Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Jangan pernah meremehkan seseorang, kamu akan kaget saat dia yang sering kau sakiti, dan kau anggap lemah memberi perlawanan."
"Halo, Renny, kapan kamu punya waktu untuk bertemu seseorang?" suara Sofi, langsung menyergap gendang telingaku, begitu kuangkat ponselku yang berdering karena panggilannya. Sudah kebiasaannya yang bicara tanpa basa-basi.
"Siapa, Fi?" tanyaku bingung sejenak, karena memang tidak mengerti arah pembicaraannya.
"Itu loh, rencana kamu yang mau buat duplikat surat-surat itu. Masa lupa?"
"Oh, sorry ya, Fi. Secepat itukah kau temukan orangnya?" tanyaku bodoh, membuat Sofi terkekeh di seberang.
"Siapa pula yang, nyari. Ih, kamu, Ren, emang ada kelinci yang hilang?" kekehnya makin membahana. Sampai aku jauhkan ponsel dari telingaku.
"Ih....Memang kamulah, kebiasaan bercanda. Maksud aku tuh, secepat itu gerakan kamu. Baru juga kemarin aku ngomong."
"Ya, iyalah. Aku serius lo, mau bantu kamu. Cuma angkat telepon kok, bla bla bla, gitu udah," ucapnya. Masih kudengar sisa tawanya. Mudah saja dia ketawa, hanya karena aku kaget. Untung saja kami tidak bertemu langsung, kalau tidak bakalan habis dia, kugelitik biar tawanya lebih ngakak.
"Hai, Ren, kamu masih disana 'kan? Kok malah diam?" teriak Sofi mengagetkanku.
"Iya, Fi, kapan kami ketemu?" tanyaku.
"Terserah kamu, makin cepat makin baik. Temanku ini, orangnya sibuk makanya harus buat janji dulu ketemu samanya. Dia itu, seorang pengacara lo. Aku sudah cerita semuanya tentang kamu. Makanya dia mau membantu," beber Sofi membuatku kaget.
"Ya, udah. Besok siang saja, gimana? Sebelum anak-anak pulang sekolah," ucapku.
"Ok, aku kabari kamu nanti, ya. Kalau Dion, udah ngasih kabar."
"Dion? Dion siapa, Fi?" tanyaku. Nama itu sepertinya familiar sekali dengan ingatanku.
"Dion, temanku itu. Namanya, Dion, kenapa? Kamu kenal, ya."
"Ah, gak kok. Secara banyak orang yang bernama, Dion," sahutku.
"Kali aja, kamu punya mantan pacar, namanya Dion. Ketauan kok, kamu kaget saat kusebut nama itu," kekehnya lagi.
"Sok tau, aja. Dasar kepo!" rutukku. Membuat tawa Sofi makin melebar saja. Setelah ucapan bye bye, hubungan terputus.
Tak ayal lagi, kenangan masa sekolah dulu. Tepatnya saat memakai seragam abu-abu. Kurang lebih 17 tahun lalu, hadir tanpa permisi. Bagai slide film yang diputar oleh memoriku.
Dion sang ketua Osis di sekolahku. Sejak hari pertama, aku menginjakkan kakiku di sekolah itu. Lelaki tinggi besar dengan brewok menghiasi wajahnya, sungguh menjadi makhluk yang paling membuatku bete.
Kenapa tidak, hampir setiap hari aku tak lepas dari kejailannya. Kalau bukan rambutku yang jadi sasarannya, pasti meja belajarku di kelas. Selalu saja ada isi di lacinya tiap pagi kutemukan. Setangkai mawarlah, Krisanlah, Bougenvil bahkan bunga tahi ayam. Aku yakin semua bunga -bunga itu adalah korban kejahilan tangannya alias dicuri. Entah dari pinggir jalan, atau taman kota atau taman sekolah.
Kali lain bangkai cicak, kodok hidup bahkan cacing. Hingga aku pernah pingsan di kelas gegara menemukan anak tikus yang baru lahir di laciku. Hii...menjijikan sekali!
Akibat kejadian itu, Dion kena skors. Seminggu tidak masuk sekolah. Kupikir sejak kejadian itu, Dion akan berubah. Nyatanya makin parah. Hanya saja modusnya berbeda.
Setiap hari aku akan kehilangan catatanku lalu besoknya sudah kembali lagi. Di halaman paling akhir, akan tertulis beberapa sajak rayuan pulau kelapa. Semua lembar kertas itu akan berakhir di tong sampah. Akibat aku robek dan buang.
Aku benci, sangat benci padanya saat itu. Sampai aku memohon pada orang tuaku supaya pindah sekolah. Tentu saja permintaanku itu ditolak mentah-mentah orang tuaku. Sekolahku adalah sekolah paling pavorit di kotaku. Perjuanganku masuk kesana bukanlah mudah.
Jalanku mulus masuk ke sekolah itu karena, selama SMP aku selalu juara kelas. Jadi sangat disayangkan 'kan, jika mimpiku itu kena terabas hanya karena seorang Dion!
Cowok yang lebih pantas di sebut om, karena tubuhnya yang bongsor itu. Brewok yang tumbuh di wajahnya membuat dia beda tampilan dengan teman sebayanya.
Tidak sekali dua kali kami berseteru di kantin sekolah. Di lapangan volly, karena kejailannya padaku.
Juga bukan hal yang aneh, kalau kami keluar masuk ruangan BP. Sehingga kebencianku padanya makin memuncak.
Hingga di suatu hari, aku dapat pesan darinya, agar aku menjumpainya sebentar di kantin sekolah. Tak biasanya aku dapat pesan seperti itu. Biasanya, pesan dia tulis di buku catatannku, tapi kali ini disecarik kertas, pake tanda tangan segala.
Namun, bagaimana aku bisa menemuinya pada saat jam pelajaran sekolah. Mana pelajaran kimia lagi. Guru yang masuk adalah guru yang paling ditakuti diseantero sekolah. Jangankan untuk permisi keluar, menarik napas saja takut saking tegangnya.
Setelah mapel kimia berlalu, aku buru-buru ke kantin sekolah. Biar bagaimana juga, aku penasaran akan pesan itu. Tapi sayang, setibanya aku di kantin, Dion sudah tak ada.
"Barusan, pergi nak Reny. Hampir dua jam lo, nungguin disini," ucap pemilik kantin Bu Weni.
"Dua jam? Emang Dion gak masuk kelas, Bu?" beliakku heran.
"Gak, katanya. Dia mau pergi, makanya mau pamit sama nak, Reny."
"Pergi? Mau pergi kemana? Kenapa pergi?" berbagai pertanyaan memenuhi ruang hatiku saat itu, tapi tak satupun terjawab. Kepergian Dion yang mendadak menyisakan misteri bagiku.
Awalnya kupikir dia akan pergi beberapa hari, karena urusan keluarga. Nyatanya, hingga aku tamat sekolah, Dion, tak pernah balik lagi ke sekolah kami. Dion yang kakak kelasku, saat itu seakan lenyap ditelan bumi saja.
Khabar yang akhirnya sempat beredar, keluarga Dion mendadak pindah karena ada masalah dengan pekerjaan orang tuanya. Ada lagi yang bilang ayahnya terlilit hutang, sehingga pergi membawa keluarganya diam-diam.
Apapun, ceritanya waktu itu, entah kenapa aku merasa sangat diuntungkan. Karena makhluk yang paling aku benci itu tidak akan menggangguku lagi. Aku merasa merdeka, seolah terbebas dari ikatan.
Akan tetapi, semua hanya sebentar. Setelah, hari itu aku merasa hari-hariku tidak sama lagi. Sepertinya ada yang hilang dari diriku. Aku selalu berharap tiba-tiba saja, Dion menyelipkan sesuatu lagi di laciku. Tiba-tiba saja entah dimanapun dia menarik rambutku, menjahiliku seperti yang biasa ia lakukan.
Sungguh aku akhirnya rindu akan semua kejadian itu. Kalau dulu saa Dion melakukannya aku selalu kesal, setelah dia pergi, aku suka menangis mengingat semua tingkahnya.
Aku jadi lebih pendiam, menarik diri dari pergaulan teman-teman yang ujung-ujungnya mengingatkan aku akan sosoknya.
Setelah tamat sekolah aku merantau ke kota, aku tak berani kuliah, karena kedua adikku masih butuh biaya untuk sekolah. Karena itulah aku merantau ke kota untuk membantu kedua orangtuaku, membiayai sekolah adikku.
Aku bekerja di sebuah toko, dari awal karirku dari staf gudang hingga akhirnya aku jadi kasir. Aku dapat meringankan beban orang tuaku. Lalu aku bertemu Bram, berpacaran dan akhirnya menikah.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Bisa-bisa aku teringat lagi kisah itu. Padahal sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Lucunya, hanya karena nama yang sama, aku diingatkan akan masa lalu itu. Huf!****