Dalam Novel ini mengandung beberapa unsur dewasa untuk 21+.
Mohon bijak dalam membaca
Nafiza dan Brian mereka baru saja menikah. mereka menikah bukan karena saling mencintai, melainkan dijodohkan oleh kedua orangtua mereka.
Kedua orangtua nafiza dan brian adalah teman dekat mereka sering melakukan kerjasama bisnis sehingga mereka memutuskan untuk menikahkan kedua anaknya.
Nafiza baru berumur 17 tahun dan masih sekolah kelas XII sedangkan brian berumur 25 tahun sedang menjalankan perusahaan milik ayahnya meski begitu pernikahan ini dibolehkan karena mereka berasal dari keluarga kaya dan terpandang.
Tetapi nafiza dan brian sama-sama tidak saling menyukai, mereka mau menikah hanya untuk menuruti keinginan kedua orangtua mereka dan berkomitmen untuk sama-sama tidak akan saling jatuh cinta juga tidak tidur bersama. Lalu bagaimana kisah rumah tangga nafiza dan brian? sanggupkah mereka untuk tidak saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu Yang Baik
Brian sedang berada di kantor, ia membaca artikel berita tersebut kemudian ia menekan beberapa tombol pada telepon di sampingnya.
"Apa kamu sudah menemukan Sabrina?" Sabrina tidak masuk kantor hari ini begitu artikel tersebut di terbitkan.
"Sudah pak, dia sekarang tidak bisa pergi ke mana-mana lagi"
"Bagus, aku akan ke sana" Brian menutup teleponnya, ia kemudian mengambil ponsel miliknya mencoba menelpon Nafiza tetapi tetap tidak terhubung. "Aku harap kamu baik-baik saja Fiz"
***
Rupanya Brian mengetahui rencana Sabrina untuk menjebaknya, ia mengawasi gerak gerik Sabrina beberapa hari sebelumnya. Pelayan yang di panggil Sabrina saat di Hongkong pun adalah orang suruhan Brian, ia hanya berpura-pura mabuk agar masuk ke dalam rencana penghianatan Sabrina. Brian mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat, ia tiba di sebuah apartemen dan langsung menuju ke atas.
Tok tok
Brian mengetuk pintu sebuah kamar, tak lama seseorang pun membuka pintunya.
"Dimana dia Troy?" Brian masuk ke dalam.
"Dia ada di kamar utama tuan" lelaki tersebut menunjukkan kamar tempat Sabrina berada. terlihat Sabrina sedang duduk di ujung ranjang dan terkejut melihat Brian.
"Pak Brian saya . ."
"Aku sudah mengetahui rencanamu Sabrina, untuk apa kau membuat berita murahan seperti ini?" tanya Brian tegas.
"Maafkan saya pak, saya menyesal pak, saya mohon lepaskan saya pak" Sabrina menekuk kedua kakinya di depan Brian sambil memohon.
"Siapa yang membantumu melakukan ini?"
"Em anu pak"
"Apa Septa anak pak Ardi yang terlibat?"
"Hem" Sabrina menganggukan kepalanya. "Dia yang menyuruh wartawan untuk membuat artikel tersebut pak, maafkan saya pak saya mohon, jangan bawa saya ke kantor polisi"
"Aku tidak menyangka kau akan mau melakukan ini, karena masalah ini saham perusahaan anjlok, keadaan perusahaan menjadi sedikit genting, meski begitu ada yang lebih penting dan harus kau ketahui Sabrina, aku tidak takut kehilangan apa pun di dunia ini. Aku hanya takut kehilangan kepercayaan Nafiza dan kau harus mempertanggungjawabkannya"
"Maaf pak saya mau melakukan apa pun perintah bapak tetapi saya mohon sekali ini saja lepaskan saya" Sabrina memegang kaki Brian memohon dengan sangat agar Brian memaafkannya sampai meneteskan air matanya. Brian sedikit iba melihatnya padahal selama ini Sabrina bekerja dengan sangat baik, entah kenapa ia mau melakukan hal yang merugikan dirinya seperti ini.
"Aku bukan orang jahat Sabrina, kau tidak perlu melakukan ini. Untung saja kau hanya membuat berita murahan, jika lebih dari itu aku tidak akan bisa memaafkanmu" Brian memutar tubuhnya keluar kamar meninggalkan Sabrina yang masih menangis.
"Siapkan dia untuk wawancara dengan reporter Sandi, berikan skripnya suruh dia menghafalnya, aku tidak ingin ada masalah lain. Selesaikanlah dengan baik! kita tutup masalah ini dengan cepat" ucap Brian pada Troy.
"Baik tuan"
***
Brian melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Nafiza setelah mendapat kabar Nafiza berada di sana, dengan cepat ia sampai di tempat tujuan. Brian memasuki rumah Nafiza, papa dan mama menunggunya di ruang tamu.
"Kamu sudah datang Brian, Nafiza ada di kamarnya. Dia bilang mau beristirahat, sepertinya dia belum makan cobalah kamu bujuk agar dia mau membuka pintunya" ucap papa mertuanya.
"Baik pah, Brian juga mau meminta maaf sudah menyebabkan masalah sampai membuat mama dan papa khawatir"
"Papa yakin kamu bukan orang seperti itu Brian, papa sudah mengenal kamu dari kecil" papa menepuk pundak Brian.
"Sekarang cobalah berbicara dengan Nafiza, jelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi" ucap mama Nafiza.
"Baik mah" Brian kemudian berjalan menuju kamar Nafiza, ia mendorong gagang pintu kamarnya tetapi di kunci dari dalam.
Tok tok
"Fiz ini aku, tolong buka pintunya" ucap Brian tetapi tak ada jawaban dari Nafiza. "Nafiza berita itu tidak benar, tidak ada yang terjadi antara aku dan Sabrina" Brian mengetuk pintunya kembali, tetap tak ada jawaban dari Nafiza.
"Aku akan menunggu kamu sampai mau berbicara denganku" Brian melipat kedua kakinya menyandarkan punggungnya pada pintu kamar Nafiza, dari balik dinding ruang tamu terlihat papa dan mama nafiza mengintip menantunya.
"Brian sangat baik, berani dan bertanggung jawab ya pah. Mama tidak menyesal menikahkan Nafiza dengan Brian. Benar-benar menantu kesayangan mama" ucap mama Nafiza sambil tersenyum.
"Siapa dulu dong yang memilihnya" papa membanggakan dirinya.
***
Langit semakin gelap, jam dinding menunjukkan pukul 23.00, papa dan mama Nafiza hanya bisa memperhatikan Brian dari kejauhan, Brian belum beranjak dari depan pintu kamar Nafiza.
Krriieeettt
Nafiza membuka pintu kamarnya, ia mengira Brian sudah pergi tetapi ternyata Brian tertidur di depan pintu kamar Nafiza. Brian yang mendengar suara pintu langsung bangun dari tidurnya, walaupun tubuhnya terasa sakit semua.
"Fiz ayo kita bicara" Brian memegang kedua bahu Nafiza, ia tak mau menjawab dan hanya menundukan wajahnya.
"Ini kamu bisa lihat rekaman kejadian yang sebenarnya Fiz" Brian mengeluarkan ponsel miliknya yang berisi video pengakuan Sabrina yang mengatakan bahwa berita perselingkuhan antara dirinya dengan Brian tidak benar. Nafiza melihatnya tanpa memegang ponselnya.
"Aku benar-benar tidak melakukan apa pun dengan Sabrina di Hongkong Fiz, kamu harus percaya padaku" mendengar perkataan Brian akhirnya Nafiza tak lagi bisa membendung air matanya, ia menangis dengan kencang setelah berusaha menahannya beberapa saat yang lalu.
"Huuwaaaa" Nafiza memukul dada Brian berkali-kali.
"Kamu boleh memukulku sesukamu Fiz" Brian mengusap air mata Nafiza.
"Kamu jangan coba macam-macam denganku! jangan pernah mendekati perempuan lain! kalau kamu melakukannya aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Nafiza masih memukul dada Brian.
"Aku tidak akan melakukannya Fiz, bagiku cuma kamu perempuan satu-satunya yang aku suka" Brian memeluk Nafiza membelai rambutnya pelan. "Cup cup sudah jangan menangis lagi" Brian memperlakukan Nafiza seperti anak kecil.
"Aku pikir kamu melakukan sesuatu dengan Sabrina karena aku belum bisa memberikannya padamu" Brian melepas pelukannya.
"Melakukan apa?" Brian menatap wajah Nafiza.
"Ya melakukan itu! hubungan orang dewasa!"
"Hahaha aku bukan orang yang mesum Fiz" Brian menggoda Nafiza.
"Bukan orang mesum? kamu hampir melakukannya padaku beberapa kali!" suara Nafiza kencang, Brian menutup bibir Nafiza dengan tangannya.
"Pelan-pelan bicaranya Fiz nanti terdengar mama dan papamu, aku bukan lelaki yang bisa melakukannya dengan siapapun Fiz, aku hanya akan melakukannya dengan orang aku sayangi"
"Benarkah?"
"Benar, sama sekali tidak ada yang terjadi malam itu. Ya walaupun terjadi salah faham seperti ini tetapi aku senang melihatmu cemburu padaku"
"Aku tidak mau melihatmu dekat dengan perempuan manapun!"
"Iya, aku hanya akan bersamamu Nafiza. aaahhh aku mencintaimu" Brian memeluk Nafiza kembali.
"Melihat sikapmu seperti ini, rasanya tangisanku seharian ini menjadi sia-sia"
"Tak ada yang sia-sia istri kecilku, aku jadi tahu perasaanmu padaku"
"Kenapa kamu tidak pernah memintaku mengatakan aku mencintaimu atau bagaimana perasaanku?"
"Dari sikapmu saja aku sudah tahu, kamu tak perlu mengatakan apa pun" Brian mencium pucuk rambut Nafiza.