Tahap Revisi
Tak pernah terpikirkan untuk Anyelir, bahwa mencintai seorang Dika akan semenyakitkan ini. Di tambah perbedaan status sosial di antara dirinya dan Dika, awalnya dia bahagia. Namun, saat ke munculan Jenny dan ancamannya membuatnya pergi dari jangkauan Dika.
"Aku takut cinta membuat ku lemah, walau aku tau cinta itu bisa membuat ku kuat."
*Harap membaca Twin's lebih dulu agar tidak ada yang bingung
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.25
Berita kehamilan Jenny, sudah di ketahui oleh Mario dan Laura. Begitu juga dengan Alderik. Namun, Alderik tak seantusias Mario dan Laura.
Dika mengajak semua keluarganya berkumpul besok siang bertepatan saat jam makan siang, di rumah yang kini Dika tempati.
Dela membaca pesan dari Dika, dan dia hanya tersenyum tipis. Bukan tak bahagia, tapi dia tengah menunggu Auriga pulang. Sudah pukul sembilan tapi dia belum pulang juga, ditambah lagi Dela sangat lapar. Namun, dia ingin makan dengan sang suami.
"Kemana ayahmu, yah? Bunda udah nungguin dari sore," gumam Dela menghembuskan nafasnya secara pelan.
Dengan terpaksa dia makan roti selai coklat untuk mengganjal rasa laparnya, lalu menutup makanan dengan tudung saji. Dela enggan memasukkannya kedalam kulkas, karena sudah lelah lebih baik dia menunggu di kamar.
Besok pelayan yang akan membantu pekerjaan Dela baru akan mulai bekerja.
Dela memastikan semua pintu dan jendela terkunci, dia yakin Auriga tak akan pulang.
****
Anyelir duduk sendiri di meja, yang selalu digunakan makan oleh pengunjung rumah makannya. Ditemani secangkir coklat hangat, untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin. Memang Pengalengan cuacanya sangat dingin, Sekar, Adam dan Lilya mereka sudah terlelap.
Hanya Anyelir yang tidak bisa tidur, dia merindukan Dika. Dan memikirkan lelaki itu, walau dia tahu ini salah karena Dika sudah menikah.
"Sendiri aja," ucap Axel, membuat Anyelir terkejut.
"Bikin kaget saja." Omel Anyelir.
"Lagian aku panggil, kamu malah melamun. Lagi mikirin, apa?" tanya Axel.
Axel pun menatap apa yang di tatap oleh Anyelir.
"Apaan sih kepo banget," kekeh Anyelir.
Axel duduk di depan Anyelir, dia menatap Anyelir yang nampak cantik dengan rambut tergerai.
"Maaf aku gak bisa bikin kopi," kata Anyelir, membuat Axel tertawa.
"Aku gak minta kopi, aku cuma menemani kamu. Biar gak ada yang godain," ujar Axel, membuat Anyelir memutar mata malas.
Memang di sekitar tempat Anyelir sekarang, sedang ada orang yang sedang melakukan camping.
"Memang siapa yang akan macam-macam, di sini? Aku tinggal teriak," cetus Anyelir, membuat Axel menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Sensi amat sih, aku jadiin pacar baru tahu loh!" canda Axel.
Anyelir menghela nafas pelan, dia belum siap untuk membuka hati. Karena hatinya, masih terpaut satu orang nama yaitu Randika.
"Maaf tapi aku gak, minat pacaran" tolak Anyelir.
"Aku akan mendapatkan hati mu Cinta," sahut Axel, kini pembicaraan itu mulai serius.
Axel ingin mengungkapkan rasa cintanya pada Anyelir, dengan tekad dan keberanian. Yang dia miliki, Anyelir menatap mata Axel. Terdapat keseriusan dan ketulusan, tak ada kebohongan di matanya.
Bukannya dia tak mau membuka hati, tapi jika belum selesai dengan masa lalu. Akan terasa sangat sulit, jika di jalaninya.
"Kamu harus move-on Anye, Dika sudah menjadi suami orang." Bisik Anyelir dalam hati, dia menghela napas dengan pelan.
"Aku benar-benar, belum siap menjalin hubungan Axel." Ungkap Anyelir.
"Tidak apa, aku akan berusaha membantumu melupakan masa lalumu. Dan, aku akan menunggumu," kata Axel.
"Tak semudah itu," lirih Anyelir.
"Mudah Anyelir," ceplos Axel, dia pun menutup mulut dan menatap Anyelir.
Sementara Anyelir membulatkan matanya, saat Axel memanggil namanya Anyelir.
"Ka-kamu kenapa bisa tahu, nama ku?" tanya Anyelir.
"Maafkan aku Anyelir, sebenarnya aku mantan anak buah tuan Dika." Bohong Axel, dia terpaksa harus berbohong agar Anyelir. Tidak menolak, kehadiran dirinya.
Anyelir menatap tak percaya dengan ucapan Axel.
"Itu dulu sebelum tuan Dika menikah, tapi tugasku sudah selesai." Jawab Axel dengan cepat.
"Ya sudah lupakan, tetap panggil aku Cinta." Ujar Anyelir.
"Baiklah." Axel menatap jam di tangannya.
"Lebih baik, kamu masuk ke rumah. Ini hampir malam Nye, tak baik malam-malam di luar," tutur Axel.
Anyelir mengangguk dia pun berpamit pada Axel untuk masuk ke dalam, memang dia sudah mengantuk. Dan belum lagi, besok harus bangun pagi.
Axel menatap pintu rumah Anyelir yang tertutup, bagaimana caranya dia harus memberitahu Dika. Tentang perasaannya pada Anyelir, tapi buat apa Axel memberitahu Dika?
"Akan aku pikirkan, untuk memberitahu tuan Dika. Toh dia bukan siapa-siapanya Anyelir," gumam Axel.
Bersambung…
Maaf typo
Cuma mau kasih tahu aja, awalnya novel ini mau cerita Anyelir sama Dika aja. Tapi selalu gagal ide, akhirnya cerita Dela dan Auriga aku masukin juga seling-seling. Terima kasih yang masih setia 🙏
apakah ada novel sebelumnya yg berhubungan novel ini??