Demi menghindari rentenir kejam yang hampir melecehkannya, Raisa terpaksa meninggalkan kekasihnya Yudha dan memilih merantau ke Kota metropolitan.
Raisa mengikuti jejak temannya bekerja di kelab malam, tanpa diduga Raisa bertemu dengan seorang pengusaha muda angkuh dan berwatak dingin yaitu Dava. Pertemuan itu membawa mereka pada kontrak pernikahan.
Bagaimana rumah tangga Raisa dan Dava yang diawali tanpa ada cinta?
Pada siapa akhirnya cinta Raisa akan berlabuh? Dava atau Yudha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
25
Dava sengaja pergi ke kantor ketika Raisa masih tidur, mengingat kejadian malam tadi membuat ia malu untuk bertatap muka dengan Raisa.
"Kau mau tetap berdiri di situ? Morgan membuyarkan lamunan Dava. Pria itu sudah berada di dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke ruangan di lantai atas.
Aura permusuhan antara mereka begitu jelas terlihat, Dava tidak gentar ia tetap masuk ke dalam lift tanpa takut sedikit pun.
"Kau menikah untuk membalasku," decih Morgan tanpa melihat Dava. "Lihat, aku sudah mendapatkan Fana, cintanya dan tubuhnya sudah aku miliki dan aku sentuh sesuka hati."
Hati Dava memanas, tapi ia berusaha menahan emosinya. Dia tahu Morgan hanya memancingnya saja. Apa lagi ini hari pertamanya bekerja di posisi yang baru.
"Fana mengakui kehebatanku terutama ...." Morgan menjeda kalimatnya, ia sengaja menghadap Dava lalu berkata di telinganya. "Di atas ranjang, kau bahkan tidak ada apa-apanya."
Dava mengepalkan tangan, itu suatu hinaan yang menjijikan untuknya.
"Aku ragu ... apa istrimu itu puas deng---
"Brengsek!!"
Bug!!!
Kesabaran Dava habis, ia tidak membiarkan Morgan menghinanya. "Tutup mulutmu yang kotor dan menjijikan itu!" teriak Dava setelah menghantam wajah Morgan, dia meraih kerah kemeja Morgan lalu di hempaskan ke luar ketika pintu lift sudah terbuka. Morgan tersungkur di sana.
"Kau dan Fana adalah dua manusia yang paling menjijikan. Dan kau harus tahu aku tidak pernah iri dan mau tahu apapun tentang kalian berdua!!
Dava menunjuk Morgan lalu menekan tombol lift kembali ke lantai dasar.
Dava tidak habis fikir mengapa Fana dan Morgan selalu mengusiknya, bahkan tidak malu mengungkapkan hal sensitif tentang hubungan suami istri.
Mobil yang dikemudikan Dava telah sampai di carport mobil, ya dia kembali ke rumah dengan pikiran kacau dan hati yang panas. Baginya mustahil dia tidak bisa memuaskan seorang wanita di atas ranjang.
"Tuan Dava sudah pulang?" Bi jum melihatnya heran karena memang ini masih jam kantor.
"Hm...di mana dia?" tanya Dava.
"Nona Raisa ada di kamar, Tuan."
Dava menganguk lalu kembali bicara, "Bibi kembalilah kerumah belakang." Dia pergi tanpa mendengar jawaban dari bik Jum.
"Pengantin baru sudah pasti mau menghabisakan waktu berdua," gumam bibi lalu dengan semangat keluar meninggalkan rumah utama.
Ceklek....
Begitu membuka pintu kamar Dava sejenak terpaku melihat Raisa duduk di kursi menghadap meja riasnya, rambut wanita itu tergerai indah, dress yang telah ia siapkan membalut tubuh ramping Raisa. Melihat Raisa seperti ini membuat hasr atnya muncul lagi. Apa lagi ucapan Morgan masih berputar di otaknya.
"Mas Dava sudah pulang?" tanya Raisa setelah menyadari kehadiran Dava.
Dava tidak menjawab, dia berjalan mendekati Raisa sembari membuka dasi yang melilit di kerah lehernya, lalu membuka satu per satu kancing kemejanya.
Raisa menelan ludah melihat Dava membuang kemejanya sembarang arah, kini tubuh kekar suaminya itu hampir polos di matanya.
"Ma-Mas mau mandi? Aku siapkan air hangat, ya." Raisa jadi salah tingkah, dia teringat kejadian malam tadi, belum sempat dia pergi Dava sudah meraih tangannya sampai mereka berdiri berhadapan.
"Aku sudah tidak bisa menahannya dan aku butuh bantuanmu." Dava meraih dagu Raisa lalu mencium bibirnya, dia tidak membiarkan Raisa menjauh.
Apa yang dilakukan Dava membuat Raisa terkejut setengah mati, tapi anehnya dia tidak berusaha menghindar malah membiarkan Dava menciumnya. Ciuman Dava membuat sekujur tubuh Raisa merinding.
Seperti mendapat angin segar, Dava menggiring Raisa ke ranjanjang. Dia juga semakin memperdalam ciuman yang sudah menjadi candunya.
Dada Raisa bergemuruh hebat, dia juga tidak tahu mengapa tidak berniat memberontak, padahal dari awal dia tahu kalau pernikahan ini hanya sementara dan dia juga sedang berusaha menjaga kesuciannya.
"Mas...jangan," lirih Raisa ketika ciuman mereka terlepas, tangan Dava berusaha membuka resleting di bagian punggung Raisa.
"Aku menginginkanmu, Raisa ... aku tidak bisa menahannya lagi. Apa kamu takut?"
Raisa menggangguk.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Dava, dia tidak bisa memaksa Raisa, tapi tidak bisa juga melepaskan Raisa sekarang.
"A-aku takut kamu kecewa." Raisa menggigit bibir bagian dalam, gugup, bingung dia rasakan, apa lagi ucapan Fana waktu itu masih jelas di ingatan. Juga masih ada nama Yudha di hatinya.
Dava mengerti ucapan Raisa, dia pikir Raisa pasti sudah tidak suci lagi. Tapi, melihat Raisa menggigit bibirnya sungguh membuat sesuatu di bawah sana semakin memberontak.
"Kenapa harus kecewa? Mau seperti apapun hubungan kita, kenyataannya kamu istriku." Dava mencium bibir Raisa tanpa bisa dihindari wanita itu.
lanjut kakakakk...
💖💖💖💖
Raisa beda loh mas Dava dr cewe2 yg lain 😁