NovelToon NovelToon
Bukan Istri Pilihan

Bukan Istri Pilihan

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:103.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: jasmine murni

Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.

Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.


"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.


Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Maya bener hamil

Satu jam setelah suaminya pergi, Maya keluar dari kamarnya hendak menuju ke dapur.

"Mau masak apa, ma? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Maya sopan.

Mama mertuanya hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya memasak.

"Aldo bilang kamu sedang sakit. Jadi lebih baik kamu istirahat saja," jawab Mama mertuanya tanpa menoleh ke arah Maya.

"Tidak apa-apa, ma. Sekarang sudah agak mendingan kok. Tadi sudah minum obat sakit kepala," jawab Maya.

"Sudah terserah kalau begitu," sahut Mama mertuanya acuh tak acuh.

Maya pun mulai membantu mama mertuanya itu memasak. Pada saat Maya disuruh untuk menumis sayur dan baru saja Maya memasukan potongan bawang ke dalam minyak panas, Maya tiba-tiba ingin muntah. Wanita itu langsung menoleh ke arah Mama mertuanya.

"Maaf, ma. Kepalaku tiba-tiba pusing dan perutku tidak enak," ucap Maya sembari memegangi kepala dan perutnya.

Sebenarnya dia merasa tidak enak hati jika tidak membantu mama mertuanya itu masak tapi rasanya dia sudah tidak tahan.

"Sudah sana tadi katanya mau bantu sekarang malah sakit lagi," sahut Mama mertuanya ketus.

Karena memang sudah tidak tahan lagi, Maya tidak mempedulikan ucapan mama mertuanya. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dekat dapur. Maya menutup pintu kamar mandinya rapat-rapat lalu memuntahkan isi perutnya di wastafel hingga beberapa kali. Setelah puas, Maya lalu mencuci mulut dan wajahnya dengan air keran.

Kepalanya pun masih terasa berdenyut-denyut. Setelah mulai enakan, Maya lalu keluar dari kamar mandi. Mama mertuanya masih sibuk memasak.

"Mama, maaf apa aku boleh kembali ke kamar dulu, kepalaku pusing sekali," ucap Maya lemah.

"Sana!" sahut mama mertuanya ketus.

Maya yang tahu jika mama mertuanya kesal padanya akhirnya memaksakan diri untuk tetap membantu, "Aku bantu membersihkan sayuran saja ya, ma ,"ucap Maya.

"Tidak perlu," jawab Mama mertuanya cepat.

Maya menghela nafas panjang. Maya memang jarang membantu Mama mertuanya itu memasak karena Maya bekerja mengajar di pondok pesantren milik orang tua Farel. Maya tidak berani kembali ke kamarnya. Walaupun Mama mertuanya menolak dibantu namun Maya tetap berada di dapur, mengerjakan apa saja yang dia bisa.

Melihat cucian piring menumpuk di wastafel, Maya berinisiatif untuk mencuci piring saja daripada dia tidak mengerjakan apapun. Maya berpikir Mama mertuanya pasti akan lebih kesal lagi. Tanpa suara Maya mulai mencuci piring kotor yang ada di wastafel. Karena bau masakan yang sedang dimasak Mama mertuanya, kembali perut Maya merasakan mual dan kepalanya pun semakin pusing.

Ingin rasanya Maya kembali ke kamar mandi tapi dia merasa kalau mama mertuanya masih marah karena memasak dengan berisik sekali. Tidak seperti biasanya kalau sedang masak selalu pelan dan santai.

Tiba-tiba Maya duduk berlutut dengan berpegangan pada sisi wastafel. Kepalanya benar-benar pusing.

"Kamu kenapa, Maya? Kalau tidak mau membantu saya ya sudah, kamu kembali saja ke kamar. Tidak usah seperti itu!" ucap mama mertuanya dengan pandangan sinis.

"Ma-maaf, ma. Aku pusing banget."

"Mengeluh terus kamu dari tadi. Sudah saya bilang kembali ke kamarmu sana. Masih saja pura-pura mau bantu saya."

"Hhmm, ma. Aku. . ."

"Terserah kamu!" sahut mama mertuanya ketus lalu kembali sibuk memasak. Tidak di pedulikannya Maya yang memang sedang tidak enak badan.

Maya akhirnya memilih kembali ke kamarnya. Wanita itu berjalan dengan tertatih sembari memegangi kepalanya yang pusing dan juga perutnya yang mual namun masih bisa dia tahan.

Sampai di kamar, rasa di perut dan kepalanya makin parah. Wanita itu jatuh pingsan tepat di depan pintu kamarnya yang baru saja dia buka.

Beberapa saat kemudian. Sayup-sayup Maya mendengar seseorang memanggil namanya.

"Maya. May. . ."

Maya pun perlahan membuka matanya. Setelah sepenuhnya membuka mata, wanita itu langsung bangkit dari tidurnya dengan posisi duduk.

"Mas. . . ?"

"Mas temukan kamu di lantai. Kamu pingsan, hmm?" tanya Aldo lembut.

"Tadi kepalaku pusing banget. Perutku juga tidak enak. Entah tiba-tiba pandanganku jadi kabur, mas," jelas Maya lirih.

"Kita ke dokter, ya? Kita periksa kamu sakit apa sampai pingsan begini."

Maya mengangguk setuju, "Iya, mas."

"Kamu ganti dulu pakaiannya. Mas pesan taksi dulu," ucap Aldo yang langsung memesan taksi melalui aplikasi di handphonenya.

Maya pun segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas. Setelah itu dengan di bantu suaminya, mereka pergi keluar rumah menunggu taksi datang.

"Mau kemana kalian?" tanya mama Aldo dengan tatapan mengintimidasi.

"Kita mau ke dokter, ma," jawah Aldo.

"Hmm, sakit dikit saja ke dokter," ucapnya sinis.

Aldo terus saja berjalan ke arah pintu sembari menggandeng istrinya. Taksi sudah tiba di depan rumahnya.

"Kamu kuat kan?"

Maya mengangguk pelan, "In Sya Allah, mas," jawab Maya.

"Klinik Bunda ya, pak," ucap Aldo pada sopir taksi.

"Kok klinik Bunda, mas?" tanya Maya heran.

"Klinik itu yang terdekat dari sini. Tidak apa-apa, kan?"

Maya mengangguk, "Iya, mas. Terimakasih ya, mas sudah pulang cepat hari ini."

Aldo tersenyum sambil menatap lembut istrinya itu, "Tadi mas telepon kamu tapi tidak di jawab-jawab. Telepon mama juga tidak di jawab jadi mas khawatir."

"Oh begitu."

Tak berselang lama, taksi pun sampai di klinik. Aldo segera membayar tagihan taksi lalu bergegas membawa istrinya masuk ke klinik.

Setelah mendaftar, mereka lalu menunggu di ruang tunggu. Wajah Maya masih sedikit pucat.

"Kamu pasti belum makan, ya? Tadi kan kamu muntah."

Maya menangguk pelan, "Iya, mas. Perutku pun masih terasa tidak enak."

"Sabar, ya," hibur Aldo sembari mengusap lembut punggung istrinya.

Tak perlu menunggu lama, Maya pun di panggil masuk ke ruang praktek.

"Silahkan masuk, bu Maya," ucap suster ramah.

Maya dan Aldo pun masuk ke ruang praktek.

"Selamat siang, bu Maya," ucap dokter Rini dengan ramah.

"Selamat siang juga, dokter."

Setelah berbincang-bincang sejenak, Maya lalu di minta naik ke tempat tidur yang sudah di siapkan di ruang praktek untuk di periksa.

"Kita USG saja ya di ruangannya dokter Karin," ucap dokter Rini.

"USG?" tanya Maya kaget.

"Iya, bu Maya. Sepertinya bu Maya sedang hamil," jelas dokter Rini.

"Hamil, dok?" tanya Maya dan Aldo hampir berbarengan.

Dokter tersenyum, "Iya. Nah di ruangan dokter Karin bisa USG sekaligus periksa kehamilan dengan beliau," jelas dokter Rini.

Aldo reflek merangkul bahu istrinya mesra. Maya pun tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.

Mereka lalu pergi ke ruangan dokter Karin.

Maya lalu di minta berbaring di atas tempat tidur untuk melakukan USG.

"Kita lihat ya, bu," ucap dokter seraya menekan-nekan perut Maya dengan alat yang sudah di olesi gel yang terhubung ke layar monitor.

Maya dan Aldo fokus ke layar monitor. Di sana tampak bulatan kecil.

"Nah, itu dia janinnya," jelas dokter Karin.

Aldo dan Maya saling berpandangan, "Saya beneran hamil, dok?" tanya Maya seakan tidak percaya.

"Iya, bu. Dan usianya sekitar empat minggu."

"Alhamdulillah," ucap Maya dan Aldo hampir berbarengan. Aldo lalu menggenggam erat tangan istrinya itu.

"Ini masa yang sangat rawan ya, bu. Harus ekstra hati-hati dan benar-benar di jaga. Melihat kesehatan ibu saat ini, sebaiknya ibu istirahat dulu dan jangan melakukan pekerjaan apapun."

"Hhmm, baik bu dokter."

***

Tiba di rumah setelah turun dari taksi, dengan lembut, Aldo menggandeng istrinya masuk ke rumah menuju kamar mereka.

"Sakit apa istri kamu?" tanya mama Aldo sembari menatap Maya dari ujung kaki sampai ujung rambut saat mereka berpapasan di ruang tamu.

"Aku antar Maya ke kamar dulu, ma," jawab Aldo.

"Manja banget sih," sahut mama Aldo ketus.

Maya hanya menunduk saja tanpa bicara apa-apa. Sampai di kamar mereka, Aldo lalu membaringkan istrinya di atas tempat tidur.

"Kamu istirahat saja, ya. Jangan banyak pikiran. Mas keluar sebentar," ucap Aldo lalu keluar dari kamar setelah mencium dahi istrinya lembut.

Di ruang keluarga di mana mamanya sedang menonton televisi, Aldo mendekat lalu ikut duduk di sofa.

"Kamu belum makan siang, kan? Apa makan siang di luar? Jangan terlalu memanjakan istri dan terlalu boros," ucap mama Aldo sinis.

"Hhmm, ma. Baru kali ini Aldo memanjakan Maya. Itupun karena istri Aldo itu sedang hamil muda dan kesehatannya menurun," jelas Aldo pelan.

"Apa? Maya hamil? Yang benar, kamu?"

"Masa Aldo bohong, ma?"

"Hhmm, Alhamdulillah kalau begitu. Mama jadi tidak di gunjing lagi oleh ibu-ibu di sini karena istri kamu yang tidak kunjung hamil itu," ucap mama Aldo.

"Mama. Kenapa harus mikirin omongan orang, sih? Pantas saja mama jadi suka ketus sama Maya," ucap Aldo kecewa dengan sikap mamanya.

"Ah kamu ini. Bagaimana mama nggak ketus sama istri kamu itu. Masa teman-temanya yang lain sudah hamil tapi Maya belum."

"Ma, bukan hanya Maya yang belum hamil. Lagipula sekarang Alhamdulillah istri Aldo sedang hamil muda dan Aldo tidak akan menyuruhnya bekerja lagi."

"Di jaga yang bener. Sudah susah hamil gitu!" ucap mama Aldo

Aldo menghela nafas panjang, "Maya baru bisa hamil itu bukan karena dia yang susah hamil. Semua bukanl1ah kesalahannya, ma. Tapi kesalahan Aldo," ucap Aldo pelan namun dengan penekanan di setiap kata-katanya.

"Loh, kenapa bisa salah kamu?" mama Aldo tidak terima.

"Jelas salah aku, ma. Jadi tolong jangan mikir semua salah Maya. Karena dia sama sekali tidak salah."

"Huuhh, kamu itu bucin sama si Maya? Atau kamu ada penyakit? Di keluarga kita semua sehat, kok!"

Aldo mengusap wajahnya kasar, "Karena memang Aldo yang baru menyentuhnya satu bulan ini, ma," jelas Aldo dengan suara lirih. Bahkan dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Apa kamu bilang?" mama Aldo kaget.

Aldo mengangguk pelan.

"Kamu tidak bohong, kan? Bagaimana bisa? Kalian menikah sudah lebih lima bulan."

"Hhmm, iya, ma. Aldo yang salah. Aldo bukan suami yang baik. Jadi tolong jangan salahkan Maya lagi. Dia sudah cukup Aldo buat sedih selama ini."

"Bisa-bisanya kamu, nak. Kamu menikah atas pilihan sendiri malah kamu zalimi anak orang!" ucap mama Aldo emosi.

"Hhhmm, Aldo ke kamar lagi, ma," pamit Aldo lalu bangkit berdiri meninggalkan mamanya yang menatapnya dengan marah.

"Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu, Aldo. Mama sudah berpikir yang tidak-tidak dengan istrimu itu. Huhh!"

1
Eliani Elly
👍
Rodiyah Rosyal
bagus.
lovely
mau baca tapi sepertinya gantung🤔
Nunung
Kapan mau up nya thor dh lama nih belum up juga kangen keromantisan dan kemersraan farrel ma sarah
Hayati Nupus
ini novel gimna sih g jelas bgt..g ada klanjutannya bikinnya nanggung gini
Authophille09
adohh farel kok PLIN plan sekali, kalo mmg blm bis kepastian Yo jangan mulai baperin anak orang toh le🤦
Authophille09
Ayo Aldi, kamu pasti bisa move on💪💪
Authophille09
sabar Sarah, orang sabar di sayang Tuhan. urusan jodoh udh ada yg ngatur, tinggal gmn kita jalaninnya aja.
Authophille09
holla kak, dua episode udah aku lewatin nih. kuy mampir di "Janji Aksara" kita kenalan sama bang Arka dkk.
Authophille09
holla kak Sarah👋 babang Arka mampir nih, bawa paket lengkap juga🤭 fav,vote, like dan koment lengkap.
Hayati Nupus
ka kpan lanjutannya..apakah sudah tamat
bunda Akram/Aqilah
sehat slalu buat author...
tetap semangat up'nya
Farida Wahyuni
itu amalia kapan pulang ke asalnya? mengganggu bgt sih. bete kalau ada bibit2 pelakor.
bunda Akram/Aqilah
smoga bener2 hamil si sarah
Riyanti Riri
sarah hamil ...
semangat thor...biar crazy up ya
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
Hamil sarah
Siti Nurlaela
udah lama nunggu pas ada dikit amat
Mama Garnis
dikit bbgt up nya
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘreedha
☠️⃝🖌️M⃤
Berharap jadi awal yang baik untuk Sarah dan Farel...semoga...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘreedha
☠️⃝🖌️M⃤
Sakitnya hati jika ada di posisi Sarah...😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!