Kiev Bhagaskara adalah selebriti lebih atas dari papan atas. Idola remaja itu telah bermetomorfosa sebagai pria idaman setiap wanita. Bukan hanya sukses menjadi musisi serta aktor profesional, pria itu berhasil merajai dunia bisnis dan disebut-sebut sebagai; The Celebrity CEO.
Sementara itu Rembulan Kivianisya mungkin merupakan supir truk paling menawan seantero negeri. Lain hal dengan Kiev yang bertemankan panggung megah, kilat kamera dan sorak penggemar yang bertalu, Kivia bersahabat dengan truk pengangkut hasil tambang, walkie talkie serta debu.
Sepuluh tahun yang lalu takdir memperkenalkan keduanya dalam sebuah pertemuan tak terduga. Dan di sanalah cerita mereka bermula.
----
ternyata kau bukan sekadar bayang yang singgah
kau menetap,
di sini
Inkina Oktari
The Celebrity CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inkina oktari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantai Jodoh
Pagi-pagi sekali, Kiev sudah siap untuk check out. Kemarin Kiev diajak oleh Pi'i bergabung dengan rekan kerjanya yang lain (Kivia, Pakde Bambang dan Mas Paijo) untuk menyambangi beberapa objek wisata di Banjarmasin. Sebelum sorenya mereka pergi jauh ke tempat kerja.
Kiev mengenakan jam tangannya dengan ponsel yang dijepit di antara telinga dan bahunya. "Iya, Bun. Iyaaa.... Nanti aku bilangin ke Kivia pesan Bunda."
"Oke deh. Jadi, kamu mau ke tempat kerja Kivia? Di Kota Baru?" tanya Dewi penasaran.
"Iya, Bun. Kota Baru. Kira-kira 5-6 jam lah dari Banjarmasin."
"Hm, iya deh Bunda ngerti. Ada yang bakalan betah banget di sana tuuh." Dewi begitu senang meledek putra semata wayangnya.
Kiev tertawa geli. "Yeee, tau aja."
Dewi juga tak kuasa menahan senyuman, tak menyangka Kiev akan berkata jujur seperti itu. "Terus project film kamu gimana?"
"Masih proses casting untuk pemeran utama wanita sama peran-peran yang lain, Bun."
"Perusahaan kamu?"
"Aku bisa handle dari jauh kok."
"Oke, Pak CEO. Semangat ya di sana. Hati-hati, jaga kesehatan. Bunda tunggu kabar baiknya ya...."
Meski merasa lucu atas harapan Bunda, tak pelak Kiev juga mengamini perkataan Bundanya itu. "Iya, Bun. Bunda juga sehat-sehat ya. Tidur yang cukup."
"Iya, anak Bundaaa."
Usai menelepon Bunda, Kiev memastikan bawaannya sudah siap dan tidak ada lagi yang ketinggalan. Hari ini Kiev tampak santai dengan kaos polo dan celana pendek selutut juga sneakers. Kiev memakai masker dan kacamata hitam. Lalu mengenakan topi baseball di kepalanya.
Setelah selesai dengan urusan check out, tepat saat Kiev keluar dari hotel, ponselnya berbunyi. Dari Kivia. Ya, mereka sempat bertukar nomor ponsel malam itu. Nomor gadis itu memang sudah berubah. Karena nomor lama Kivia telah tidak aktif bertahun-tahun yang lalu.
Kiev juga tak tau alasan mengapa Kivia hilang begitu saja dan memutuskan kontak dengannya. Mungkin nanti Kiev dapat menemukan jawabannya seiring waktu berjalan.
"Hei, Kiev. Arah jam dua." Suara lembut Kivia menyapa pendengaran Kiev. Lantas Kiev menoleh sesuai petunjuk Kivia dan ia langsung tersenyum ketika Kivia melambaikan tangan dari dalam Jeep yang dikendarai oleh Pakde Bambang.
Kiev tak menyangka Kivia dapat mengenalinya meski dengan topi, masker dan kaca mata hitam. Kiev segera masuk ke dalam mobil. Cowok itu duduk di bagian tengah bersama Kivia dan Mas Paijo. Sedangkan Pi'i bersama Pakde Bambang di depan.
"Ke mana tadi?" Kiev menoleh pada Kivia, memastikan nama tempat tujuan yang diperbincangkan oleh Pakde Bambang dan Pi'i.
Kivia menyimpan buku Madilog karya Tan Malaka ke dalam tasnya lalu mendongak menatap Kiev. "Pantai jodoh."
"Kita mau ke pantai?" tanya Kiev bingung.
Kivia mengulum senyum. "Liat aja nanti."
Matahari masih belum terlalu menampakkan diri. Hampir pukul 6 pagi, mobil Jeep berhenti di objek wisata Pantai Jodoh. Jaraknya cukup dekat dari hotel tempat Kiev menginap.
"Jadi tempat ini namanya Pantai Jodoh tapi sebenarnya bukan pantai?"
Kivia mengangguk. "Iya, disebut pantai mengacu ke tepian dan ini tepian Sungai Martapura. Kalau jodoh...."
"Soalnya banyak orang ketemu jodoh di sini," timpal Pi'i.
"Interesting." Kiev melengkungkan senyuman dan mata Kivia seperti bulan sabit ketika balas tersenyum.
"Nah ini namanya patung Bekantan," jelas Pi'i. Kiev memandangi patung Bekantan, monyet hidung panjang, fauna khas Kalimantan.
Mereka mengambil foto di sana sebagai kenang-kenangan. Kiev berbekal kamera di lehernya tak bisa berhenti memotret objek menarik yang ada di tempat itu. Tentunya, Rembulan Kivianisya yang juga tak luput dari jepretan kameranya. Ah, ya. Ada bulan yang belum kembali ke peraduan menemaninya.
lanjut? komen dulu dooong 😁😁😁😁
romance.thriler.entertainer
ada unsur budaya kalimantan
pokoknya komplit
alurnya bagus
makasih