NovelToon NovelToon
MENTAL

MENTAL

Status: tamat
Genre:Peningkatan diri -peningkatan kemmapuan / Chicklit / Tamat
Popularitas:80.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lel

Almira Radisty mengalami depresi akut karena ketidak beraniannya mengungkapkan sesuatu pada kedua orang tuanya, terutama sang mama. Gadis 19 tahun ini merupakan anak sulung yang dituntut untuk serba bisa dan berprestasi, menjadi panutan yang baik untuk kedua adiknya. Hidupnya sangat dikekang oleh sang Mama, bahkan untuk memilih teman, Al, panggilan akrab Almira, sesuai dengan aturan sang mama, hingga puncaknya dia sudah tekanan batin dan hampir gila. Lebih dari dua bulan ia menjalani perawatan intensif guna mengurangi tekanan batinnya.
Mampukah Al menjadi normal kembali? Ikuti kisah Almira dalam menggapai kebebasan hidup dari kekangan sang mama.

Semoga suka....terkhusus untuk remaja yang takut menyuarakan bakat minat demi mewujudkan cita-cita mama.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAGI MEMBARA

Bima keluar kamar hampir siang, setelah shubuh tadi ia melanjutkan tidurnya karena semalam ngobrol dengan mama membuat mata sulit terbuka. Tas ransel ia letakkan begitu saja dan segera duduk dengan manis, tak sadar tatapan beberapa orang sedang menatapnya.

"Anak bangun siang dibiarkan saja, mana bisa hidup disiplin!" sindir Bu Wita dengan lirikan tajam ke nyonya Anggraini yang tak peduli dan asyik mengisi piring dengan nasi goreng untuk Bima maupun Radit.

"Ma, mama selalu bilang kan kalau mau makan itu baca doa?" ucap Bima berniat membalas sindiran sang nenek.

"Udah, segera berdoa lalu sarapan biar gak telat. Hari ini mama antar!" Nyonya Anggraini kini tak mau ambil pusing. Kalimat pedas dari mertua diabaikan begitu saja, tatapan suami yang dingin dan tak menggubrisk keadaannya juga tak dipedulikan lagi. Biarlah. Fokus nyonya Anggraini adalah memperbaiki hubungan dengan ketiga anaknya, itu saja.

Bima mengangguk, dan segera sarapan, namun ketenangan di meja makan kembali terusik kala suara nenek berhasil menghentikan kunyahan semua orang.

"Dari kemarin, nenek tidak melihat Almira. Di mana dia?" Rasanya nasi goreng mendadak berhenti di kerongkongan. Pahit pula.

"Silahkan sarapan dulu, Bu!" Pak Muhtar mencoba mengalihkan perhatian sang ibu membahas Almira. Semarahnya Pak Muhtar dia akan tetap menjaga rahasia kondisi Almira dari sang ibu. Cukup adiknya saja yang tahu, Widya yang dianggap tidak sejulid keluarga besarnya.

"Heran ya, anak belum lengkap tapi kalian masih selera sarapan. Orang tua macam apa kamu, Tar!" sentak Bu Wita dengan mata menyalak. Suasana sarapan mendadak panas dan tak layak untuk meneruskan sarapan. Bima dan Radit pun memutuskan berangkat sekolah saja, keduanya meminta sang mama mengantarkan. Ada udang di balik rempeyek tentunya, yah...keduanya sengaja menjauhkan sang mama dari amukan nenek. Biarkan papa yang menjelaskan apapu yang beliau tahu, entah akan membela mama atau malah memperburuk keadaan.

"Bagaimana bisa Almira tidak di rumah dan kalian santai saja. Apalagi Anggraini yang tak tampak sama sekali raut khawatir. Ibu macam apa dia. Dari dulu sudah ibu bilang, dia itu gak pantas mendampingi kamu, tapi kamunya ngotot sekali memilih dia. Apa coba bagusnya, hanya karena pintar dan dokter saja yang bisa dibanggakan, tidak untuk darah ningratnya."

Pak Muhtar masih diam, pantang sekali menimpali omelan sang mama. Telinganya sudah kebas mendengar setiap kalimat yang selalu mengandung makna perseteruan. Toh, dirinya tak mau menyakiti hati orang tua satu-satunya, lebih baik diam dan didengarkan saja. Nanti akan lelah sendiri.

"Tegur dong istri kamu, sama darah daging sendiri saja tidak perhatian begitu," masih saja Bu Wita emosi bila menyangkut Anggraini.

"Almira ada tugas kuliah di luar kota, Bu."

Bu Wita langsung terdiam, mungkin beliau lupa Almira sudah kuliah dan tentu tugasnya memungkinkan gadis itu ke luar kota. "Ke mana?"

"Bandung," jawab sekenanya Pak Muhtar. Pondok milik dokter Ibram juga berada di Bandung. "Nanti kalau sudah longgar pasti juga hubungi kita."

"Sekarang dong telpon, pagi-pagi juga pasti belum ada aktivitas." Terlanjur malu, sekalian saja mendesak agar bisa mengetahui kabar Almira.

"Muhtar mau berangkat dulu, Ma,"pamit Pak Muhtar menghindari desakan dari Ibu. Sekuat tenaga beliau tidak gegabah menjawab pertanyaan Ibu tentang Almira. Beliau masih punya hati untuk melindungi istri dan keutuhan keluarganya.

"Kebiasaan, kamu pasti membela istrimu bahkan sampai membuat anakmu gila."

Pak Muhtar lemas seketika mendengar ucapan sang ibu. Beliau rupanya sudah tahu, tapi dari siapa. Tak mungkin dari Widya kan, karena sang adik tidak sejulid ibu dan keluarga besarnya. "Gila? maksudnya?"

Ibu Pak Muhtar hanya tersenyum sinis, beliau malah menyempatkan menyeruput teh manis, "Pantas saja anakmu jadi gila, istri pilihanmu saja sudah gila harta dan karier!"

"Bu!" Pak Muhtar menegur sang ibu dengan halus, tak mau ada perdebatan dengan orang tuanya. Takut keluar kata kasar yang bisa menyakiti hati orang tua. "Ibu tahu dari mana Almira gila, dia gak gila."

"Sudah dua bulan kan dia tinggal di rumah sakit jiwa?"

Deg

Pak Muhtar tak bisa menyangkal, mati kutu di tempat. "Kamu berkali-kali meminta Widya menjaga Almira, dan saat ibu mengunjungi Widya ibu diam-diam mengikuti kemana Widya pergi. Hebat kamu, bisa menyembunyikan hal besar seperti ini. Ibu tahan saja sampai kapan kamu akan menyembunyikan, bahkan sekarang pun kamu berusaha menutupinya. Apa karena istrimu yang melarang? ayo bilang!"

"Anggi, tidak pernah bilang. Aku memang yang menyuruh untuk tutup mulut termasuk meminta Widya dan keluarga diam. Aku tak mau mempermalukan anakku sendiri, Bu!"

"Menyesal kamu sekarang punya istri seperti Anggraini?"

"Sudahlah, Bu. Tak ada gunanya menyesal sekarang. Aku dan Anggi akan berusaha semaksimal mungkin merawat Almira."

"Ceraikan Anggraini, maka kesialan di keluargamu akan hilang."

Pak Muhtar sontak istighfar, tak menyangka sang ibu malah menyuruhnya bercerai. Ya Allah..sangat berdosa bila menyuruh pasangan berpisah. Pak Muhtar tak marah, hanya diam sebentar lalu menarik tangan sang ibunda dan duduk berdampingan.

"Tolong dengarkan, Muhtar, Bu!" pinta Muhtar dengan bibir bergetar. Kalau kemarin sempat menggertak sang istri untuk berpisah dan dia merasa biasa saja, tapi tidak untuk saat ini. Ada rasa takut bila perceraian akan terjadi. "Anggraini tidak bersalah, Bu. Tapi aku yang bersalah. Anakmu yan bersalah."

Pak Muhtar akhirnya menangis, bahkan air matanya menetes menyentuh punggung tangan sang ibu. Bayangkan, seorang suami sekaligus seorang bapak, mempertahankan keluarganya, belahan jiwanya di hadapan sang ibu. Bukan berarti dia lebih membela sang istri ketimbang menuruti perminta sang ibu, tidak. Ia akan berbakti sampai mati tapi tidak untuk perceraian. Anggaraininya adalah tulang rusuknya yang bisa dipisahkan oleh maut.

"Mantra apa yang diberikan dia sehingga kamu menolak keinginan ibumu, Muhtar!"

Pak Muhtar menggeleng, "Dia tidak punya mantra, dia hanya punya cinta dan ketulusan. Bahkan Almira sampai dalam kondisi ini aku anggap sebagai peringatan Allah kepadaku, Bu. Aku diingatkan agar perhatian pada anak istri, mungkin sudah terlalu lama Anggi hidup sebagai istri mandiri."

"Baiklah, baiklah. Kamu sudah dibutakan olehnya, mau seberapa pun nasehat baik yang kamu terima tak bisa menggantikan posisinya. Memang keluarga gila, sudah cukup. Ibu mau pulang, kabari ibu kalau kamu sudah menceraikannya."

"Maaf, Bu. Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Anggi. Kami butuh Anggi, bahkan Almira pun pasti butuh Anggi."

Bu Wita mengangguk angkuh, "Antarkan ibu ke stasiun, ibu akan pulang. Terserah kamu sajalah," Bu Wita tak bisa berbuat apa-apa. Muhtar sejak dulu memang tak bisa terpengaruh oleh apapun. Dan kini, sekali lagi Bu Wita mengalah, ia akan melihat betapa kuatnya cinta mereka dan batas sabar Anggraini. Beliau sadar selama 20 tahun ini, Anggi sudah sangat sabar menerima sindiran ataupu kata pedas darinya, tapi dalam hati kecil Bu Wita masih ada ego untuk bersikap angkuh pada menantunya itu. Kesalahan terbesar Anggi adalah terlahir dari keluarga biasa. Just it!!

1
aksari
cerita sangat bagus, tp sayang akhir cerita agak gantung.
lanjut thor
Revalina Susantet
nanggung bgtt min, ada judul lanjutannya gak min? pengen tau ending semuanya👍
Endang Sulistia
keren
Endang Sulistia
suami bodoh..egois..
Daris Darin
lanjut Thor, ceritanya gantung.....mau ada lanjutannya
Daris Darin
lanjut Thor, ceritanya gantung....mau ada lanjutannya
siti salamah
bpak nya egoiss sih sbnr nyaa,, dia sebagai suami tidak bisa jdi tmpat istri curhat,, sebagai ayaah ketika ank nya tr Puruk sibuk nyalah kan istrinyaa
siti salamah
Ceritanya bagus bnget dapat bnget rasa nyesek nyaa,, bnyak yang sperti nyonya Anggraeni dlm ke hdupan nyata, tekan nan dri mertua imbas ke anak" suami yang tidak tegass istri tidk bisa cerita ke suami karna suami juga berat bila br hdapan dengn ibu nya,, sayang sekali ceitanya menggantung,, ber harap ada lnjutan nya yang happy untk keluaga itu,, wlupun dlm dunia nyata bnyak kluargaa bisaa bahgia tanpa keluga utuh,, dri semua karaya kaka Author ini yang pling dpet crita nya tetang cinta antr keluarga,, di tunggu kelnjutan cerita nya kaka slam kenal
siti salamah: tidak ada lanjutannnya kah kaka?, bpa blm sadar kala🙏🙏😄😄
total 2 replies
Tutie Arkan
lho kok endingnya jd gantung ya.../Sob/
Tutie Arkan
kasihan mama na...
Tutie Arkan
duh mertua..lidah mu itu loooh.../Sob/
Tutie Arkan
ternyata Radit dewasa sekali...
Tutie Arkan
Luar biasa
Tutie Arkan
banget..Bima keren..beneran ajaib bisa buat mama tertawa ...pdhl dlm hati menangis...
Tutie Arkan
s7 Bima...hiduplah bersama org yg bisa menghargaimu...
Tutie Arkan
kasihan mamanya Al...berawal dr tak di anggap mertua,plus suami yg tdk mau tau..lelaki pd umumnya..trima beres aja...duh wanita .../Sob/
Tutie Arkan
setuju ama elis...kita mmg butuh support dan kwn curhat...krn gx da komunikasi dan ksh syg di tukar dg materi jd ginie lah...
nia kurniawati
Oliiiiv... jangan ketularan Mail.. cuan mulu🤣🤣
nia kurniawati
🤣🤣🤣🤣duh si Ol..
nia kurniawati
Semoga Almira bisa normal lagi...Sejauh ini saya jadi melek tentang pola didik ke anak.. kern abis karyamu ini Thor❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!