Serangkaian konflik, cinta, sisi gelap, konfrontasi, ego dan di bumbui dengan beberapa misteri yang pelan tapi pasti terkelupas perlahan dengan balutan horor kejawen (jawa kuno) yang cukup kental. semua berpadu dalam satu mahakarya.
Sinopsis :
Di suatu desa..hiduplah seorang nenek tua yang cukup kaya raya. Ia mempunyai 6 orang anak. Anak yang di besarkan olehnya seorang diri sebagai seorang janda. Enam orang anak yang di besarkan olehnya dengan penuh kasih sayang. Enam anak itulah yang juga memulai konflik antara sesama saudaranya sendiri. Puncaknya adalah ketika sang nenek tiba-tiba meninggal dunia.
Disini semua tragedi itu berawal. Teror kasat mata dan yang tak kasat mata mulai menghantui semua yang sedang tinggal di rumah peninggalannya. Satu...persatu.... Mereka semua punya satu tujuan yang sama! 6 orang iblis bertopeng manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mufid Kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Tersembunyi
Di lain tempat, lestari yang sudah terbang di atas rumah-rumah penduduk mulai menatap pias. Ia harus melakukan perjanjian yang berlangsung selama 40 hari ini tanpa henti. Dendam yang di pupuk semakin membara seiring berjalannya waktu. Ia menatap tajam salah satu rumah yang sangat besar dan mewah di kampung itu. Rumah orang kaya baru yang sudah merenggut seluruh hidupnya. Rumah iman!
Ia berkeliling dengan perasaan berkecamuk. Kendati dirinya sudah tak mempunyai raga lagi, namun naluri manusianya tak juga luntur. Ia mendengar selentingan kabar mengenai dirinya. Betapa buruk perkataan seluruh desa yang menyalahkan dirinya sebagai penyebab malapetaka yang beruntun terjadi di desa mereka.
"Gara-gara demit si Lestari sialan itu! Istriku jadi ngambek tak tinggal ronda. Huffftttt..Bikin repot saja!" Gerutu kimin. Salah seorang pria yang kebagian ronda bersama Samsudin dan Bejo.
"Sabar lek kimin. Hehehe. Emang lestari siapa to paklek? Janda baru to?" Tanya bejo polos. Seperti biasa otaknya terkadang sedikit lemot.
"Lestari itu lho jo. Yang metong dulu waktu kita pulang mancing. Yang katanya selalu mencari korban setiap 5 tahun sekali. Bener kan paklek?" Ujar Samsudin yang semakin membuat lek kimin semakin menatap mereka sinis.
"Wes-wes, (sudah-sudah,) kalian muter-muter dulu. Aku mau nunggu di pos. Lihat kalian aku malah jadi tambah pusing sendiri!" Ketus paklek kimin yang langsung berbaring dan menggunakan sarungnya sebagai selimut.
"Owalah. Wong tuo kok emosian. Ati-ati, Cepet stroke lha kapok paklek. (Orang tua kok emosian. Hati-hati, Cepat stroke kapok paklek.)" Lirih bejo sembari berlalu. Beruntung paklek kimin tidak mendengarkannya.
"Hush! udah-udah. Ayo jo, kita keliling kampung dulu." Ajak Samsudin.
"Ayo guys." Jawab bejo segera berjalan mengekor.
"Dasar manusia laknat! Aku pikir setelah ku berikan kesempatan, kalian akan sedikit berubah. Namun ternyata aku salah. Kalian masih sama saja!" Geram lestari yang sudah nangkring di atas pohon.
Dengan satu tiupan dan kekuatan yang cukup besar, angin seketika berhembus kencang. Menerbangkan segala sesuatu di hadapannya. Hujan di sertai angin yang berputar-putar membuat pos ronda yang sudah lapuk itu tebang entah kemana. Meninggalkan kimin yang segera lari pontang panting ketakutan.
Dengan amarah yang masih memuncak, lestari kemudian terbang ke arah persawahan milik warga yang sudah siap panen. Ia kembali memporak-porandakan padi-padi yang sudah menguning di terpa sinar rembulan yang menembus pekatnya awan di malam hari. Tiada ampun lagi untuk semuanya. Lestari bukan lagi sosok anggun yang cantik, ia berubah menjadi sangat mengerikan dengan mulut yang terbuka lebar di hiasi gigi taring yang berderet-deret. Tujuannya kemudian hanya satu. Memburu semua orang yang terlihat oleh matanya! Ia terbang melesat bagai kilat. Hingga satu kekuatan tak terlihat menghempaskan rohnya cukup kuat.
Slapppphhhhhss...
"Beraninya kau!" Geram lestari kembali memperbaiki rahangnya yang jatuh akibat serangan mendadak baru saja. Roh lestari tersungkur di atas rumput-rumput yang basah terkena hujan.
"Assalamualaikum." Ujar laki-laki yang tak asing bagi lestari.
"Kau lagi! Apa yang kau inginkan! Jangan halangi aku!" Suara lastri semakin parau. Mulutnya terus mengeluarkan lendir berwarna merah kehijauan. Amarahnya benar-benar sudah memuncak
Ikhwan dengan pakaian serba hitam berdiri di tengah gulitanya dini hari. Ia sama sekali tak terkejut melihat sosok wujud lestari yang tak karuan. Ia dengan tenang berjalan menghampirinya.
"Jangan bertindak ceroboh. Lihatlah seluruh bangunan itu di pasangi pagar gaib. Kau bisa terbakar hingga habis jika menyentuhnya." Ujar Ikhwan kemudian duduk bersila.
"Apa maumu sebenarnya!" Bentak lestari yang tidak mengerti maksud perkataan Ikhwan yang seakan meremehkannya. Belum sempat mendapat jawaban Ikhwan sendiri sudah menghilang bagai kepulan asap yang menyatu dengan udara.
Lestari perlahan kembali ke wujud aslinya. Kulitnya yang merah melepuh sudah kembali menjadi mulus. Ia sudah dapat mengendalikan rohnya secara penuh.
"Aku rasa, aku harus lebih berhati-hati lagi dengannya." Ujar lestari masih geram menahan amarahnya.
...****************...
Pagi itu keramaian kembali terjadi lagi. Hujan di sertai angin kencang tempo malam, membuat seluruh sawah dan kebun mereka hancur luluh lantah. Tak ada yang bisa mereka lakukan saat ini. Meraka hanya bersandar dan meratapi padi-padi yang belum sempat mereka memanen hasil kerja keras mereka, sekarang sudah habis tak tersisa terendam ganasnya luapan air.
Sebuah keanehan juga terjadi kepada para pemilik ternak yang hewan-hewan ternaknya juga m*ti seketika. Suasana desa di pagi itu sungguh kacau. Banyak dari mereka yang memilih berdiam diri di rumah akibat dari bencana yang mendadak datang semalam. Tanpa seorang 'pun yang tau penyebabnya.
"Mas, kasihan ya, orang-orang sawahnya pada kebanjiran lho. Padahal setahuku itu hujannya cuma sebentar lho mas. Kok bisa ya bisa banjir kaya gitu. Aneh ya mas." Ujar putri sembari berlalu melewati suaminya yang duduk di serambi teras. Di tangannya terlihat sedang menenteng dua buah tas kresek belanjaan.
"Namanya juga musibah dek, nggak ada yang tau." Jawab Ikhwan singkat tanpa menoleh pada putri.
"Tapi kan aneh mas..." Sanggah putri.
"Nggak ada yang aneh dek. Jika Allah sudah berkehendak, manusia bisa apa?" Tutur Ikhwan lembut.
"Oh..iya, dek besok aku mau ngajak kamu ke desaku. Sementara kita tinggal disana dulu ya dek." Ujar Ikhwan menimpali.
"Memang ada apa mas? Tumben mendadak banget. aku kan juga harus bantu-bantu di pengajiannya mendiang simbok." Ujar putri setelah meletakkan belanjaannya di meja ruang tamu.
"Ada sesuatu yang harus aku urus disana." Jawab Ikhwan dengan wajah yang sudah berubah menjadi tegang.
.
.
.
"Semakin cepat, semakin baik!" Batin Ikhwan bermonolog.
gmana penampakan rumah nenek nyaa, huhuhu.
lnjut dong thorrrr
lnjut thor .. bnyak yg nggu nih
ttp semangattt💪💪💪