Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 25
"Kamu tau di mana Krystal gak, Gus? Dari kemarin dia belum dateng jenguk mamanya."
Bagus terdiam mendengar suara bundanya di ponsel. Ia tidak tahu di mana Krystal. Sejak kejadian kemarin di halte dekat sekolah, Krystal seolah membangun tembok yang semakin tinggi di antara mereka.
"Gak, Bun."
Hana mendesah resah. Wanita berseragam putih khas dokter itu benar-benar khawatir akan Krystal. Keadaan Krystal yang sering melemah, mudah tumbang dan menjaga jarak darinya membuat Hana semakin khawatir. Apalagi ketika Krystal sering kali menghindar bertatap mata dengannya.
"Yaudah, kamu kabarin Bunda kalau udah tau Krystal di mana."
"Iya."
Menghela napas, Bagus memasukkan ponsel ke saku celana abunya. Pikirannya saat ini kalut. Hatinya dipenuhi rasa bersalah pada Krystal. Tidak seharusnya ia berkata begitu kasar dan pedas pada cewek itu. Sedingin apapun Krystal, ia tetaplah perempuan yang hatinya lembut. Tergores sedikit saja, maka akan menimbulkan luka yang dalam.
Bagus duduk di taman belakang perpustakaan. Menatap rerumputan yang cukup lebat di depan sana. Tempat ini tempat kesukaan Krystal ketika cewek itu tengah sedih. Semoga saja, cewek itu segera menyusul ke sini.
Berjam-jam Bagus menunggu—bahkan mengabaikan jam pelajaran Fisika hari ini—Krystal tidak juga memperlihatkan batang hidungnya. Bagus sudah beberapa kali mengecek ponsel, barangkali cewek itu membalas spam chatnya ataupun menelfonnya. Namun, nyatanya tidak. Semua hanyalah ilusi Bagus yang ingin cowok itu wujudkan.
"Ngapain lo di sini? Mau nemenin wewe gombel penghuni pohon beringin?"
Bagus mendecakkan lidah menyambut kedatangan Adnan yang baru saja duduk di sampingnya.
"Lo tau di mana Krystal?"
Barangkali saja Adnan tahu. Mengingat—selain dirinya—Adnan-lah yang dekat dengan Krystal di anggota The Lion.
Adnan menggeleng, setengah menyerong pada Bagus dengan sorotan penasaran. Penasaran akan Krystal.
"Krystal gak masuk sekolah?" Bagus mengangguk lalu menunduk. Benar-benar merasa bersalah. Apa mungkin Krystal tidak hadir ke sekolah karena menghindarinya?
Adnan terdiam beberapa menit mengamati Bagus. Teman berambut gondrongnya ini sama sekali tidak menutupi ke-khawatirannya pada Krystal. Wajahnya yang tak bersemangat membuktikan bahwa anggota inti The Lion itu benar-benar terpengaruh akan tidak diketahuinya keberadaan seorang Krystal Raquelnesya.
Menghela napas, Adnan menunduk sekilas memainkan jemarinya. Kemudian menatap ke depan. "Gue mau nanya sesuatu sama lo, Gus."
Menoleh sekilas pada Adnan, Bagus mengangkat alis meminta penjelasan lebih.
"Krystal ... sakit?"
"Sakit?" ulang Bagus dengan alis menukik. Ia melemparkan tatapan serius pada Adnan. Cowok dengan kemeja sekolah yang dikeluarkan itu mengangguk. "Gue pernah liat Krystal minum semacam obat di sini."
"Lo yakin itu obat?"
Adnan mengangguk yakin. Penglihatannya tidak mungkin salah karena jaraknya dengan Krystal waktu itu tidak terlalu jauh.
"Gue yakin banget. Abis itu dia juga keliatan lega banget."
Rasa ingin tahu Bagus semakin menguat. Namun tidak memungkiri jika otaknya saat ini mulai merembes ke hal-hal negatif. Obat dan Krystal.
Bagus mendesis, berusaha mengenyahkan pemikiran negatif dari otaknya.
"Lo mikir gak, Gus, kalau obat yang diminum Krystal ternyata ob-"
"Gak!" Bagus menyelak keras. Tidak mungkin Krystal berpikiran sependek itu hingga memakai obat seperti yang ada di otaknya saat ini.
Tapi mengingat cewek itu yang ....
"Krystal punya banyak masalah keluarga, kadang frustasi sendiri sama dirinya dan gak punya temen buat share masalahnya. Lo kira selain obat, apa yang bisa buat dia tenang?"
Penyataan sekaligus pertanyaan dari Adnan sukses menampar seorang Bagus Baskara yang kini terpekur mendengarnya. Tidak mungkin, tidak mungkin Krystal mengkonsumsi obat seperti itu.
Tapi sekali lagi, ada banyak hal yang bisa mendorong cewek itu melakukannya. Seperti yang dikatakan Adnan.
Bagus mencengkeram rambutnya. Rasa bersalah kian merasuk mengaliri aliran darahnya. Menghantam ulu hatinya dengan keras dan menghimpit dadanya hingga menyisakan rasa sesak yang begitu terasa.
Dua bulan mengenal Krystal membuat cowok itu tanpa sadar mulai jauh bermain. Yang awalnya hanya bermain logika, kini mulai melibatkan hati tanpa sepengetahuannya sendiri.
Melihat reaksi Bagus yang demikian, Adnan tersenyum tipis. Praduganya sekarang terbukti. Bagus bukan hanya diliputi rasa bersalah, melainkan juga rasa khawatir yang jauh lebih besar dari rasa bersalahnya hingga sahabatnya itu tampak frustasi.
"Nan ...." Bagus tiba-tiba menoleh pada Adnan. Memegang kedua bahu Adnan dengan mata yang menyorot tajam.
"Lo-lo kenapa?"
"Pukul gue, Nan! Pukul gue sekarang juga! Gue yang udah nambah masalah Krystal, gue pantes dipukul!"
"Apasih, monyet!" Adnan menyentak kedua tangan Bagus dari bahunya. "Lo jangan gila, deh. Itu masih asumsi gue. Bisa aja, kan, Krystal minum obat karna dia emang sakit atau mungkin cuma vitamin karna dia kecapean," cecar Adnan panjang lebar. Ia juga khawatir pada Krystal, namun mengambil tindakan seperti Bagus tidaklah masuk akal.
Bahu Bagus merosot lemah. Walau otaknya berusaha untuk tenang, hatinya tetap gelisah. Ada perasaan aneh yang menyusup sembunyi-sembunyi. Mendatangkan gelenyar aneh ketika ia memikirkan cewek itu.
"Udah, lo jangan nethink lagi. Krystal pasti baik-baik aja." Adnan menepuk bahu Bagus, membuat cowok gondrong itu mengangguk. Walau sempat terlibat perkelahian, bukan berarti mereka tidak lagi berteman. Begitulah laki-laki, hanya sesaat untuk bertengkar dan butuh sesaat juga untuk kembali berteman.
"Emm ... btw, Krystal udah tau yang sebenarnya gak?"
Tubuh Bagus tiba-tiba menegang. Kenapa juga ia bisa lupa jika hari ini adalah hari terakhir dare-nya? Hari yang mengharuskan dirinya mengakui semua yang terjadi dari awal.
####
"Nungguin siapa, Mei?"
"Nungguin calon suami, lah. Masa nungguin Kak Bagus."
Terkekeh, Bagus mengacak rambut Meira dengan gemas lalu duduk di samping cewek yang sedang mengerucutkan bibir akibat ulahnya itu.
"Gak usah ditungguin, Alka udah pulang sama Bianca tadi. Mana boncengannya mesra banget lagi, Bianca peluk-peluk gitu."
"Kalau tujuan Kakak ngomong gitu karna mau buat Mei cemburu, berarti Kak Bagus gagal."
"Cih, dasar bucin kulkas lo."
"Daripada Kak Bagus galon. Gagal move-on."
Bagus melototkan mata membuat Meira menjulurkan lidah ke arahnya. Dengan kesal sekaligus gemas dengan pacar ketua gengnya ini, Bagus mencubit pipi Meira.
"Swakit tahu!" Bagus tertawa dan semakin gencar mencubit dan menguyel pipi Meira. Hingga akhirnya sebuah suara bersamaan dengan pukulan di tangannya menghentikan Bagus.
"Heh! Tangan lo!" Alka memukul tangan Bagus lalu menarik Meira ke sisinya. Tatapan tajam cowok berkaos hitam dengan celana abu itu bukannya membuat Bagus takut, tapi malah membuat cowok itu tertawa.
Alka dengan sikap posesifnya memang susah dipisahkan.
"Rasain!" ejek Meira dengan gerakan mulut tanpa suara. Bagus ingin menjitak cewek itu namun ia lebih dulu dijitak oleh pawang Meira.
"Ngalah lo sama cewek," ujar Alka datar lalu pergi bersama Meira dari warung belakang sekolah.
"DASAR PASANGAN BUCEEN!!" teriak Bagus. Cowok itu menyambar tas sekolah dan jaket khas anak The Lion miliknya lalu ikut pergi dari warung belakang, yang lain sudah pulang lebih dulu.
Di parkiran, Bagus mengernyitkan alis ketika melihat Dita berdiri di dekat gerbang seraya sesekali melihat jam kecil di pergelangan tangan kiri cewek itu. Gesturnya seperti tengah menunggu seseorang.
Bagus mengambil motor terlebih dahulu, memakai helm lalu melajukan motornya ke Dita. "Nungguin siapa, Ta?"
"Eh, Kak Bagus." Cewek berseragam SMA itu tampak sedikit terkejut. "Kakak belum pulang?" tanyanya kikuk.
Bagus terkekeh. "Kalau udah pulang gak mungkin ada di sini, Ta."
Meringis malu, Dita menggaruk poninya.
"Duh, gemesin banget, sih."
"Hah? Gimana, Kak?"
"Gak, gakpa-pa."
Dita memandang Bagus dengan alis mengernyit. Ia yakin sekali jika telinganya tadi mendengar Bagus mengucapkan sesuatu walaupun samar-samar. Dita hanya bisa mendengar kata 'sih' yang cowok itu gumamkan.
"Jangan mikir gitu, kan, udah dibilang gak ada apa-apa." Bagus menyentil pelan jidat Dita yang berkerut.
Cewek itu mengusap jidatnya dengan cengiran tipis yang semakin membuat Bagus gemas. "Pulang bareng siapa?" tanya Bagus lagi.
"Emm ... Itu ...." Dita tampak ragu menyampaikannya, namun melihat Bagus menunggunya membuat ia menghela napas lirih lalu menyambungkan ucapannya. "Nungguin Rio, katanya cuma mau ke cafe dekat sekolah bentar beliin titipan mamanya, tapi udah tiga puluh menit belum balik juga."
Bagus berdecak. Selalu saja cowok itu meninggalkan Dita tanpa alasan yang jelas. Jika memang Rio tidak menginginkan Dita, apa susahnya untuk berbicara langsung? Masih ada dirinya yang selalu siap menerima Dita kembali.
"Yaudah, gue anterin aja. Daripad-"
"Gak usah, Kak. Aku nunggu Rio aja. Entar lagi pasti balik, kok."
"Lo yakin?" Dita mengangguk. "Setelah semua kejadian di mana dia ninggalin lo gitu aja terus gak balik lagi, lo masih yakin buat nunggu?" Kali ini Dita langsung bungkam. Bagus menamparnya lewat kata-kata. Memperingati dirinya bahwa ia tidak seharusnya mengharapkan Rio. Mengingat bagaimana kelakuan wakil ketua osis itu padanya
"Udah gak usah kebanyakan mikir, ayo!" Bagus menarik pelan tangan Dita menuju jok belakang
Walau agak sungkan, Dita akhirnya duduk di jok belakang motor Bagus. Mencengkeram jaket cowok itu untuk keselamatan dirinya. Bagus tidak menyuruhnya melingkarkan tangan di perut cowok itu, Bagus juga tidak menarik tangannya untuk memeluknya seperti yang dulu-dulu. Dita sedikit lega, ia berharap semoga Bagus bisa melupakannya.
Tapi ... kenapa sebagian dalam dirinya merasa tidak ingin Bagus melupakan dirinya?
Katakanlah Dita egois, tapi di satu sisinya ia benar-benar menginginkan Bagus agar tetap menyukainya, bukan perempuan lain.
Akibat terlalu asik berpikir, Dita tidak sadar bahwa motor Harley Bagus sudah sampai di depan rumahnya. Ralat, rumah Krystal yang selama ini sudah menjadi tempat pulangnya bersama mamanya dan papa Krystal.
"Emm ..., Ta. Krystal ada di dalam?" tanya Bagus setelah membuka helmnya.
Dita tidak langsung menjawab, cewek itu diam beberapa saat mengamati wajah Bagus. Terdapat rasa ingin tahu di kedua pancaran mata cowok itu. Ada apa Bagus mencari Krystal? Pikirnya.
"Gak tau, Kak. Tapi Kak Krystal gak pernah pulang lagi setelah kejadian dua bulan lalu. Masih ingat, kan, waktu Kakak anterin aku pulang dulu?"
Bagus mengangguk. "Boleh gue masuk bentar? Gue mau ngecek ada Krystal atau enggak."
Ingin menuntaskan rasa penasarannya, Dita mengangguk saja. Ia ingin tahu kenapa Bagus mencari kakak tirinya itu.
"Mau minum apa, Kak?" tanya Dita setelah menaruh tas di sampingnya. Bagus duduk di sofa yang terletak di depannya.
"Air putih aja. Gue gak bakal lama, kok."
Mangangguk, Dita berjalan ke dapur. Sementara Bagus melarikan matanya ke setiap sudut rumah mewah ini. Mencari sosok yang satu hari penuh ini mengisi otaknya. Membayanginya dengan rasa bersalah dan khawatir yang bercampur.
"Di minum, Kak." Bagus tersentak ketika Dita menaruh gelas di depannya. Ia tersenyum kikuk lalu meneguk tiga kali air yang dibawakan Dita untuknya.
"Kak Bagus," panggil Dita membuat Bagus mengangkat pandangan ke cewek itu. Dita tampak ingin mengucapkan sesuatu namun rasa ragu menguasi cewek itu.
"Ngomong aja, Ta, kalau ada yang mau diomongin."
Dita meringis pelan. "I-itu ... Kak Bagus deket sama Kak Krystal?" Suara itu kikuk. Kentara sekali bahwa ia sungkan menanyakan itu.
"Dekat?" Bagus terkekeh hambar. "Gak terlalu. Gue sama dia cuma sebatas temen," jawabnya tanpa ragu. Seolah Dita adalah seorang sahabat yang selalu ia temani untuk berbagi cerita.
"Temen?" Kedua alis Dita terangkat memandang Bagus. Teman katanya? Setahu Dita, Krystal itu anaknya anti sosial, menarik diri dari keramaian dan memasang perisai dingin pada orang-orang sekitarnya membuat cewek itu begitu disegani hingga tidak ada yang ingin berteman dengannya. Krystal sendiri pun tidak tertarik akan yang namanya teman.
"Setau aku Kak Krystal bukan orang yang senang punya teman. Dia asik dengan dunianya sendiri."
Bagus membenarkan perkataan Dita dalam hati. Sejujurnya, ia pun tidak tahu mau disebut apa kedekatannya dengan Krystal selama ini.
Teman? Rasanya hanya Bagus yang beranggapan demikian. Iya, hanya Bagus. Karena seorang Krystal mengharapkan yang lebih dari teman.
Kedekatan anak dokter dan pasien? Ah, rasanya itu jauh lebih tidak masuk akal. Mereka terlalu dekat hingga sebutan itu terlalu canggung.
"Kak Bagus suka sama Kak Krystal?" Bagus langsung menatap Dita akibat pertanyaan cewek itu yang mengembalikan pijakannya ke bumi.
"Su-suka?"
Dita mengangguk ragu. "Mungkin. Maaf kalau aku lancang, Kak. Gak seharusnya ak-"
"Ta." Panggilan Bagus memotong kalimatnya yang sudah di ujung lidah. "Iya?" sahut Dita.
"Gue jujur sama lo boleh? Sumpah, gue gak tau harus cerita sama siapa biar gue dapet solusi. Mungkin, dengan cerita ini ke lo, gue bisa dapet solusi buat nyelesaiin masalah gue yang satu ini."
"A-apa, Kak?"
"Ini masalah Krystal, gue sebenarnya ... sebenarnya cum-cuma ... anu ...." Bagus menggaruk telinganya, tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Semuanya terlalu berengsek jika dijelaskan dari awal.
"Pelan-pelan aja, Kak. Tarik napas dulu baru ngomong. Rileks."
Bagus mengikuti saran Dita. Menarik napas lalu membuangnya pelan dan merilekskan dirinya. Setelah dirasa cukup, cowok itu mulai menjelaskan semuanya dari awal.
Di mana ia dan teman-temannya iseng melakukan permainan Truth or Dare yang kemudian berujung seperti ini dengan Krystal yang menjadi korbannya. Tentu saja Bagus tidak menceritakan fakta bahwa teman-temannya menyarankan dare tersebut agar dirinya bisa melupakan Dita dengan cepat. Bagus tidak ingin Dita merasa bersalah karena menganggap dirinya-lah penyebab utama dare itu terjadi.
"Ja-jadi ... Kak Bagus—jadiin Kak Krystal dare doang?" Dita menatap tidak percaya pada Bagus. Tidak menyangka bahwa cowok yang masih memiliki tempat di hatinya itu bisa melakukan hal sepengecut itu.
Bagus menunduk. "Maaf, gue bener-bener gak niat buat jadiin Krystal bahan tantangan dari temen-temen gue."
"Tapi ini gak bener, Kak. Kalau Kak Kryatal tau gimana? Dan apa lagi tadi? Kakak bilang kalau seandainya Kak Krystal baper, Kak Bagus harus bilang ke dia kalau semuanya cuma jebakan dare?"
Suara benda jatuh mengejutkan keduanya. Dita dan Bagus serempak menoleh dengan cepat. Lalu tubuh keduanya menegang tatkala melihat sosok yang berdiri di dekat sebuah tas sekolah yang sudah tergeletak di lantai.
Krystal Raquelnesya, berdiri di pembatas ruang tengah dan ruang tamu dengan mata memerah bersorot kosong.
.
.
.
KABOOORRRR🤣🤣
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YANG BANYAK BIAR CEPET UP!
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..