Seorang gadis cantik, ia mahasiswa berprestasi tinggi bernama Sheril Mehrunissa. Ia terjebak dalam situasi yang sulit. Kesucian yang ia pertahankan selama ini akhirnya direnggut oleh pria yang tidak di kenalnya.
Tidak sampai disitu saja. Ternyata dia hamil. Pihak kampus langsung mencabut semua pasilitas yang dia dapatkan, ia di keluarkan secara tidak hormat karena sudah mencoreng nama baik kampus.
Nasib buruk terus saja menghampiri Sheril, sampai-sampai ia terkena tekanan batin saat ayah dari bayinya sendi menculik dan mengurungnya di sebuah villa.
Sheril terpaksa menikah sirih dengan pria yang sudah memiliki istri.
ikuti kisah selanjutnya ...
jangan lupa dukungannya
berikan 🔯 5 jika kalian terkesan.
wajib like dan vote jika sudah membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desi m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nona cantik
Sudah hampir satu minggu Elian kehilangan sahabatnya. Keluarga Elian sudah mencarinya kemana-mana, bahkan berita online maupun surat kabar sudah di sebar luaskan. Tidak ada yang tau dimana keberadaan Sheril. Kini Elian hanya pasrah, ia hanya menunggu keajaiban dari sang pencipta. Semoga suatu saat nanti Sheril kembali dalam keadaan sehat dan selamat, itulah harapan mereka.
Sementara di villa. Sheril sudah membaik, walaupun wajahnya masih murung. Sheril berdiri dekat jendela sambil memandang kearah luar.
"Nona cantik," ujar bibi Arum masuk kedalam kamar Sheril dan meletakkan nampan yang berisi mangkuk sup. Ia menghampiri Sheril yang berdiri memandang keluar jendela.
"Nona, bibi buatkan sup untuk mu, makanlah selagi hangat," ujar bibi Arum seraya menampilkan sebuah senyuman khasnya.
"Bibi, aku bosan disini, aku ingin keluar. Kapan aku akan pulang bibi, Nenek dan Kakek tentu saja menghawatirkan aku," ujar Sheril dengan mata yang berkaca-kaca.
Bibi Arum memegang kedua pundak Sheril.
"Nona cantik, suatu saat kamu pasti akan keluar dari sini, makanya Nona segera sehat ya, makan yang banyak, agar Nona cantik kuat," ujar bibi menampilkan senyumannya. Ia membujuk Sheril seperti anak kecil yang baru berumur 5 tahun.
"Bibi, tidak bolehkah aku keluar dari kamar ini sebentar saja, setidaknya aku bisa melihat ruangan lainnya, atau aku bisa pergi kedapur untuk membuat sesuatu, aku benar-benar bosan melihat tembok kamar ini," ujar Sheril lirih.
"Baiklah Nona cantik, bibi akan mengatakan ini pada Tuan," ujar bibi Arum.
"Bibi, siapa Tuan yang bibi maksud?" Tanya Sheril. Rupanya ia melupakan Alzian Guinandra.
Bibi Arum tampak ragu-ragu untuk mengatakannya pada Sheril, ia takut Sheril akan kembali shock mendengar nama Zian.
"Itu Non, Tuan itu pemilik villa ini. Ya sudah Non, segera makan sup nya ya, bibi masih ada pekerjaan," ujar bibi Anum menghindari pertanyaan Sheril. Ia segera keluar dan menutup kembali pintu kamarnya.
Habis dari kantor Zian langsung pulang kerumah. Ia langsung menuju kamarnya dan membersihkan dirinya. Sementara istrinya terlihat diam saja saat zian masuk kamar mandi.
Zian hanya berpikir, kalau ia tidak berguna sama sekali bagi istrinya. Percuma saja ia bertekuk lutut di hadapan istrinya, Ririn tidak akan memperdulikannya.
"Aku sudah bosan bersabar dengan sikapmu itu, sekarang cukup Zian. Kau tidak perlu mengemis cinta pada istrimu," ucap Zian bicara dengan dirinya sendiri sambil merendam tubuhnya di bathtub.
Zian terlalu mencintai Ririn, hingga Ririn besar kepala. Ririn tau kalau Zian akan memohon padanya. Zian pun sudah melakukannya, tapi Ririn tidak juga merubah sikapnya.
Selesai membersihkan dirinya. Alzian langsung mengganti pakaiannya dengan celana pendeknya dan kaos oblong warna keram. Ia nampak segar dan wangi.
"Mana Aura?" Zian menanyakan putrinya pada Ririn.
"Sama bibi," ujar Ririn datar.
Zian langsung pergi keluar meninggalkan kamarnya.
"Bibi!" Teriak Zian.
"Iya Tuan, ada apa?" Ujar bibi dari taman belakang sambil menggendong Aura.
Aura langsung tersenyum saat melihat Zian.
"Sayang, sini sama Papa," ujar Zian, ia mengambil Aura dari tangan bibi.
"Bibi buatkan kopi untuk ku," perintah Zian.
"Baik Tuan," jawab bibi. Bibi pun segera kedapur. Bibi bingung dengan keluarga Zian. Punya istri tapi tidak peduli sama sekali, terkadang bibi kasihan sama Zian.
"Tuan ini kopinya," ujar bibi seraya meletakkan kopi dan cemilan di atas meja.
"Aura, ikut bibi atau sama papa?" Tanya bibi seraya tersenyum menatap Aura.
"Biarkan dia bersama saya sebentar bibi," ujar Zian.
"Baiklah Tuan," bibi kembali pergi kedapur, ia segera menyelesaikan pekerjaannya.
Hari pun menjelang malam, Zian membawa Aura masuk. Tiba-tiba Aura menangis.
"Kenapa sayang? Aura mau apa?" Ujar Zian menenangkan putrinya.
Aura tetap saja merengek. Zian sangat dongkol dengan istrinya. Sama sekali ia tidak menyusulnya, bahkan dengan tangisan putrinya saja ia tidak mengindahkannya.
Zian membawa Aura kedalam kamar, dimana istrinya sedang santai memainkan ponselnya.
"Ririn, apakah kamu tidak mendengar Aura menangis?" Ujar Zian seraya meletakkan Aura di samping Ririn.
Ririn meletakkan ponselnya, ia melirik Zian sekilas, lalu menggendong putrinya.
"Aku bingung dengan sikap kamu seperti ini, kamu sama sekali tidak menganggap aku ada. Apa aku ini tidak berarti sama sekali bagi kamu?" Ucap Zian memalingkan wajahnya. Mata zian berkaca-kaca, ia berusaha menahan air matanya.
Ririn tidak menjawab ucapan Zian, ia berpura-pura sibuk menenangkan Aura.
Melihat istrinya seperti itu, Zian langsung meninggalkannya. Ia setengah berlari menuruni anak tangga. Zian langsung menaiki mobil mewahnya, dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi.
Wajah tampan Alzian Guinandra tampak suram. Ia mencengkram setir mobilnya dengan kencang.
"Aku terlalu mencintai kamu, hingga kamu seenaknya memperlakukan aku seperti ini!" Ujar Zian sambil memukul setir mobilnya dengan keras.
Untuk melepaskan penatnya, Zian memarkirkan mobilnya di depan pub. sebuah tempat hiburan yang cukup luas terkenal.
Zian melangkahkan kakinya memasuki pub itu. Setelah menemukan tempat duduk yang cocok baginya, ia langsung memesan minuman berkelas tinggi yang ada di sana.
Zian duduk dengan posisi menyilang kan kakinya dengan meletakkan kaki satunya di kaki lainnya.
Zian mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Zian tampak menikmati hisapan demi hisapan rokok filternya sementara waiters menyajikan minuman yang Zian pesan. Zian langsung meneguk minumannya sampai tandas, sambil menikmati alunan musik, Zian sudah menghabiskan beberapa batang rokok dan beberapa gelas minuman beralkohol tinggi.
Zian sedikit pusing mendengar suara musiknya, kepalanya berat serasa ingin pecah.
Zian beranjak dari tempat duduknya menuju kasir sambil sempoyongan, tapi Zian masih bisa menahan dirinya.
Setelah membayar tagihannya, Zian langsung keluar meninggalkan pub itu. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Zian tidak tau harus kemana. Dalam keadaan setengah sadar, Zian membelokkan mobilnya menuju kejalan yang sering ia lalui menurutnya, untung saja Zian masih bisa mengendalikan mobilnya, dan akhirnya ia pun sampai di depan sebuah bangunan yang cukup besar.
Zian langsung keluar dari dalam mobilnya, ia nampak sempoyongan. Melihat majikannya seperti itu, Satpam langsung berlari menghampiri Zian.
"Tuan," satpam itu ingin mengatakan sesuatu, tapi di urungkannya setelah mencium bau alkohol dari mulut Zian. Ia mengerti kenapa majikannya berjalan seperti itu. Satpam itu langsung membimbing Zian masuk kedalam villa.
wajib vote dan like setelah membaca.
yuk komen ya, agar author update lagi. berikan bintang 🌟 5, tap ❤️, gift dan lain-lain agar author tetap semangat.
salam hangat dari author. terimakasih yang sudah mampir