Arjuna. Dia menikahi seseorang lalu mengabaikannya, tanpa peduli dengan perasaan wanita itu karena hatinya masih tertinggal pada masa lalunya.
_____
“Kenapa, kenapa lama sekali aku menunggu kamu untuk melihat ke arahku, Mas?”
Arjuna seakan tertampar mendengar ucapan Danita.
_____________
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDT 25
...Halo, kangen aku?...
...update lagi nih, jangan lupa like dan lovenya ya....
...selamat membaca....
...tolong kalau typo ditandai ya~...
...***...
“Bagaimana kabar kamu, Jun?”
“Seperti yang kamu lihat.”
“Kamu terlihat baik-baik saja dan seperti seseorang yang jatuh cinta.”
“Ya, begitulah.”
Keduanya terus mengobrol tentang segala hal, mulai dari menanyakan kabar. Pekerjaan dan lainnya.
Arjuna sama sekali tidak menyangka, jika dirinya bertemu dengan Reni— mantan kekasihnya– yang sempat membuat Arjuna terpuruk. Dan mengabaikan Danita, istrinya.
Keduanya secara tak sengaja bertemu di depan ruangan dokter kandungan. Wanita itu baru saja berkonsultasi dengan dokter perihal alat kontrasepsi. Sedangkan Arjuna baru saja mengucapakan selamat kepada salah seorang koleganya yang istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka setelah menunggu hampir lima tahun pernikahan.
Keduanya kemudian berjalan beriringan dan berpisah di pelataran rumah sakit. Arjuna dan Reni memang sudah melupakan kehidupan masa lalu mereka, karena bagi keduanya kisah mereka telah usai. Reni sempat meminta maaf kepadanya, tapi Arjuna hal itu sudah berlalu. Kini keduanya hidup bahagia dengan pernikahan dan orang yang mereka cintai.
...***...
Tepat pukul sembilan malam Arjuna pulang ke rumahnya yang tampak begitu sepi. Tak ada sambutan hangat dari istrinya.
Apa dia sudah tidur.
Arjuna melangkahkan kakinya ke kamar, dilihatnya sang istri tengah terbaring memunggunginya. Begitu dia melepaskan jas dan dasi, setelah itu membersihkan dirinya. Untung saja dia sudah makan malam diluar, jadi perutnya tidak terasa lapar. Tadi juga dia sudah mengabari Danita, jika dia akan pulang larut dan makan diluar bersama teman-temannya.
Melihat Danita tidur begitu nyenyak, hingga tak menyadari kedatangannya. Arjuna memilih untuk merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Sebelum itu dia mengecup sisi kening Danita.
“Selamat tidur, sayang.”
Tak lama kemudian napas Arjuna teratur, menandakan jika dia sudah benar-benar terlelap.
Danita kemudian membuka matanya. Setitik air mata jatuh di pipinya.
Saat melihat suaminya bersama mantan kekasih yang begitu dicintainya, hati Danita hancur. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah dia tak henti-hentinya menangis. Hingga tangisannya semakin menjadi, membuat pandangan matanya memburam karena air mata. Hingga dia tidak menyadari sebuah mobil truk dari arah berlawanan tengah menuju ke arahnya.
“Argh!”
Untung saja Danita segera menyadari hal itu, hingga kecelakaan maut itu terhindar. Seandainya saja hal itu terjadi, bisa dipastikan bukan hanya dirinya saja yang akan meninggal dunia. Namun janin yang dikandungnya pun pasti akan ikut bersama dirinya.
“Mbak, mbak enggak apa-apa?”
“Ti-tidak, saya baik-baik saja.”
“Maaf ya, Mbak. Tadi salah saya juga karena buru-buru bawa truknya.”
“Saya juga tidak apa-apa. Lain kali tolong lebih hati-hati.”
I“ya, Mbak. Terima kasih dan maaf.” Sopir truk itu pergi setelah meminta maaf kepadanya.
Tubuhnya sempat gemetar, karena rasa terkejutnya. Sampai harus terdiam begitu lama di atas mobil yang dihentikan di pinggir jalan. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit lamanya, barulah dia menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya secara perlahan.
Sembari mengusap perutnya yang masih rata, “Maafkan, bunda ya sayang. Lain kali bunda akan lebih hati-hati lagi.” Ujarnya.
Sesampainya di rumah, Danita masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai. Tubuhnya lemas karena kejadian tadi dan juga bertemu dengan Arjuna serta mantan kekasihnya, di rumah sakit.
Setelah lelah menangis perutnya terasa lapar dan minta diisi, meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak bernafsu makan. Namun mengingat janin yang tengah dikandungnya membutuhkan nutrisi, Danita memaksakan untuk makan.
Baru saja beberapa suap makanan masuk ke dalam perutnya, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Arjuna.
Arjuna
Sayang, Mas hari ini pulang larut malam karena harus bertemu dengan beberapa teman dan kami akan makan bersama di luar. Kamu makan dulu ya.
Nafsu makannya hilang seketika, air matanya mengalir lagi. Dia terguguk memandangi pesan itu.
“Kenapa kamu harus berbohong Mas,” ujarnya lirih.
Kemudian Danita memejamkan matanya, tubuh dan hatinya terlalu lelah hari ini.
...***...
Arjuna merasa heran melihat istrinya, mata Danita sedikit bengkak dan istrinya juga lebih banyak diam. Menyiapkan semua keperluan Arjuna tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Bahkan saat Arjuna mengatakan atau menanyakan sesuatu, Danita menanggapi seadanya. Apa terjadi sesuatu atau dirinya berbuat salah, hingga membuat mood istrinya buruk.
Arjuna pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang tertinggal. Dia tidak melihat keberadaan istrinya, tapi matanya menangkap sebuah map berisikan hasil pemeriksaan medis Danita.
Dengan hati-hati dia membukanya dan membaca setiap kalimat yang tertera di sana, beserta selembar foto hitam putih.
Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal erat. Dia benar-benar kecewa.
Pintu kamar mandi terbuka.
“Astaga!” Danita terkejut, karena dikira Arjuna sudah berangkat ke kantor.
“M-mas, ngapain?” Tanyanya karena Arjuna memunggunginya.
“Jadi karena ini.” tanya Arjuna, tangannya terkepal erat memegang lembaran kertas itu. Dirinya masih menahan untuk tidak meluapkan emosinya kepada Danita.
“Maksudnya?”
“Karena ini, kamu mendiamkan aku dan juga menangis hingga matamu sembab.”
Arjuna memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Danita.
“Apa ini? Benar karena ini wajahmu terlihat sedih? Jawab Nita!”
Danita terkejut mendengar suara bentakan Arjuna yang begitu keras. Air matanya seketika menetes.
“Jadi benar,” Ujarnya lirih.
“Mas ....”
“Kenapa kamu menyembunyikan hal ini? Apa aku enggak berhak tahu?” tanyanya memandangi wajah istrinya.
“Atau kamu sebegitu tidak inginnya dia ada, sampai sampai menyembunyikannya dari aku.” Arjuna tertawa miris.
“Bukan, bukan itu maksudku Mas. Aku enggak bermaksud menyembunyikan hal itu dari kamu,”
“Lalu kenapa Nita? Aku ayahnya, kenapa kamu lakukan ini?” Arjuna berujar dengan tatapan mata terluka. Langkahnya mundur menjauhi Danita.
“Apa karena kesalahanku terlalu besar, hingga kamu belum bisa memaafkan dan enggan dia ada. Aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku, tapi tolong setidaknya biarkan dia tetap ada di rahim kamu sampai dia lahir ke dunia ini meskipun kamu tidak menginginkannya.”
Tidak. Seharusnya tidak begini. Bukan salahku, tapi kamu mas. Hatiku terlalu sakit melihat kamu kemarin.
Danita terisak, tubuhnya luruh di hadapannya Arjuna.
“Seharusnya aku yang marah sama kamu, Mas. Aku kecewa karena kamu berbohong kepadaku, dan aku pikir kamu tidak menginginkan kehadirannya. Aku terlalu takut untuk mengatakannya, Mas.” Ujarnya disertai isakan.
Melihat hal itu, Arjuna mendekat. Dia langsung memeluk erat tubuh Danita.
“Bagaimana mungkin aku tidak menginginkannya, aku justru sangat menantikan kehadirannya, Sayang.” ujar Arjuna lirih.
Setelah tangis Danita reda barulah dia menceritakan semuanya dan Arjuna memaklumi, serta meminta maaf karena sudah membuatnya mereka salah paham.
Dia langsung menghubungi asistennya, mengatakan jika dirinya tidak masuk kantor hari ini. Kemudian menelpon kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya. Tentu saja kabar itu disambut baik oleh keluarga keduanya. Cucu pertama yang begitu dinantikan oleh semua orang.
...****...
...Eaaa, yang kemarin udah gondok duluan sama Arjuna. Silakan minta maaf wkwkkw...
...Beberapa part menuju ending, biar aku bisa fokus sama cerita yang baru. nanti promosi juga di sini. Boleh follow akunku biar gak ketinggalan update terbaru ceritaku ya~...
...terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ini....