Slow update..
Athifah Farihan cantik dan periang, dua kata yang pertama kali orang lihat dari gadis tersebut, terlahir dari keluarga sederhana, membuatnya harus putus sekolah dan membantu perekonomian keluarga demi kedua orang tuanya
Muhamad Ahnaf Baqir tampan dan shalih, berasal dari keluarga yang cukup berada tak membuatnya sombong, di tambah dirinya sebagai lulusan salah satu pesantren membuatnya tidak pernah membedakan orang dari derajatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terguncang
Setelah urusan bersama Chandra selesai dan berakhir di tangani oleh polisi, Thifah yang menjadi saksi kunci tidak dapat memberikan keterangan karena masih syok dan terguncang, akhirnya Sezha yang saat kejadian itu berlangsung berada di sana dan menyaksikan langsung ia pun menjadi saksi memberatkan Chandra
Naf tidak ikut ke kantor polisi, ia memilih tinggal menemani sang istri di rumah karena Thifah tidak bisa di tinggal untuk saat ini, ketika dia terbangun dari tidurnya selalu teriakan yang kaluar dari bibirnya
Dan setiap Naf mendekatinya selalu berujung penolakan, di mata Thifah setiap laki laki yang mendekat itu adalah Chandra yang berusaha melecehkannya, Naf sangat tersiksa melihat istrinya menderita seperti itu bahkan ia tidak bisa menyentuh dan memeluk istrinya
Hari ini Naf tidak ke kantor setelah dia menghubungi teman kantornya mengatakan bahwa ia tidak dapat ke kantor sebelum Thifah kembali seperti dulu, untung teman temannya sangat mengerti dan tetap melibatkannya di dalam team meski Naf bekerja dari rumah dan ia juga sangat beruntung memiliki bos yang sangat baik mengijinkan ia bekerja dari rumah
"Sayank, makan dulu ya" Naf meletakan nampan berisi nasi goreng dengan telor mata sapi di atasnya tak lupa segelas air putih di sampingnya
Thifah mundur perlahan melihat Naf mendekat ke arahnya saat ini, dia mengambil bantal di sampingnya dan melempar ke arah Naf
"Pergi, jangan dekati saya" teriak Thifah
"Sayank ini mas, bukan orang jahat," Naf masih berusaha mendekati Thifah yang sudah beringsut mundur dari tempat tidur
"Pergi... " Thifah meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya
Naf menghela napas berat, dia mengalah dari pada istrinya makin ketakutan lebih baik ia pergi dari hadapannya. Sebelum benar benar keluar dari kamar Naf berbalik melihat istrinya kembali yang masih terlihat ketakutan
Air mata Naf tidak dapat di tahan lagi, sebagai laki laki dia merasa gagal melindungi gadis yang ia cintai, dan sebagai suami yang seharusnya berada di samping istrinya saat ini ia tidak bisa memeluk dan menenangkannya. Baru kali ini Naf merasa hidupnya serasa tidak berguna sama sekali
"Thifah gimana keadaannya mas" tanya Sezha saat ia masuk ke dalam apartemen Naf dan sudah di persilahkan Naf lebih dulu
"Masih belum ada perubahan mbak, bahkan dari pagi dia belum mau makan sama sekali" jawab Naf lesu
"Biar saya yang coba membujuk Thifah siapa tau mau makan"
"Iya silahkan mbak, mudah mudahan Thifah mau makan kalo mbak yang bujuk" mata Naf berbinar dia sangat berharap banyak pada sahabat istrinya itu
Tanpa menunggu lama, Sezha langsung masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Thifah. Ia ikut perihatin melihat kondisi gadis yang sudah ia anggap adiknya itu
"Thifah, dek.. Ini mbak, Thifah jangan takut kita aman di sini" Sezha menggenggam tangan Thifah
Thifah mulai mau merespon dia menatap Sezha, tiba tiba ia menangis sangat keras membuat Sezha kelabakan
"Dek kenapa? Ada yang sakit? Atau apa, coba cerita sama mbak?" Sezha memeluk tubuh Thifah
"Mbak, mas Naf kenapa gak datang?" ucap Thifah di sela tangisnya
"Loh tadi kan mas Naf sudah ke sini, nganterin kamu makan"
"Bukan mbak yang tadi itu... " tiba tiba Thifah memegang kepalanya
"Astagfirullah sakiiiitt, mbak kepala Thifah pusing.... "
Brukk
Thifah jatuh di depan Sezha, untung dia saat itu masih di atas tempat tidur. Sezha mulai panik, dia berteriak memanggil Ahnaf
"Ada apa mbak, Astagfirullah Thifah kenapa mbak" ucap Naf spontan ia sangat terkejut saat ia masuk ke dalam kamar mendapati istrinya sudah tergeletak di depan Sezha yang sudah menangis
"Saya tidak tau mas, tadi Thifah memegangi kepalanya katanya sakit" jawab Sezha sambil mengusap air matanya
"Biar saya bawa kerumah sakit, mbak tunggu di rumah saja tidak usah ikut" Naf langsung menggendong tubuh Thifah, ia berusaha untuk tidak panik karena yang lebih penting saat ini adalah membawa istrinya kerumah sakit agar cepat di tangani dokter
"Baiklah hati hati mas, semoga Thifah tidak kenapa napa, kalo ada apa apa segera hubungi saya"
"Iya mbak Assalamualaikum " Naf berjalan cepat meninggalkan apartemennya
"Waalaikum salam"