Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Hotel Mahardika terlihat berbeda ketika Maya datang sebagai tamu.
Dulu ia masuk lewat pintu samping bersama staf lain. Tasnya diperiksa, seragamnya harus rapi, rambutnya tidak boleh keluar dari ciput, dan ia harus menunduk kalau tamu lewat. Hari ini mobil Raka berhenti di lobi utama. Pintu dibukakan petugas. Lampu kristal menyala di atas kepala. Lantai marmer yang dulu ia pel sampai mengilap kini memantulkan bayangannya dalam kebaya biru tua.
Maya berhenti di ambang pintu.
Raka merasakan tangannya mengeras.
“Mau pulang?”
Maya menatap lobi.
Ia hampir bisa melihat dirinya yang dulu berlutut membersihkan tumpahan kopi di dekat sofa. Ia ingat suara Pak Rudi memanggilnya dari ruang staf. Ia ingat botol air mineral. Ia ingat lift, lorong, pintu suite yang terbuka, dan hidup yang berubah setelahnya.
“Tidak,” katanya.
Raka menggenggam tangannya lebih erat.
“Kalau kamu pusing, katakan.”
“Kalau saya pusing, Mas akan menggendong saya di depan semua orang.”
“Ya.”
“Berarti saya tidak akan bilang.”
Raka menatapnya tajam.
Maya membalas dengan senyum kecil.
Bima yang berjalan di belakang tampak lega melihat Maya masih bisa bercanda.
Acara lelang amal diadakan di ballroom utama. Banyak pengusaha hadir, juga beberapa pejabat dan tokoh yayasan. Sabrina berdiri dekat panggung dengan gaun perak, tampak seperti pemilik ruangan. Ketika melihat Raka dan Maya masuk, ia tersenyum.
“Kalian datang.”
Raka menjawab singkat, “Kamu mengundang.”
“Aku mengundang dengan sopan.”
Maya menatapnya. “Pesanmu tidak terlalu sopan.”
Sabrina tertawa lembut. “Bu Maya ternyata menyimpan dendam.”
“Tidak. Saya hanya punya ingatan.”
Beberapa tamu di dekat mereka menoleh. Sabrina tetap tersenyum, tapi matanya dingin.
“Semoga ingatan Ibu cukup baik untuk menikmati lelang. Banyak barang antik malam ini. Tidak semua orang bisa menilai nilainya.”
Raka hendak bicara, namun Maya lebih dulu menjawab.
“Saya memang tidak ahli barang antik. Tapi saya pernah membersihkan cukup banyak kamar hotel untuk tahu mana barang yang hanya mahal, mana yang benar-benar dirawat.”
Sabrina menatapnya sejenak.
“Menarik. Kalau begitu nanti saya minta pendapat Ibu.”
Maya tahu itu jebakan.
Tetap saja ia mengangguk.
“Kalau saya tahu, saya jawab. Kalau tidak, saya bilang tidak tahu.”
Sabrina tampak tidak puas karena Maya tidak mudah dipancing malu.
Mereka duduk di meja depan. Maya merasa banyak mata mengarah padanya. Beberapa mengenalnya sebagai istri baru Raka. Beberapa mungkin sudah mendengar gosip perempuan tua yang hamil. Beberapa lain melihatnya dengan rasa ingin tahu karena Sabrina sendiri yang terlalu jelas menjadikannya sasaran.
Raka duduk di sampingnya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Mas sudah bertanya tiga kali.”
“Jawabannya bisa berubah.”
Maya menatapnya, lalu berkata pelan, “Saya takut, tapi saya baik-baik saja.”
Raka mengangguk. “Bagus.”
Acara dimulai.
Barang pertama lukisan kecil karya seniman lama. Barang kedua jam antik dari Eropa. Barang ketiga kain batik tulis tua dari keluarga bangsawan Jawa. Maya tidak berani mengangkat papan lelang. Ia hanya memperhatikan cara orang-orang mengangkat tangan, cara mereka tersenyum, cara harga naik seperti angka itu bukan uang sungguhan.
Sabrina beberapa kali menawar, selalu dengan anggun.
Lalu pembawa acara memperkenalkan sebuah kotak musik tua dari kayu jati dengan ukiran halus.
“Barang ini berasal dari koleksi pribadi seorang keluarga lama. Mekanismenya masih berfungsi, meski ada bekas perbaikan di bagian engsel.”
Kotak itu dibawa berkeliling.
Ketika sampai dekat meja Raka, Maya tanpa sadar menatap lebih lama. Ukirannya indah, tapi ada sesuatu di sudut kayu yang menarik perhatiannya. Bekas cairan pembersih yang salah, mungkin. Warna kayunya sedikit pudar tidak rata.
Sabrina melihat.
“Bu Maya tertarik?”
Maya sadar banyak orang mulai memperhatikan.
“Saya hanya melihat.”
“Menurut Ibu, berapa nilainya?”
Raka menatap Sabrina dingin.
Maya menyentuh tangan Raka di bawah meja. Ini kalimat pertama saya, seolah begitu pesannya.
Ia menatap kotak musik itu lagi.
“Saya tidak tahu nilai lelangnya.”
Senyum Sabrina melebar.
“Oh, sayang sekali.”
Maya melanjutkan, “Tapi kalau untuk perawatan, kotak itu pernah dibersihkan dengan cairan yang terlalu keras di sudut kanan. Kayunya pudar. Engselnya juga pernah diganti, tapi bukan dengan logam lama. Jadi kalau orang membelinya sebagai benda antik sempurna, sebaiknya cek lagi.”
Ruangan hening.
Pembawa acara tampak terkejut. Ia memanggil kurator.
Kurator memeriksa kotak itu dengan kaca pembesar, lalu mengangguk pelan.
“Benar. Ada bekas pembersihan tidak tepat. Kami memang mencatat restorasi engsel, tapi detail cairan pembersih ini luput.”
Bisik-bisik terdengar.
Maya sendiri kaget.
Ia hanya mengatakan apa yang ia lihat dari pengalaman membersihkan perabot hotel dan rumah orang kaya. Dulu kesalahan seperti itu bisa membuat gajinya dipotong.
Raka menatapnya.
Ada kebanggaan jelas di matanya.
Sabrina tersenyum kaku.
“Hebat. Pengalaman cleaning service ternyata berguna.”
Kalimat itu halus, tapi tetap menghina.
Maya menoleh kepadanya.
“Iya. Sangat berguna. Saya jadi tahu orang sering meremehkan tangan yang membersihkan benda-benda yang mereka pamerkan.”
Beberapa tamu tertawa pelan, kali ini bukan menertawakan Maya.
Sabrina kehilangan senyum sesaat.
Raka mengangkat papan lelang.
Harga langsung melonjak.
Maya menatapnya panik. “Mas Raka, untuk apa?”
“Kamu suka.”
“Saya tidak bilang suka.”
“Kamu melihatnya lama.”
“Saya sedang menganalisis kerusakan!”
“Tetap melihat lama.”
Harga naik lagi karena ada kolektor lain menawar. Raka mengangkat papan tanpa berkedip.
Maya menahan napas melihat angka di layar.
“Mas Raka,” bisiknya, “itu bisa membeli rumah kecil.”
“Kita sudah punya rumah kecil.”
“Itu bukan maksud saya.”
Raka kembali mengangkat papan.
Akhirnya palu diketuk.
Kotak musik itu jatuh ke tangan Raka dengan harga yang membuat Maya ingin pingsan.
Tepuk tangan terdengar.
Sabrina mendekat setelah sesi itu selesai.
“Raka, sejak kapan kamu suka kotak musik rusak?”
“Sejak istriku memperhatikannya.”
Sabrina membeku.
Maya juga.
Raka berkata seolah membahas cuaca, “Barang yang diperhatikan Maya tidak boleh dibeli orang lain.”
Jantung Maya berdegup keras.
Sabrina tertawa tipis. “Kamu semakin kekanak-kanakan.”
“Mungkin.”
Ia tidak peduli.
Acara berlanjut dengan makan malam ringan. Maya pergi ke toilet ditemani Wati yang ikut sebagai pendamping. Di depan cermin, Maya membasuh tangan, menatap wajahnya sendiri.
Ia masih gugup. Tapi wajah di cermin tidak lagi tampak seperti perempuan yang ingin lari.
Wati tersenyum. “Bu tadi keren sekali.”
“Saya cuma bicara soal kayu.”
“Kadang orang kalah bukan karena hal besar, Bu. Karena mereka pikir Ibu tidak tahu apa-apa.”
Maya tersenyum.
Saat keluar dari toilet, ia mendengar suara Sabrina di lorong samping.
“Kamu sudah lihat sendiri, kan? Raka berubah hanya karena perempuan itu hamil.”
Suara laki-laki menjawab pelan, tidak jelas.
Maya berhenti.
Wati ikut berhenti, wajahnya tegang.
Sabrina melanjutkan, “Aku tidak peduli dia istri sah atau bukan. Pernikahan seperti itu tidak akan bertahan kalau Raka sadar dia hanya sedang bertanggung jawab. Kita hanya perlu membuatnya melihat jaraknya.”
Maya menahan napas.
Langkah terdengar mendekat. Ia ingin bergerak, tapi tubuhnya kaku.
Sabrina muncul dari belokan dan melihatnya.
Untuk satu detik, keduanya diam.
Lalu Sabrina tersenyum.
“Bu Maya. Menguping?”
Maya menatapnya.
“Tidak sengaja mendengar.”
“Bagus. Berarti saya tidak perlu mengulang.”
Wati maju. “Nona Sabrina—”
Maya menahan Wati.
“Kamu benar soal satu hal,” kata Maya.
Sabrina mengangkat alis.
“Saya memang jauh dari dunia Mas Raka. Saya tidak lahir di keluarga besar, tidak belajar di luar negeri, tidak tahu cara menawar barang ratusan juta tanpa gemetar.”
Sabrina tersenyum menang.
Maya melanjutkan, “Tapi jarak itu bukan alasan untuk kamu berdiri di antara suami dan istri.”
Senyum Sabrina hilang.
“Istri?” Ia tertawa pelan. “Kamu terlalu cepat nyaman dengan gelar itu.”
“Mungkin. Tapi gelar itu sah.”
Mata Sabrina menajam.
“Sah bukan berarti dicintai.”
Kalimat itu tepat mengenai luka yang paling Maya takutkan.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara Raka terdengar dari belakang.
“Siapa bilang tidak?”
Sabrina membeku.
Maya menoleh.
Raka berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya sangat dingin, tapi matanya hanya melihat Maya.
Ia berjalan mendekat, mengambil tangan Maya, lalu menggenggamnya di depan Sabrina.
“Aku sudah mencarimu.”
Maya menatapnya, masih terkejut oleh kalimat tadi.
Sabrina memucat. “Raka, kamu tidak perlu berpura-pura.”
“Aku tidak pernah berpura-pura untuk menyenangkan orang.”
Ia menatap Sabrina.
“Mulai sekarang, kalau kamu ingin bicara tentang istriku, pastikan aku ada di sana. Aku ingin mendengar seberapa jauh kamu berani.”
Sabrina tidak menjawab.
Raka membawa Maya kembali ke ballroom.
Tangan Maya dingin di genggamannya.
“Mas Raka,” bisiknya, “kalimat tadi…”
“Yang mana?”
“Saat Sabrina bilang sah bukan berarti dicintai.”
Raka berhenti di depan pintu ballroom.
Cahaya dari dalam jatuh di wajahnya.
Ia menatap Maya lama.
“Kamu ingin jawaban di lorong hotel?”
Maya tidak tahu harus mengangguk atau menggeleng.
Sebelum ia memutuskan, dari dalam ballroom terdengar suara piano.
Nada pertama mengalun pelan.
Maya menoleh.
Lagu itu asing, tapi entah kenapa membuat dadanya bergetar.
Raka melihat ke panggung kecil.
Pianis acara baru saja duduk, memainkan lagu pembuka sesi amal berikutnya.
Raka menatap Maya lagi.
“Nanti.”
“Nanti kapan?”
Ia membuka pintu ballroom.
“Setelah aku menunjukkan sesuatu.”
Maya masuk bersamanya, bingung.
Di depan semua tamu, Raka berjalan menuju piano.
Bisik-bisik langsung menyebar.
Sabrina berdiri di belakang, wajahnya berubah.
Raka berbicara singkat pada pianis. Pria itu segera berdiri, mempersilakan tempat.
Maya berdiri di tengah ballroom, tidak mengerti.
Raka duduk di depan piano, membuka kancing jasnya, lalu meletakkan jari di atas tuts.
Sebelum nada pertama keluar, matanya mencari Maya.
Dan ketika mata mereka bertemu, Maya tiba-tiba tahu.
Laki-laki dingin itu tidak akan menjawab Sabrina dengan kata-kata.
Ia akan menjawab di depan semua orang.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍