Novel berseason
Season 1
1. Terpaksa menikah dengan duda muda
menceritakan kisah lala, anak sma yang harus menggantikan kakak sepupunya untuk menikahi suami dan juga merawat anaknya. Awalnya Dimas tak mencintai Lala, tapi seiring berjalanannya waktu dia mulai khawatir dan mencintai lala.
2. Ara-Alex Version.
Season 2 dari kisah ini menceritakan Ara, anak sulung Dimas yang terpaksa menikah dengan Alex. Duda beranak satu, Ali. Cek buku di diprofil ya guys.
3. My Baby.
Versi Lia dan Ali. Lia adalah kembaran Lio, anak Ara dan Alex yang awalanya dipaksa menikah dengan Nathan, yang tak lain adalah Ali yang mengalami kecelakaan pesawat bertahun-tahun silam. Ali ingin membalas dendam tapi dia malah jatuh hati pada Lia. Cek lebih lengkap diprofil guy.
Ada juga kisah cinta Bastian. Mantannya Lala dan kisah seru lainnya. Langsung cek diprofil aku aja ya guys.
Sekian dan terimakasih. Semoga kalian suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN DIMAS?
Setelah mendengar cerita panjang dari bibik, Lala ingin sekali melihat Dimas. Lala juga ingin melihat Ara, yang terakhir kali dia ingat Ara tidur disampingnya, tapi setelah dia bangun Ara tak ada.
"Mbak Lala, hati-hati ya naik keatasnya." pesan bibik yang tadinya mau antar ke atas, tapi Lala tolak. Memang Lala anak-anak harus dituntun ke atas.
"Iya bik. Lala udah gak papa kok." Lala tersenyum meyakinkan bibik. "Bik, Lala laper. Nanti buatin Lala makanan ya, jangan nasi. Roti, telur, atau apa aja." Pinta Lala sebelum pergi.
Bibik sibuk membuatkan makanan untuk Lala. Sementara Lala sudah sampai dilantai dua. Lala melihat ke kamar Ara. Lala melihat Ara yang sudah cantik, ganti baju dan tertidur pulas di tempat tidur khususnya. Lala melirik kamar Dimas, bahkan dari bawah Lala bisa mendengar suara musik dari kamar Dimas. Lala pikir mungkin Dimas belum tidur. Lala ingin ke kamar Dimas lewat pintu yang menghubungkan kamar Dimas dan Ara, tapi pintunya di kunci.
"Kenapa di kunci, biasanya enggak."
Lala jadi harus keluar dan masuk lewat pintu depan kamar Dimas. Perlahan Lala membuka pintu kamar Dimas. Lala melihat Dimas yang sudah tertidur pulas, tanpa selimut.
Lala memutuskan masuk, perlahan berjalan mendekati tempat tidur Dimas. Lala mencari ponsel Dimas dan mematikan lagunya. Lala beralih pada Dimas yang tidur tanpa selimut. Lala menarik selimut dan menyelimuti Dimas.
"Semoga kita lebih dekat karena anak ini." Lala berbicara pada Dimas yang masih tertidur. Lala mengusap perutnya lagi.
Lala baru akan pergi, tapi tangannya yang baru saja menyelimuti Dimas, ditahan oleh Dimas tiba-tiba. Lala terdiam kaget, dia kira Dimas mungkin terbangun karenanya. Lala perlahan menoleh ke belakang.
"La, aku sayang sama kamu. Aku sakit liat kamu kesakitan tadi. Aku gak tega." Dimas mengigau. Lala tersenyum mendengarnya. Perlahan Lala melepaskan tangan Dimas yang menggenggam tangannya.
Lala turuh dengan perasaan bahagia. Lala kembali ke dapur untuk makan. Bibik masih menunggu Lala disana. Malam itu Lala makan dengan lahap. Bibik senang melihatnya. Lala juga selalu tersenyum mengingat ucapan Dimas yang mengigau, bibik yang penasaran meminta Lala untuk menceritakannya. Lala sudah menganggap Bibik seperti orang tuanya. Lala pun menceritakannya. Bibik turut berbahagia mendengarnya. Lala tak sabar memberi kejutan pada semua orang, terutama dua sahabatnya.
-
Pagi ini Lala sangat bersemangat ke sekolah. Lala sudah makan roti dan susu untuk meminum obatnya. Lala bingung, niatnya mau nunggu Dimas sama Ara, setelah kemarin Lala pikir Dimas sudah tak marah, tapi Lala masih takut. Lala berhenti didepan tangga menuju atas, dia melamun memikirkan akan naik... tapi Dimas.
"Mbak Lala ngapainn?" Bibik menghampiri Lala yang sejak tadi berdiri menatap ke atas.
"Emm.. bibik, Lala pengen ikut sarapan sama Mas Dimas sama Ara. Mas Dimas masih jauhin Lala gak ya?" Bibik diam tak menjawab.
Sampai terdengar satu langkah. Lala takut, takut Dimas masih ingin menjauhinya. Lala langsung lari ke dapur.
"Mbak Lala jangan lari-lari.." Bibik berteriak mengingatkan Lala. Lala tak bisa memikirkan cara lain selain kabur dari Dimas. Takut dia masih marah aja. Belum berani tatap muka langsung.
"kenapa bik?" Dimas sampai dianak tangga paling bawah, satu langkah lagi menuju bibik. Dimad bertanya pada bibik apa yang terjadi sampai bibik teriak-teriak.
"Itu mas, mbak lala ..." Bibik melirik ke dapur. Tempat Lala sembunyi. "Mbak Lala lari denger langkah kaki mas dimas. Tadinya Mbak lala mau bangunin mas dimas, tapi takut mas dimas masih marah sama mbak lala. Mbak Lala juga pengen sarapan bareng sama mas dimas. Boleh mas?" akhirnya bibik yang mewakili isi hati lala, yang ingin sekali bertanya pada dimas, tapi takut.
"Oh.. bilangin ke Lala jangan lari-lari ya bik. Tante kinta bilang kandungan Lala belum terlalu kuat. Jangan melakukan kegiantan yang terlalu berat sama capek." Dimas tak mengatakan Lala boleh makan dengannya atau tidak, dia malah berpesan pada bibik agat lala lebih hati-hati.
Lala yang ada di dapur mengintip dan menguping dari sana. Dapur bersihnya tak terlalu jauh dari sana. Lala tersenyum mendengarnya.
"Iya mas." Bibik mengangguk mengerti.
Wiwin turun dengan Ara. Wiwin menggendong Ara yang baru mandi, wangi dan sudah cantik.
"Pagi sayangnya papaaa..." Mendengar langkah kaki turun Dimas langsung menoleh. Dia menunggu Wiwin hingga ada didekatnya. Dimas menyapa Ara yang ada digendongan Wiwin. Dimas mencium pipi Ara untuk mengucapkan selamat pagi.
"Makasih ya Win udah jagain Ara dengan baik." Kata Dimas tersenyum manis pada Wiwin.
Lala yang melihat itu, menarik nafas sesak, rasanya tiba-tiba saja dadanya sesak, nafasnya tercekat. Kenapa Dimas semanis itu pada Wiwin juga? dulu ketika Lala menjaga Ara dengan baik juga sama manisnya pada Lala. Tapi sekarang karena ada wiwin yang menjaga Ara dengan baik..
Lala meremas dadanya yang sangat sesak melihat itu. Dimas duduk di ruang makan, dengan Ara yang ditemani Wiwin. Persis seperti Lala dulu, sarapan bertiga. Seakan Wiwin sudah menggantikan posisi Lala. Lala sakit melihatnya.
Setelah selesai makan Dimas berangkat. Bibik membawakan tas dan jas Dimas. Dimas memakai jasnya sendiri. Wiwin mengikuti Dimas membawa Ara mengantar Dimas keluar.
Lala keluar dari dapur dan melihat semuanya. Harusnya itu Lala... Bibik menepuk pundak Lala dan menyadarkan Lala dari lamunannya menatao Dimas dan Wiwin, Wiwin yang sepertinya, menggantikan posisi Lala. Akankah segampang itu Lala tergantikan mas dimas? seperti Lala tak sengaja menggantikan posisi mbak tania? Lala mengerti, rasanya sangat sakit. Mungkin ini yang tania rasakan makannya dimas kekeh menjaga jarak dengan lala, agar tal menyakiti hati tania yang dulu sangat dia cintai.
Mobil dimas keluar dari halaman rumah. giliran lala yang pergi. Lala berpamitan dengan bibik dan Ara, menciumnya sebelum pergi. Lalu naio taxi, bibik melarang Lala untuk naik ojek atau angkutan umum yang ramai. Harus taxi yang dirasa lebih aman. Lala juga gak mau melukai calon bayinya. Lala berangkat ke sekolah.
-
Pipit baru saja sampi dengan Rio. Pipit yang melihat Fitri jalan sendirian langsung meninggalkan Rio yang masih memarkirkan motornya.
"Fit, ke kelas bareng ya. Takut lupa arah ke kelas.." Pipit merangkul lengan Fitri dengan manja. Memang sahabatnya itu yang paling agak lola sih, tapi dia yang paling manis dengan sahabatnya. Paling perduli dan gak bisa marah sama kedua sahabatnya.
"Eeee... otak lo sih isinya Rio muluuu." Fitri malah balik mengejek Pipit. Pipit hanya manyun lalu tersenyum.
"Emang bener sih." Mereka masuk ke kelas sama-sama. Rio yang dibelakang berlari menyusul kekasihnya.
Lala baru sampai didepan gerbang sekolah. Lala keluar setelah membayar taxinya. Tino baru memarkirkan motornya, dia akan ke kelas tapi Tino melihat Lala sendirian. Tino berjalan menemui Lala.
"Hai La. Gimana? gue kan udah putus sama Fitri. Jadi kita bisa kan jadian. Lagian Fitri juga udah tau semuanya kan?" Tino mengikuti Lala. Lala hanya diam dan mencoba mengabaikannya.
"Hayo lah La. Lo gak ada alasan lagi buat nolak gue!" Tino yang kesal tak dianggap Lala menahan tangan Lala. Langkah Lala terhenti.
"Ada. Gue gak cinta sama lo tino!" Lala mencoba menepis tangan Tino dan kembali berjalan.
"Basik. Lo juga dulu bilang gitu. Tapi gue tau lo ngalah kan buat fitri." Tino kembali mengejar Lala dan menarik tangan Lala untuk menahannya. Bahkan kali ini genggaman Tino jauh lebih kuat. Lala kesulitan untuk melepaskan diri dari Tino.
-
hihh.. nih orang kagak kapok2
harus dikasih tau lu soal dimas biar menjauh
tapi nanti ketahuan semuanya
satu sekolah tau
guru tau kek mana?
makasih selalu buat yang udah baca, like, komen yang lucu2. hihii... dan votenya. makasih banyak.
lala merasa tidak enak pada bastian tapi lala sama sekali tidak peduli sama perasaan suaminya
hebat pemikiran mu Thor, hebat sekali
dari sini bisa disimpulkan Thor pola pikir mu kau lebih mementingkan perasaan pria lain dari pada perasaan suami mu
pola pikir kayak gini kau bawa kedalam novel, dan kau bangga
miris
Nunggu 40 hari aja dah jumpalitan lha ini 1 atau 2 th.
Ga kuku😂😂😂