Nayla seorang putri dari pengusaha kaya raya yang cantik,pintar dan baik hati yang harus menerima perjodohan dengan seorang pria dari keluarga pengusaha sukses teman ayah nya.
Tapi di lain sisi,Nayla sudah mempunya kekasih yang sangat dia cintai dan sangat mencintainya.
lalu apa yang akan Nayla lakukan?haruskah dia menerima perjodohan ini dan melupakan kekasih yang selama ini dia cintai?akankah hati nya terbuka untuk calon suami nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESTA PERNIKAHAN
pagi - pagi Nayla mendapat telepon dari Ibu Kevin. Dia baru saja bangun dan tiba - tiba ponselnya berbunyi.
" Selamat pagi, sayang. " Kata Ibu Kevin.
" Ah iya, bu. apa kabar? "
" Ibu baik sayang. Kau bagaimana? "
" Aku baik, bu. " Jawab Nayla.
" oh iya sayang, Kevin ada dirumah kan? "
Pertanyaan Ibu Kevin membuat Nayla terkejut sekaligus bingung .
" Ponselnya tidak aktif terus. "
" Ya, bu. Dia masih tidur. "
" Oh baiklah. Ibu cuma mau mengundang kalian ke pesta hari jadi pernikahan Ibu nanti sore. "
Apa? pesta? Nayla berpikir bagaimana harus menghubungi Kevin.
" Seperti nya dia melupakan itu. " nada suara Ibunya terdengar kecewa.
" Baik, bu Saya akam sampaikan. "
" Terimakasih, sayang. "
Ibu Kevin menutup telpon.
Nayla benar - benar bingung harus menghubungi Kevin kemana.
Oh iya, mungkin sekertaris Zein tau. pikirnya.
Tanpa pikir panjang, Nayla pun langsung pergi keluar untuk menemui sekertaris Zein .
Dia sedikit berlari di tangga dan tanpa sengaja kakinya terpelset dan hampir terjatuh.
BUKKK..
Untung saja sekertaris Zein kebetulan akan ke atas dan dengan sigap menangkap tubuh Nayla yang akan terjatuh .
Nayla terjatuh di pelukan sekertaris Zein sambil memeluk leher nya dan sekertaris Zein memeluk pinggang Nayla. Mata mereka pun bertemu.
Sesaat Nayla terdiam dan menatap sekertaris Zein, tapi dia langsung sadar dan meleepaskan diri nya.
" Ah, maafkan aku, Kak. " katanya sambil merapikan pakaian nya.
" Kau baik - baik saja, kan? "
Nayla mengangguk.
" Ada apa, Nona. Sepertinya kau terburu - buru? " tanya sekertaris Zein.
" Ya, aku mau tanya. Apa kau tau Kevin ada dimana?"
" Aku baru saja akan ke atas untuk menanyakan padamu. " kata sekertaris Zein.
" Hari ini ulang tahun pernikahan tuan dan nyonya besar. Tuan muda harus kesana. " lanjutnya.
" Ya, aku tau. Tadi Ibu menelpon ku. "
" Tapi aku tidak tau dia dimana. " Nayla tampak sedih.
" Akupun tidak bisa menghubunginya. " kata sekertaris Zein.
" Apa kau sudah menghubungi wanita itu, kak? "
Sekertaris Zein terkejut.
" Maksudmu? "
" Ya, Kevin pasti ada disana kan? "
Sekertaris Zein melihat Nayla meremas kedua tangan nya dan raut wajahnya terlihat sedih.
Dia tau, pasti sangat berat buat Nayla mengakui kalau orang yang dia cintai ada di tempat wanita lain.
" Aku... akan menghubungi nya. "
Nayla mengangguk.
Tuuut.. tuttt.. tuuut..
" Halo. "
Suara Jeanny mengangkat telpon.
" Apa Kevin ada disana? " tanpa basa basi sekertaris Zein langsung bertanya.
"ini siapa? " Suara Jeanny terdengar seperti baru saja bangun tidur.
" Katakan saja. Dimana Kevin?" Sekertaris Zein tak ingin banyak bicara.
" Ya, dia ada disini. Dirumahku. Di sampingku. Tidur di sebelahku sepanjang malam,dan kami menikmati malam kami. " Jeanny terdengar sengaja mengatakkan itu.
Sekertaris Zein langsung melihat ke arah Nayla, karena sepertinya Nayla mendengarnya.
Nayla terlihat diam, tapi sekertaris Zein melihat mata Nayla yang mulai berkaca - kaca namun Nayla seperti menaham airmata nya jatuh.
Sekretaris Zein langsung mematikan ponselnya.
" Aku,, ke kamarku dulu. " Nayla langsung pergi meninggalkan sekretaris Zein.
" Nona,, " Sekertaris Zein mencoba memanggil tapi seperti nya Nayla tidak mendengar dan langsung pergi begitu saja.
Nayla langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. Dia menangis sambil di tutupi wajahnya dengan bantal.
Hatinya terasa sangat sakit, bahkan terasa sakit sampai ke seluruh tubuhnya.
****
Kevin terbangun karena cahaya matahari masuk melewati celah gorden hingga menyinari wajahnya.
Kepalanya terasa sedikit pusing.Dia berusaha duduk dan tubuhnya terasa lemas juga.
Kevin merasa aneh karena dia ada di tempat tidur dan bukan di sofa. Kevin terkejut karena dia tidak memakai apapun di tubuhnya dan hanya selimut saja yang menempel.
Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah, Jeanny!!!
Dia masih tertidur di samping Kevin dan dia pun tak memakai apapun selain selimut yang hanya menutupi tubuhnya sampai pinggang saja hingga terlihat bagian tubuh atasnya walaupun tertutup tangan yang dia tempelkan di kepala nya sebagai bantalan.
Jeanny terbangun karena pergerakan Kevin. Dia tersenyum melihat Kevin masih ada di sampingnya.
" Sayang. Kau sudah bangun? " tanya nya dengan suara manjanya.
" Apa,, yang sudah kau lakukan? " Kevin ragu bertanya.
" Aku? bukan aku, tapi kita. " Jeanny tersenyum.
" Sayang, apa yang kau takutkan? bukankah kau mencintaiku? " Jeanny merangkak mendekati Kevin dan langsung memeluknya.
Kevin pun hanya diam dan menerima saja apa yang di lakukan Jeanny.
Setelah beberapa saat, Kevin pun bangun dan bersiap untuk pergi.
" Aku harus ke kantor, karena banyak hal yang harus ku kerjakan. " Katanya sambil bersiap dan memakai pakaian nya.
Sementara Jeanny melihatnya dan masih berbaring di tempat tidur dengan hanya memakai selimut saja.
Kevin menyalakan ponselnya dan beberapa pesan masuk berdatangan termasuk dari Ibunya.
" Oh ya ampun. Aku lupa hari ini ulang tahun pernikahan orang tua ku. " Katanya setelah membaca pesan dari Ibunya.
" Apa? ulang tahun pernikahan. Hmmm.. apa kita harus kesana? " Tanya nya penuh percaya diri.
" Maaf, sepertinya aku harus pergi dengan Nayla. Ibu menyuruhku pergi dengan istriku. "
Cih..
Jeanny merasa sangat kesal.
" Jangan marah seperti itu, aku akan langsung kemari setelah pesta nya selesai. " Kevin merayu dan mencium kening Jeanny.
Jeanny mengangguk, tapi dengan raut wajah sangat kesal.
****
Tok..tok.. tok..
Sekertaris Zein mengetuk pintu lalu masuk ruangan. Disana Kevin seperti biasa sudah ada di ruangan nya.
" Ini jadwal anda hari ini, tuan muda. " sekertaris Zein menyodorkan map merah ke meja Kevin.
" Nanti sore ada pesta.. "
" Aku tau!! " Kevin memotong perkataan Sekertaris Zein.
" Nona Nayla juga akan bersiap - siap. Dia khawatir tentang anda dan terus menunggu. "
BRAKK..
" Hentikan omong kosongmu, kak! " Kevin menggebrak meja.
" Aku tau mau mu apa, jadi jangan seolah - olah kau perhatian padanya dan aku yang salah. " Kevin menatap tajam Sekertaris Zein dan langsung pergi.
Sekertaris Zein tersenyum.
Sore hari Kevin pulang bersama sekertaris Zein dan seperti biasa dia tak berbicara apapun.
Kevin langsung masuk tanpa menunggu sekertaris Zein membukakan pintu untuk nya.
Kevin membuka pintu kamar dan tertegun sejenak melihat Nayla yang sudah berdiri menyambutnya dengan gaun pesta berwarna coklat muda, dengan tatanan rambut ikal yang di urai ke samping.
" kau sudah pulang. " Sambutnya dengan senyuman seolah tak pernah terjadi apapun.
" Aku akaan bersiap. " Kevin benar - benar terkejut melihat Nayla yang terlihat sangat cantik hari ini.
Jantungnya mulai berdegup kencang, tapi entah kenapa dia mengalihkan pikiran nya pada Jeanny hingga tidak merespon apapun melihat kecantikan Nayla.
Tak berapa lama mereka pun berangkat bersama dengan sekertaris Zein.
mereka sampai di rumah orang tua Kevin yang sangat besar hampir seperti istana.
Para tamu sudah berdatangan. Semua adalah teman dan juga rekan bisnis ayahnya.
Kevin dan Nayla di sambut gembira oleh kedua orang tuanya. Ibu Kevin memeluk Nayla dan mencium pipinya.
" Terimakasih sudah datang" Katanya Ibunya.
" kalian benar - benar pasangan yang sangat serasi. Lihat, semua melihat kalian. " Ibunya tertawa kecil.
Nayla tersenyum malu dan kevin hanya tersenyun samar.
Para tamu saling berdatangan. Dan tak berapa lama, seseorang yang Kevin kenal datang dan berjalan ke arah Kevin dan kedua orang tuanya.
Jeanny!!!
si naylnya jg plin plan😏😏