Lean si gadis tomboy yang digosipkan sebagai penyuka sesama jenis oleh orang tak bertanggung jawab, dan membuat citra keluarga besarnya hampir jatuh, membuat kedua orang tuanya terpaksa menikahkan Lean dengan anak sahabatnya untuk menampik gosip tersebut. Mampukah Lean si gadis tomboy yang urakan hidup bersama Agam si pria sempurna yang cuek?, akankah perasaan bersemi diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andry kumala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menonton Pertandingan Basket
“waah, selamat ya Lei!” ucap beberapa teman kampus lainnya yang tengah berpapasan dengan Lean. Tak membalas ucapan beberapa temannya itu, Lean hanya terdiam sambil melongo. Seakan tak habis pikir dengan Mr. L yang terus menghantui hari – harinya dengan teror puisi cinta, Lean hampir kehabisan kata – kata untuk mengekspresikan perasaannya saat ini. “shit!, berani banget tuh orang!” gerutu Lean dengan ekspresi geram.
Beranjak dari tempatnya berdiri, Lean mempercepat langkahnya menuju ruang siaran radio, berharap bisa bertemu dengan Mr L. “mau kemana lu Lei?” ucap Bima dengan panasaran sambil mengimbangi langkah kaki Lean. “ruang siaran!” Lean menyahut singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. “kalau lu emang ketemu sama Mr L, mau lu apa in emangnya Lei?” Bima menyahut lagi. “gua geprek lah!” Lean menyahut ketus. “wiih ngeri!” gumam Bima dalam batin.
Dari sudut Agam duduk, begitu besar rasa kesal yang Agam rasakan saat ini. Hingga tanpa sadar, kedua tangannya tengah meremas kertas hasil ujian yang sedang dipegangnya. Seperti terbakar telinga Agam mendengar pernyataan cinta dari laki – laki lain itu untuk istrinya. Nafasnya berhembus panas, dan ia pun mengerutkan keningnya. “Pak Agam Kenapa?” sahut Veni yang tiba – tiba muncul dan menghampiri Agam. “oh gak papa!” sahut Agam yang kaget, dan bergegas bangkit segera berlalu meninggalkan Veni. Melihat ekspresi aneh dari Agam, Veni nampak kebingungan.
“ceklek!” Lean membuka pintu siaran radio kampus dengan tak sabaran. “mana yang namanya L?” ucap Lean sambil menatap menelusur seluruh ruangan siaran. “wah lu telat Lei!, orangnya baru aja keluar!” sahut salah satu anggota radio lainnya. Mendengar jawaban salah satu anggota klub siaran radio, Lean berlari keluar mencoba mencari jejak dari Mr. L namun apalah daya, bahkan perawakan maupun wajahnya pun Lean belum tahu.
Dari sudut yang cukup jauh, nampak seorang pria misterius berambut lurus yang menatap Lean dengan bersembunyi. Tangannya nampak gemetaran, dan sambil terus menutupi wajahnya dengan jaket yang ia kenakan.
“gimana Lei?, ketemu sama Mr. L gak?” sahut Bima sambil berjalan ngos – ngosan menghampiri Lean. Lean hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “Ya udah ayo!, katanya lu mau lihat pertandingan basket?” sahut Bima menenangkan sambil merangkul Lean. Merasa kecewa, Lean pun terdiam dan tak menjawab ajakan Bima.
Di lapangan basket indoor.
“Satria!, Satria!, Satria!” terdengar riuh sorak para gadis di tribune penonton, sambil memegangi spanduk bertuliskan nama Satria. “sorry ya guys!, gua tadi masih ada urusan!” ucap pria bertubuh tinggi dengan wajah rupawan menghampiri beberapa anggota tim basket yang telah selesai bersiap. Melihat pria tampan berwajah tirus dengan rambut lurus layaknya tokoh pria dalam dunia manhwa, sorak – sorak dari para gadis pun semakin meriah layaknya menonton konser. “waahhh!, Satria!!, Satria!” Dengan bergegas pria bernama Satria itu pun melepaskan jaket yang ia kenakan, dan berganti dengan kaos tim.
“wah rame banget!” ucap Lean sambil berjalan memasuki area tribun, melalui sela – sela penonton yang tengah berteriak heboh. “tuh di depan kosong Lei!” ucap Bima sambil menunjuk ke arah dua bangku kosong yang berada pada barisan paling depan. Tak menunggu lama, Lean segera mengikuti Bima berjalan menerobos para penonton sambil terus menutup telinga. Keras dan cempreng, suara teriakan para gadis sungguh mengganggu pendengaran Lean.
Setelah berganti kaos tim, Satria melakukan pemanasan dan tak sengaja menatap ke arah tribun penonton. Melihat Lean duduk pada barisan paling depan, Satria terperanjat kaget dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari Lean. Matanya terus berbinar menatap Lean yang tengah berbincang bersama Bima.
“eh Bim!, bukannya Satria harusnya udah lulus bareng Aji ya?” ucap Lean pada Bima. “gua juga gak paham!, kayaknya dia gak sebodoh kita deh Li!” Bima menyahut dengan santai. “lu yang bodoh!, gua tuh pinter, cuma sedikit males aja!” ketus Lean sambil menepuk pelan jidat Bima.
Menyadari Satria tengah menatapnya, Lean pun menoleh mencoba menatap balik pada Satria. Dengan salah tingkah, Satria segera mengalihkan pandangannya seolah tak sedang memperhatikan Lean. “aneh!, perasaan tadi Satria ngeliatin gua deh!, apa cuma perasaan gua aja ya?” gumam Lean dalam batin.
“lu udah siap Sat?” teriak salah satu anggota tim basket mengagetkan Satria. “yoi!” sahut Satria sembari berlari menghampiri teman – temannya. “priiiit!” pertandingan basket antara tim dari kampus Lean, melawan tim basket Universitas Pegelaran pun akhirnya dimulai.
Melihat kemampuan Satria dalam permainan bola basket yang begitu apik, membuat para gadis pun semakin menggila. Sambil terus berteriak tanpa merasa serak, para gadis terus memberi semangat pada Satria. “priitt!!” lagi – lagi peluit wasit pertanda bertambahnya skor untuk tim basket Satria pun berbunyi. Dengan rambut lurusnya yang basah oleh keringat, Satria masih sempat melemparkan pandangannya untuk menatap Lean disela – sela permainan basketnya. “Bim, lu liat barusan gak?, kayaknya Satria diem – diem ngeliatin gua deh!” ucap Lean sambil menepuk – nepuk lengan Bima.
“pfffttt!, hahaha!” Bima pun tertawa terbahak – bahak hingga rasanya ia hampir menangis. “ngapain dia ngeliatin elu?, tuh fans – fansnya di belakang aja cantik dan fashionnya kayak selebriti!, lu mah apa Lei!, lucu banget deh!, hahaha” sahut Bima sambil terus menahan gelak tawa. Lean hanya diam sambil terus menatap Satria. “jelas – jelas tadi dia ngeliatin gua kok!” gumam Lean dalam batin.
Sambil menyibakkan rambut basahnya, sesekali Satria menatap ke arah Lean. Karena Lean yang terus memantau gerak – gerik Satria di sepanjang pertandingan, akhirnya Lean pun memergoki Satria saat tengah melemparkan pandangan ke arahnya. “tuh kan apa gua bilang!, Satria tuh dari tadi liatin gua!” gumam Lean sambil terus menepuk lengan Bima, hingga Bima pun merengek kesakitan. “aduh sakit Lei!” ucap Bima.
Melihat Lean tengah menatap ke arahnya, wajah Satria nampak memerah dan tersipu malu. Tak hanya tersenyum, Lean mengepalkan tangannya ke arah Satria guna memberi semangat. “semangat!” ucap Lean dengan pergerakan bibir tanpa adanya suara. Melihat dukungan yang diberikan oleh Lean terhadapnya, dengan malu – malu dan salah tingkah, Satria mencoba meningkatkan kemampuannya dan meraih skor sebanyak mungkin.
Satria adalah salah satu pria idaman di kampus Lean. Dengan wajah yang rupawan, tubuh proporsional, ditambah lagi keahlian bermain basketnya yang tak diragukan lagi, membuat Satria begitu dikagumi oleh para mahasiswi di kampus Lean. Ia bagaikan selebriti yang telah dikenal di seluruh penjuru kampus. Namun tidak dengan Lean yang hanya menganggap Satria sebagai pria biasa yang tak menarik hatinya.
Kemenangan akhirnya diraih oleh kampus Lean, yakni Universitas Nasional dengan skor kemenangan 73 – 42. Pertandingan telah berakhir dan para penonton pun membubarkan diri, termasuk Lean dan Bima. Hampir melewati pintu keluar, terdengar suara teriakan seorang pria “Lei!” mendengar seseorang memanggilnya, Lean pun berhenti dan reflek menoleh ke arahnya.
Melihat pria yang memanggil namanya adalah Satria, Lean nampak terkejut. Satria pun segera berlari menghampiri Lean. “ada apa Sat?” ucap Lean penasaran. “emm, makasih ya tadi lu udah nyemangatin gua!” sahut Satria dengan wajah memerah malu – malu. “ya elah, gua kirain apa an!, santai aja lah!, ya udah gua balik dulu ya?, bye!” ucap Lean sambil melambaikan tangannya ke arah Satria dan segera berlalu. “deg!, deg!, deg!” seketika jantung Satria pun terpacu begitu kencangnya.
Sembari terus memegang dada kirinya, Satria masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari Lean. Semakin jauh, akhirnya sosok Lean pun tak dapat lagi ia jangkau dengan kedua matanya.
Asyik berjalan bersama Bima, tiba – tiba ponsel Lean bergetar “siapa nih yang telefon?” gumam Lean sambil merogoh ransel guna mencari ponsel miliknya. Melihat panggilan masuk dari Agam, Lean pun segera mengangkatnga. “hallo Gam?, hah!?, apa???” ucap Lean sambil terbelalak kaget.