Dia adalah orang yang sering dibuli dan dianggap remeh, yaitu seorang pecundang.
Suatu saat dia bermain game, tapi ketika pertama kali login, dia menemukan bahwa dirinya terjebak di sana.
Dia terjebak di dalam game dimana dirinya bisa mati kapan pun di dunia itu.
Aku telah memutuskan. Aku akan bertarung.
"...Dan menjadi orang yang bisa berdiri sampai akhir..."
=======================
Penasaran dengan bagaimana petualangannya di dalam dunia game?
Genre: Aksi, Komedi, Romantis, Petualangan, Sihir, Monster, Bela diri, Kerajaan.
-The Last One Standing-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Shania Moore.
Teo dengan cepat bergerak ke samping untuk menghindarinya. Setelah itu dia kembali menampar Rico dengan keras.
"Plak."
Suara gemuruh penonton menjadi-jadi. Mereka tidak menyangka dapat melihat keajaiban di mana seorang wakil kapten ditampar oleh seorang anak kecil sampai dua kali.
"Sialan! Kau--"
"Plak. Plak."
Teo kembali menamparnya, dan kali ini dua kali dengan sangat cepat pada pipi kiri dan kanan.
Saat ini semua orang tidak menyadarinya, sampai beberapa detik kemudian, mereka mulai merinding sendiri melihatnya.
"Plak. Plak. Plak. Plak. Plak."
Teo sudah menampar wajah Rico berkali-kali, bahkan tidak ada perlawanan dari pihak musuh.
Semua orang mulai terdiam, suara yang tadinya sangat berisik dan mengganggu perlahan menjadi sunyi senyap.
"Sial! Kau...!!!!!"
"Plak. Plak. Plak."
Sepertinya Rico masih belum menyerah, matanya masih menatap tajam ke arah Teo.
Rona wajah dan matanya sekarang telah kembali normal seperti biasanya, seolah dirinya tidak sedang mabuk-mabukan sama sekali sebelumnya.
"Apa kau sudah mulai sadar sekarang?"
"Cih. Beraninya kau! Sial-!!!"
"Ting... Ngiiiiiing..."
"Sepertinya belum."
Suara sebuah pedang yang keluar dari sarungnya begitu melengking di sana.
Saat Rico melakukannya, seketika warna wajah semua orang menjadi pucat.
Mereka berkali-kali sudah memanggil Rico untuk berhenti dan jangan bertindak bodoh.
Namun Rico masih tetap keras kepala dan menyeringai di sana.
"Matilah kau bocah!!!!"
Teo melesat dengan cepat di sampingnya dan menjegal kaki Rico, dia membuatnya terjungkal dan jatuh ke tanah dengan bergulingan.
Ketika Rico kembali membuka mata, dia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.
Entah kenapa tubuhnya seolah terasa lebih berat, saat melihatnya dia menemukan Teo yang sedang menatapnya dengan dingin.
"Apa yang kau--!!!!"
Dia duduk di atas perut Rico dan melebarkan kakinya selebar mungkin.
Sikapnya terlihat begitu sombong dan seolah tidak tersentuh.
Semua orang yang melihatnya juga berpikiran begitu, mereka dibuat tidak bisa berkata-kata lagi dengan sosoknya. Mereka bahkan penasaran apakah yang di sana itu sungguhan hanya seorang anak kecil.
"Plak. Plak. Plak. Plak. Plak. Plak."
Beberapa detik kemudian, Teo langsung menampar pipi wakil kapten berkali-kali.
"Apakah kau masih belum sadar, juga? Kau barusan mau membunuh seorang anak kecil, kau tau itu?"
"Plak. Plak. Plak."
Dipermalukan di hadapan banyak orang dan menelan kekalahan dengan hanya melawan seorang anak kecil.
Rico sang wakil kapten tidak terima itu dan berteriak.
"Apa yang kalian lakukan sebenarnya di sana? Hanya diam dan duduk menonton?! Cepat berdirilah, dan sandera kakek tua itu dengan perempuan yang ada di sana!"
Rico berbicara kepada anak buahnya yang juga sedang berada di dalam serikat guild.
Lalu ada dua orang di sana yang tiba-tiba berdiri.
Mereka adalah dua orang yang berpakaian biasa sama dengan pemimpinnya. Karena hari ini adalah hari libur dari tugas mereka, sepertinya mereka tidak membawa apapun kemari.
Keduanya segera berlari untuk membantu pemimpinnya.
"Aku tidak akan membiarkannya."
Teo menjulurkan tangannya, dan tiba-tiba sebuah pedang keluar dari sana.
"Sprint."
[Skill Sprint Lv. 10 (Max), diaktifkan.]
[Semuanya akan menjadi super lambat dalam kaca matamu.]
"Urgh!"
"Argh!"
Saat tangan keduanya hampir mencapai target yang diperintahkan, tiba-tiba kedua tangan itu terpisah dan terbang menjauh di udara.
"Apa... Apa-apaan dengan itu...?"
Rico yang melihat semua itu menelan ludahnya.
Teo seketika muncul di antara kedua bawahannya itu dan kembali menyarungkan pedangnya, perlahan dia kembali berdiri dan menatap langsung mata Rico.
Dia memberikan aura intimidasi yang menakutkan kepadanya, tidak, bahkan pada semua orang yang melihatnya di sana.
"Hi-Hiiiik! Dasar Monster!!!!"
Rico segera berdiri dan berlari tunggang langgang meninggalkan Serikat Guild. Kedua anak buahnya juga mengikuti dengan memegangi tangannya yang terpotong.
Sekarang Serikat Guild menjadi sunyi dan suasananya begitu berat.
"Kau baik-baik saja, kan?"
Waiter imut di sana lah yang pertama kali menyambutnya.
"Yeah. Tidak masalah. Tapi... Maaf..."
Teo menggaruk pipinya, dia melihat ke sekitar, terlihat beberapa tempat yang hancur berantakan dan pecah, bahkan sampai lantainya pun juga berceceran darah.
Namun sang waiter sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, dia menggeleng dan tersenyum kepada Teo untuk berterima kasih.
"Jadi, kau adalah Teo. Perkenalkan..."
Dia mengulurkan tangannya kepada Teo.
"Aku adalah Shania Moore."
Teo kemudian menjabat tangan Shania.
"Ya. Salam kenal."
Mungkin maksud author ni berbagai negara ya?