shanum gadis 25 tahun yang terjebak dalam pernikahan bak neraka baginya. sanggupkah shanum menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 25
Jam menuju pukul 4 sore. Nampak Shanum, Bu Estu dan juga Lena tengah asyik ngobrol dan sesekali tertawa. Mereka tampak akrab sebagai seorang ibu mertua dan menantu. Tak lama kemudian terdengar deru mobil yang masuk halaman. Lena dengan cepat berjalan ke arah pintu utama. Shanum juga hampir melakukan hal yang sama, namun ia urungkan lantaran Lena sudah lebih dulu melangkah. Shanum lebih memilih untuk pergi ke kamar. Bu Estu yang melihat tingkah Shanum dan Lena beberapa hari belakangan dan ia menyadari sesuatu.
"Shanum mana?" tanya Davin begitu sudah masuk rumah.
"Ada di kamar. Baru aja naik, tadi ngobrol disini kok sama mama, ada Lena juga," jawab Bu Estu.
Setelah mendengar penuturan dari bu Estu, Davin melangkahi kaki menuju kamar Shanum. Lagi-lagi Lena dibuat kesal dengan tingkah Davin yang seperti lupa akan kehadirannya.
Ceklek
Nampak Shanum tengah memainkan ponselnya di atas ranjang.
"Suami pulang bukannya disambut malah asyik sendiri di kamar," ucap Davin seraya berjalan mendekat.
"Bukannya udah di sambut sama mbak Lena, sama aja kan?" tanya Shanum masih asyik
dengan ponselnya.
"Cemburu kah istri ku ini?" tanya Davin menggoda.
"Kenapa cemburu? Nggak, aku biasa aja."
"Ah masak?" ucap Davin seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Shanum
"Apaan sih mas. Ih nggak jelas banget," ucap Shanum salah tingkah. " Udah mandi sana, bau juga," sambung Shanum seraya menutup hidung.
"Oh jadi aku bau?"
Davin dengan cepat menangkup kedua pipi Shanum dengan tangannya lalu menciumi semua wajah Shanum tanpa sisa. Shanum merasa geli dengan tingkah Davin.
"Mas lepas apaan sih. Ih bau," ucap Shanum menahan tawanya.
Kata katanya tak kunjung diindahkan oleh Davin Shanum memutuskan untuk berteriak saja agar Davin menghentikan tingkah konyolnya.
"Mas Davin lepasin," teriak Shanum.
Dengan satu teriakan saja Shanum terbebas dari tangan dan ciuman brutal Davin. Shanum mengusap usap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Mandi sana," ucap Shanum kesal.
"Jangan diusap gitu dong, ntar bekas bibir aku hilang," ucap Davin.
Buugh
Shanum melempar bantal ke arah Davin.
"Mandi nggak. Aku lempar lagi nih," ucap Shanum yang tengah mengambil ancang-ancang ingin melempari Davin lagi.
Davin hanya tertawa melihat tingkah Shanum. Ia berjalan ke arah kamar mandi dan "cup" Davin mencuri satu ciuman lagi di kening Shanum. Lalu ia melanjutkan perjalanannya ke kamar mandi.
"Lama-lama aku bisa jatuh cinta kalau diperlakukan seperti ini terus. Astagfirullah Shanum gunakan logika. Jangan perasaan," gumam Shanum yang lagi-lagi hatinya tak sejalan dengan logikanya.
Setelah selesai dengan mandinya Davin lebih memilih dikamar berdua dengan Shanum. Mereka hanya ngobrol ringan dan bercanda seperti layaknya seorang pasangan suami istri.
Tok tok tok
"Maaf tuan makan malam sudah siap," ucap bi Mina dari luar.
"Iya bi kita turun sekarang," jawab Davi.
Mereka turun bersama-sama. Nampak semua orang sudah menunggu di meja makan. Ada raut wajah tak suka yang diperlihatkan oleh Lena.
"Ngapain aja sih mereka berdua dari sore sampai malam dikamar?" batin Lena kesal
"Aduh aduh kalian udah kayak pengantin baru aja sih. Dari sore ngurung diri kamar. Nggak biasanya," goda Wildan.
"Niatnya mau sampai pagi Wil," ucap Davin membalas godaan Wildan.
Satu cubitan berhasil mengenai perut Davin.
"Aduh sakit sayang," ucap Davin.
"Kheeemm. Mas mau diambilkan siapa makanannya?" tanya Lena sedikit ketus
"Aku ambil sendiri aja Len," jawab Davin.
Shanum menyadari sikap Lena, ia merasa tak enak hati. Ia tahu bahwa Lena cemburu. Shanum pun menyadari bahwa Davin seperti menunjukkan sisi romantisnya lebih condong kepadanya ketimbang pada istri pertamanya itu.
Satu persatu semua orang yang berada di meja makan pergi ke kamar masing-masing. Tinggallah Shanum, davin dan juga Bu Estu yang masih di meja makan. Saat Davin akan beranjak dari sana Bu Estu memanggilnya.
"Vin, mama mau bicara sebentar sama kamu empat mata," ucap bu Estu serius.
"Kalau begitu aku permisi dulu ma," ucap Shanum seraya meningggalkan meja makan.
"Kita ngobrol di ruang kerja kamu aja," ucap Bu Estu seraya melangkahkan kaki ke ruang kerja Davin
"Ada apa sih ma? Di mana aja sama saja kan?
Nggak ada yang denger ini. Ada hal penting apa sampai mama ngajak aku bicara diruang kerja aku," tanya Davin panjang lebar.
Bu Estu membuka pembicaraan begitu sampai di ruang kerja Davin.
"Vin, sepertinya Shanum dan Lena tidak bisa tinggal satu atap lagi. Akan ada banyak kecemburuan di dalamnya. Secara tidak langsung kamu menyakiti mereka tanpa sengaja."
"Ya ma, aku sudah memikirkan itu. Aku sudah membangun sebuah rumah di dekat kantor. Sebentar lagi selesai. Aku bisa mengajak salah satu dari mereka untuk tinggal disana," jawab Davin
"Kamu juga harus bisa mengatur jadwal kapan kamu bersama Lena dan kapan kamu bersama Shanum. Harus adil Vin."
"Iya ma. Mama sendiri kenapa bisa berpikir kalau mereka sudah tidak bisa tinggal bersama?" tanya Davin.
"Mama sudah melihat adanya cemburu dimata Shanum dan Lena sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada Shanum. Kamu saja yang nggak peka."
"Shanum cemburu?" ulang Wildan tidak yakin
"Kalau nggak percaya, buktikan sendiri," ucap Bu Estu lalu pergi meninggalkan Davin.
"Apa iya Shanum cemburu? Apa itu artinya dia jatuh cinta padaku?" ucap Davin
Entah mengapa setelah mendengar penuturan dari mamanya hati Davin berbunga bunga bak taman kota. Ia melangkah keluar ruangannya menuju ke kamar Shanum. Ia berjalan dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya. Wildan yang berpapasan dengan Davin pun dibuat heran.
"Mas, sehat kan?" ucap Wildan seraya menempelkan tangannya ke kening Davin.
"Sehat, aku sangat sehat," ucap Davin dengan senyum yang semakin merekah.
Melihat tingkah Davin membuat Wildan ngeri. Ia berjalan meninggalkan Davin.
"Sepertinya itu bukan mas Davin. Dia pasti lagi kesurupan. Hiii," gumam Wildan.
Ceklek
"Sayang udah tidur?" ucap Davin seraya membuka pintu.
"Belum. Kenapa?"
"Sebaiknya aku mulai dramanya dari sekarang, apa benar yang dikatakan mama tadi," batin Davin
"Oh nggak papa. Aku malam ini tidur di kamar Lena ya," ucap Davin menghampiri Shanum
"Ngapain laporan kalau tidur disana. Biasanya juga nggak pernah. Terus kenapa masuk kalau mau tidur disana," ucap Shanum sedikit ketus.
"Ya kan apa salahnya pamit sama kamu, takutnya nanti kamu cariin aku," ucap Davin percaya diri.
"Ya udah tidur sana, aku juga mau tidur," ucap Shanum seraya menyelimuti dirinya hingga leher
Davin tersenyum puas melihat reaksi Shanum.
"Selamat malam. Tidur yang nyenyak sayang," bisik Davin di telinga Shanum.
Shanum tak bergeming, ia tetap diam dalam selimutnya. Namun jantungnya terdengar lebih keras dari biasanya. Ia berharap Davin segera pergi agar tak mendengar detak jantungnya.
Begitu Davin keluar kamar Shanum, ia nampak menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia beranjak duduk.
"Benar-benar keterlaluan. Dia kemarin tidur dengan mbak Lena dan sekarang lihat, ia tidur dengannya lagi. Tapi tunggu, kenapa aku kesal? Astaghfirullah, selalu seperti ini. Ayolah kenapa hatiku dan otakku sekarang sudah tidak sinkron," gumam Shanum frustasi. "Sudahlah lebih baik aku tidur."
*
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Shanum sengaja tak keluar kamar. Ia terlalu kesal dengan Davin. Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya.
Davin dan Lena nampak sedang menuruni anak tangga. Davin yang hafal dengan kegiatan Shanum nampak akan melancarkan aksinya kembali, yakni membuktikan omongan Bu Estu. Namun begitu sampai dimeja makan hanya ada Wildan dan Bu Estu. Davin celingukan mencari keberadaan Shanum.
"Shanum mana?" tanya Davin.
"Belum keluar," jawab Bu Estu singkat.
"Tumben," ucap Davin lalu melenggang pergi untuk memanggil Shanum namun tangan Lena dengan cepat mencekal tangan Davin.
"Nanti juga dia turun sendiri, kita sarapan sekarang."
"Nggak bisa gitu dong Len. Siapa tahu dia di kamar lagi sakit kan."
"Dia baik-baik saja. Sebentar lagi juga turun."
"Sudah-sudah. Bi Mina sedang ke atas untuk memanggil Shanum. Kalian duduk dan sarapan."
Davin sedikit kesal dengan Lena yang melarangnya untuk memanggil Shanum. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari arah tangga. Terlihat Shanum berjalan dengan bi Mina.
"Mbak kok tumben baru turun?" tanya Wildan.
"Iya lagi males aja". Jawab Shanum sekenanya.
Kring kring
Terdengar bunyi ponsel wildan yang berdering. Ia mengangkat telepon tersebut dan bergegas pergi.
"Ma aku berangkat dulu ya. Ojol udah di depan."
"Tumben naik ojol. Motor kamu kenapa?" tanya Bu Estu.
"Nggak kenapa-napa. Aku ke bengkel dulu mau ambil motor temen. Udah ya ma udah nungguin dari tadi. Assalamualaikum."
"Waalikumsalam," ucap semua orang yang berada di meja makan.
Setelah membelah perjalanan 30 menit lamanya, Wildan sudah sampai di rumah Aina. Ia berjalan menuju pintu utama.
Tok tok tok
Ceklek
"Maaf mas cari siapa ya?" tanya asisten rumah tangga Alsyad
"Nggak bi nyari siapa-siapa bi. Cuman mau ngembaliin ini motor Aina yang kemarin masuk bengkel. Ini kuncinya," uap Wildan seraya menyerahkan kunci motor Aina.
"Oh iya mas nanti saya sampaikan ke nona Aina, nggak masuk dulu mas?"
"Ah nggak bi, saya lang.."
"
Siapa yang datang bi?" teriak Alsyad.
"Teman non Aina tuan."
"Eh Wil ayo masuk". Ucap Alsyad begitu sampai pintu utama.
Wildan melangkah masuk rumah dan duduk di sofa.
"Gimana keadaan Aina bang?" Tmtanya Wildan
"Alhamdulillah udah baikan. Mau ketemu?"
"Nggak bang. Aku kesini mau balikin motornya Aina. Tapi kuncinya udah aku kasih ke bibi," ucap Wildan menjelaskan.
"Kenapa repot-repot sih. Makasih ya. Bagaimana keadaan Shanum?" tanya Alsyad tanpa sadar.
"Baik kok bang."
"Jangan salah paham ya. Aku hanya bersahabat dengannya tidak lebih. Dia sudah ku anggap adikku sendiri," ucap Alsyad menjelaskan agar Wildan tak berpikir yang tidak-tidak.
"Iya bang. Aku udah tau dari mbak Shanum. Dia cerita banyak sama aku tentang abang."
"Oh ya? Baguslah kalau begitu."
"Abang yang sabar ya. Mudah-mudahan abang dapat jodoh yang lebih baik dari mbak."
Alsyad terkejut dengan penuturan Wildan.
"Maksudnya?"
"Aku tahu semuanya bang. Tadi kau udah kubilang kalau Mbak cerita banyak soal abang."
"Termasuk..."
"Iya bang termasuk hati abang sama mbak" potong Wildan.
"Mbak sedih tau bang pas abang bilang kalau mau memutuskan persahabatan kalian," Lanjut Wildan
"Itu hal yang wajar Wil. 9 tahun kita bareng-bareng mana mungkin bisa secepat itu lupa. Ini hanyalah masalah waktu dan kebiasaan saja. Lambat laun Shanum akan bisa lupa."
"Bagaimana dengan perasaan abang?" tanya Wildan.
Alsyad tak langsung menjawab, terlihat dari sorot matanya yang sangat rapuh. Sadar dengan kesalahannya, Wildan segera menetralkan situasi ini.
"Bang aku minta maaf, nggak seharusnya aku bertanya terlalu jauh. Maaf aku sudah lancang," ucap Wildan merasa bersalah.
"Nggak papa Wil. Aku baik-baik saja."
"Kalau begitu aku langsung balik ya bang. Ada kelas. Sekali lagi aku minta maaf bang."
"Iya, lupakan. Kamu naik apa ke kampus?"
"Gampang bisa pesen ojol bang. Aku pamit ya. Assalamualaikum," ucap Wildan pergi.
"Waalikumsalam."
"Selalu saja dad yang mengingatkan aku tentang Shanum. Bagaimana bisa aku melupakan dia kalau begini terus," batin Alsyad.
Tanpa ia sadari air matanya lagi-lagi jatuh karena sebab yang sama.
Bersambung