NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

Video itu muncul pukul sembilan pagi.

Meiran sedang merapikan panel presentasi di studio ketika ponsel beberapa peserta berbunyi hampir bersamaan. Suaranya kecil, tetapi cukup serempak untuk membuat ruangan berhenti bekerja selama dua detik.

Lalu bisik-bisik mulai bergerak.

`Ini dari observasi kemarin?`

`Kenapa Lo Hafeng kayak cuma jagain Lim Meiran?`

`Kalau mereka satu meja kritik, objektif nggak sih?`

Meiran tidak perlu membuka grup untuk tahu arah serangannya.

Ia tetap menempelkan sample material ke panel dengan double tape, menekan ujungnya sampai rata, baru mengambil ponsel.

Di grup peserta, sebuah video berdurasi delapan detik sudah diputar ulang berkali-kali.

Potongannya bersih.

Terlalu bersih.

Tidak ada troli. Tidak ada lampu berkedip. Tidak ada Wanyu yang menyuruh mereka menyebar di jalur sempit. Hanya Hafeng menahan Meiran di bawah payung, tubuhnya miring melindungi, lalu percikan air mengenai lengan bajunya.

Caption anonim di bawahnya sederhana.

`Observasi atau pengawalan pribadi?`

Beberapa peserta tidak langsung menuduh, tetapi cukup banyak yang meletakkan tanda tanya.

Meiran tersenyum kecil.

"Rapi," gumamnya.

Tee Chiko, yang kebetulan datang mengantar cutter untuk Hafeng, melongok dari meja sebelah. "Apa yang rapi?"

Hafeng sudah berdiri di belakang Meiran.

Wajahnya gelap.

"Siapa yang kirim?" tanyanya.

"Nomor baru," jawab Meiran. "Tidak perlu menatap ponsel seperti mau membakarnya."

"Ini fitnah."

"Ini potongan video."

"Itu sama saja."

"Tidak. Fitnah harus dibantah dengan bukti. Potongan video dibunuh dengan video lengkap."

Hafeng menatapnya. "Kamu punya?"

Meiran mengangkat ponsel. "Aku selalu punya."

Chiko bersiul pelan. "Aku suka cara Bu Lim membawa senjata."

Meiran menatapnya.

Chiko langsung mengangkat dua tangan. "Maksudku file. Senjata file."

Hafeng tidak tertawa. "Kirim sekarang."

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena sekarang hanya grup peserta yang ribut. Kalau aku kirim video lengkap sekarang, Wanyu akan bilang itu salah paham kecil. Besok saat panel terbuka, ia akan memakai cara lain."

Hafeng mengerti terlalu cepat. Rahangnya mengeras.

"Kamu mau membiarkan mereka bicara?"

"Aku mau membiarkan mereka bicara sampai semua orang tahu siapa yang paling bersemangat mengarahkan pembicaraan."

Chiko melihat Hafeng, lalu Meiran. "Aku merasa ruangan ini tidak membutuhkan cutter."

"Pergi," kata Hafeng.

"Dengan senang hati."

Chiko pergi sambil membawa setengah senyum dan meninggalkan cutter di meja.

Beberapa menit kemudian, pesan resmi dari panitia masuk.

`Peserta diminta menjaga objektivitas dan jarak profesional selama proses seleksi. Panel terbuka besok akan mencakup evaluasi proses kerja kelompok.`

Tidak ada nama.

Tetapi semua orang tahu pesan itu lahir dari video.

Wanyu masuk ke studio tidak lama setelah pesan itu menyebar. Ia membawa map panitia dan ekspresi prihatin yang dipakai orang saat ingin terlihat tidak menikmati masalah.

"Meiran," katanya lembut. "Aku baru lihat grup. Aku harap kamu tidak tersinggung."

Meiran menekan tepi sample sekali lagi. "Kenapa aku harus tersinggung?"

"Kadang orang salah paham. Terutama kalau batas profesional terlihat kabur."

Hafeng melangkah maju.

Meiran meletakkan telapak tangan di atas mapnya.

Tidak menyentuh Hafeng. Tidak perlu.

Gerakan itu cukup membuat Hafeng berhenti.

Wanyu melihatnya. Ada sesuatu yang bergerak di matanya, cepat dan puas.

"Ko Hafeng," katanya, "aku juga khawatir ini merugikanmu. Kamu peserta kuat. Jangan sampai orang mengira penilaianmu terganggu karena terlalu dekat dengan Meiran."

"Penilaianku tidak terganggu."

"Aku tahu kamu ingin melindungi semua orang."

"Tidak semua orang."

Kalimat itu keluar dingin.

Studio mendadak diam.

Wanyu tampak seperti baru mendapat hadiah.

Meiran menutup cutter dengan suara klik. "Hafeng."

Ia menoleh.

"Besok," kata Meiran pelan.

Hafeng menatapnya lama. Kemarahan di wajahnya belum hilang, tetapi ia menelannya kembali, seperti menelan pecahan kaca.

"Baik."

Satu kata itu membuat Wanyu kehilangan sedikit senyumnya.

Karena Hafeng tidak patuh pada Wanyu.

Ia patuh pada Meiran.

**【Sistem Predator】Catatan: Target menahan respons agresif atas instruksi Host. Kepatuhan emosional meningkat.**

Nilai Cinta: 25.

Angkanya tidak naik.

Tetapi Meiran tidak kecewa.

Ada hal yang kadang lebih berbahaya daripada angka bertambah: seorang pria yang mulai memilih menunggu karena ia percaya pada rencanamu.

Siang itu, rumor terus menyebar. Ada yang berkata Meiran memakai Hafeng sebagai tameng. Ada yang berkata Hafeng terlalu jelas memihak. Ada juga yang diam-diam mengirim pesan ke Meiran, menanyakan apakah video itu benar.

Meiran hanya membalas satu jenis pesan.

`Besok lihat panel terbuka.`

Setelah itu, ia menghubungi Sari.

"Bu Lim," suara Sari masuk dari earphone, singkat dan jernih. "Saya sudah bicara dengan petugas keamanan kampus. Salinan CCTV koridor bisa diambil sore ini, dengan surat permintaan dari panitia cadangan yang kemarin Ibu minta tanda tangan."

"Bagus. Simpan dua versi. Mentah dan potongan kronologis."

"Sudah saya siapkan folder terpisah. Video dari ponsel Ibu juga sudah saya backup."

Hafeng yang mendengar percakapan itu menatap Meiran.

"Kamu mengurus semua sejak semalam?"

"Tentu."

"Tanpa bilang aku?"

"Kalau aku bilang, kamu akan marah dulu sebelum berpikir."

Hafeng tidak bisa membantah.

Ia hanya menekan ujung map, lalu menarik napas seolah sedang belajar menunggu tanpa merasa kalah.

Sari bertanya dari earphone, "Perlu saya hadir besok?"

Meiran melihat layar grup yang masih panas. "Datang sebagai penonton. Jangan bergerak kecuali aku minta."

"Baik, Bu Lim."

Sore hari, Yanting datang ke studio sebagai tamu undangan yang membawa dokumen sponsor. Ia berhenti di depan panel Meiran, membaca grup peserta dari ponselnya, lalu menghela napas.

"Kamu ingin saya bantu menekan panitia?"

"Tidak."

"Saya bisa."

"Aku tahu."

"Tapi kamu ingin panggung publik."

"Benar."

Yanting menatapnya dengan senyum samar. "Kamu benar-benar tidak suka membuang kesempatan."

"Kesempatan harus dipakai sebelum membusuk."

Hafeng yang sejak tadi diam di sisi panel tiba-tiba berkata, "Kamu terlalu sering menawarkan bantuan."

Yanting menoleh. "Kamu terlalu sering tidak menawarkan dengan benar."

"Aku tidak sedang bicara denganmu."

"Tapi aku sedang bicara dengan Meiran."

Meiran mengangkat tangan, kali ini benar-benar lelah. "Besok kalian boleh bersaing setelah panel. Hari ini, kalau kalian ingin berguna, cek panelku miring atau tidak."

Dua pria itu sama-sama melihat panel.

Lalu serempak berkata, "Miring sedikit."

Meiran menutup mata.

Sisi tertawa di kepalanya tanpa suara.

Malamnya, sebelum meninggalkan studio, Meiran menerima pesan dari panitia.

`Panel terbuka akan dimulai pukul 09.00. Peserta yang terkait isu objektivitas diminta siap memberikan klarifikasi bila diperlukan.`

Di bawah pesan itu, Wanyu mengirim satu kalimat ke grup panitia yang tanpa sengaja ikut terlihat di notifikasi layar proyektor studio.

`Besok kita pastikan batas profesional mereka jelas di depan panel.`

Meiran membaca kalimat itu.

Hafeng juga.

Yanting juga.

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Lalu Meiran mematikan proyektor.

"Bagus," katanya. "Besok kita beri mereka kejelasan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!