NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Perbincangan yang hangat

...----------------...

Keesokan harinya, mataku perlahan terbuka kembali. Pola cahaya matahari yang menerobos masuk dan menusuk pandanganku terasa sama persis seperti pagi mengerikan saat aku terbangun di samping Astrid. Namun, kali ini ada rasa lega yang sedikit menyusup di dadaku ketika menyadari langit-langit di atas kepalaku adalah milik kamarku sendiri di mansion Albian.

Aku bangkit dan mendudukkan diri di tepi kasur. Seketika itu juga, aroma tidak sedap langsung menguar dari tubuhku. Aku melirik pakaian yang masih melekat di badanku; kotor, kusut, dan bau apak bekas sisa pesta liar semalam. Di tengah keheningan kamar, pikiranku mendadak melayang. Entah mengapa, bayangan tentang kesalahan-kesalahan yang kuperbuat semalam justru menuntun memoriku kembali pada sosok gadis misterius itu.

"Astrid"

Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya. Apa yang sedang dilakukan Astrid sekarang? Apa dia lagi menikmati hidupnya dengan tenang? Ataukah dia sedang berlibur ke luar negeri untuk melarikan diri dari tekanan keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan itu menguap begitu saja ketika aku mencoba menggerakkan badanku untuk beranjak dari tempat tidur.

"Akh...!" aku menggerutu kesakitan, refleks memegangi rahang kiriku.

Rasa sakit yang luar biasa berdenyut di sana. Pukulan Kak Andra semalam benar benar tidak main main; rahangku terasa kaku dan nyeri bahkan hanya untuk sekadar dipakai mengunyah ludah. Aku meringis, mengutuk kekuatan fisik si sulung Albian itu dalam hati. Namun, di balik rasa jengkel dan sakit ini, ada satu sudut di hatiku yang menaruh rasa hormat padanya. Walaupun aku sangat membenci perangai Kak Andra yang ringan tangan dan suka memukul, aku menyukai satu sifatnya yang konsisten, dia tidak pernah mengadu atau membeberkan kelakuan burukku kepada Ayah. Di rumah ini, Kak Andra menyelesaikan "masalah" dengan caranya sendiri, tanpa perlu melibatkan otoritas tertinggi

TOK! TOK!

Pintu kamarku mendadak terbuka tanpa menunggu izin. Sosok kecil Ellisya muncul dari balik pintu dan langsung melangkah menghampiriku dengan wajah cemberut.

"Kak Arka! Kemana aja sih Kakak semalam?" tanya Ellisya dengan nada menuntut yang dibuat-buat, khas anak remaja tanggung.

Namun, begitu jarak kami hanya tersisa dua langkah, Ellisya mendadak menghentikan langkahnya. Hidungnya mengkerut, dan sedetik kemudian dia langsung melompat mundur menjauh dariku.

"Hihhh! Kakak bau banget! Bau naga, aku gak suka deh!" ucap Ellisya sambil menutup hidungnya rapat-rapat dengan dua jari, wajahnya mengekspresikan rasa jijik yang kentara.

Aku terkekeh pelan, meski rahangku langsung protes karena gerakan itu. "Sialan lo. Kakak habis main sama temen-temen semalam, makanya lepek begini."

Ellisya mendengus, lalu menurunkan tangannya dari hidung, meski matanya berubah menjadi serius. "Kakak tahu gak? Kemarin malam itu Ayah pulang ke rumah. Sekitar jam sepuluh malam."

Jantungku rasanya mencelos mendengar kata 'Ayah'. Aku menatap Ellisya dengan saksama.

"Ayah nyariin kita semua," lanjut Ellisya. "Tapi dari semua anggota keluarga yang tinggal di sini, cuma Kak Arka yang gak ada di rumah. Kalau Kak Hendra kan emang lagi di Bandung, jadi Ayah maklum." ucap Ellisya yang menjelas kan

Aku menelan ludah dengan susah payah. Membayangkan amukan Ayah saat mengetahui anak keempatnya kelayapan malam-malam dalam keadaan mabuk sudah cukup membuat bulu kudukku berdiri. "Terus... Ayah marah?"

Ellisya menggeleng, sebuah senyuman misterius terukir di bibirnya. "Enggak. Dan Kakak harus terima kasih sama Kak Andra. Kemarin pas Ayah nanyain Kakak, Kak Andra langsung motong. Dia bilang ke Ayah kalau Kak Arka lagi sibuk di luar buat ngurusin pekerjaan kuliah. Makanya Ayah gak jadi marah."

Aku tertegun di tempat dudukku. Kak Andra... berbohong demi menyelamatkan leherku dari Ayah? Cowok sedingin es itu ternyata memasang badan untukku semalam. Setelah mengobrol cukup lama dan memberikan beberapa wejangan sok tahu khas anak SMP, Ellisya akhirnya pamit keluar dari kamarku. Begitu pintu tertutup, aku segera melangkah ke kamar mandi, membersihkan seluruh sisa kotoran dan dosa malam kelam itu di bawah guyuran air dingin.

...****************...

Setelah tubuhku kembali bersih dan segar, rasa bosan di dalam rumah mulai melandaku. Aku memutuskan untuk mengambil kunci mobil dan pergi mencari suasana baru ke sebuah coffee shop premium yang biasa kukunjungi di pusat kota.

Namun, siang itu takdir membawaku ke arah yang berbeda. Saat aku baru saja melangkahkan kaki memasuki kafe, pandanganku tertuju pada dua orang pemuda yang sedang berdiri di depan meja kasir untuk memesan minuman. Garis wajah mereka terasa tidak asing di memoriku.

Rafqi dan Revan.

Mereka adalah teman satu sekolahku saat duduk di bangku SMP dulu. Mengingat latar belakang mereka, memori di otaknya langsung memberikan peringatan: mereka berdua bukanlah dari kalangan keluarga konglomerat seperti lingkungan pergaulanku yang sekarang. Mereka hanya datang dari keluarga yang sangat sederhana, yang mungkin harus berpikir hai dua kali hanya untuk membeli secangkir kopi di tempat seperti ini.

Sisi arogan dan gengsi sebagai seorang Albian mendadak berbisik di kepalaku. Aku langsung memalingkan muka, berpura-pura tidak kenal dan sibuk dengan ponselku. Aku malas berurusan atau terlihat akrab dengan orang-orang dari kelas sosial bawah; bagi seleraku yang sekarang, itu membuang buang waktu.

Sayangnya, rencana pura-puraku gagal total. Rafqi yang sedang menunggu kembalian mendadak menoleh ke arah pintu dan matanya langsung berbinar saat menangkap sosokku.

"Eh, Arka?! Wah, beneran Arka, kan?" sapa Rafqi dengan suara yang cukup lantang, melangkah menghampiriku dengan senyum lebar yang tulus.

Aku tersentak kecil, lalu buru-pura mengubah ekspresi wajahku. Aku memasang rahang yang agak kaku, berpura-pura lupa selama beberapa detik sebelum akhirnya menjentikkan jari. "Oh... Rafqi? Sori, sori, agak lupa gue. Apa kabar lo?"

"Baik, Ka! Gila, makin keren aja lo sekarang," sahut Revan yang ikut menyusul di belakang Rafqi.

Kami pun terlibat dalam obrolan singkat yang canggung di dekat pintu masuk. Sampai pada akhirnya, setelah pesanan kopi mereka selesai dibuat, Revan menunjuk ke arah meja kosong di sudut ruangan. "Ka, mumpung ketemu setelah sekian lama, ngobrol di meja yuk? Sayang banget kalau cuma sebentar."

Aku sempat ragu. Mengiyakan ajakan mereka terasa seperti menurunkan standar hidupku. Namun, demi kesopanan yang terpaksa, aku mengangguk. "Boleh deh."

Kami bertiga melangkah menuju meja kosong tersebut. Pelayan kafe datang membawa nampan besar, menata pesanan mewah yang aku minta hingga permukaan meja kaca itu penuh sesak. Ada platters ukuran jumbo yang mengepulkan aroma gurih, tiga potong croissant keemasan, kue-kue premium berpiring cantik, dan tiga cangkir kopi varian paling mahal.

Bagi diriku, mengobrol dengan orang yang hanya memesan makanan dan minuman seminimal itu di tempat umum rasanya seperti mencoret harga diri dan citraku sebagai anak konglomerat. Aku tidak sudi dilihat orang lain sedang nongkrong di meja yang "miskin", makanya aku memesan banyak makanan dan minuman supaya memenuhi meja kita.

Rafqi dan Revan saling berpandangan, tampak rikuh melihat meja yang mendadak berubah seperti pesta kecil.

"Gila, Ka... lo gak berubah ya," celetuk Revan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dulu zaman SMP lo kalau traktir bala bala segerobak diajakin, sekarang di kafe mahal malah makin jadi."

Aku menyandarkan punggung ke sofa, melipat tangan di dada dengan senyum bangga yang sengaja kupasang. "Gue kan udah bilang, santai aja. Di rumah gue, duit itu hal paling murah. Lo berdua habisin aja, kalau kurang tinggal panggil pelayannya lagi."

Rafqi tersenyum tipis, dia menyeruput kopi mahalnya perlahan, lalu menatapku lurus. "Makasih ya, Ka. Tapi sebenarnya kita ke sini cuma mau nyari tempat belajar yang adem buat ujian seleksi beasiswa besok. Eh gak nyangka malah ketemu lo."

"Seleksi Beasiswa? lo pada udah sesibuk itu buat ngambil beasiswa?" tanyaku sambil mencomot sepotong sosis dari piring platters.

"Lumayan, Ka," sahut Revan, matanya berbinar gembira saat menceritakan dunianya. "Seleksi di kampus negeri itu ketat banget. Apalagi kita berdua masuk lewat jalur beasiswa penuh. Sekali nilai kita drop di bawah standar, beasiswanya bisa ilang. Makanya, kita gak berani main main. Tiap malam begadang bukan buat nongkrong, tapi buat belajar."

Aku tertegun sejenak, menghentikan kunyahanku. "Beasiswa penuh? Berarti lo berdua gak bayar sama sekali? Kuliah gratis?" tanya ku kepada Rafqi dan Revan.

"Iya, Alhamdulillah," Rafqi mengangguk, sorot matanya memancarkan ketulusan yang murni. "Bagi orang kayak kita, Ka, beasiswa itu satu-satunya tiket buat perbaikin nasib keluarga. Nyokap gue cuma buka warung kelontong kecil di rumah. Kalau gue gak kuliah bener-bener, kasihan Nyokap yang udah banting tulang." ucap Rafqi

Mendengar kata 'banting tulang' dan 'perbaikin nasib', dadaku mendadak terasa sedikit sesak. Aku memikirkan diriku sendiri. Aku masuk kampus swasta termahal tanpa tes yang berarti, tinggal gesek kartu orang tua, dan jurusan Teknik Informatika yang kuambil pun sebenarnya kupilih hanya karena aku suka main game dan komputer bukan karena aku harus berjuang bertahan hidup seperti mereka.

"Tapi lo berdua gak ngerasa kuper apa?" tanyaku lagi, mencoba mencari celah untuk membenarkan gaya hidupku. "Maksud gue... anak muda zaman sekarang kan masanya asyik asyikan. Keluar malam, nongkrong di Club, jalan-jalan ke pantai. Masa muda lo gak sayang apa kalau cuma diisi sama buku dan tugas?" ucap ku dengan heran.

Revan tertawa lepas, tawa yang terdengar sangat renyah tanpa beban kepalsuan. "Asyik itu kan relatif, Ka. Buat lo, mungkin asyik itu dengerin musik dugem sambil minum mahal. Tapi buat kita, bisa ngumpul di teras rumah sambil minum teh anget buatan nyokap, terus tahu kalau besok kita gak perlu mikirin utang semesteran, itu udah mewah banget. Bahagia itu gak harus mahal, Ka."

"Tapi dengan duit, lo bisa beli apa aja, Van! Lo bisa bahagia instan!" sahutku agak ngotot, egoku sebagai anak konglomerat mulai terusik oleh kesederhanaan pola pikir mereka.

Rafqi meletakkan cangkir kopinya kembali ke tatakan. Pandangannya melembut, menatapku bukan dengan tatapan menghakimi, melainkan dengan rasa peduli seorang teman lama.

"Duit emang bisa beli kesenangan, Arka. Tapi duit gak bisa beli ketenangan," ucap Rafqi pelan namun bertenaga. "Gue sering lihat lo di media sosial, atau denger cerita dari temen temen lain. Lo kelihatan selalu dikelilingi orang banyak, selalu pesta. Tapi... lo beneran bahagia, Ka? Atau lo cuma kesepian di tengah keramaian?"

Skakmat. Kalimat Rafqi tepat sasaran, menghantam ulu hatiku hingga aku membisu.

Aku menunduk, menatap cangkir kopiku yang mulai mendingin. Pertanyaan Rafqi membuka luka yang selama ini kututupi dengan tumpukan uang dan kemewahan. Di rumah, aku diasingkan oleh standarisasi keluargaku. Di luar, teman-teman sirkelku seperti Pedro hanya mendekat karena aku kaya. Bahkan Sania... aku tahu dia menyukaiku karena fasilitas yang bisa kuberikan. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bertanya apakah aku benar benar bahagia.

"Gue..." aku menggantung kalimatku, mendadak kehilangan kata-kata angkuh yang biasanya keluar dengan mudah dari mulutku.

Revan yang menyadari perubahan raut wajahku langsung menepuk pundakku pelan, mencoba mencairkan suasana. "Udah, gak usah dipikirin berat berat, Ka. Yang penting malam ini kita bisa ketemu lagi. Nih, mending lo cobain kue ini, manis banget, semanis masa depan kita, amin!"

Aku tersenyum getir, namun perlahan perasaan hangat mulai menjalar di dadaku. Sepanjang sisa malam itu, kami tidak lagi berdebat soal kelas sosial atau uang. Kami larut dalam cerita masa lalu saat dihukum guru piket bersama, cinta monyet zaman SMP, dan mimpi mimpi polos kami dulu.

Tanpa aku sadari, kami sudah 5 jam mengobrol. Tak terasa hari sudah larut malam, sekitar jam 8 malam. Aku terkejut ternyata mereka memutuskan untuk pulang saat masih jam segini.

"Lah, kok udah mau balik aja? Nanti aja kali," tanyaku kepada mereka berdua.

Mereka membalas bahwa mereka berdua besok harus kuliah pagi dan tidak boleh kesiangan demi menjaga beasiswa mereka. Sebelum mereka benar-benar melangkah pergi ke area parkir motor, aku merogoh dompetku. Aku memberikan uang cash sebesar 2 ratus ribu kepada masing masing dari mereka. Namun, di luar dugaan, mereka menolak uangku.

Rafqi menatapku lurus, lalu berkata, "Apalah arti uang, kalo lo gak hidup dengan uang itu?"

Kata-kata singkat itu seketika membuatku membisu dan termenung, terus berpikir di sepanjang jalan pulang.

...****************...

Aku pulang ke rumah jam setengah sembilan malam. Kali ini, aku pulang dengan keadaan rapi, tenang, dan tanpa bau alkohol sedikit pun di bajuku. Pikiran tentang ucapan Rafqi masih menggantung di otakku saat aku melangkah masuk melewati pintu utama mansion.

Di ruang tengah, Kak Zalya sedang duduk bersantai. Melihat aku melangkah masuk di jam segini, dia terlihat cukup heran.

"Lho, Arka? Tumben jam segini udah di rumah? Biasanya subuh baru balik," sindir Kak Zalya dengan nada bercanda.

Aku tidak menanggapi sindirannya dan berniat langsung naik ke kamar. Namun, Kak Zalya mendadak menahan lenganku dan mengajakku untuk berbincang bincang sejenak di sofa. Wajah cerianya berubah agak serius.

Lalu, dia memberitahuku sebuah kabar yang mengejutkan. Kak Zalya bilang kalau tadi sore saat dia sedang main ke mall bersama teman-teman gengnya, dia melihat Sania dan Pedro sedang berdua di sana. Mereka berdua terlihat sangat akrab bahkan sedang makan malam di salah satu restoran di mall tersebut. Dengan nada penuh selidik, Kak Zalya menuduh Sania sedang berselingkuh di belakangku dengan sahabat karibku sendiri.

Mendengar penuturan itu, jantungku berdegup kencang dan ada rasa panas yang merayap di dadaku. Namun, ego dan logikaku langsung menolak mentah-mentah ucapan itu. Aku tidak mempercayainya begitu saja.

"Ah, ngaco lo, Kak. Gak mungkinlah," jawabku ketus sambil berdiri dari sofa.

Aku menolak percaya karena sedari tadi siang sampai malam ini, aku dan Sania masih lancar berkomunikasi lewat pesan WA. Di dalam pesannya, Sania masih aktif membalasku, jadi tidak mungkin dia jalan bersama Pedro. Aku meyakinkan diriku bahwa Kak Zalya pasti salah lihat orang.

Setelah mendengar pernyataan dari Kak Zalya, pikiranku mendadak penuh. Aku sangat memikirkannya di sepanjang jalan koridor menuju tangga. Langkah kakiku yang gontai dan pikiran yang melayang ke mana-mana membuatku tidak fokus memperhatikan jalan ke depan.

BUGH!

Dahiku menghantam sesuatu yang keras. Akibat kurang memperhatikan jalan, aku tidak sengaja menabrak badan kekar Kak Andra yang mendadak muncul dari arah belokan lorong lantai satu. Badan Kak Andra terasa begitu kokoh bak dinding beton saat aku menabraknya, sampai-sampai tubuhku agak terdorong mundur, tetapi dia sendiri tidak bergerak atau bergeser sedikit pun dari posisinya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kak Andra terus melangkah berjalan melewatiku tanpa memandangku sama sekali. Wajahnya sedingin es, seolah-olah aku hanyalah angin lalu yang tidak sengaja lewat.

Melihat punggungnya yang menjauh, aku teringat ucapan Ellisya di kamar tadi pagi tentang bagaimana cowok kaku ini menyelamatkan leherku semalam. Aku menghentikan langkahku. Dari posisi belakangnya, aku memberanikan diri berbicara padanya dengan nada suara yang agak pelan.

"Kak Andra... makasih karena lu udah nyelametin gue dari amukan Ayah semalam," ucapku, agak canggung mengekspresikan rasa terima kasihku.

Mendengar suaraku, Kak Andra menghentikan langkahnya sebentar. Punggung tegapnya membeku selama beberapa detik. Tanpa berbalik untuk menatap wajahku, dia menyahut dengan nada suara yang teramat ketus dan datar.

"Mending lu belajar. Bentar lagi umur lu bertambah, seharusnya isi otak lu juga meningkat," ucap Kak Andra tajam.

Setelah menjatuhkan kalimat pedas itu, dia kembali melangkah pergi membelah lorong tanpa berniat mendengar jawabanku.

Melihat tabiat Kak Andra yang seperti itu, rasa haruku langsung menguap seketika. Perlakuan dan kata-katanya barusan benar-benar membuatku jengkel setengah mati. Sambil menggerutu kesal dalam hati, aku mempercepat langkahku menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam kamarku untuk tidur, mencoba menenggelamkan semua kekacauan hari ini di balik selimut.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!