"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.
'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.
Hening sesaat.
'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Aku Akan Menjagamu
“Kami permisi dulu.” Suara Rio mengagetkan mereka semua, Rio, Beny dan Hermawan sengaja menunggui pak Ahmad, karena tadi hanya ada Meli dan Dean mereka tidak tega meninggalkan dua wanita itu sendiri.
“Terimakasih, kalian sudah mengantar papa kesini dan menungguinya.” ucap Dhani setenang mungkin sambil tersenyum ramah, walau hatinya sebenarnya sedang sangat kecau. Dhani kemudian menyalami mereka satu satu sebelum pergi meninggalkan rumah sakit itu.
***
“Ben, Rio kalian pulang duluan, dompetku tertinggal.“ Hermawan berbohong, kemudian pergi meninggalkan kedua temannya di mobil, Rio dan Beny tidak curiga sedikitpun dengan kebohongan Hermawan, mereka tahu laki-laki itu tidak pernah berbohong sebelumnya, tapi mereka salah sekarang.
“Kenapa kembali?” Dean menatap binggung melihat Hermawan berjalan kearahnya sambil tersenyum tipis.
“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendiri,” jawab laki-laki itu sambil tersenyum semakin lebar.
Hermawan melihat ke arah Meli dan Dhani yang tampak sibuk dengan pikiran masing-masing, walau keduanya diam, Hermawan tahu mereka sedang berdo’a untuk kesembuhan Ahmad, itu terlihat dari beberapa kali Dhani dan Meli mengusap wajahnya setelah menadahkan tangan.
Sekarang sudah jam sembilan malam dan keduanya masih setia berdiri di depan ruang oprasi menunggu waktu Ahma dipindahkan ke ruang perawatan.
“Sebaiknya kita membeli makanan untuk Meli dan Dhani, mereka pasti kelaparan.” bisik laki-laki itu kemudian menarik tangan Dean yang dari tadi juga diam tanpa mengatakan apapun.
Wanita itu hanya menurut walau ia merasa sedih karena sekarang Ahmad sakit tapi di sisi lain ia senang Wawan perhatian padanya dan keluarganya.
“Jadi apa yang kamu katakan tadi itu semuanya benar?” Hermawan bertanya, tentang ucapan Dean kepada Meli tadi. Dean mengangguk lemah sambil meminum jus jeruk “Maafkan aku, aku tidak tahu kamu mengalami semua itu.”
“Kalau kamu tahu memangnya kamu mau apa?” tanya Dean.
‘Aku akan menjagamu, tidak akan membuatmu menangis lagi, aku akan selalu ada untukmu.’ Hermawan ingin mengatakan semuanya, tapi suarahnya tertahan.
“Sudahlah, kamu juga tidak kalah menyedihkan dari ku, kedua orang tuamu meninggal di usiamu sepuluh tahun karena kecelakaan, bahkan kamu harus tinggal di asrama selama sekolah. Aku sangat yakin tidak ada satupun dari keluarga mu yang mengingat dan menginginkanmu.” jelas Dean dengan entang, lalu kembali meminum jus jeruknya.
‘Bagaimana Dean tahu semuanya tentang diriku?’ bahkan tentang keluarganya yang tidak mau mengasuh Hermawan setelah kecelakaan itu terjadi, Hermawan tidak ingin di katakan sebagai orang yang tidak memiliki perasaan, beberapa kali Hermawan memberikan bantuan diam-diam pada saudarah kedua orang tuanya tanpa sepengetahua mereka.
Walau pada awalnya Hermawan sempat marah pada mereka karena mengabaikanya selama ini, tapi Hermawan sadar mereka semua bukan orang berada bahkan untuk makan sehari-haripun susah apa lagi ditambah beban untuk mengurus Hermawan, sudah pasti mereka tidak akan mampu.
“Ini mbak pesananya.”suarah seorang pelayan mengagejutkan mereka.
“Cepat bayar.” Dean mengingatkan, tanpa di suruh dua kali Hermawan dengan cepat membayar pesanan mereka.
Hermawan setengah berlari saat melihat Dean yang sudah jauh meninggalkanya, sungguh Dean selalu bertingkah semau hatinya pada Hermawan.
***
“Dean, sebaiknya kamu dan suamimu pulang ini sudah malam.” Dhani menjelaskan, keduanya tampak mengangguk patuh, mereka berdua berpamitan pada Meli kemudian pulang.
***
Hermawan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ekor matanya melirik ke arah Dean yang terus memandang lurus ke depan dengan tatapan sulit di artikan.
“Pak Ahmad akan baik-baik saja,” ucap Hermawan memecah keheningan.
“Ya, Om akan baik-baik saja, dia tidak akan mati dengan mudah,” Dean tersenyum tipis.
“Seandainya aku mati, apa-?”
Hermawan mengerem mendadak saat mendengar gumama Dean walau sangat pelan tapi ia bisa mendengarnya.
“Apa yang kamu bicarakan, aku tidak suka mendengar orang yang memebicarakan kematian!”
Hermawan menatap Dean dengan tatapan kesal bahkan napasnya tersengal menahan emosinya.
“Bukankan semua yang hidup akan mati, itu sudah takdir Tuhan, kenapa kamu takut? Aku bahkan ingin secepatnya mengahadap Tuhan, agar aku tidak terus berbuat dosa di dunia ini lalu, kemudian aku bisa berkumpul dengan Dad dan Mom.”
***
Hermawan menatap lurus langit-langir kamarnya yang berwarnah putih, perkataan Dean tentang kematian terus terniang-niang di kepalanya, ia juga tahu semua yang hidup akan mati, tapi Hermawan tidak berharapa sekarang, setiap saat ia selalu berdo’a agar berumur panjang agar bisa bertobat atas dosa yang ia lakukan selama ini.
Dean bahkan terkekeh gemas setalah mengatakan semua ucapanya saat turun dari mobilnya, sedangkan Hermawan terus saja diam, ia tidak menganggap apa yang Dean ucapkan adalah candaan karena itu sama sekali tidak lucu.
‘Apa Dean tidak ingin hidup lebih lama dengan ku? Membangun rumah tangga kami dengan penuh cinta? Apa Dean benar-benar tidak menyukainku?’