NovelToon NovelToon
Marry (To) Me

Marry (To) Me

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:60.1k
Nilai: 5
Nama Author: Far Choinice

Will you marry me, miss Marry?


'Sorry, No'

Sebuah pertanyaan dan jawaban yang mengubah segalanya. Marry menolak Sean tanpa jeda.

Hingga beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan di suatu RS. Perlahan, mereka menguraikan benang merah masalalu. Tapi, disisi lain, mereka juga harus menghadapi banyak kisah rumit yang membuat Marry berada di satu pertanyaan yang sama tentang pernikahan, apakah dia bisa menerima lamaran itu atau menolaknya. Lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deja Vu

          Marry menatap layar monitor di depannya. Ia nampak serius sambil sesekali menatap pasiennya yang tengah terpejam dengan memakai oksigen masker. Pasien mengalami kejang selama sepuluh detik sebanyak empat kali sebelum ini. Dan di kejang keempat, pasien tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran dengan tekanan darah 200 per 120. Saturasi oksigen juga hanya bertahan sampai 96%.

           “Dokter Ravendra,” lirih Kevin saat kelambu terbuka.

           Ravendra mengangguk kecil dan memeriksa pasien dengan stetoskopnya. Marry menggeser sedangkan menjauh, memberi ruang agar Ravendra bisa memeriksa lebih leluasa. “Bagaimana hasil CT Scannya?”

          “Ada perdarahan sekitar dua puluh cc, dok.” Sahut Marry.

          “Riwayat jatuh?”

          “Sebulan yang lalu. Saat itu dia juga dirawat karena stroke.  Ini adalah serangan keduanya.”

          “Apa kata dokter syaraf?”

          “Konsul bedah syaraf untuk cito op. Tapi sampai sekarang belum ada balasan.”

         “Aku akan meneleponnya. Kamu siapkan prosedurnya.”

         “Siap,” sahut Marry dan Kevin bersamaan.

          Marry kembali ke meja kerja dan berkata dengan berkas-berkas pasien yang diperlukan. Dia menarik napas sejenak dan mendengar ponselnya berdenting. Ia mengecek sekilas layar ponselnya dan menemukan pesan WA dari Sean yang minta untuk bertemu di kafe seberang Rumah Sakit. Marry mengernyit kecil dan mengetik jawaban OK sebelum kembali menyurukkan ponselnya ke dalam saku jas dan kembali fokus pada pekerjaannya.

          Setelah semua siap, ia melirik ruang kerja Ravendra. Dokter itu nampak serius dengan teleponnya. Sesekali ia mengernyit kecil sambil membolak balikan berkas di mejanya. Marry terdiam, menelisik setiap detail diri Ravendra. Benar kata Acha, dia mirip oppa, ehem... ahjussi mature ala korea tepatnya. Marry tersenyum tipis dan tiba-tiba teringat dengan kecurangan yang pernah diberikan oleh Ravendra. Ia mengerjap kecil seraya menepuk pipinya yang serasa memanas.

         “Fokus, Marry! Fokus!”

         Ah, tapi memang perlakuan kecil Ravendra yang biasa dingin dan cuek, ternyata begitu manis dan hangat. Sweet!

 

-oOo-

 

         Marry melangkahkan kaki memasuki kafe yang nampak sedikit ramai karena berada di jam pulang kerja kantoran. Jam enam sore. Marry mengeluarkan pandangan dan menemukan sosok Sean tengah duduk di pojokan kafe. Ia nampak sibuk dengan ponselnya. Marry mendekati pemuda itu dan entah kenapa, kelebat memori saat lamaran Sean yang dulu, terlintas dalam benak Marry. Hal ini, membuat perasaan Marry jadi bergelut aneh. Ia terhenti sejenak, mencoba menebak apa yang ingin Sean sampaikan sore ini. Tidak mungkin khan jika pemuda itu melamarnya. Lagi? Apa ia kabur saja, ya?

         “Marry,” panggil Sean yang membuat Marry tidak bisa kabur. Marry menyunggingkan senyum canggung sembari melangkah menghampiri Sean dan duduk berhadapan dengan Sean.

           Di meja, sudah tersedia segelas es kopi dan sepiring kecil kue coklat. Itu! Coklat... ah, Marry merasa semakin canggung. Ini tidak terjadi lagi, khan?

           “Gue gak tahu selera lo sekarang apaan. Jadi, gue pesenin aja kue coklat. Tenang aja, gak ada benda apapun di sana.” Ujar Sean seolah bisa membaca kecanggungan Marry.

          Marry meringis tipis, “Gue Cuma lagi... diet.” Sial. Alasan klasik!

          Sean terkekeh, “Makan aja. Serius, gak ada apapun di sana... .”

          “Oh,” Marry mengangguk kecil.

          Marry menyuapkan kue coklat itu sambil melirik Sean yang kini tengah menopang tangan, menatapnya dengan seksama. Memang, tidak ada cincin di kue itu. Tapi, mendapat tatapan Sean seperti ini, membuat kue coklat itu berubah jadi hambar. Ia menelan kue itu dengan sedikit susah payah. Dia sudah tidak tahan.

         “Say it... ,” ujar Marry sembari meletakkan sendok kecilnya. Benar-benar seperti deja vu. Dia seperti sedang mengulang adegan lama.

         “Gue pernah bilang... gue mau kita mengulang semuanya dari awal. Dan, gue mau lo pikir ini baik-baik.”

         Memang pertanyaannya berbeda, tapi intinya sama. Sean menanyakan komitmen. “Sean... gue—.”

         “Gue udah tahu semu cerita lo. Gue gak tahu kalo gue benar-benar pengecualian waktu itu.”

         Marry mengernyit kecil lalu mendengus kecil, “Bukan salah lo. Lo Cuma jadi salah satu ‘triggers’. Tapi, tidak begitu berpengaruh. Karena pada dasarnya, bukan dari elo. Tapi diri gue sendiri. Dan... dari papa.”

         “Setidaknya, gue harusnya dengerin semua dari sisi lo.”

         “Tapi—.”

         “Stop, Sean... apapun yang lo denger dari Zara... oke, gue emang gila. Tapi, itu bukan karena lo. Dan gue sadar, ini semua hanya efek dominan dari rasa stres gue aja.”

          Sean terdiam. Dia nampak menatap ke arah Marry dengan seksama. Entahlah, Marry masih tidak bisa berpikir jernih sekarang. Dan, dia sungguh tidak mau melampiaskan apapun pada Sean. Jujur saja, dulu pada akhirnya Marry sadar jika dia tidak berhak melampiaskan kemarahannya pada Sean. Sean tidak bersalah apapun. Hanya saja, Marry berpikiran terlalu pendek dan kalut waktu itu. Hanya itu. Dia sudah merupakan perpisahan ya dengan Sean. Dulu. Jadi, apa dia bisa menerima pernyataan Sean lagi kali ini? Marry menghela napas sepanjang mungkin.

         “Dan, gue... ingin memikirkan jawaban pertanyaan lo secara bertahap. Gue gak mau ngulang jawaban yang membuat semua kacau... gue harap lo bisa kasih gue waktu.”

         “As long as you want. I’ll be waiting for you.”

 

-oOo-

 

           Marry menerawang kecil ke arah langit-langit kamarnya. Terdiam di atas ranjang sambil memikirkan kilas balik hidupnya. Dua puluh tujuh tahun dalam hidupnya, dia melalui banyak hal. Terlebih, saat ini. Yah, saat ini dia menghadapi dilema. Dua orang laki-laki , Sean dan Ravendra, menyatakan perasaan padanya. Dan dia sama sekali tidak tahu jawaban apapun. Dia tidak cukup yakin dengan perasaannya.

         Dia tidak mau mengambil jawaban yang gegabah. Dia tidak mau mengulang kesalahan terbodohnya lagi. Dan tergila.

        “Hmmm... Marry yang jomblo sejak keluar dari Rumah Sakit jiwa, harus dihadapkan dengan dua dokter muda. Hah... seperti drama korea saja.!”

       Sial. Marry baru ingat kalau ada episode terbaru drama kesayangannya!

 

-oOo-

 

"Lo belum tidur?Marry, ini udah jam dua pagi!" pekik Zara yang terbangun dari tidurnya.

Marry menoleh ke arah Zara dan tersenyum kecil dengan beberapa remah makanan ringan berkeliaran di lantai sekitar Marry. Zara menggeleng kecil dan duduk di sofa seraya berjinjit menghindari remahan-remahan itu. Yah, dia cukup hapal dengan Marry. Terkadang, pelampiasan stres Marry adalah marathon drama korea.

"Ada masalah apa, lo?" tanya Zara.

"Nothing," sahut Marry menyodorkan makanan ringan pada Zara.

Zara menggeleng kecil, "Nope. Gue kudu diet."

"Hhhmmm... udah kurus kering gitu... ."

"Gue naik 4 ons!"

Marry mendelik, "Lha apa kabar gue, naik dua kilo!"

"Bagus! Gue gak perlu beli boneka babi."

"F\*ck!"

Zara terkekeh melihat tampang kesal Marry. Gadis itu kembali sibuk menatap televisi yang menayangkan drama korea kesukaannya. Zara terdiam sejenak

"Gue tahu... Ravendra nembak lo. Dan juga, Sean."

Marry tidak bergeming tapi Zara cukup yakin jika gadis itu mendengarkan omongannya.

"Gue selalu berada di sisi lo. Apapun keputusan lo, Marry. Meski, pilihan lo ada pada Sean."

"Gue masih mikir-mikir. Dan, jujur, gue serakah."

"Gue tahu. Lo punya perasaan yang sama pada mereka."

"So... menurut lo, gue milih siapa?" tanya Marry seraya memutar tubuhnya ke arah Zara.

Zara terdiam sejenak, "Yang penting, bukan Anggara."

"Hah! Lo malu-malu doyan juga ama dokter Alvian."

Zara menggedik bahu sekilas, "He's always be my man."

"Bodo." omel Marry sambil kembali sibuk sendiri, mengabaikan Zara yang terkekeh.

Well, Zara akan menantikan. Seperi apa akhir cinta segitiga mereka. Sepertinya, lebih menarik dari drama korea!

-oOo-

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
haha... serius deh,ngakak abis😂😂
Dayu Fabi
penggunaan tanda baca yang cukup bagus, keren banget
Dayu Fabi
penggunaan kata-kata yang bagus! keren! lebih bagus novel Kakak, dibandingkan aku deh kayanya...
Aris Pujiono
terima kasih kak sudah memberi kan koin ... minal aidzin Ealah fa idzin
Aris Pujiono
terima kasih atas tipsnya kakak
Radiah Ayarin
baru mampir nih
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩
Mampir ya😊
༺❥ⁿᵃᵃ​ꨄ۵​᭄
eemm halo kak salam kenal dri aq...
yg mempir kecerita author menari...
Aris Pujiono
yuk lanjut
ZaaraItsMe
terimakasih buat karya yang bagus ini kak... love it
ZaaraItsMe
Hiks... dah tamaaatttt... seru banget. bagus banget ceritanya. beda... gak ngebosenin. mantap thoorr
Aris Pujiono
next kak
Aris Pujiono
bikin bergetar
🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌ yujin
udah mampir feedback yah
CumaAku
terimakasih untuk novel yg epik kak..... gk mbulet. seru. keren... sukses karya2nya kakkk
CumaAku
udah tamaattt hikes
ZaaraItsMe
astagaaaah dua episode terakhir baca ini bikin emosi lho. kemarin pergi, sekarang udah ada anak aja.
🐰Far Choinice🐰: sabar ya kaaaak ^^
total 1 replies
ZaaraItsMe
Heeee lhooo heeee lhooo.. kok tiba2 pergi. heeeee lhooo apa2an ini thoorrrrrrrr
ZaaraItsMe
Ya ampuunnn semua hal di novel ini berkaitan dan penuh kejutannn.. serruu aslii
🐰Far Choinice🐰: Yuhuuuuuu
total 1 replies
CumaAku
heeeee thooorrr itu gimana ada anak ajaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!