apa isinya? Kalau tidak penting lebih baik tidak tinggalkan." Telepon mereka masih terus terhubung.

Ansel mengernyit bingung dengan isi berkas tersebut. "Ini... tentang keguguran dan ada surat perjanjian untuk peniadaan informasi perawatan di Rumah Sakit Miller Group."

"Kerja bagus, Ansel. Tinggalkan tempat itu dan segera bawa berkas itu ke sini."

..._...

Jonathan terkejut melihat keadaan ruangannya yang sangat kacau. Anak buahnya semua tergeletak di lantai dan terlebih lagi isi brankasnya telah dibobol. Ia merogoh ponsel di saku celananya dan menelpon Lucas.

"Lucas, ada masalah. Ruanganku telah dimasuki oleh orang dan..." ucapan Jonathan menggantung, ia terlihat tidak yakin ingin melaporkan hal ini kepada Lucas. Namun, mau tidak mau, ia harus mengatakannya. "Dan brankas berisi data-data penting telah dibobol."

"ARGHHH!" Terdengar suara geraman Lucas dari seberang telepon, Jonathan tahu ini ibarat membangunkan singa yang sedang tertidur.

"Cari tahu apa yang pencuri itu ambil, jangan sampai rahasia perusahaan kita dicuri dan disalah gunakan.

"Oke..."

Jonathan mematikan telepon dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia menggeram kesal saat menyadari bahwa kamera CCTV yang ia pasang di mejanya itu telah menghilang. Pandangannya mengarah pada sudut-sudut langit ruangan itu dan ia tidak kaget kalau CCTV yang dipasang di sana juga telah dirusak.

Ia menatap tajam vas bunga di mejanya, begitulah caranya agar dirinya dapat fokus untuk menemukan sebuah cara.

"Aku bukan kaya kamu, Lucas. Aku tidak perlu dengan berkas yang ia curi, tapi menurutku lebih penting untuk mendapatkan pelakunya. Sangat memalukan, untuk pertama kalinya seseorang membobol ruanganku di siang hari." gumamnya seraya merogoh sakunya dan menelpon bawahnya.

"Cek seluruh CCTV di seluruh gedung. Cari seseorang yang terlihat mencurigakan dan memasuki ruanganku."

..._...

Siang itu, di kediaman keluarga Taylor, Bianca, Anastasia, dan Lusy sedang duduk bersama di ruang tamu. Mereka sedang menemani Lusy yang sedang menyusui Rosella.

"Bianca... kau tidak pergi kerja hari ini? Bukannya kau ada urusan dengan bosmu?" tanya Anastasia membuat Bianca menghentikan aktivitasnya yang sedang mengganggu keponakannya.

"Sebentar lagi... tapi aku tidak kuat meninggalkan keponakanku yang sangat lucu ini." Seru Bianca seraya mencium Rosella.

Anastasia tersenyum senang melihat interaksi Bianca dan cucunya itu. Kehadiran Rosella semakin mewarnai rumah ini.

"Tapi, kamu akan terlambat, Bianca. Aku dan Bunda akan menjaga Rose, setelah pulang kau akan menggendongnya sepuasmu." Lusy berusaha membujuk Bianca yang terlihat berat meninggalkan Rose.

Dengan terpaksa, Bianca mengangguk, "Baiklah."

Bianca segera pergi ke kamarnya dan bersiap-siap.Tidak perlu memakan waktu yang lama, Bianca segera turun dengan tas dan kunci mobilnya.

"Bibi akan pergi sebentar dan segera menggendongmu." Ujar Bianca seraya kembali mencium Rose.

Kemudian ia pamit kepada Anastasia dan Lusy, lalu segera berangkat.

Tak lama setelah kepergian Bianca, seorang bodyguard memasuki ruang tamu.

"Mohon maaf, Nyonya. Ada kiriman untuk anda."

Anastasia mengernyit bingung dengan amplop coklat itu, "Baik. Terima kasih banyak."

"Ada apa, Bunda?" tanya Lusy.

"Hanya sebuah paket, Sayang." Sahut Anastasia seraya mulai membuka amplop tersebut.

Isi dari amplop tersebut sukses membuat ia syok, bahkan kakinya lemas seketika, membuat ia merosot ke lantai.

"Bunda!"

...Bersambung......

1
cacasilmi
wtf
dewi
mkasih ceritany, suka
Opan Wumbo
kok tamatnya cuma begini aja
gak seru...thor
Dian Rahmawati
akhirnya mau otw halal
Opan Wumbo
bukan soal cin2nya upnya yg lama thor kami menunggunya
Dian Rahmawati
wah mahal cincin nya
Dian Rahmawati
oh ulang tahun
Dian Rahmawati
ada rahasia apa nih ya ?
Opan Wumbo
thor jangan lama2 upnya jadi takut lupa jalan ceritanya
Mariana: Maaf banget yaaa semua readers yang nunggu updatenya... Sebulan ini lagi sibuk sama perkuliahan... autor akan berusaha semaksimal mungkin... ☺️
total 1 replies
Dian Rahmawati
bianca sama lucas udh tau ternyta
Ayden Ausky
kasih clbk thoorrr ayah+ibunya bianca dan gaby
Dian Rahmawati
wah Gabby dan Jo clbk nih
Dian Rahmawati
seru banget
Dian Rahmawati
terbongkar semua
Dian Rahmawati
bianca apa udh ingat
Dian Rahmawati
Gaby jujur
Dian Rahmawati
waw mama nya Jonathan selingkuh
Dian Rahmawati
Hana kok jdi benci gtu
Dian Rahmawati
Gabby dan Bianca saudaraan ternyata
IG : Gledekzz97
Nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!